
"Hallo El, bagaimana keadaan mu? Mbak Muti tadi cerita tentang kejadian yang menimpamu. Maaf ya, aku baru sempat menelepon. Soalnya baru selesai membahas tentang urusan perusahaan bersama Papa," ucap Raja.
"Nggak apa-apa Ja, lagipula hanya bagian kaki saja yang cidera. Tadi sudah di kusuk dan terasa lebih enakan, tidak terlalu bermasalah kok digunakan untuk berjalan. Oh ya, tadi sampai jam berapa di rumah?" tanya Elena balik.
"Syukurlah jika begitu. Tadi siang aku tiba di bandara, kamu sih nggak bisa dihubungi, teleponnya sibuk terus," ucap Raja.
"Ya iyalah, tapi sedang di atas mobil yang rem nya blong, untung saja Mas Adam bisa mengarahkan ku agar aku tidak panik dan akhirnya bisa selamat. Jika tidak, nggak tahulah apa sekarang aku masih hidup atau tidak," jawab Elena.
"Oh maaf ya, aku pikir kamu tadi terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga menerima panggilan dariku saja tidak sempat. Mas Adam memang orang yang baik, aku setuju orang baik berjodoh dengan yang baik pula," ucap Raja.
"Maksudnya apa Ja?"
"Mas Adam dan Mbak Muti sama-sama orang baik kan, jadi pantas jika keduanya berjodoh. Mudah-mudahan mereka hidup bahagia nantinya dalam ikatan pernikahan."
"Iya kamu benar Ja. Aku jadi ingat saat pertama bertemu Mbak Muti, aku salut dengan kesabarannya."
"Acara honeymoonnya rusak gara-gara kedatangan wanita ular itu di Bali. Kalau teringat hal itu, rasanya aku ingin mencakar dan bergelut dengan si Clara itu, tapi Mbak Muti bisa menyikapi semuanya dengan kesabaran. Ternyata kesabaran itu sekarang berbuah manis. Mbak Muti menemukan orang yang benar-benar mencintainya dengan ikhlas meski dia seorang janda," ucap Elena.
"Janda tapi perawan kok," ucap Raja keceplosan.
"Apa Ja! Darimana kamu tahu? Aku saja yang teman karib dan sudah seperti keluarga tidak?mengetahui hal itu!" tanya Elena.
Raja menutup mulutnya, dia keceplosan, harusnya dia tidak mengatakan hal yang Sultan minta untuk merahasiakannya, meski kepada Elena.
"Ayo jawab Ja! Darimana kamu tahu? Apakah dari Mbak Muti?" tanya Elena.
"Tidak El, tapi dari Kak Sultan. Itupun baru tadi dia mengatakan kepadaku dan tidak boleh mengatakan kepada siapapun termasuk kamu.
"Ternyata kejam benar kakakmu ya Ja! setahun lebih lho Ja, Mbak Muti tetap bungkam, meski tidak di nafkahi. Aku jadi kepingin menarik rambut wanita itu dan membawanya ke hadapan Mbak Muti agar meminta maaf."
"Sudahlah, hilangkan dendam. Mbak Muti saja sudah memaafkan Kak Sultan dan Clara. Mbak Muti memang berhati malaikat, dia pantas bahagia sekarang," ucap Raja lagi.
"Iya sih Ja. Tapi jika suatu saat aku bertemu Clara, aku akan memberi dia pelajaran agar hatiku puas."
"Oh ya ngomong-ngomong kapan kita ketemu? Aku besok jemput kamu ya El, kita pergi jalan-jalan. Aku kangen lho El!" ucap Raja.
__ADS_1
"Kamu gombal, hampir setiap hari kita VC, masa belum hilang kangennya," ledek Elena.
"Jadi, kamu tidak kangen aku? tidak ingin ketemu aku? Ya sudah deh, aku balik saja lagi," ucap Raja ngambek.
"Eh...eh, calon suamiku kok ngambek. Ya sudah deh, sekarang juga boleh kok jika kamu mau datang!" ucap Elena sambil tertawa.
"Gila kamu! Lihat sudah jam berapa? Kamu mau aku diusir Ayah dan Ibu hah!" ucap Raja.
"Hahaha...iya juga sih. Kalau begitu, besok pagi jemput aku ya. Memangnya kita mau jalan-jalan kemana Ja?"
"Rahasia dong, surprise," ucap Raja.
"Oke deh kalau begitu, aku tunggu surprise dan hadiah dari kamu ya!"
"Beres! Jam 9 aku jemput dan jangan lupa ya, pakai baju yang aku belikan kemaren itu."
"Siap Bos!"
"Pergilah tidur! Selamat malam dan mimpiin aku ya!" ucap Raja sambil memberikan ciuman pengantar tidur via online.
Elena pun membalas ciuman tersebut dengan menempelkan tangannya di bibir, lalu melambaikan tangannya kepada Raja.
Sedangkan Sultan sudah sampai di Club malam, tempat dia biasa berkumpul bersama teman-temannya.
Sultan memesan jus dan beberapa macam cemilan hingga menjadi bahan tertawaan teman dan juga para wanita yang saat ini sedang bergelayut manja di sisi sahabatnya.
"Kamu sudah tobat ya Tan? Rugi dong, nikmati dulu kesenangan dunia. Istri di rumah tidak bisa memberikan kebahagiaan, maka disinilah kita bersenang-senang," ucap salah satu teman Sultan.
Sultan menanggapi omongan tersebut hanya dengan mengulas senyum. Dia belum ingin berdebat, jika semua temannya belum datang berkumpul.
Sultan sengaja kesini, ingin mengajak para sahabatnya bertobat sebelum terlambat dan menyesal seperti dirinya.
Setelah semua datang, Sultan pun memesankan minuman serta makanan yang sama dengannya dengan alasan dia yang akan traktir untuk hari ini. Dengan syarat bukan minuman beralkohol.
Semua tertawa melihat sikap Sultan, mereka mengira sahabatnya telah ketempelan makhluk halus hingga bisa berubah drastis.
__ADS_1
Saat seorang wanita mendekat dan ingin bergelayut di lengan Sultan, dia mengibaskan tangan wanita itu, hingga hampir jatuh karena kakinya terpelekok.
Kemudian Sultan mengusir wanita itu, "Pergilah! dan kalian juga!" tunjuk Sultan kepada beberapa orang wanita yang lain.
"Ini untuk kalian! Aku ada urusan penting yang harus dibicarakan dengan para sahabatku!" ucap Sultan sembari memberi mereka uang ratusan ribu untuk masing-masing wanita penghibur tersebut.
"Kamu sebenarnya kenapa Tan! Bukankah kita kesini untuk bersenang-senang?" tanya salah satu sahabatnya.
"Kalian semua berubahlah, sebelum menyesal kawan! Cukup aku yang menyesal, kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku."
"Wanita yang tidak pernah aku anggap selama ini, ternyata sebuah berlian dan kebalikannya. Wanita yang selama ini aku cintai ternyata hanya sampah!"
"Cintailah istri kalian, tinggalkan semua ini, sebelum terlambat," ucap Sultan.
"Maksudmu, kalian bercerai?"
Sultan pun mengangguk, lalu berkata, "Aku sudah kehilangan dan tidak memiliki harapan lagi untuk kembali."
"Bukankah agama memberi kesempatan untuk bisa rujuk, kalau kamu memang mencintai dia dan diapun mencintaimu apa salahnya jika kalian balikan saja Tan!"
"Sudah terlambat, dia sudah dilamar pria lain," jawab Sultan tidak bersemangat.
"Secepat itu kah? atau jangan-jangan sebelum kalian bercerai dia juga telah berselingkuh!" ucap salah satu teman Sultan.
Sultan marah mendengar temannya mengatakan Muti selingkuh, lalu dia menarik dan mencengkeram kerah baju temannya itu sambil berkata, "Jangan berkata seperti itu tentang Mutiara! Asal kamu tahu, dia wanita terbaik yang pernah aku kenal seumur hidupku selain mamaku!"
"Tenang Tan, lepaskan! Dia itu sahabat kita. Lagipula, dia hanya bertanya. Bukan salahnya jika berpikir seperti itu, selama ini kamu 'kan yang tidak menghargai istrimu!"
Sultan pun melepaskan cengkeramanya lalu meminta maaf.
"Maaf, pokoknya aku hanya ingin mengingatkan, demi kebaikan kalian juga. Sebentar lagi aku akan pergi dan entah kapan lagi kita bisa bertemu seperti ini."
"Serius...kamu jadi pergi dan mengambil gelar master keluar negeri? jadi bagaimana dengan karirmu di sini?"
"Ya, paling lambat minggu depan aku berangkat dan secepatnya 3 hari lagi. Kalau mengenai bisnis, sudah aku serahkan kepada adikku. Aku berencana menetap dan merintis bisnis di sana," jawab Sultan.
__ADS_1
"Gila kamu! berani meninggalkan semuanya. Ya kalau kamu berhasil nanti di sana. Jika tidak, mana mungkin kamu minta balik bisnis itu dari adikmu!"
"Aku yakin bisa, meski tidak mudah. Jika memang gagal, mungkin sudah nasibku harus jadi orang biasa. Aku akan jalani apapun nanti takdirku dengan ikhlas."