
Hari yang paling ditunggu pun tiba, MUA sudah selesai merias kedua mempelai wanita. Muti dan Elena terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya bernuansa gold serta dipadu dengan hijab yang berwarna senada.
"Ayo kita berangkat Nduk, pasti mempelai pria sudah menunggu," ajak Ayah.
"Iya Yah, jawab Muti dan Elena serempak.
"Wah, anak-anak ibu cantik sekali!"
"Anak siapa dulu! lah wong ibunya juga cantik!" timpal Ayah hingga membuat Muti dan Elena tertawa.
Rombongan pengantar pengantin yang sejak tadi menunggu, takjub melihat keduanya bak seorang putri kerajaan.
Fadhil, Fadhlan, beserta beberapa orang kerabat serta tetangga lalu bersiap, mereka segera naik ke mobil mereka masing-masing.
Sementara kedua pengantin naik ke mobil yang sengaja di kirim Adam untuk menjemput mereka.
Rombongan pun berangkat, Muti dan Elena merasa gugup begitu rombongan hampir sampai ke gedung tempat acara akan berlangsung.
Meski ini pengalaman kedua bagi Muti, tapi dia merasakan hal yang berbeda. Detak jantungnya tidak karuan dan tangannya terasa sangat dingin.
"Mbak, aku kok gugup ya?"
Muti menyeringai sambil berkata, "Sama El, aku juga."
"Mbak saja yang kali kedua, seperti ini, apalagi aku!"
"Iya El, sangat berbeda. Mungkin, pernikahan ku yang dulu karena diawali perjodohan ya?"
"Dan yang sekarang, karena cinta 'kan Mbak?"
Muti mengangguk dan senyumnya mengembang. Dia tidak pungkiri hal itu, Adam telah menakhlukkan hatinya.
Mobil yang mengantar merekapun sudah memasuki area parkir, lalu kedua mempelai pun turun dibantu oleh para Mua.
Rombongan pengiring segera mengikuti ayah, ibu mengiring pengantin masuk ke dalam gedung.
Benar saja, Adam dan Raja beserta pengiring mereka masing-masing sudah menunggu di dalam.
Mau mengajak mempelai untuk duduk di tempat yang telah di sediakan untuk acara akad nikah.
__ADS_1
Adam tak henti-hentinya mencuri pandang, dia makin kagum dengan kecantikan sang istri, cantik luar dalam. Itu yang saat ini ada dalam pikiran Adam.
Begitu pula dengan Raja, hingga lengannya di senggol oleh sang Mama.
"Sabar, fokuslah dulu Ja ke acara ijab qobul," pinta sang Mama.
Raja menyeringai, "Iya Ma, habisnya menantu Mama cantik banget," ucap Raja.
"Iya Mama tahu. Ayo fokus, sebentar lagi acara di mulai, awas, jika kamu sampai gugup dan tidak bisa mengucapkan lafadznya."
"Jangan gitu dong Ma! Bismillah, Aku harus bisa Ma, malu!"
Moderator segera membuka acara, dengan di awali doa. Kemudian dilanjutkan oleh penandatanganan berkas-berkas pernikahan.
Penghulu pernikahan meminta kedua mempelai pria untuk membacakan janji pernikahan sebelum akad dilaksanakan.
Dan Penghulu pernikahan juga memberi nasehat, bagaimana seorang suami harus memperlakukan sang istri, sesuai ajaran agama.
Setelah itu baru masuk ke acara inti, yaitu akad ijab qobul.
Karena Elena tidak memiliki wali, maka diwakilkan kepada wali hakim.
Pertama, Adam dengan Muti dulu yang akan dinikahkan, baru dilanjutkan, pernikahan Raja dengan Elena.
Dalil mengenai mahar telah diatur dalam firman Allah, Q.S An-Nisa ayat 4 yang artinya:
“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."
Muti mengangguk dan mengatakan jika seperangkat perhiasan dan alat sholat sebagai mahar, sementara yang lainnya berupa hadiah pernikahan dari Adam.
Penghulu pernikahan, segera meminta Adam dan Ayah berjabat tangan, karena akad nikah akan segera di lafadzkan.
Ayah dan Adam pun berjabat tangan, setelah penghulu memberi arahan dan Lafadz ijab qobul pun siap untuk diucapkan.
Ayah : "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Adam bin Surya Prasetya dengan anak saya yang bernama Mutiara dengan maskawinnya berupa seperangkat perhiasan dan alat sholat, tunai!"
Lalu Adam menjawab dengan satu kali tarikan nafas, "Saya terima nikahnya Mutiara binti Danuarta dengan mas kawin seperangkat perhiasan dan alat sholat dibayar, tunai."
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu pernikahan.
__ADS_1
"Sah," ucap kedua saksi, lalu disambut oleh semua orang yang hadir di sana.
Ayah dan Ibu lega, kini status Muti sudah berubah, menjadi seorang istri dari pria yang bernama Adam.
Setelah dinyatakan sah, Muti pun menyalam tangan Adam, lalu menciumnya. Dan Adam mencium puncak kepala Muti sembari berdoa untuk kebahagiaan dan keberkahan rumah tangga mereka.
Lalu, proses ijab qobul juga dilaksanakan oleh Raja dan wali hakim.
Setelah mereka selesai, kedua pasangan pengantin pun sungkem kepada para orang tua. Lalu, para sahabat dan kerabat memberi ucapan selamat.
Raja memeluk Adam dan begitu pula Muti dengan Elena. Mereka semakin terikat kekerabatan karena pernikahan yang terjadi.
Acara pun di tutup dengan pembacaan doa. Setelah itu Ayah Danu dan Ayah Hendra, mempersilakan semua orang yang hadir untuk menikmati hidangan, sebelum para tamu undangan tiba.
Muti dan Elena mengambil makanan untuk diri dan juga untuk suami masing-masing. Mereka harus mempersiapkan tenaga untuk acara pesta yang bakal digelar hingga malam.
Setelah selesai makan, para pengantin beristirahat sejenak, mengobrol dengan kerabat, sambil menunggu MUA yang akan mengganti pakaian Muti dan Elena dengan gaun.
MUA pun tiba, lalu mengajak pengantin ke ruangan ganti untuk merias mereka kembali.
Setelah selesai, kedua pasangan pengantin pun diminta duduk ke pelaminan. Dan para fotografer, sibuk memainkan kameranya dengan meminta pengantin berpose dengan berbagai gaya.
Tamu pun sudah pada datang dan tempat itu sebentar saja menjadi sangat ramai dengan para kerabat, tetangga, juga para karyawan serta kolega dari ketiga perusahaan besar yang mereka kelola.
Dan yang mengejutkan kedua keluarga besar itu adalah kedatangan Sultan. Sultan datang bersama seorang wanita berwarga negara asing.
Ternyata, wanita itu bernama Caterina, relasi Adam yang berdomisili di Inggris.
Sultan berusaha menegarkan hati, dengan mengulas senyum untuk keempat mempelai dan dia berbesar hati memberi ucapan selamat serta doa. Walau bagaimanapun, saat ini Muti telah kembali memiliki ikatan dengan keluarganya.
Mama dan Papa Hendra yang melihat kehadiran Sultan langsung memeluk sang putra. Mereka tahu, bagaimana perasaan Sultan saat ini.
Ada air mata yang hampir menetes, tapi buru-buru Sultan hapus, sebelum orang-orang melihatnya.
Sultan merasakan rasa sakit di relung hatinya, yang tidak bisa dan tidak mungkin dia ungkapkan kepada siapapun.
Caterina tahu, Sultan saat ini butuh teman yang bisa mendukungnya. Lalu, dia menggandeng lengan Sultan dan mengajaknya untuk mengambil minuman.
Mama dan Papa Hendrawan, membiarkan Sultan pergi bersama dengan Caterina, mungkin dengan adanya gadis itu, Sultan akan bisa segera melupakan serta mengikhlaskan Mutiara.
__ADS_1
Ayah Danu dan Ibu pun menghampiri Sultan serta Caterina, lalu meminta mereka untuk menikmati hidangan.
Bersambung......