
Muti dan Adam hendak pamit, tapi Papa Hendrawan melarang, karena Mama sedang menyiapkan makan malam.
Lalu papa meminta Raja untuk melihat ke dalam, apakah mama sudah selesai menyajikan makanannya atau belum.
Raja pun bergegas ke dapur dan ternyata semua sudah terhidang, hanya tinggal menyiapkan air minum saja.
"Ma, apakah kita sudah bisa makan malam? Soalnya Papa memintaku kesini untuk bertanya ke Mama."
"Iya Ja, sudah selesai kok!"
"Baiklah Ma, aku panggil Papa dulu dan yang lain ya!"
Kemudian Raja pun kembali ke ruang tamu untuk memberitahukan bahwa makan malam sudah bisa di mulai.
"Pa, Mas Adam dan Mbak Muti, ayo kita makan malam dulu!" ajak Raja.
Saat semuanya bangkit dan hendak ke ruang makan, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.
"Ja, coba lihat siapa yang datang! Ajak sekalian makan!" pinta sang Papa.
"Iya Pa. Dari suara mobilnys, sepertinya Kak Sultan, tapi coba Raja pastikan dulu ya Pa!"
Kemudian Raja bergegas keluar dan ternyata memang Sultan. Setelah memarkirkan mobilnya Sultan menghampiri Raja, lalu menepuk bahunya sambil bertanya, "Jam berapa kamu tiba Ja?"
"Sejak siang Kak! Oh ya Kak, ada Kak Muti dan Mas Adam di dalam," ucap Raja.
"Ya, aku sudah tahu," jawab Sultan.
"Bagaimana Kakak bisa tahu?" tanya Raja.
"Itu, mobil Adam! Plat mobilnya 'kan nama dia," jawab Sultan.
"Oh iya Kak, aku kurang perhatikan."
"Lagipula, Mama sempat menelepon ku, memberitahu tentang kedatangan Muti."
"Oh, apa Kakak tidak cemburu?" tanya Raja.
"Terlambat Ja, meski aku cemburu, sudah tidak ada gunanya lagi," ucap Sultan sembari menghela nafas berat."
__ADS_1
"Sabar ya Kak, penyesalan memang selalu datangnya terlambat. Aku doakan deh, suatu hari nanti Kakak akan mendapatkan jodoh yang baik dan cantik seperti Mbak Muti," ucap Raja.
"Aamiin...makasih ya Ja. Oh ya, hubunganmu dengan Elena bagaimana Ja?" tanya Sultan.
"Alhamdulillah, rencananya mau segera dihalalkan Kak. Tadi aku sudah bicara dengan Papa dan Mama."
"Syukurlah, ingat ya Ja! cukup aku yang bodoh, menyia-nyiakan berlian untuk mengejar sampah!" ucap Sultan sembari menarik nafas dalam dan membuangnya kasar.
"Iya Kak, Kakak jangan ingat-ingat wanita jahat itu lagi, dia pasti akan mendapatkan karma atas perbuatannya."
"Seperti aku 'kan Ja, karmaku saat ini sedang berjalan. Aku kehilangan Mutiara dan akan di persunting oleh saingan bisnisku sendiri."
"Mas Adam orang yang baik kok Kak. Selama ini apa Kakak pernah mendapati jika dia bersaing secara curang?"
Sejenak Sultan terdiam, kemudian dia menjawab, "Tidak sih, aku tidak pernah melihat kecurangannya. Selama ini, aku mungkin hanya iri, karena dia sering berhasil mengalahkan ku dalam tender bisnis!" ucap Sultan yang mengakui keunggulan Adam.
"Berarti tidak ada masalah lagi diantara Kakak dan Mas Adam," ucap Raja.
"Ikhlas melepaskan Mbak Muti mungkin yang terbaik agar hidup Kak Sultan tenang dan kesalahan Kakak terhadap Mbak Muti akan terbayar dengan mendoakan mereka supaya hidup bahagia," ucap Raja lagi.
"Iya Ja. Inilah yang masih aku coba, belajar untuk mengikhlaskan," ucap Sultan.
"Iya Ja!"
Sultan dan Raja pun masuk, menuju ruang makan. Sultan yang melihat Adam dan Muti duduk berdampingan berusaha menutupi perasaan cemburunya. Rasa sakit, jelas ada di hati Sultan, tapi dia harus sanggup berbesar hati, dengan menyapa keduanya sembari mengulurkan tangan.
Adam dan Muti pun membalas uluran tangan Sultan. Muti tidak pernah menyimpan rasa dendam sedikitpun meski dulu selalu disakiti oleh Sultan. Kini bagi Muti, Sultan hanya seorang Kakak dan seorang sahabat.
Kepahitan yang pernah dia rasakan selama berumah tangga dengan Sultan, akan Muti jadikan pelajaran untuk memperbaiki diri.
"Duduk di sini Nak!" pinta Papa Hendrawan kepada Sultan agar duduk di sebelahnya.
Sultan pun duduk di bangku tersebut, lalu mama mengambilkan makanan untuk kedua putranya.
Melihat hal itu Sultan jadi teringat kembali akan pelayanan Mutiara. Dulu, selalu Muti yang mengambilkan makanan untuknya.
Sultan mencuri pandang, menatap Mutiara yang sedang menyuap makanan dan hal itu terlihat oleh Adam.
Adam kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Mutiara dan dia melihat ada bulir nasi di sudut bibir Muti.
__ADS_1
Refleks Adam mengelap bulir nasi tersebut dengan ibu jarinya. Hal ini tentu saja menjadi pusat perhatian bagi semua yang ada di sana.
Sultan tertunduk, dia merasa malu, ternyata dalam hal terkecil sekalipun Adam bisa memberikan perhatiannya kepada Mutiara.
Tidak seperti dirinya dulu, yang tidak peduli sama sekali, yang ada dalam hati dan pikirannya hanya Clara, Clara dan Clara saja.
Raja berdehem sambil tersenyum hingga membuat Mutiara malu. Sementara Papa Hendrawan dan Mama memperhatikan Sultan. Mereka tahu bagaimana perasaan putranya saat ini.
Adam pun kembali fokus dengan kegiatan makannya. Sebenarnya dia tidak bermaksud mencari muka di hadapan keluarga Hendrawan. Adam hanya tidak ingin melihat Muti mulutnya belepotan seperti halnya anak kecil yang sedang makan.
Suasana kembali hening hingga semua menyelesaikan ritual makannya.
Mereka pun kembali ke ruang tamu, sementara Mama dan Bibi membersihkan meja dan peralatan makan.
"Bagaimana usaha kamu Dam?" tanya Sultan membuka percakapan.
"Alhamdulillah lancar. Bagaimana dengan proyek kerjasama kamu?" tanya Adam balik.
"Biasalah, namanya perusahaan kecil, kamu pasti tahu sendiri bagaimana perkembangannya," jawab Sultan.
"Kak, tadi kami sudah ngobrol dengan Papa. Aku sudah mengembalikan semua hak Kak Sultan, jadi kembalilah ke perusahaan Induk Kak. Mulai besok aku sudah keluar dari sana," ucap Muti.
"Kenapa kamu kembalikan Mut? Selama kamu pegang sudah banyak kemajuan kok, jadi teruskanlah! Aku yakin perusahaan akan maju pesat di bawah kepemimpinan kamu," ucap Sultan.
Muti menggeleng, lalu berkata lagi, "Kak Sultan yang cocok menjadi pemimpin di sana, lagi pula itu hak Kakak, sudah saatnya Kak Sultan harus kembali."
"Memangnya kamu mau kemana Mut? Sayang jika kamu mundur, jangan-jangan kamu yang melarang Muti untuk berkarir ya Dam!" tuduh Sultan.
"Kak, jangan salah sangka dulu! Seandainya pun, Mas Adam melarangku untuk berkarir, aku tidak akan membantah selagi larangan itu baik dan memiliki alasan yang jelas," ucap Mutiara.
Kemudian dia berkata lagi, "Inshaallah Mas Adam akan menjadi imam Muti kedepannya Kak. Jadi, apapun yang terbaik menurut Mas Adam, inshaallah itu juga yang terbaik untukku."
"Tapi, Mas Adam tidak melarangku untuk berkarir kok Kak, justru aku harus membantu dan menghandle perusahaan Mas Adam demi kepentingan kami bersama," ucap Muti lagi.
"Iya Tan, aku akan melakukan kunjungan ke beberapa perusahaan ku yang lain, jadi aku meminta Muti untuk menghandle yang ada di sini. Toh itu semua juga akan menjadi miliknya setelah dia menjadi istriku," ucap Adam.
Sultan terdiam, di relung hatinya dia merasakan sedih dan sakit, saat mendengar penjelasan dari Muti. Apalagi saat dipertegas oleh Adam tentang posisi Muti dalam perusahaan dan juga dalam kehidupan Adam.
Apa yang dikhawatirkannya menjadi kenyataan, Muti sudah memutuskan untuk berkomitmen, memulai kehidupan barunya bersama Adam.
__ADS_1
Kembali rasa sesal membuat dada Sultan sesak, rasanya dia ingin berteriak sekuat-kuatnya, menangis dan memohon kepada Muti untuk kembali, tapi mulutnya terasa terkunci dan tubuhnya seperti tidak bertenaga lagi.