
"Biar saya saja yang angkat Pak!" ucap Herman, security terbaik di kantor Adam yang telah berulang kali berhasil membuktikan kredibilitas dan loyalitasnya terhadap perusahaan.
"Nggak usah Man, biar Saya saja. Ini ringan Kok!" jawab Adam.
Tapi Herman tetap saja, meringankan tangan serta kakinya, membantu mengangkat barang-barang milik Mutiara menuju ruangan kerja Adam, meski sang Bos telah melarangnya.
"Apa Ibu, Bos baru yang akhir-akhir ini jadi pusat pembicaraan para staf dan katanya mereka akan memimpin perusahaan selama Bapak pergi?" tanya Herman setelah meletakkan barang yang diangkatnya.
"Oh iya Pak," jawab Muti.
"Kenalkan Man, ini calon istri Saya, sekaligus pimpinan baru di sini. Oh ya Man, keselamatan Ibu selama berada di kantor, Saya percayakan sama kamu!"
"Siap Pak Bos! Saya akan melaksanakan tugas sebaik mungkin," ucap Herman.
"Terimakasih sebelumnya Man, sekarang minta Reni untuk menginstruksikan kepada para staf agar sekarang juga berkumpul di ruang meeting!" pinta Adam.
"Siap Bos!"
Herman pun bergegas pergi untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Adam.
Hanya dalam waktu 15 menit semua jajaran staf sudah berkumpul di ruang meeting, mereka menunggu kedatangan Adam.
Adam pun segera mengajak Muti untuk menemui para bawahannya saat Reni tiba di ruangan dan memberitahu jika semua sudah menunggu.
Suasana hening yang terlihat saat Adam dan Muti melangkah masuk ke ruangan meeting. Semua mata menatap Muti, mereka sudah bisa menduga siapa wanita yang saat bersama Adam.
"Selamat sore rekan-rekan semua, berhubung sebentar lagi jam pulang kantor, Saya tidak akan berlama-lama menahan kalian. Perkenalkan, Ibu ini adalah pengganti sekaligus calon istri Saya. Jadi, Saya harap kalian bisa bekerjasama dengan beliau untuk menjalankan aktivitas perusahaan seperti biasanya."
"Di antara kalian, pasti sudah ada yang mengenal siapa beliau. Dan Meski tergolong pemimpin baru, tapi kebijakan beliau telah berhasil menaikkan nama perusahaan yang pernah beliau pimpin sebelumnya," ucap Adam lagi.
__ADS_1
"Oh ya, kepada Ibu Mutiara, Saya persilakan jika ingin menyampaikan beberapa patah kata sebagai salam perkenalan kepada mereka. Karena tak kenal maka tak dekat dan tak dekat sudah pasti tidak sayang," ucap Adam sambil tersenyum kepada Muti.
Adam berusaha bersikap profesional, dia harus bisa menempatkan diri, kapan harus berlaku formal dan kapan dia harus bersikap layaknya pasangan kekasih.
Muti pun mengucap salam, kemudian memperkenalkan identitas dirinya.
Sebagian staf yang baru tahu siapa Muti, mereka saling pandang dan berbisik.
Mereka kagum serta senang, akhirnya bisa berkenalan dengan wanita hebat, CEO perusahaan Hendrawan Group dan merupakan pemenang tender terakhir yang kabarnya telah bekerjasama dengan Bos mereka untuk ekspor pakaian.
Namun, ada satu orang staf yang tahu bahwa Muti adalah menantu dari keluarga Hendrawan. Dia merasa heran kenapa Bosnya tadi malah mengatakan jika Muti adalah calon istrinya.
Sejenak suasana di ruangan itupun menjadi riuh. Adam yang samar-samar mendengar percakapan tersebut segera mengambil alih kembali pembicaraan.
"Terimakasih kepada Ibu Mutiara yang telah memperkenalkan diri, Selamat datang dan selamat bergabung dalam Adam Corporation. Mudah-mudahan Ibu betah dan para staf juga bisa bekerjasama dengan baik bersama beliau untuk lebih memajukan perusahaan kita ini."
"Oh ya, sebelum Saya tutup pertemuan kita kali ini, ada masalah pribadi yang ingin Saya klarifikasi kepada kalian agar tidak ada rasa penasaran yang bisa saja menimbulkan fitnah di belakang hari."
"Hanya itu yang bisa Saya sampaikan, Kami harap doa dari kalian agar rencana ini bisa segera terwujud. Selamat sore dan selamat beristirahat bersama keluarga tercinta," ucap Adam yang mengakhiri pertemuan perkenalan tersebut.
Para staf pun bangkit dan memberi selamat kepada Muti serta Adam. Sekarang sudah tidak ada lagi ganjalan di hati mereka.
Dan mereka yakin dengan bersatunya kedua pemimpin hebat itu nantinya, perusahaan tempat bernaung serta tempat menggantungkan harapan, akan bisa lebih maju lagi.
Senyum merekah di wajah Adam, saat ruangan itu telah sepi dan tinggal mereka berdua saja.
Muti pun tersenyum, dia sangat beruntung bisa kenal dan menjadi calon istri pria hebat yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Terimakasih Yang, aku sangat beruntung dan tersanjung. Mas Adam tidak malu memperkenalkan siapa aku di hadapan mereka. Padahal, pria hebat seperti Mas, pasti akan sangat mudah, bila ingin mendapatkan gadis baik dan hebat, yang tentunya lebih sepadan untuk bersanding dalam ikatan pernikahan."
__ADS_1
"Kamu calon pendamping yang terbaik untukku Sayang, yang kelak akan menjadi Ibu dari anak-anakku," ucap Adam dengan penuh keyakinan bahwa Muti lah pasangan terbaik yang sudah Allah siapkan untuknya.
Adam menggandeng tangan Muti dan kembali ke ruangannya. Kemudian mereka bersiap untuk pergi. Adam akan mengajak Muti ke Mall, berbelanja kebutuhan seserahan lamaran.
Adam ingin Muti memilih apa yang dia suka dan sebelum berangkat dia ingin meminta Muti sebagai calon istrinya, langsung di hadapan Ayah Danuarta beserta Ibu serta menyematkan cincin lamaran di jari Mutiara sebagai tanda keseriusan darinya.
Hati Mutiara berbunga-bunga, mungkin inilah kebahagiaan yang sudah Allah siapkan untuknya, setelah dia dengan sabar melalui pahitnya perjalanan rumahtangga bersama Sultan.
Muti tidak pernah menyimpan dendam, baik kepada Sultan maupun kepada Clara.
Baginya kepahitan hidup berumah tangga yang pernah dia alami adalah pembelajaran hidup untuk menuju kedewasaan, agar bisa bersikap lebih bijak dalam mengarungi bahtera rumah tangganya kelak bersama Adam.
"Ayo kita berangkat, kenapa malah senyum-senyum begitu. Aku 'kan jadi ge-er kamu pandangi terus seperti itu," ucap Adam sambil mengulurkan lengannya.
Muti menggandeng lengan Adam dan merekapun meninggalkan kantor dengan tersenyum bahagia.
Keduanya saling canda dan sesekali di selingi tawa, tidak peduli mata di sekeliling menatap, bagi Adam dan Muti saat ini, dunia hanya milik mereka berdua.
Sesampainya di mall, Adam terlebih dulu mengajak Muti ke toko perhiasan, lalu dia meminta pemilik toko untuk menunjukkan model terbaru sepasang cincin kawin dan satu set perhiasan lain dengan kualitas terbaik yang mereka jual.
Muti pun memilih model yang sederhana tapi tetap terlihat elegan. Adam menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Muti karena dia ingin Muti nantinya nyaman saat mengenakan setiap barang yang dia berikan.
Setelah selesai urusan di toko perhiasan, Adam mengajak Muti ke sebuah butik yang terkenal di sana, lalu dia meminta pemilik toko untuk menunjukkan koleksi gaun dan juga pakaian pengantin.
Untuk pakaian pengantin, Adam mengatakan kepada pemilik butik, tidak untuk terburu-buru. Dia ingin penjahit merancangnya terlebih dahulu sesuai keinginannya bersama Muti dan harus mereka selesaikan serta kirimkan ke keluarga Danuarta minimal sebulan kedepan.
Malam ini Adam lanjut fokus, memilihkan beberapa helai gaun, seperangkat alat sholat, make-up, sepatu, sendal serta kebutuhan seserahan lainnya.
Adam juga telah mentransfer sejumlah uang ke rekening Muti dan baru akan dia katakan besok saat penyerahan barang seserahan semuanya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan semua yang mereka butuhkan, Adam mengajak Muti melaksanakan ibadah Maghrib di mushollah Mall, lalu makan malam di tempat yang sebelumnya telah Adam booking via telepon.
Adam ingin memberikan semua yang terbaik untuk Mutiara, calon pengantin impian yang tidak pernah Adam duga akan bisa dia dapatkan.