MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 57. KEPUTUSAN MUTIARA


__ADS_3

Ketika Sultan hendak menelepon Clara, hal itu diurungkannya karena ada panggilan masuk dari Mama.


"Hallo Tan, kamu cepat susul kami ke rumah sakit ya!" perintah Mama.


"Apa Ma! Siapa yang sakit?" tanya Sultan cemas.


"Papa Tan, dada kiri Papa katanya sakit dan nafas Papa juga tiba-tiba sesak," jawab Mama.


"Sekarang Mama sudah sampai mana?" tanya Sultan lagi.


"Kami masih di jalan, kami menuju ke rumah sakit terdekat dari rumah kalian. Ajak Muti kesini ya, biar Mama ada temannya."


"Baik Ma, aku segera berangkat dengan Mutiara. Mama jangan panik ya, tolong berikan handphone Mama kepada Raja, aku ingin bicara dengan dia."


Kemudian Mama pun memberikan ponselnya kepada Raja.


"Ya Kak, ada apa?" tanya Raja.


"Kau perhatikan Papa Ja! Jika sesak di dadanya semakin berlanjut dan kalian belum juga sampai di rumah sakit, kamu beri pertolongan pertama dulu ya. Kamu tahu caranya 'kan?" tanya Sultan.


"Iya Kak! Aku tahu. Mudah-mudahan bukan hal serius yang terjadi dengan Papa," ucap Raja.


"Ya, aku juga berharap seperti itu. Ya sudah kalian hati-hati, aku mau bersiap dulu sekaligus memberitahu Muti," ucap Sultan.


Kemudian Sultan mematikan panggilan, lalu memberitahu Mutia jika suara mobil yang keluar tadi adalah Raja dan Mama yang membawa Papa Hendrawan ke rumah sakit.


Muti merasa bersalah, karena masalah rumah tangganya, Papa Hendrawan jadi sakit. Kemudian dia berkata kepada Sultan, "Ini yang aku takutkan Kak, karena masalah kita orangtua jadi sakit."


Sultan hanya diam, kemudian dia berkata, "Bersiaplah! kita pergi menyusul mereka! Mama butuh kamu untuk menemaninya."


Muti pun mengangguk, lalu dia mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi setelah itu memakai sepatu dan menyambar tasnya. Sultan sudah menunggunya di lantai bawah.

__ADS_1


"Ayo cepat Mut!" ajak Sultan.


Sebenarnya Sultan khawatir tapi dia tidak mau menunjukkannya di hadapan Mutiara.


Keduanya pun berangkat dengan kecemasan masing-masing, saat dibtengah perjalanan, Clara kembali menelepon tapi Sultan mengabaikan panggilan tersebut.


Saat ini pikirannya sedang tidak nyaman memikirkan sang Papa, jadi dia tidak ingin berdebat dengan Clara.


Tapi ponselnya terus saja berdering kuat, hingga membuat Sultan terpaksa mengecilkan dan merijeknya.


Muti hanya melirik Sultan yang seperti ragu untuk mengangkat panggilan tersebut. Kemudian Muti berkata, "Angkatlah! Daripada dia membuat ulah lagi," pinta Muti.


Dalam hatinya, Sultan membenarkan perkataan Mutiara, dia tidak mau dalam situasi seperti ini Clara membuat ulah yang bakal membahayakan kondisi sang Papa.


Kemudian Sultan mengangkat telepon dari Clara dan Clara merasa senang, saat ini dia tidak perlu menunggu lama.


"Ada apa Clara? tolong jika tidak penting, nggak usah sekarang kita ngobrol, karena Papaku sedang sakit," ucap Sultan.


"Memangnya kabar apa?" tanya Sultan balik.


"Oh, dia tidak mengatakannya? Apa dia memang sengaja, agar kamu tidak tahu. Selamat Kak, kita akan menjadi orang tua," ucap Clara.


"Apa maksudmu Clara?"


"Aku hamil Kak, bayi ini adalah hasil buah cinta kita. Aku sangat bahagia, kemarilah Kak! Aku tunggu, kita harus segera membahas pernikahan. Aku tidak mau bayi kita lahir tanpa status pernikahan," ucap Clara.


"Apa! Jangan bercanda kamu Clara!" ucap Sultan terkejut sambil memandang ke arah Mutiara.


Muti membuang wajahnya, memandang keluar melalui jendela mobil, dia menahan air mata yang saat ini hampir tumpah.


Walau bagaimanapun, Sultan adalah suaminya, tidak ada satu wanita pun yang bisa tegar menerima kenyataan jika sang suami akan memiliki anak dari wanita simpanannya.

__ADS_1


Kemudian terdengar suara Clara lagi berkata, "Aku tidak bercanda Kak! Makanya, sekarang Kak Sultan kesini dong, biar aku tunjukkan buktinya, kenapa Kak Sultan sepertinya tidak percaya dan tidak bahagia? Ini anak kita Kak! Apa Kak Sultan tega, dia lahir tanpa Ayah," ucap Clara pura-pura menangis terisak.


Sultan menarik nafas berat dan membuangnya dengan kasar, dia tidak menyangka hal ini bakal terjadi di saat dia memutuskan Clara dan ingin mencoba memperbaiki rumah tangganya.


Sultan memandang ke arah Mutiara, yang masih memandang keluar jendela. Sultan tahu, setegar apapun Muti, pasti hatinya sakit, apalagi Sultan sempat melihat Muti mengelap matanya. Muti menangis tanpa suara.


Sultan yang mengabaikan telepon dari Clara, masih mendengar Clara berkata, "Kak, hallo...hallo, Kak Sultan masih dengar 'kan? Aku tunggu Kakak sekarang juga, jika Kak Sultan tidak datang, berarti Kak Sultan memang tidak peduli dengan anak kita. Untuk apa aku pertahankan, jika papanya tidak menginginkan kehadirannya," ancam Clara.


"Jangan! Jangan lakukan apapun terhadapnya, dia tidak bersalah. Tapi saat ini aku belum bisa kesana Clara, papaku masuk rumah sakit. Ini aku sedang dalam perjalanan kesana," ucap Sultan.


"Aku tunggu paling lambat nanti malam, jika Kakak tidak datang, apa boleh buat, aku tidak mau keluargaku menanggung malu karena akan memiliki cucu haram tanpa pernikahan," ucap Clara.


"Iya, baiklah! Aku akan datang malam ini dan kita tentukan hari pernikahan kita," ucap Sultan sambil kembali memandang ke arah Mutiara dan dia langsung menghentikan mobilnya manakala terdengar isak tangis Muti yang akhirnya pecah.


"Maaf Clara, aku tutup dulu ya. Aku pasti datang nanti malam," ucap Sultan sambil mematikan ponselnya.


"Sultan memberanikan diri memegang tangan Muti, lalu dia berkata, "Maaf, maafkan aku Mut. Aku mohon, jangan sampai berita ini terdengar di telinga orangtuaku, minimal sampai Papa sehat," mohon Sultan.


Mutiara tidak bisa berkata apapun, hatinya saat ini sakit dan terluka tapi dia juga tahu, jika berita ini sampai ke telinga Papa Hendrawan, entah apa yang bakal terjadi dengan Papa mertuanya itu.


Muti menarik tangannya dari pegangan tangan Sultan, lalu dengan menahan Isak tangis diapun berkata, "Setelah Papa sehat, tolong selesaikan pernikahan kita dan kembalikan aku ke rumah orangtuaku. Menikahlah dengan Clara! Karena anak yang dia kandung butuh pengakuan keluarga terutama seorang Papa."


Kenapa sekarang menjadi terbalik bagi Sultan, saat mendengar keikhlasan Mutiara hatinya menjadi sakit, seakan dia tidak rela untuk berpisah dari Muti.


Padahal dulu dia menentang pernikahan dan menginginkan perpisahan segera terjadi biar bisa segera menikah dengan Clara.


Sultan terdiam, dalam pikirannya berputar-putar kilas balik semua kejadian dari awal perjodohan, perjalanan bulan madu, hingga saat ini. Mutiara selalu sabar menghadapi dirinya. Ternyata dirinya begitu bodoh telah menyia-nyiakan Mutiara.


Mutiara telah mengambil keputusan, Sultan tidak punya muka untuk berkata tidak saat ini. Dia pasrah dengan apa yang bakal terjadi, tapi yang dia harapkan hanya melihat Papanya kembali sehat.


"Baiklah Mut, terimakasih. Kamu masih mau memikirkan kesehatan Papa," ucap Sultan tertunduk.

__ADS_1


Kemudian Sultan kembali menghidupkan mesin mobilnya menuju ke rumah sakit, dia ingin segera mengetahui kondisi sang Papa.


__ADS_2