MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 46. SABAR BUKAN BERARTI LEMAH


__ADS_3

Sultan menjelaskan kepada Clara sebenarnya mobil itu dia beli untuk Mutiara. Karena, Sultan tidak mungkin bisa mengantar jemput Mutiara jika ingin bepergian.


Lagipula, Sultan tidak mau martabat keluarga Hendrawan jatuh di hadapan keluarga Mutiara, jika sampai Muti meminta kenderaan dari rumah orangtuanya untuk Muti gunakan selama tinggal bersamanya.


Mendengar penjelasan dari Sultan, Clara merasa menang, dia akhirnya yang duluan mendapatkan mobil tersebut ketimbang Mutiara.


"Terimakasih Sayang, kak Sultan sudah buktikan, jika lebih mengutamakan aku ketimbang Mutiara," ucap Clara sembari mengeratkan pelukannya di lengan Sultan.


"Tentu dong Yang. Tapi, ingat janji kamu nanti malam!" tagih Sultan.


"Siap Sayang, aku pasti berikan pelayanan yang terbaik untuk Kak Sultan."


Dengan wajah bahagia, Clara menggandeng Sultan, mengajaknya pergi bersenang-senang sambil makan malam di tempat yang romantis.


Saat Sultan bersenang-senang di luaran bersama Clara, Muti menunggu di rumah, hingga makanan yang Muti masak tidak tersentuh dan dia tertidur di kursi makan dengan perut kosong.


Muti terbangun saat mendengar ponselnya berdering, ternyata dari Elena.


"Hallo Mbak," sapa Elena saat Muti mengangkat panggilan video darinya.


"Kamu El, aku sampai terkejut," ucap Muti sembari mengucek matanya.


"Mbak bangun tidur? lho...bukannya Mbak Muti sedang berada di ruang makan? Kenapa Mbak tidur di sana?" tanya Elena heran.


"Ssst, jangan keras-keras bicaranya El, nanti kedengaran sama Ayah dan Ibu, aku tidak mau mereka susah memikirkan rumah tanggaku," ucap Mutia.


"Iya Mbak, maaf. Kenapa Mbak Muti tidur di ruang makan? Apa Tuan belum pulang?"


Mutia hanya mengangguk, dia tidak mau menceritakan secara detail aib rumah tangganya.


Elena mendesah, lalu bertanya, "Mbak Muti pasti belum makan? Saat Ini sudah jam 21.00 Mbak, nanti Mbak Muti sakit lagi. Jangan Mbak tunggu Tuan, yang tidak pasti kapan pulang. Pasti, saat ini Tuan bersama wanita pelakor itu! Mana mungkin kantor belum tutup jam segini!" ucap Elena marah.


"Sudahlah El, nggak boleh terus berprasangka buruk, barangkali memang Kak Sultan sedang lembur," ucap Muti berusaha menutupi keburukan suaminya.

__ADS_1


"Mbak Muti jangan cuma diam saja, sekali-kali Tuan Sultan harus di lawan, jangan seenaknya menginjak harga diri istri, mentang-mentang, istri diam, terus di pijak!"


"Sudah El, nanti kita strok, jika keseringan marah."


"Aduh Mbak, terbuat dari apa sih hati Mbak Muti, kok bisa sesabar ini? Jika aku di posisi Mbak, sudah aku damprat dan mungkin ku jambak-jambak rambut pelakor itu Mbak!" ucap Elena sembari memperagakan dia sedang geram dengan seseorang.


Kemudian Elena berkata lagi, "Dan, Tuan Sultan pasti aku tinggalkan. Lebih baik aku hidup menjanda daripada tersiksa batin," ucap Elena sambil mengepalkan kedua tangannya.


Wajah Muti murung, dia sedih tapi Muti tidak mungkin meninggalkan pernikahannya yang masih berumur beberapa hari.


Melihat wajah Muti seperti itu, Elena jadi ikut sedih dan dia merasa bersalah telah membuat Muti sedih. Kemudian Elena berkata, "Maafkan aku Mbak, aku sudah membuat Mbak Muti sedih."


"Bukannya Aku lemah El, Aku bertahan demi kedua keluarga El, terutama demi Ayah dan Ibu. Apa kata orang nanti jika pernikahan ku kandas, padahal belum seumur jagung. Yang pasti aku akan mencoreng malu di wajah para orangtua."


"Tapi, mau sampai kapan Mbak. Mbak harus melakukan sesuatu jika masih ingin mempertahankan rumah tangga kalian," saran Elena.


"Iya El, aku juga masih berpikir harus bertindak bagaimana, agar bisa bertahan pada situasi seperti ini. Aku juga punya hati dan batas kesabaran El, jadi aku tidak mungkin selamanya diam, mereka perlakukan aku seperti ini!" ucap Mutiara.


"Nah ini aku setuju, bangkit Mbak! beri mereka pelajaran, khususnya pelakor itu, biar dia jera dan tidak menggangu rumah tangga orang seenaknya saja!" ucap Elena yang berusaha membakar semangat Mutiara.


"Terbalik Mbak, aku yang lebih beruntung. Ayo semangat Mbak! Mbak harus makan sekarang, jangan sampai Mbak Muti sakit gara-gara mereka. Jika Mbak sakit, siapa yang akan mengurus Mbak, sementara jarak tempat tinggal kita lumayan jauh."


"Iya El, ini aku mau makan."


"Nah gitu, selamat makan Mbak. Aku tutup dulu ya, mau lihat Ibu, sepertinya di luar sedang ramai, mungkin kedua Kakak Mbak Muti baru tiba."


"Iya El, titip salam buat mereka ya! Insyaallah minggu depan aku berkunjung ke sana," ucap Mutiara.


"Oke Mbak, aku tunggu ya kedatangan Mbak Muti. Assalamualaikum," ucap Elena menutup panggilannya.


Muti pun membalas salam Elena, dan saat melihat panggilan dari Elena sudah terputus, lalu Muti bergegas ke wastafel, mencuci tangannya dengan sabun.


Setelah itu Muti mengambil sepiring nasi beserta lauk dan sayur. Walaupun tidak selera, tapi dia harus memaksa makanan itu agar masuk ke dalam perutnya. Benar kata Elena, Muti tidak boleh lemah, jangan sampai sakit yang bakal merugikan dirinya sendiri.

__ADS_1


Sesuap demi sesuap, makanan itu masuk ke mulut Mutia, sesekali Muti sedih, dia teringat kebersamaan makan dengan keluarganya.


Biasanya jika Muti tidak berselera makan, ibu akan memasakkan makanan kesukaannya dan menyuapkan ke dalam mulutnya.


Ayah biasanya selalu bertanya, Muti ingin makan apa, buah apa dan apapun yang Muti minta pasti Ayah segera membelinya.


Begitu juga dengan kedua Kakak Muti yang sangat menyayanginya, Fadlan dan Fadhil tidak pernah membiarkan adiknya bersedih. Mereka selalu membuat Muti tersenyum dan tertawa.


Sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya, Muti menitikkan air mata. Dia rindu keseharian bersama keluarganya. Di rumah ini dia asing, hidup kesepian.


Mau bertandang ke tetangga, itu bukan tipe Mutiara, karena mudharatnya pasti lebih banyak, Muti takut aib rumah tangganya bisa terkuak tanpa sengaja dan takut menggunjingkan sesuatu yang jelas tidak bermanfaat.


Saat ini, Muti hanya bisa menikmati kesendirian tanpa kasih sayang dan perhatian dari suami. Muti menghapus air matanya, dia tidak ingin terlihat begitu lemah jika Sultan nanti kembali.


Setelah menyelesaikan ritual makannya, Muti pun mencuci piring lalu menyimpan sisa sayur dan lauk ke dalam kulkas.


Muti tidak mau membuang makanan, sesuai yang selalu di ajarkan oleh kedua orangtuanya.


Allah SWT juga tidak menyukai hambanya yang membuang-buang makanan karena itu adalah mubazir.


Kata mubazir sendiri diartikan sebagai menggunakan sesuatu tidak pada tempat yang layak. Mubazir tidak hanya pada makanan saja, tetapi juga harta lainnya.


Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Isra ayat 26 yang artinya:


"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada tuhannya," (QS Al-Isra:26).


Sementara itu, memilih untuk menyudahi makan karena sudah kenyang juga memiliki landasan. Sebab makan di atas rasa kenyang juga dilarang oleh syariat karena termasuk perbuatan israf atau berlebih-lebihan.


"Makan dan minumlah kalian dan janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan," (QS Al-A'raf: 31).


Lalu, dalil mana yang harus diutamakan jika berada di kondisi kenyang sebelum makanan habis?


Dalam hal ini harus dilihat konteksnya. Jika makanan yang diambil berakhir dengan terbuang sia-sia, makan itu termasuk mubazir dan tidak disenangi Allah SWT.

__ADS_1


Seorang ulama pernah menjelaskan bahwa barangkali ada satu keberkahan yang terdapat pada satu butir terakhir. Jika makanan tidak habis lalu dibuang, maka manusia akan kehilangan keberkahannya.


__ADS_2