
"Tenang Ma," pinta Raja.
"Iya, Mama nggak boleh emosi, nanti Mama sakit. Bagaimana nanti Papa jika Mama ikutan sakit," ucap Muti.
"Keluar lah dulu Kak, Mama sedang marah, nanti saat sudah tenang, Mama pasti memperbolehkan Kakak untuk menjenguk Papa," ucap Raja sambil menepuk pundak sang Kakak.
"Tapi Ja! Aku hanya ingin tahu keadaan Papa," ucap Sultan.
"Papa baik-baik saja Kak, mudah-mudahan lusa sudah diperbolehkan pulang, cuma kita harus tetap menjaga agar serangan jantungnya jangan sampai terulang lagi."
"Baiklah! Aku akan pergi, tapi kabari Aku ya Ja, jika sampai terjadi apa-apa dengan Papa. Besok sebelum ke kantor aku akan kesini sekalian menjemput Muti."
Raja pun mengangguk, sebenarnya dia iba melihat sang Kakak, apalagi jika Sultan sampai mengetahui bahwa dirinya bukan lagi ahli waris dalam keluarga mereka.
Sultan menghampiri Muti sembari berkata, "Aku akan pergi, besok pagi aku kesini untuk melihat Papa sekaligus menjemput kamu biar kita ke kantor sama-sama."
Kemudian Sultan menghampiri Sang Mama yang tidak mau melihatnya, "Ma, aku pergi dulu. Maafkan aku ya Ma!"
Sang Mama tidak menjawab, lalu Sultan pun bergegas pergi, dia terpaksa balik ke apartemen daripada harus tinggal sendiri di rumahnya.
Sultan mengemudikan mobilnya dengan kencang, perasaannya saat ini sedang kacau. Dia dijauhi keluarganya karena Clara tapi dia tidak mungkin mengabaikan Clara yang telah menjadi istrinya.
Clara terkejut saat mendengar suara bel berbunyi, lalu diapun bergegas membuka pintu, "Hai Sayang, kamu kok balik lagi?" sapa Clara saat melihat Sultan berdiri di hadapannya.
"Memangnya nggak boleh, atau kamu mengharapkan orang lain yang datang!" ucap Sultan sembari menyelonong masuk.
Sultan menghempaskan tubuhnya di sofa, melepaskan jaketnya dengan kasar, dan tanpa melepas sepatu diapun menaikkan kakinya di sofa lain yang ada dihadapannya.
Clara mendekat, lalu dia membuka sepatu Sultan sembari bertanya, "Ada apa sayang, kenapa wajah kakak kusut sekali?"
"Ini semua gara-gara kamu! Seandainya kita langsung pulang, mama tidak akan marah seperti ini. Mama melarang ku menemui Papa bahkan memintaku untuk keluar dari rumah sakit!" ucap Sultan kesal.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kamu marah, semua sudah terjadi, toh kita menikmati kebersamaan kemaren, jadi jangan disesali. Aku yakin, besok Mama pasti menyesal telah mengusirmu atau aku akan kesana menemui Mama untuk meminta maaf, sekaligus menjelaskan bahwa kita sudah menikah," ucap Clara santai.
"Kamu jangan aneh-aneh ya Clara! Sudah aku bilang belum saatnya mereka tahu, jadi jangan malah memperkeruh suasana! Kepalaku pusing dan sekarang aku mau istirahat!" ucap Sultan sembari berjalan menaiki anak tangga menuju kamar.
Clara kecewa, padahal dia sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan pengakuan dari keluarga Hendrawan.
Dia yakin, mampu mengambil hati keluarga itu dan mendepak Muti agar secepatnya keluar dari rumah.
"Huh, Sabar ya Nak! Mama janji, secepatnya akan memberikan rumah dan tempat yang nyaman untuk kamu nanti dibesarkan," monolog Clara sembari mengelus perutnya.
Kemudian Clara mengikuti Sultan yang sudah masuk ke dalam kamar, lalu dia segera naik ke atas ranjang dan memeluk Sultan yang tidur membelakangi dirinya.
"Tidurlah! Aku ingin tenang," ucap Sultan tanpa mengubah posisi tidurnya.
"Yang, jangan begini dong! Pandang aku dan peganglah perutku, bayi kita pasti sedih melihat kamu mengabaikan kami. Aku pijat ya, biar sakit kepalanya hilang," ucap Clara.
Tanpa menunggu persetujuan dari Sultan, Clara pun memijat kepala suaminya itu, hingga rasa pusing pun berkurang. Clara selalu pandai membujuk, di saat perasaan Sultan kurang baik."
Clara berbaring di samping Sultan, lalu merekapun tidur dengan saling berpelukan. Sultan membenamkan wajahnya di dada Clara dan akhirnya tertidur.
Pagi-pagi sekali Sultan sudah bangun, hingga membuat Clara mau tidak mau menyiapkan sarapan untuknya.
"Nanti malam tidur di sini lagi ya Yang, kami merasa nyaman ada kamu di sini. Sejak malam tadi aku tidak merasakan mual, mungkin bayi kita merasakan kehadiran Papanya hingga membuat dia anteng di dalam sini."
"Aku nggak bisa janji, jika dokter mengizinkan Papa pulang hari ini, otomatis Muti akan pulang ke rumah dan aku tidak mungkin membiarkan Muti tidur di rumah kami sendirian."
"Kamu tidak tega dengan si Muti, tapi tega membiarkan kami tinggal sendiri?"
"Sudahlah Clara, jangan membuat kepalaku bertambah pusing. Walau bagaimanapun Muti masih istriku, jadi aku punya tanggung jawab juga atas dirinya."
Kali ini Clara terpaksa mengalah tapi dia akan tetap mencari cara agar perhatian Sultan hanya untuk dirinya.
__ADS_1
Selesai sarapan, Sultan langsung berangkat ke rumah sakit, pagi ini dia akan mencoba menemui Sang Papa.
Sesampainya di rumah sakit, Sultan hanya menemukan Raja, karena Mama dan Muti sedang sarapan di kantin. Mama memaksa Muti untuk sarapan, karena hari ini dia harus mulai bekerja.
Kesempatan itu Sultan pergunakan untuk menemui Sang Papa. Raja tidak mungkin melarang, bagaimanapun Sultan masih memiliki hak sebagai anak.
"Masih ingat pulang?" ucap Papa Hendrawan saat melihat Sultan masuk dan berdiri di sisi ranjangnya.
Sultan tidak berani menjawab, lalu dia bertanya, "Bagaimana keadaan Papa?"
"Kamu pasti senang melihat Papa seperti ini, bukan? Jadi, berdoalah supaya kami, orangtuamu ini cepat mati, jadi tidak akan ada yang mengatur hidupmu lagi," ucap Papa Hendrawan tanpa menoleh ke arah Sultan.
"Papa kenapa ngomong seperti itu, tidak ada anak yang senang melihat orangtuanya sakit Pa! Aku memang sering menentang Papa, tapi aku tidak siap jika harus kehilangan Mama dan Papa. Aku ingin Papa dan Mama bahagia."
"Kalau begitu, tinggalkan wanita itu dan benahilah rumah tanggamu dengan Muti, jika kamu ingin melihat kami bahagia dan mungkin bisa hidup lebih lama."
"Maaf Pa! Aku tidak bisa meninggalkan Clara."
"Kalau begitu, pergilah! Kamu tidak usah menunjukkan wajah lagi di hadapan kami. Anak kami cuma Raja dan juga Muti."
"Pa! Kenapa kalian tidak bisa menerima Clara, dia wanita yang aku cintai Pa! Dan kami sudah..." ucapan Sultan terhenti saat melihat Mama muncul di ambang pintu.
Mama menarik lengan Sultan, lalu beliau mendorongnya keluar kamar, "Pergilah! Mama tidak mau gara-gara kamu, papa sakit lagi. Jangan coba-coba kamu bicarakan wanita itu di depan Papa."
"Tapi Ma! Aku masih ingin ngobrol dengan Papa. Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya Ma!"
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan tentang wanita itu! Sekarang juga, kamu temui pengacara Pradipta dan segera tandatangani semua surat-surat. Jika kamu masih menganggap kami penting dalam kehidupanmu, silahkan ikut aturan yang tertera di sana!"
"Aturan apa Ma?" tanya Sultan tidak paham atas yang dikatakan sang Mama.
"Kamu akan tahu semuanya setelah bertemu Pradipta. Jadi sekarang pergilah! Semua pilihan ada ditanganmu," ucap Mama sembari menutup pintu ruang rawat suaminya.
__ADS_1