
Muti terburu-buru meninggalkan Clara karena dia sudah telat untuk menemui kliennya dan hari ini dia juga harus datang ke lelang tender yang akan di hadiri oleh para pengusaha industri pakaian.
Pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan baru untuk penggunaan corak baju batik terbaru sebagai salah satu pakaian yang harus digunakan di setiap instansi pada hari tertentu.
Dan hari ini Muti berharap mereka yang akan memenangkan tender tersebut sebagai langkah awal dalam kepemimpinannya di perusahaan tersebut.
Saingan perusahaan Muti cukup banyak dan kali ini ada 3 perusahaan besar yang masuk termasuk salah satunya adalah perusahaan Adam.
Namun Muti menyikapi hal itu dengan santai dia hanya berdoa, jika memang itu adalah rezeki perusahaannya, pasti Muti akan memenangkan tender tersebut.
Setelah menemui kliennya, Muti mengajak Dina ke acara lelang, karena Muti masih harus banyak belajar, setidaknya Dina lebih berpengalaman darinya.
Di sana telah hadir beberapa orang petinggi perusahaan termasuk Adam.
Adam mendekati Muti, lalu berkata, "Selamat datang Bu Muti," ucap Adam sembari mengulurkan tangan.
Muti pun membalas uluran tangan Adam, "Terimakasih Pak Adam, apakah Saya terlambat?"
"Hampir, tapi panitia lelang juga baru saja hadir. Silahkan duduk Bu!" ucap Adam sembari mempersilakan Muti duduk di sebelahnya.
Keduanya bersikap profesional, sesuai tempatnya. Meski mereka sahabat dekat, tapi di sini mereka adalah tetap pesaing bisnis.
Saat ini keduanya masih menjaga jarak dan Adam juga belum mengetahui jika Muti sudah bercerai.
"Oh ya Bu Muti, kemana Tuan Sultan, kenapa Anda yang mewakilinya?" tanya Adam.
"Beliau sedang tidak sehat dan hari ini tidak datang ke kantor, jadi saya mewakilinya sebagai utusan perusahaan Hendrawan."
"Oh, mudah-mudahan saja salah satu dari kita yang nanti akan memenangkan lelang ini. Aku hanya berharap meski siapapun pemenangnya nanti diantara kita, perusahaan Hendrawan dan perusahaan ku bisa bekerjasama seperti dulu saat Tuan Hendrawan memimpin."
"Mudah-mudahan Pak, kita akan buat planning kerjasama kedepannya," jawab Muti.
"Oh ya, acara akan segera di mulai, mari kita siapkan penawaran terbaik di sini," ucap Adam.
__ADS_1
"Iya Pak Adam."
Keduanya pun mengikuti tahapan-tahapan lelang. Masing-masing petinggi perusahaan memberikan tawaran, hingga giliran Muti.
Adam sengaja memberikan kesempatan menang kali ini kepada Muti karena sudah beberapa kali lelang terakhir selalu perusahaannya yang menang.
Tender proyek pengadaan pakaian batik kali ini jatuh ke tangan perusahaan Hendrawan yang di wakili oleh Muti.
Semua memberi selamat dan terakhir adalah Adam.
"Selamat Mbak, semoga sukses terus dalam berkarir, untuk kedepannya."
"Terimakasih Mas, tapi aku tahu, Mas Adam mengalah demi aku."
"Bukan demi Mbak Muti, tapi demi kerjasama perusahaan kita kedepannya," ucap Adam sembari tersenyum.
"Jadi apa nih sebagai ucapan terimakasih kami untuk Mas Adam?" tanya Muti.
"Traktir Saya makan siang dan penuhi janji Mbak Muti untuk mengajak Saya bertemu orangtua Mbak. Itupun jika Mbak Muti tidak keberatan."
"Baiklah Mbak, Saya akan terus sabar menunggu, sebulan, setahun atau lima tahun sekalipun jika Mbak Muti bisa memberi Saya kepastian, saya akan sabar menunggu," ucap Adam.
Muti pun mengangguk dan menurutnya, saat ini belum saatnya untuk dia memberitahu Adam dan Muti juga sudah meminta Elena untuk merahasiakan dulu masalah perceraiannya sampai hakim ketuk palu, jika memungkinkan sampai masa Iddah nya selesai.
"Baiklah Mas, kami permisi dulu, aku tunggu kabar Mas Adam, dimana kita besok akan makan siang. Oh ya, dengan syarat, jangan di rumah makan termahal, nanti langsung habis gaji saya setahun untuk mentraktir Mas Adam," ucap Muti sembari tersenyum lepas hingga membuat Adam senang.
"Beres, sampai jumpa Mbak. Semoga terus sukses!" ucap Adam sembari melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobilnya.
Muti pun masuk ke dalam mobilnya, saat ini dia masih menggunakan sopir pribadi, karena dirinya belum sempat untuk belajar menyetir.
Dian mengucapkan selamat kepada Muti, dia senang Muti berhasil memenangkan tender, meski hal itu ada campur tangan Adam, pengusaha muda yang selama ini Dian kenal jarang mau akrab dengan seorang wanita.
"Selamat Bu, kita menang. Pak Hendrawan pasti senang mendengar kabar ini," ucap Dian.
__ADS_1
"Aku masih pemula Yan, kemenangan ini berkat kebaikan Mas Adam," jawab Muti jujur.
"Aku rasa Tuan Adam menyukai Ibu," ucap Dian langsung ke inti masalah.
"Kamu bisa saja Yan, Pengusaha sukses tidak selevel dengan ku Yan, seorang kuli di perusahaan."
"Bu Muti terlalu merendah, buktinya Pak Hendrawan lebih percaya kepada Mbak Muti untuk mengelola perusahaan ini ketimbang kepada Tuan Sultan, putranya sendiri."
"Itu karena Papa sedang kecewa Yan terhadap Kak Sultan."
"Bu Muti benar sudah berpisah dengan Tuan Sultan?"
"Iya Yan, tinggal tunggu ketok palu. Tapi ku mohon, jangan sampai tersebar dulu berita ini ya Yan."
"Beres Bu. Aku tadi sangat kesal lho Bu, melihat sikap wanita Tuan Sultan. Dia pikir dirinya siapa, berani-beraninya bersikap seperti itu terhadap Ibu. Dasar perempuan tidak tahu malu, sudah merampas, masih berani-beraninya muncul di kantor. Kenapa tadi Bu Muti tidak memberinya pelajaran?" tanya Dian.
"Nanti ada saatnya Yan, sekarang biar dia tahu dulu, apa yang dia incar sudah bukan milik Kak Sultan lagi. Jadi, aku ingin tahu, apa dia masih setia setelah ini, atau pergi meninggalkan Kak Sultan dan mencari mangsa baru," ucap Muti.
"Sangat bodoh Tuan Sultan, kenapa bisa terjerat oleh wanita seperti itu. Untung Pak Hendrawan cepat mengambil tindakan. Jika tidak, perusahaan bisa karam dan kejayaan keluarga Hendrawan bakal hancur di tangan Tuan Sultan yang di bawa kendali perempuan pelacur itu."
"Ya begitulah hidup Yan, ada saja manusia-manusia licik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau, padahal jelas itu bukan haknya."
"Bu Muti harus tetap sabar dan tegar ya, pasti nanti ada jodoh terbaik untuk Bu Muti. Oh ya Bu, Dian rasa, Tuan Adam pria yang baik."
"Dian, selama ini sering perhatikan, Tuan Adam berbeda dengan pengusaha-pengusaha lain, yang jika sudah naik daun, selalu wanita yang banyak di sekeliling mereka."
"Tuan Adam malah menghindari wanita-wanita yang berusaha mendekatinya."
"Awalnya Dian pikir Tuan Adam memiliki kelainan, tapi setelah melihat sikapnya tadi terhadap Bu Muti, ternyata Dian salah duga. Dian yakin, Tuan Adam menyukai Bu Muti. Dian bisa melihat dari sikap dan sorot matanya."
"Kamu Yan, seperti paranormal saja, bisa membaca sorot mata seseorang. Sudah ah! kita ngobrol yang lain saja, nanti Mas Adam nya terbatuk-batuk di sana karena kita," ucap Muti mencoba mengalihkan pembicaraan.
Bersambung......
__ADS_1
Sambil menunggu aku Up lagi besok, mampir ya sobat dalam karya ku yang baru, sudah Bab 17 lho. Mohon dukungannya juga ya di sana, terimakasih 🙏