MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 120. ARAHAN DARI ADAM


__ADS_3

Elena tidak menyadari jika bahaya sedang mengancam nyawanya. Dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke resto. Tapi, begitu dia hendak mengerem, Elena terkejut dan panik saat mendapati kenyataan jika rem mobilnya saat ini blong.


Padahal ketika terakhir dia mengendarainya bersama Muti, tidak ada masalah sedikitpun.


"Ada apa dengan mobil ini! Ya Allah, bagaimana ini! Kok bisa blong remnya," monolog Elena yang mulai panik.


Elena berusaha tenang agar bisa mencari solusi bagaimana supaya tidak terjadi kecelakaan ataupun bahaya lain.


Pengetahuan yang pernah Elena pelajari menjadi hilang, pikirannya ngebleng di saat genting seperti sekarang ini. Meski dia tidak terlalu kencang melajukan mobilnya tetap saja bahaya sedang mengancam.


Saat ini yang bisa Elena lakukan adalah menelepon Muti, setidaknya jika terjadi apapun dengan dirinya, ada pihak terdekat yang tahu.


Elena menscrol panggilan masuk tadi dan menemukan nama Muti. Sambil terus mengendalikan laju mobil, Elena pun menelepon Mutiara.


Muti yang melihat ada panggilan masuk dari Elena menghentikan kegiatan makannya. Dan dia sangat terkejut saat Elena dengan suara agak panik mengatakan jika saat ini rem mobilnya blong.


Dan Elena ternyata melajukan kendaraannya bukan ke arah resto lagi yang jalur lalu lintasnya lumayan padat, tapi dia berbelok arah ke jalan yang agak lengang.


"Kamu tenang ya El, fokus dengan stir dan arah, aku akan minta tolong Mas Adam untuk mengarahkan, barangkali bisa membantu!" ucap Muti.


"Ada apa dengan Elena Mut?" tanya Adam.


"Mas, tolong Elena! Remnya blong, untung dia tidak dalam kecepatan tinggi, tapi tetap saja bahaya 'kan, jika kenderaannya tidak juga berhenti."


"Oh, sini coba ponselmu Mut, aku akan coba mengarahkan, mudah-mudahan bisa berhasil!" ucap Adam.


"Hallo El, El...kamu dengar aku!


Tolong dengar arahanku El, El kamu dengarkan?"


"Iya Mas, aku dengar. Untung aku tadi pake headset jadi tidak terlalu mengganggu konsentrasiku untuk memegang ponsel. Iya Mas Adam, bagaimana ini Mas?" tanya Elena dengan tangan yang makin gemetar saat jalan yang kenderaannya lalui mulai berkelok.


"El, tarik nafas dulu biar perasaan mu lega, dan mengurangi rasa panik. Hallo...hallo El! Kamu masih dengar aku?"

__ADS_1


"Iya Mas, aku dengar!"


"Sekarang, coba kamu turunkan gigi secara bertahap.


Ada kemungkinan putaran rem akan sangat tinggi ketika kamu menurunkan gigi. Hal tersebut tidak masalah selama cara kamu menurunkannya perlahan," ucap Adam.


"Baik Mas, akan aku coba," jawab Elena.


"Teknik ini biasanya disebut teknik pengereman mesin," ucap Adam lagi.


"Selagi melakukan pengereman mesin, imbangi juga dengan rem tangan ya El! Rem tangan akan sangat efektif menurunkan kecepatan. Tapi ingat! Menarik rem tangan dalam sekejap memang akan menghentikan ban. Namun, hal ini akan menyebabkan ban menjadi selip sehingga mobil bisa terbalik. Oleh karena itu, turunkan gigi dulu baru manfaatkan rem tangan," terang Adam lagi.


"Bagaimana El, kamu berani melakukannya?" tanya Adam.


"Iya Mas, aku harus berani. Aku ingat tekhnik ini. Ini pernah di ajarkan saat aku pelatihan menjadi driver ketika berprofesi sebagai tour guide," ucap Elena.


"Tenang dulu, langkah selanjutnya jangan Matikan Mesin. Karena kebanyakan pengendara panik dan langsung mematikan mesin ketika rem blong. Hal ini akan membuat pengendara sulit untuk mengendalikan laju kendaraan, terutama pada mobil dengan power steering. Sebaliknya, pertahankan mesin untuk tetap menyala."


"Setelah itu, lihat sisi samping kiri atau kanan, lalu menepilah. Jika sedang berada di sebelah kanan jalan dan tidak memungkinkan untuk menepi ke jalur lambat, tak masalah bila berhenti di sebelah kanan. Pastikan tanda darurat menyala. Bagaimana El, masih aman!"


"Iya Mas, untuk jalan ini sepi dengan arus lalulintas, tapi aku tidak tahu sekarang sedang di jalan apa!"


"Nggak apa-apa El, yang penting tetap fokus dengan arahanku dulu!"


"Oke Mas!"


"Selanjutnya jauhkan Kaki dari Pedal Gas ya! Kontrol penuh sudah didapatkan. Namun pastikan bahwa kakimu tidak menginjak pedal gas sama sekali. Jauhkan kaki dari pedal agar terhindar dari faktor tidak sengaja menginjak pedal gas. Ketika kondisi di depan kendaraan aman, cek juga apakah ada sesuatu yang menghalangi atau mengganjal pedal rem," ucap Adam lagi.


"Paham Mas, lanjut! sampai situ aku sudah tahu caranya.


"Guncangkan Pedal Rem, ada kemungkinan bahwa rem blong terjadi hanya sementara karena kesalahan pada sistem."


"Yang ini nggak bisa Mas, aku tadi sudah mencobanya," ucap Elena yang masih berusaha tenang, sambil menyetir dan mendengarkan arahan dari Adam.

__ADS_1


"Alternatif terakhir El, mau tidak mau kamu harus benturkan mobil, jika semua cara itu tidak berhasil. Tabrakkan ke sesuatu yang lunak El, jika di sana ada area berlumpur maka perosokkan mobil ke lumpur tersebut. Bila tidak memungkinkan, benturkan pada pasir, pagar kayu, atau hal lain yang aman untuk berbenturan," terang Adam lagi.


"Terimakasih Mas, arahan Mas telah membuka memoriku. Bismillah, aku harus bisa! Aku harus berani!" monolog Elena.


"Semoga berhasil El, kami akan segera kesana sesuai petunjuk dari JPS di mana posisimu sekarang. Hati-hati dan usahakan tetap tenang!" ucap Adam.


Kemudian, Adam meninggalkan beberapa lembar uang ratusan di meja sambil memberi kode ke pelayanan untuk mengambilnya.


Adam langsung menarik tangan Muti yang saat ini gemetar karena tengah memikirkan kondisi Elena.


Tanpa banyak bicara, Adam langsung meminta Muti untuk naik dan dia mengendarai mobilnya sangat kencang ke arah yang di tunjukkan oleh JPS pada ponsel Elena.


Elena mencoba semua yang tadi di arahkan oleh Adam, tapi masih tetap gagal.


Kemudian alternatif terakhir yang harus Elena lakukan saat ini adalah menabrakkan mobilnya.


Kebetulan di pinggiran jalan, yang terlihat oleh Elena saat ini adalah pepohonan perindang dan beberapa rumah penduduk. Ada area semak belukar yang Elena duga terdapat rawa dan genangan air di sana.


Pasrah dengan apa yang bakal menimpanya, Elena pun dengan memejamkan mata, membanting stirnya ke arah semak belukar tersebut, daripada dia harus membahayakan nyawa penduduk atau pengguna jalan lain.


Mobil Elena meringsek ke dalam parit yang tidak terlalu dalam dan terjungkir di dalam semak belukar yang ternyata memang terdapat air di sana.


Pengalaman hidup yang pahit sebelum mengenal Muti, telah mengajarkan Elena untuk menjadi wanita mandiri dan pemberani dalam menghadapi masalah apapun yang menimpanya.


Saat ini Elena pasrah meski jalan ini merupakan akhir dari kehidupannya.


Elena tidak sadarkan diri, berada di dalam mobil yang terjungkir dengan kondisi ban di atas.


Seorang penduduk yang sedang melintas melihat kejadian tersebut. Lalu, diapun berteriak-teriak agar bantuan datang sambil berusaha mengeluarkan Elena dari dalam mobil.


Semak belukar yang tajam dan genangan air tidak menyurutkan niat orang tersebut untuk menolong Elena.


Elena berhasil, tapi belum ada yang tahu, apakah Elena selamat, masih hidup atau sudah meninggal.

__ADS_1


__ADS_2