
Setelah tenang, Sultan keluar dari kamar mandi, lalu dia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Sambil mengaktifkan ponselnya, Sultan pun keluar kamar menuju balkon.
Ternyata banyak sekali panggilan dari Clara yang tidak Sultan jawab, lalu Sultan pun membuka pesan masuk dan ternyata Clara mengancam, jika malam ini Sultan tidak juga datang ke apartemen, besok pagi, saat matahari belum muncul, Clara pastikan dirinya sudah berdiri di depan pintu rumah Sultan.
Sultan mendesah dan menarik nafas berat sembari membuangnya secara kasar, lalu diapun kembali ke kamar untuk mengambil kunci mobil dan jaket.
"Aku akan keluar dan besok pagi langsung ke kantor, jadi kamu pikirkan saja, alasan apa yang tepat untuk orangtuamu jika mereka menanyakanku," ucap Sultan sambil memakai sepatu dan tanpa memandang sedikitpun ke arah Mutiara.
Kemudian Sultan bergegas meninggalkan rumah menuju apartemen untuk menemui Clara. Dia tidak ingin mengambil resiko jika sampai Clara membuktikan ancamannya, selagi orangtua Muti masih menginap di sana.
Clara senang saat mendengar suara bel berbunyi, dia yakin itu adalah Sultan. Lalu Clara buru-buru turun untuk membuka pintu.
Ternyata yang datang bukanlah orang yang dia tunggu, malah Hardi yang berdiri di hadapannya sambil menyeringai dan mengacungkan bungkusan yang berisi martabak telur kesukaan Clara.
Clara menelan ludahnya, memang sejak tadi dia menginginkan makanan itu, tapi berhubung Sultan belum juga datang, Clara pun menahan seleranya.
Dengan cekatan, Clara merampas bungkusan dari tangan Hardi, lalu dia bergegas ke dapur untuk mengambil sendok dan piring.
Saat Clara membuka bungkusan martabak, Hardi memeluknya dari belakang sembari berbisik, "Aku tahu kamu pasti ngidam ingin makan martabak. Makanya walau tengah malam, aku usahakan untuk datang kesini. Aku yakin bayi ini adalah anakku, karena aku bisa merasakan apa yang kamu inginkan tanpa kamu minta," ucap Hardi sembari mengelus perut Clara dan mencium ceruk leher dan juga pipi Clara.
"Lepaskan Hardi! Aku sudah tidak sabar ingin makan martabak ini!" ucap Clara sembari melepaskan tangan Hardi dari pinggangnya.
Hardi pun menuruti kemauan Clara, dia mengambil martabak telur yang sudah Clara tuang ke dalam piring, lalu Hardi pun menyuapkan martabak itu ke mulut Clara.
Clara dengan lahap menyantap martabak sesuap demi sesuap hingga habis. Setelah itu Hardi mengambilkan air minum dan membawa piring ke tempat pencucian piring, lalu mencucinya.
"Tumben kamu berlaku manis hari ini, aku yakin pasti ada sesuatu yang ingin kamu minta dariku," ucap Clara sembari berjalan menuju sofa dan menghidupkan televisi.
__ADS_1
Hardi tersenyum lalu mendekati Clara dan memeluknya, "Kamu tahu aja sayang, aku mau menjenguk bayiku, boleh ya? Aku rindu kalian."
"No! Dokter melarang agar aku jangan dulu melakukan hal itu Hardi, karena kemaren sempat pendarahan. Aku tidak mau kehilangan bayi ini. Dia adalah senjataku untuk menaklukkan Kak Sultan."
"Ayolah Sayang, aku janji tidak akan membuat kalian sakit, aku hanya ingin bersenang-senang dengan kalian untuk menghilangkan sakit kepala, kamu juga pasti menginginkannya, aku tahu itu Sayang, lihatlah tubuhmu tidak bisa berbohong," rayu Hardi sembari tangannya menjelajahi wilayah kesukaannya.
"Janji ya!"
Hardi pun mengangguk, dia senang telah mendapatkan lampu hijau. Tanpa membuang waktu, Hardi langsung menanggalkan satu persatu kain yang menempel di tubuh Clara dan membuangnya kesembarang arah.
Clara yang juga menginginkan kegiatan olahraga tersebut, lalu melakukan hal yang sama.
Keduanya saling berbagi, menikmati malam dengan sentuhan dan lenguhan yang berujung penyatuan.
Saat tubuh keduanya terkulai lemas di atas sofa sembari berpelukan, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Clara dan Hardi saling pandang, lalu Clara spontan bangkit dan berkata, "Kak Sultan! Ya, Itu pasti dia! Cepat kenakan pakaianmu, jangan sampai ada yang tertinggal. Dan bersembunyilah seperti biasa!" ucap Clara panik karena bel terus saja berbunyi.
Clara merapikan pakaian dan rambutnya sebelum membuka pintu, lalu memasang senyum manis karena dia yakin yang datang adalah Sultan.
Sultan mendengus ketika pintu terbuka, lalu dia nyelonong masuk tanpa berkata sepatah katapun.
Clara menutup pintu lalu diapun menyusul Sultan yang sudah duduk di sofa sambil menyandarkan kepala dan memijat keningnya sendiri.
"Kakak sakit?" tanya Clara sembari bergelayut manja.
"Sakit kepala karena ulahmu!Mertuaku saat ini sedang menginap di rumah, kenapa kau malah berulah!"
"Habisnya Kak Sultan cuekin aku, aku kan lapar, Kak Sultan janji untuk datang membawakan makanan, eh...nyatanya bohong. Apa Kak Sultan ingin kami berdua mati kelaparan?"
__ADS_1
"Aku sedang pusing Clara! Jadi, tolonglah jangan terlalu manja!"
Selesai Sultan mengatakan hal itu, terdengar suara sendok jatuh ke lantai.
"Apa ada orang di dapur Clara? kenapa ada suara sendok jatuh ke lantai!" ucap Sultan, lalu bangkit dan langsung berjalan menuju dapur.
Wajah Clara pucat, dia bermaksud menghalangi, tapi keburu Hardi muncul.
"Siapa kamu! Kenapa malam-malam berada di apartemen ku!" bentak Sultan sambil menarik kerah baju Hardi dan mengepalkan tinju hendak memukulnya.
"Stop Kak!"
"Siapa dia! Kenapa kamu memasukkan laki-laki kesini tanpa sepengetahuan dan izin dariku!"
"Lepaskan dia dulu Kak! Aku akan menjelaskan siapa dia," Pinta Clara.
Sultan pun melepaskan cengkeraman tangannya, lalu dia meminta Clara menjelaskan siapa laki-laki yang sekarang ada di hadapannya.
"Dia sopirku Kak! Habisnya Kak Sultan di telepon nggak ngangkat, jadi aku meminta temanku untuk mencarikan sopir. Dan aku tadi memintanya membelikan makanan. Aku meminta dia tinggal di kamar bawah, jadi jika terjadi apa-apa dengan bayi kita, ada yang bisa cepat datang menolong dengan membawa ku ke rumah sakit. Bukankah Kak Sultan tidak bisa menjaga dan tinggal bersama kami! Aku tidak mau hal buruk terjadi pada anak kita Kak! Jadi tolong, izinkan dia tinggal di sini!"
Sultan terdiam, perkataan Clara memang ada benarnya, tapi Sultan tetap tidak suka, jika laki-laki asing tinggal satu atap dengan Clara, apalagi Sultan tahu, bagaimana penampilan Clara saat di dalam rumah.
"Baiklah, untuk sementara aku izinkan dia tinggal di sini sampai aku mendapatkan solusi, bagaimana agar aku bisa menjagamu dan anak kita tanpa bantuan dari laki-laki manapun," ucap Sultan sembari meninggalkan dapur dan naik ke lantai atas.
Clara lega, Sultan saat ini percaya dengan ucapannya, tapi dia dan Hardi harus tetap berhati-hati. Hardi tersenyum, baginya Sultan sangat mudah dibodohi.
Setelah memberi kode kepada Hardi, Clara pun menyusul Sultan ke lantai atas, tepatnya duduk bersama Sultan di balkon.
__ADS_1
Sultan yang pikirannya sedang kusut, ingin menikmati semilir angin sambil menghisap sebatang rokok.