
Sultan makan dengan lahap, dia memang penggemar makanan laut sejak kecil, sementara Muti hanya makan ikan saja dan sedikit kerang, karena baginya sangat merepotkan jika makan kepiting. Makannya sekejap, kerjaannya yang ribet.
Melihat Muti hanya makan sedikit dan sudah mencuci tangannya, Sultan pun bertanya, "Kenapa sedikit sekali kamu makan? Kamu tidak suka ya hidangan laut?"
"Aku tidak terlalu gemar, paling juga ikan yang aku suka, karena menurutku sangat repot, makan- makanan yang bercangkang," jawab Mutiara.
"Oh, mau aku bantu mengeluarkan dari cangkangnya!" ucap Sultan.
Muti heran, tumben Sultan baik malam ini. Karena Sultan sudah mengacungkan daging kepiting ke mulut Muti, dia pun terpaksa menerimanya dengan mengangakan mulut, lalu mengunyah daging kepiting pemberian Sultan.
Malam ini Sultan dan Muti bisa akur layaknya sahabat. Sebenarnya, situasi seperti ini yang Muti mau, mereka saling mengenal, bersahabat, hingga sama-sama belajar dan berusaha menumbuhkan bibit cinta di hati masing-masing, berharap rumahtangga mereka bisa dipertahankan.
Selesai makan, Muti mengucurkan air jeruk lemon kedalam mangkuk kobokan yang berisi air, lalu menyodorkan kepada Sultan, agar dia mencuci tangannya di sana. Hal itu dilakukan untuk menghilangkan bau amis yang tertinggal di tangan mereka.
Walaupun Muti dan Sultan sudah mencuci tangan dengan sabun, tapi bau amis masih tercium sebelum mereka bersihkan dengan larutan air lemon.
Setelah Sultan beranjak dari sana dan duduk di atas tempat tidur untuk memainkan gedgetnya, Muti pun membereskan piring kotor, memisahkan sampah cangkang dan menumpuk wadah yang kotor, setelah itu, Muti menelepon pihak hotel agar segera membereskan peralatan makan mereka agar kamar tidak tercemar oleh bau seafood.
Sebenarnya pihak hotel telah menyiapkan tempat khusus di luar untuk mereka makan agar lebih romantis, tapi Sultan menolak, karena Sultan lebih suka makan di kamar saja. Dia tidak mau orang-orang melihat mereka yang tidak harmonis.
Pelayan pun datang membereskan semuanya, lalu dia menyemprotkan pewangi ruangan aroma lemon agar kamar itu kembali segar.
Setelah pelayan pergi, Muti mengambil selimut dan bantalnya dari sisi Sultan, lalu dia duduk di sofa tempat dia biasa tidur.
Muti juga memainkan gadgetnya, dia chatting dengan teman-teman sekolahnya. Mereka memberitahu jika sudah pada mendaftar di universitas yang dulu pernah mereka sepakati untuk kuliah bareng di sana.
__ADS_1
Mereka mencandai Muti dengan mengirimkan foto ibu hamil sambil membawa tas dan buku, sedang berdiri di depan pintu gerbang universitas hingga membuat Muti terkikik.
Memang kawan-kawan Muti dari dulu hobinya bercanda hingga tidak membuat Muti sakit hati, malah seringkali candaan mereka membuat Muti terhibur di saat pikirannya sedang stres.
Muti rindu dengan teman-temannya, rindu suasana sekolah, dia tidak tahu setelah pulang dari bulan madu, apakah Sultan akan mengizinkannya kuliah atau tidak.
Jika menurut perjanjian saat perjodohan, keluarga Sultan memberi kebebasan kepada Mutiara untuk mengecap pendidikan tinggi walaupun sudah menikah.
Keputusan hanya ada pada Sultan, jika Sultan mengizinkan, Muti pasti akan kuliah. Jika tidak, mungkin Muti akan meminta untuk bekerja di perusahaan Ayahnya saja bersama Elena, untuk mengisi waktu luang daripada bengong menunggu Sultan pulang dari kantor.
Candaan teman-teman Muti semakin kocak, hingga membuat Sultan merasa penasaran, dia ingin tahu, sebenarnya apa yang Muti tertawakan sejak tadi.
Sultan beranjak dari tempat tidur, dia mendekati Muti dan duduk di sebelahnya hingga membuat Muti beringsut, bergeser agak menjauh.
"Boleh aku lihat? Sebenarnya apa yang sedang kamu tertawakan?" tanya Sultan sambil menjulurkan kepalanya ke arah ponsel Muti.
"Oh, nggak ada apa-apa Kak, hanya candaan teman-teman sekolah dulu. Mereka asyik ngobrol tentang pendaftaran kuliah," ucap Muti yang ingin mulai memancing pembicaraan. Muti ingin tahu pendapat Sultan tentang perkuliahan dan berharap, Sultan akan meminta Muti untuk mendaftar ke universitas.
Sultan akhirnya diam, dia tetap duduk di sana sambil memainkan gedgetnya hingga membuat Muti canggung untuk meneruskan chattingannya.
Muti melanjutkan kegiatan dengan membuka akun medsos, dia melihat upload-an-uploud-an dari teman-temannya hingga bosan dan mengantuk.
Sementara Sultan masih asyik duduk di sebelahnya hingga membuat Muti bingung mau tidur di mana.
Muti sengaja menguap, agar Sultan segera pindah dari sana dan kembali ke tempat tidurnya tapi Sultan tidak merespon hal itu.
__ADS_1
Sultan malah menyandarkan tubuhnya di sofa, dia terlihat nyantai sambil melihat grafik pergerakan bursa saham dari gadgetnya. Selain pengusaha, Sultan memang ikut dalam investasi tersebut.
Dari hasil investasi itulah, dia menggunakannya untuk semua keperluan Clara. Sementara untuk keperluan Muti, rencananya Sultan akan berikan dari hasil jerih payahnya selama menjalankan perusahaan keluarga.
Muti akhirnya tertidur lelap dengan bersandar di sofa. Sultan yang baru menyadari hal itu, lalu menggendong tubuh Muti dan memindahkannya di atas kasur tempat tidurnya. Setelah itu Sultan menyelimuti Mutia dengan selimutnya.
Sultan berbalik dan duduk kembali di sofa, dia masih asyik dengan gedgetnya sampai lewat tengah malam. Saat rasa kantuk mulai menyerang, akhirnya Sultan merebahkan dirinya di atas sofa dengan memakai bantal dan selimut yang biasa Mutiara gunakan.
Saat subuh tiba, Muti menggeliat dan mengerjapkan mata, dia heran kenapa dirinya malah tertidur di atas kasur.
Seingat Muti, tadi malam dia tidur sambil bersandar di sofa. Lalu Muti melihat ke sebelahnya, ternyata tidak ada Sultan di sana, lalu dia duduk dan matanya mengitari kamar tersebut.
Kembali Muti terkejut, melihat Sultan tertidur di sofa menggantikan dirinya.
Dalam batinnya Muti berkata, "Siapa sebenarnya yang telah memindahkan aku? Apa mungkin Kak Sultan? atau aku yang berjalan sendiri sambil tidur dan pindah kesini hingga Kak Sultan memilih untuk tidur di sofa."
"Ah, sudahlah. Jika Kak Sultan nanti marah karena tempat tidurnya aku yang tempati, pasrah saja. Aku memang salah, tidak sadar tidur di sini," monolog Muti sambil menyambar handuk dan baju mandinya, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap menjalankan ibadah subuh.
Setelah selesai mandi dan berwudhu, Muti pun keluar. Dia melihat Sultan sudah bangun, tapi masih rebahan sambil menggeliat-geliatkan tubuhnya yang kelihatannya terasa sakit.
Muti, pura-pura tidak melihat, lalu dia mengambil perlengkapan sholat dan memakainya, mengembangkan sajadah menghadap kiblat lalu mengangkat takbir.
Dua raka'at, telah selesai Muti kerjakan, lalu dia berdoa dan setelah itu mengaji seperti biasa.
Setelah selesai mengaji, Muti tidak melipat sajadah, dia hanya menyimpan mukenahnya saja. Muti ingin mencoba mengajak Sultan untuk mengerjakan ibadah, walau dia belum tahu apa reaksi Sultan nantinya.
__ADS_1