
Sultan sudah bersiap untuk pulang dan sesuai janjinya dia pulang lebih awal karena ingin menjemput Muti dan menemaninya makan.
"Pak, bukankah sore ini kita ada rapat tentang proyek kerjasama pengadaan seragam sekolah dengan dinas pendidikan?"
"Kamu wakili Saya, bilang saja jika saya sedang tidak enak badan. Awas bila hasilnya mengecewakan," ucap Sultan sembari mengambil tas dan bergegas pergi.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, lalu dia berbalik dan berkata, "Oh ya satu hal lagi, Saya ada keperluan penting, jika tidak ada urusan yang mendesak, jangan hubungi Saya!" ucap Sultan.
"Baik Pak!"
Kemudian Sultan dengan setengah berlari keluar meninggalkan kantornya menuju parkiran. Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba dia mendengar suara seseorang yang tidak asing memanggilnya.
Sultan pun menoleh, dia melihat Clara sudah berdiri di belakangnya.
"Kakak kok terburu-buru, memangnya mau pergi kemana sih Kak?" tanya Clara sembari bergelayut manja di lengan Sultan.
"Kamu tolong jaga sikap Clara, ini kantor! Aku tidak ingin orang-orang bergunjing. Tolong lepaskan tanganmu!" seru Sultan.
Clara terkejut melihat perubahan sikap Sultan dan belakangan ini menurut Clara, Sultan sering bersikap aneh, gampang marah dan tidak memanjakannya seperti dulu serta seringkali mengacuhkan permintaannya.
Dengan bersungut-sungut, Clara melepaskan pegangannya, lalu dia bertanya, "Kak Sultan kenapa sih! Belakangan ini sering marah-marah tidak jelas, salahku apa Kak! Kak Sultan nggak sayang lagi sama aku!"
"Sudahlah, aku sedang banyak pikiran, kamu juga ngapain di sini, bukankah dokter bilang kamu itu harus banyak istirahat dan kamu kesini dengan siapa?"
"Itu!" tunjuk Clara ke arah Hardi.
"Haduh! Kamu ini kenapa bandel amat sih, disuruh istirahat saja susah. Lagipula, aku itu membawamu pindah ke rumah Muti supaya tidak usah berhubungan dengan lelaki manapun termasuk Hardi!"
"Habisnya Kak Sultan cuek dan Muti tidak mau memberikan uang kepada Bibi untuk keperluanku. Aku kepingin beli rujak, daripada anakku nanti ngences, lebih baik aku suruh Hardi mengantarku membeli rujak, tapi sebelumnya aku mau minta uang dulu ke Kakak, sekaligus untuk memberi Hardi tips karena telah mau bersusah payah mengantarku."
"Ini ambil! berhematlah Clara!" ucap Sultan sembari mengeluarkan 5 lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada Clara.
__ADS_1
"Hanya ini Kak! Kenapa Kak Sultan sekarang pelit, nggak pernah lagi ngajak aku shopping! Aku kan bosan Kak dirumah terus dan nggak punya uang."
"Kamu tidak bisa seperti dulu lagi Clara, sekarang kamu bakal menjadi seorang ibu, jadi lebih utamakan pengeluaran untuk keperluan bayi kita daripada untuk berpoya dan berhura-hura."
"Masih lama Kak! masih butuh waktu 7 bulan lagi. Masa iya, aku harus mengurung diri sampai anak ini lahir! bisa-bisa lngsung beruban aku, gara-gara stres dengan aturan yang kakak buat!"
"Aku tidak bisa seperti dulu lagi, sembarangan menggunakan uang perusahaan, jadi aku harap kamu mengerti. Jika nanti, ada uang lebih, aku akan memberimu lagi. Sekarang belilah rujaknya dan pulang, karena aku buru-buru, ada klien penting yang harus aku temui!" ucap Sultan yang membohongi Clara.
"Baiklah! tapi Kak Sultan harus cepat pulang ya, aku nggak mau kesepian di rumah."
"Hari ini aku akan pulang telat, jadi tolong kamu jangan terlampau manja, kan ada Bi Tina yang memang aku bayar untuk menemanimu!"
"Kata Muti yang menggaji Bi Tina adalah dia, bukan Kak Sultan. Jadi, yang berhak mengatur Bi Tina adalah Muti bukan salah satu dari kita," ucap Sultan.
"Iya memang, Muti lah yang menggaji Bi Tina, karena penghasilan ku tidak bisa untuk mencukupi semua pengeluaran kita."
"Apa! Sebegitu berhematnya Kak Sultan sekarang? Sebenarnya ada apa Kak! Apakah perusahaan keluarga Hendrawan telah terancam kebangkrutan?" tanya Clara mulai curiga.
"Aku ikut Kakak ya! Please Kak, aku tidak akan mengganggu pertemuan bisnis Kakak. Aku nanti akan mencari tempat duduk yang agak jauh dari kalian!" pinta Clara.
"Kamu jangan aneh-aneh, pulanglah! Aku pergi dulu," ucap Sultan sembari menghidupkan mesin mobilnya."
Sultan pun meninggalkan Clara dalam keadaan kesal dan Clara yang merasa penasaran atas sikap Sultan segera meminta Hardi untuk mengikuti kemana Sultan hendak pergi.
Hardi terus mengikuti mobil Sultan, hingga mereka pun berhenti di luar pagar sebuah rumah mewah berlantai dua.
Clara tahu, rumah itu adalah rumah milik keluarga Hendrawan, pantas saja Sultan menolak saat dirinya tadi minta ikut.
Akhirnya Clara pun meminta Hardi untuk pergi dari sana. "Ayo Hardi, antar aku menbeli rujak dan ini buat kamu, mulai sekarang kita harus berhemat karena Kak Sultan memberiku uang sangat sedikit."
"Hanya ini! Untuk membeli rokokku saja kurang Clara! Kamu jangan ikutan pelit dong," ucap Hardi.
__ADS_1
"Mau atau tidak, kalau tidak ya sudah aku masukkan ke dompet ku saja."
"Enak saja!" ucap Hardi sambil menyambar uang di tangan Clara.
Sementara Sultan saat ini sedang menunggu Muti yang masih pergi ke toilet. Papa dan mama, lebih baik diam, daripada omongannya nanti cuma berujung dengan pertengkaran.
Sultan merasa sangat asing di rumah orangtuanya sendiri, sementara Muti bisa begitu dekat dan akrab terhadap kedua mertuanya itu.
Setelah melihat Muti datang, Sultan pun segera mengajaknya pulang, dia akan menemani Muti makan di tempat yang Muti inginkan.
Muti pamit kepada Papa dan Mama, lalu diapun mengajak Sultan pergi ke lesehan tempat makan yang paling Muti suka. Baginya makan di lesehan lebih santai dan lebih nikmat ketimbang makan di restoran mewah.
Selama dalam perjalanan, Sultan memperhatikan Muti dari kaca spionnya dan Muti pun hanya fokus, melihat pemandangan luar dari jendela mobilnya.
Untuk memecahkan keheningan, Sultan mengajukan pertanyaan kepada Muti, "Apa tadi yang kamu obrolkan dengan Papa dan Mama?"
"Hanya pembicaraan biasa seputar penyakit Papa. Papa besok memintaku untuk pergi ke dealer mobil. Papa mau aku membeli mobil untuk fasilitas ku bila pergi kemanapun untuk urusan kantor."
"Hemm, baguslah! Jadi kamu akan khursus menyetir?"
"Saat ini belum, aku mau menggunakan jasa sopir, mungkin itu lebih aman."
"Baiklah, kalau kau tidak keberatan, besok aku saja yang akan mengantarmu pergi ke dealer mobil."
"Terimakasih, lebih baik Kak Sultan pokus saja bekerja, aku bisa kok minta temani Elena. Lagipula, aku sekalian mau ke butik mencari pakaian kerja."
"Oh ya Kak, lusa aku akan masuk kantor, jadi aku mohon, kak Sultan segera menghubungi mereka agar segera menyediakan ruangan kerja untukku. Dan aku mohon, Kakak segera memperkenalkan aku dengan para staf yang bekerja di sana."
Sultan hanya mengangguk, dia tidak membantah permintaan Muti, mungkin dengan bekerjanya Muti di perusahaan, dia akan merasa lebih tenang, Muti tidak akan memiliki kesempatan untuk bersama pria lain.
Hai para Sobat, sambil menunggu aku Up lagi, silahkan mampir yuk ke karya sahabatku dan jangan lupa ya, beri dukungan ke karya kami. Terimakasih 🙏♥️
__ADS_1