MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 96. MENGATAKAN KEBENARAN


__ADS_3

"Yah, Mbak Muti sudah datang," ucap Elena yang menjemput ayah Muti yang baru selesai melaksanakan ibadah ashar."


"Suruh masuk saja El ke ruangan ayah, sebentar lagi ayah kesana."


"Baiklah Yah."


Elena menemui Muti, lalu mengajaknya masuk ke ruangan ayah.


"Mbak kenapa nggak telepon aku dulu, jadi bisa aku jemput," ucap Elena.


"Aku nggak mau merepotkan kamu El. Tadi pagi sudah merepotkanmu masa iya sore juga. Naik ojek, malah lebih cepat sampai," ucap Muti.


"Oh ya Mbak, itu ayah sudah selesai, aku keluar dulu ya Mbak, biar Mbak Muti lebih enak ngobrol dengan Ayah."


"Santai saja El, nggak apa-apa kok, nanti kamu juga pasti tahu apa yang akan aku bicarakan."


"Aku mau selesaikan pekerjaan Mbak, biar nanti bisa mengantar Mbak Muti pulang."


"Oh gitu, ya sudah sana! Nanti antar aku ke rumah Papa saja ya."


"Siap Mbak!"


Muti menyalim tangan ayahnya, lalu dia menarikkan kursi agar Ayahnya bisa duduk.


"Kamu dari mana Nduk, tumben kamu kesini dadakan, memangnya apa yang mau kamu bicarakan?" tanya ayah.


"Maaf ya, Muti terpaksa harus mengatakan ke Ayah, daripada ayah nanti tahu dari orang lain."


"Apa itu Nduk, ayo katakanlah! Ayah siap mendengar apapun masalahmu."


"Muti mengajukan gugatan cerai!"


"Apa Nduk, apa ayah tidak salah mendengar? Pernikahanmu belum ada setahun, kenapa kamu malah ingin bercerai? Apa alasanmu Nduk? Apa Sultan menyakitimu? Biar ayah bicara dengan dia tapi kamu batalkan dulu gugatan ceraimu. Apa kata Hendrawan nanti, anak ayah menggugat cerai putranya!"

__ADS_1


"Muti tidak bisa lagi bertahan Yah, selama ini Muti sudah berusaha bertahan tapi Kak Sultan tidak pernah bisa mencintai Muti."


"Kamu harus sabar Nduk, nanti ada saatnya cinta pasti akan datang seiring berjalannya waktu, kalian bersama. Seperti hal nya ayah dan ibu dulu, Kami juga tidak kenal yang namanya pacaran tapi akhirnya kami bisa saling mencintai dan memiliki kalian bertiga sebagai hasil buah cinta kami."


"Itu tidak sama dengan yang Muti alami Yah! Ayah tidak selingkuh di belakang ibu, seperti yang Kak Sultan lakukan," ucap Muti sembari tertunduk.


Sebenarnya hati Muti berat untuk mengatakan aib suaminya kepada sang Ayah, tapi tidak ada cara lain untuk meyakinkan beliau, jika gugatan cerainya memang memiliki alasan yang kuat.


"Apa maksudmu Nduk? Memangnya kamu punya bukti jika Sultan selingkuh. Jangan asal nuduh suami Nduk!"


"Bukan bukti lagi Yah, bahkan sekarang wanita itu tinggal bersama kami. Mereka sudah menikah tanpa izinku karena wanita itu sudah mengandung."


"Apa! dasar Baji***n Sultan! Dia telah menyakitimu, menyakiti putriku. Kenapa kamu sembunyikan hal besar ini dari kami Nduk? Ayo, kita ke rumah mu, Ayah mau buat perhitungan sama Sultan. Hendrawan harus bertanggung jawab, aku tidak terima kamu diperlakukan seperti ini!" ucap Ayah yang merasa emosi.


"Tenang Yah, Muti nggak ingin ayah sakit. Papa dan Mama tidak bersalah, mereka sudah tahu kelakuan Kak Sultan, tapi mereka belum tahu jika Kak Sultan sudah menikahi wanita itu dan tinggal di rumah kami. Papa telah mengalihkan harta bagian kak Sultan atas nama Muti sejak beliau tahu Kak Sultan masih berhubungan dengan wanita itu," ucap Muti.


"Tapi tetap Ayah tidak terima, mereka harus menjelaskan semua ini kepada Ayah. Sekarang ayah serahkan keputusan sama kamu Nduk, jika perceraian menurutmu yang terbaik ayah setuju."


"Terimakasih Yah, ayah mau mengerti perasaan Muti. Muti tidak bisa hidup di madu Yah, apalagi kami tinggal serumah dan keadilan tidak pernah ada. Kak Sultan mencintai wanita itu dan wanita itu pandai mencari muka di depan Kak Sultan. Mutu tidak berarti apapun, jadi untuk apa bertahan, hanya menambah dosa."


"Ayo kita berangkat, tapi ayah akan hubungi Hendrawan dulu, dia saat ini di rumah atau tidak," ucap ayah sembari menekan tombol panggil du nomor kontak sahabatnya itu.


Hendrawan yang melihat ada panggilan telepon dari Danu segera menerimanya dan dia sedikit terkejut saat ayah Muti dengan nada sedikit tinggi berbicara kepadanya.


"Hendra! Sekarang juga aku ingin bertemu kamu! Aku tidak terima putriku diperlakukan buruk oleh putramu! Aku mau hari ini juga dia selesaikan semua dan aku akan membawa putriku pulang!"


"Maaf Dan, ternyata kamu sudah tahu. Maafkan aku yang telah menyeret putrimu, hingga dia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangganya. Aku menyesal Dan, putraku memang breng**k! Aku sudah mencabut hak warisnya dan malam ini juga dia harus menentukan keputusan."


"Sekarang juga aku ke rumahmu bersama Muti dan kau telepon Sultan untuk datang!"


"Jangan ke rumahku Dan, ke rumah Muti saja, karena saat ini aku sedang di rumah mereka."


"Baiklah Hen, aku berangkat sekarang."

__ADS_1


Danuarta pun menutup panggilannya, lalu dia mengajak Muti untuk pulang ke rumahnya.


"Sejak kapan Papa dan Mama di rumahku ya, atau jangan-jangan mereka sudah tahu jika wanita itu tinggal bersama kami."


"Entahlah Mut! Yang terpenting sekarang kita harus minta pertanggungjawaban Sultan untuk masalah ini."


Kemudian ayah meninggalkan ruangannya diikuti oleh Muti. Muti tahu, saat ini ayahnya sedang marah, makanya dia lebih memilih diam sepanjang perjalanan pulang.


Sultan yang kembali menghubungi Muti merasa kesal karena panggilannya tidak juga di terima oleh Muti, padahal ponsel Muti aktif.


"Dimana kamu Mut, kenapa panggilanku tidak kamu angkat, apa kamu memang sengaja dan kamu tidak pergi ke kantor ayah. Aku akan coba telepon Elena, barangkali Elena bisa menjelaskan di mana Muti sebenarnya saat ini," monolog Sultan.


Sultan pun menelepon Elena dan Elena menerima panggilan darinya.


"Hallo El, kamu masih di kantor ayah 'kan?" tanya Sultan.


"Iya Tuan, memangnya kenapa?"


"Apa Muti ada di sana? Aku ada hal penting yang mau di bicarakan, tolong beritahu dia untuk mengangkat panggilan dariku!" pinta Sultan.


"Maaf Tuan, tadi Mbak Muti memang di sini, tapi sekarang sudah pulang diantar oleh ayah," jawab Elena.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Terimakasih El," ucap Sultan sembari menutup panggilannya.


Mendengar Muti pulang diantar sang Ayah, Sultan yakin saat ini ayah mertuanya pasti sudah tahu tentang kondisi rumah tangganya.


Sultan menarik nafas dalam, lalu membuangnya kasar. Apapun yang akan terjadi, dia pasrah.


Hari ini semua bakal terungkap dan Sultan akan menanggung resiko atas perbuatanya yang telah mempoligami Mutiara.


Amukan para orang tua, jelas sudah menantinya di rumah.


Bersambung.......

__ADS_1


Mampir juga yuk sobat ke dalam karya baru ku sambil menunggu aku Up lagi besok. Jangan lupa dukung terus karyaku ya, dengan cara follow akun, vote, like dan coment yang membangun agar aku terus rajin Up. Terimakasih πŸ™πŸ˜˜



__ADS_2