
"Mas Adam harus tahu berita ini secepatnya, aku ingin melihat mereka bahagia. Aku nggak mau Mbak Muti menyia-nyiakan hidup dan aku yakin Mas Adam adalah pria yang tepat bagi Mbak Muti. Sebelum Mas Adam kepincut gadis lain, lebih baik jika aku memberitahunya sekarang," monolog Elena.
Elena pun mencari nomor kontak Adam, tapi belum sempat dia menghubunginya, Ayah datang memanggil.
"El, bisa tolong Ayah. Tolong antarkan berkas ini ke perusahaan Duta Biru sekarang juga. Mereka saat ini menunggu, sedangkan OB kita pulang cepat tadi karena istrinya masuk rumah sakit."
"Baik Yah, sebentar El bersiap dulu. Oh ya Yah, berhubung hari telah sore, pulangnya El langsung ke rumah Mbak Muti ya Yah? El janji nggak akan pulang larut."
"Baiklah, titip salam buat Muti ya dan tolong bilang agar hari minggu dia ke rumah karena keluarga dari kampung akan datang."
"Iya Yah."
Elena pun mengambil tas dan kunci mobil lalu bergegas ke parkiran untuk menjalankan perintah dari ayah.
Sementara Muti yang sudah selesai makan, memanggil pelayan yang kebetulan lewat, "Mas, tolong bawakan bil pesanan Saya ya!"
"Baik Mbak, mohon ditunggu ya!"
Setelah beberapa saat menunggu, pelayan itupun kembali, "Maaf Mbak, bil tagihannya sudah dibayar!"
"Lho, siapa yang bayar Mas, bukankah suami Saya tadi langsung pergi?" tanya Muti heran.
"Itu Mbak! Mas yang sedang mengantar tamunya keluar. Dia yang membayar tagihan pesanan Mbak."
"Oh, Mas Adam. Kalau begitu terimakasih ya Mas dan ini tips buat Mas. Dia memang teman Saya."
Muti melihat Adam kembali ke mejanya, diapun bermaksud menghampiri dan ingin mengucapkan terimakasih, tapi niatnya diurungkan saat melihat Adam bersiap hendak pergi.
Ternyata, Adam menoleh, dia tersenyum sembari berjalan menghampiri Muti.
"Assalamualaikum Mbak," sapa Adam.
"Wa'alaikumsalam Mas. Terimakasih ya Mas, ternyata Mas Adam yang membayar tagihan pesanan ku. Tadi sempat bingung, siapa orang baik yang melakukan hal itu, sementara Kak Sultan belum membayarnya karena harus balik ke kantor."
__ADS_1
"Iya, tadi saat aku dan tamuku masuk, aku melihat kalian sedang makan dan melihat Sultan tiba-tiba pergi dengan terburu-buru jadi aku menduga bil tagihan belum dibayar. Ya sudah deh, nggak ada salahnya jika sekalian saja aku bayar dengan pesananku."
"Sekali lagi terimakasih ya Mas, Kak Sultan memang belum sempat membayarnya karena dia terburu-buru, harus balik ke kantor, ada klien penting yang sedang menunggunya."
"Oh ya Mbak, boleh minta waktunya sebentar, aku ingin membicarakan sesuatu."
"Silahkan Mas, sebaiknya kita duduk di sini saja, lagipula aku masih malas untuk pulang cepat," ucap Mutiara.
"Karena keberadaan Clara?"
"Bagaimana Mas Adam bisa tahu?"
"Seperti yang pernah aku katakan Mbak, detektif sewaan ku selalu mengawasi gerak-gerik Clara. Aku tidak mau jika dia sampai mengganggu dan menyakiti Mbak."
"Jadi, Mas Adam juga tahu, jika mereka sudah menikah?"
Adam pun mengangguk, lalu dia berkata, "Saat ini akupun tahu Mbak, jika Clara sedang bersama selingkuhannya di apartemen Sultan."
"Aku malah kasihan terhadap Mbak Muti yang masih saja sabar bertahan dalam situasi seperti itu. Cuma aku tidak akan tinggal diam jika melihat mereka sampai menyakiti fisik Mbak."
"Sebenarnya sudah menyerah Mas, karena aku tahu jika Kak Sultan tidak akan pernah bisa mencintaiku, apalagi bila anak mereka lahir nanti. Mungkin, Kak Sultan memang bukan jodoh terbaik untukku. Namun, aku masih harus bertahan Mas demi keluarga Hendrawan sampai Kak Sultan sadar jika wanita itu hanya memperalat dan ingin menguasai harta keluarganya saja. Aku akan pergi dan mengembalikan harta ke tangan Kak Sultan saat dia sudah menyadari semuanya."
"Mbak Muti serius ingin berpisah dari Sultan?"
"Iya Mas, aku sudah memutuskan dan sudah mengatakan kepada Papa dan Mama. Hanya tinggal memberitahu ayah dan ibuku saja."
"Kalau begitu, apakah aku masih berkesempatan untuk mendapatkan hati dan melamar Mbak Muti?" tanya Adam serius.
"Mas Adam yakin, bersedia menunggu dan mau menerima diriku saat aku sudah menjadi jandanya Kak Sultan?" tanya Muti balik, bukannya menjawab pertanyaan Adam.
"Aku sangat yakin Mbak, jika Mbak Muti memang memberiku kesempatan," jawab Sultan tanpa ragu.
"Insyaallah Mas, aku hanya ingin mendapatkan pendamping yang mau menyayangiku apa adanya tanpa memandang statusku sebagai janda."
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini kabar bahagia yang sama sekali tidak pernah aku duga. Aku akan menerima dan mencintai Mbak Muti apa adanya dan aku pastikan, tidak akan pernah menyia-nyiakan Mbak seperti yang Sultan saat ini lakukan."
"Terimakasih Mas, sudah membuatku menjadi wanita yang beruntung."
"Mulai saat ini, aku akan lebih melindungi Mbak dan akan membantu menyelesaikan semua masalah, biar kita bisa segera bersama," ucap Adam.
"Mas Adam boleh melindungiku, tapi ku mohon, beri aku kesempatan Mas, untuk menyelesaikan masalah rumah tanggaku sendiri agar tidak ada tudingan jika kita melakukan perselingkuhan. Mas Adam tidak usah khawatir, aku pasti bisa menyelesaikan semuanya. Apakah Mas Adam bersedia untuk bersabar?"
"Insyaallah Mbak, aku akan sabar. Tapi ku mohon, izinkan aku ikut bersama Mbak Muti, membicarakan tentang semua ini kepada ayah dan ibu. Aku ingin mereka tahu, jika aku bersungguh-sungguh ingin hidup bahagia bersama Mbak."
"Baiklah Mas, nanti aku cari waktu yang tepat agar kita bisa bertemu ayah dan ibu tanpa menimbulkan fitnah."
"Iya Mbak, terimakasih atas kebahagiaan yang telah Mbak Muti berikan hari ini. Semoga sang pencipta meridhoi niat kita yang ingin meraih kebahagiaan bersama."
"Oh ya Mbak, berhubung hari telah senja, sebaiknya kita pulang. Aku tidak mau Mbak terkena masalah, Sultan pasti akan marah jika Mbak Muti pulang kemalaman. Aku akan carikan Mbak Taksi, kita harus menjaga jarak dulu hingga Mbak benar-benar telah bercerai, karena aku tidak mau menambah masalah bagi Mbak Muti."
"Terimakasih Mas, telah mau memahami posisiku."
Adam lalu memesan taksi online dan setelah taksi datang, Adam pun mengantar Muti keluar untuk memastikan jika Muti benar telah naik ke dalam taksi.
Namun, sebelum taksi itu berangkat, Adam meminta Muti untuk memberinya kabar bila dia sudah tiba di rumah.
Muti pun mengangguk, lalu melambaikan tangan hingga taksi yang membawanya keluar dari halaman cafe lesehan tersebut.
Adam tersenyum gembira, ternyata penantiannya selama ini mulai membuahkan hasil, lalu diapun naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan cafe tersebut.
Elena yang ingin memberikan kejutan kepada Muti, datang ke rumahnya tanpa memberinya kabar terlebih dulu. Dia memencet bel, berharap Muti yang akan membukanya bukan Clara.
Selamat sore sahabat semua, hari ini aku merekomendasikan karya sahabatku yang pastinya nggak kalah seru lho, yuk mampir juga di sana dan jangan lupa tinggalkan dukungan kalian ya ke dalam karya kami, terimakasih 🙏
Happy reading, see you🥰
__ADS_1