
Setelah amarahnya mereda, Sultan putuskan untuk ke rumah orangtuanya, dia ingin meminta maaf karena selama ini telah mengecewakan mereka.
Dengan gontai Sultan melangkah keluar dari apartemen, dia malu dan menyesal, apa yang dia bela dan perjuangkan ternyata sia-sia.
Selama ini Sultan telah menentang orangtua yang menyayangi dan ingin melihatnya bahagia tapi apa balasan yang telah dia berikan kepada mereka, hanya kekecewaan.
Tapi, saat ini Sultan bertekad akan meminta maaf dan memperbaiki semuanya meski terlambat. Setidaknya dia masih memiliki kesempatan sebelum ketuk palu di ketok oleh hakim.
Sultan setengah bergegas masuk kedalam mobil, dia berencana setelah meminta maaf kepada orangtuanya, Sultan ingin menemui orangtua Muti.
Sultan berharap para orangtua masih memberinya kesempatan dan Muti juga mau memaafkan dirinya dan mau membuka lembaran baru rumahtangga bersamanya.
Sultan sudah memasuki pekarangan rumah orangtuanya dan dia melihat Papa dan Mama sedang duduk di beranda rumah menikmati secangkir teh melati kesukaan mereka.
Papa yang melihat Sultan turun dari mobil begitu lusuh merasa prihatin, tapi beliau pura-pura tidak melihat dan terus ngobrol dengan sang istri.
"Assalamualaikum Pa, Ma," sapa Sultan.
"Wa'alaikumsalam, oh ternyata kamu. Masih ingat menjenguk orangtua. Papa pikir istri cantikmu itu telah menyihirmu hingga melupakan kami!" ucap Papa Hendrawan dengan ketus.
"Maaf Pa, baru bisa jenguk. Kemaren sibuk pindah ke kantor baru."
"Jadi bagaimana, enakkan di sana! Nikmatilah hasil perbuatanmu yang lebih memilih wanita itu ketimbang kami orangtuamu!" ucap Papa lagi.
"Begini Pa, kedatanganku kesini untuk minta maaf sama Papa dan Mama. Ternyata Papa dan Mama benar, aku menyesal Pa. Clara bukan wanita baik-baik dan dia telah menjebak serta membohongiku. Ternyata anak dalam kandungannya bukan anakku tapi anak pria lain.
"Oh...baru sadar kamu! Selama ini kami sudah memperingatkan, tapi kamu tidak pernah menggubris omongan kami dan Muti juga kamu abaikan demi wanita ular itu. Percuma, sekarang sudah terlambat!" ucap Papa.
Sultan pun bersimpuh di kaki Papa serta mamanya, dia menangis dan benar merasa menyesal. Dia bersujud agar kedua orangtuanya mau memaafkan dirinya.
__ADS_1
Mama yang merasa tidak tega segera meminta Sultan untuk berdiri dan Mama memeluknya sambil berkata, "Syukurlah jika kamu sadar. Kami orangtua tidak mungkin menjerumuskan anak! Selama ini yang kami paksakan demi kebahagiaan kamu. Tapi apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur. Sekarang, kamu harus menata hidup mu lagi, jadilah contoh yang baik bagi adikmu," ucap Mama sambil menangis dan memeluk Sultan.
Sultan terisak, dia sangat berdosa telah menentang orangtuanya. Lalu Sultan bersimpuh di kaki sang Papa, mengharapkan maaf.
Awalnya Papa berkeras dengan prinsipnya telah membuang Sultan dari keluarga tapi nalurinya sebagai orangtua saat ini tersentuh.
Papa memeluk Sultan, beliau tidak bisa berkata apapun selain menepuk-nepuk punggung putranya dan ikut meneteskan air mata.
Putra yang dulu menjadi kebanggannya telah hancur dan saat ini sedang terpuruk, bersimpuh di kakinya.
"Maafkan aku Pa, aku janji akan jadi anak kebanggaan Papa lagi. Aku menyesal Pa!" ucap Sultan.
"Bagus jika kamu menyesal, Papa tidak bisa menolongmu lagi, kamu berusahalah bangkit dan perbaiki hidupmu. Semua sudah mendapatkan bagiannya masing-masing, maka kamu kembangkanlah."
"Mengenai Muti, Papa tidak bisa ikut campur lagi, sekarang terserah kamu. Papa malu terhadap Muti dan temanku. Aku orangtua yang gagal, gagal membuatmu jadi anak dan suami yang baik bagi anak sahabatku!" ucap Papa yang tidak bisa menahan air matanya yang menetes.
"Dan mengenai hubunganku dengan Muti, malam ini aku akan menemui Ayah, ibu dan juga Mutiara. Aku akan meminta maaf Pa dan meminta agar Muti memberiku kesempatan terakhir untuk memperbaiki semuanya."
"Bagus! Itu baru anak Papa! Tapi, Papa harap kamu jangan memaksa, apapun keputusan Muti nanti, kamu harus ikhlas. Sekarang pergilah mandi, papa lihat penampilan mu hari ini begitu lusuh. Dan setelah itu pergilah makan, tadi mama mu masak kesukaan mu. Iya kan Ma?"
"Iya Nak, pergilah mandi. Mama akan siapkan makanan untukmu!" ucap Mama.
"Iya Ma, terimakasih. Aku ke dalam dulu ya Pa, Ma," pamit Sultan.
Sultan bersyukur, papa dan mama mau memaafkannya. Begitulah orang tua ya para sobat, meski marah dan menyumpahin nggak di anggap anak lagi, tapi begitu anak minta maaf, bersimpuh di kaki mereka, eh...hati orangtua langsung mencelos, tidak tega dan akhirnya luluh dan membuang egonya.
Sultan masuk ke dalam kamarnya saat masih tinggal di rumah itu dan ternyata semua masih sama, bersih dan tertata rapi. Barang-barang miliknya juga masih berada di tempatnya semula.
Sultan mengambil handuk di lemari, lalu dia bergegas ke kamar mandi, dia ingin berendam air hangat untuk menyegarkan badan serta pikirannya yang sedang kusut.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, Sultan berbaring sejenak, melepas penat dan diapun bangkit saat mendengar suara mama memanggil, memintanya untuk makan.
Sultan pun bergegas keluar kamar, lalu dia menuju ruang makan. Ternyata benar, makanan yang saat ini terhidang di meja hampir semua kesukaannya.
Mama seperti dapat firasat, jika putranya akan datang. Mereka sebenarnya rindu masa-masa di mana Sultan dan Raja selalu makan bersama setiap kali pulang.
Mama dan Papa menemani Sultan makan, beliau sedih melihat Sultan tidak terurus sejak berpisah dari Muti.
Sultan makan dengan lahap, lalu dia berkata, "Alhamdulillah, masakan Mama dan Muti memang paling enak!"
Sejenak Sultan terdiam, dia spontan memuji Mutiara dan saat ini dia teringat dimana Muti selalu melayaninya, meski sikapnya mungkin terlalu menyebalkan bagi Muti.
"Kenapa diam Nak? Kamu ingat Muti?"
Sultan hanya mengangguk, dia tahu penyesalan itu datangnya selalu terlambat.
"Sudahlah, jangan diingat lagi semua yang buruk di masa lalu, sekarang yang harus kamu pikirkan adalah masa depan, meski ada atau tanpa Mutiara," ucap Mama.
"Iya Ma. Aku sadar itu. Aku terlalu banyak salah terhadap Mutiara. Jadi, apapun nanti keputusannya itulah karma atas perbuatan ku sendiri."
Papa menepuk bahu Sultan, beliau ingin memberi kekuatan kepada putranya. "Ayo semangat! Habiskan makananmu Nak!" Pinta Papa.
"Iya Pa, Papa nggak makan. Beneran enak ini lho Pa!"
"Masakan Mamamu memang tidak ada tanding, tapi saat Mama sedih memikirkan kalian, masakan Mama jadi tidak enak!" ucap Papa sambil tertawa.
Mama mencubit lengan Papa dan Papa mengaduh hingga membuat Sultan ikutan tertawa.
Kini kebahagiaan keluarga Hendrawan mulai kembali, meski masih belum lengkap karena tanpa menantu di rumah itu.
__ADS_1