MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 40. JATUH KE JERATAN YANG SAMA


__ADS_3

Sementara di apartemen, Clara tidak bisa berkutik lagi, postur tubuh Hardi yang tinggi besar, berhasil menghimpit tubuh Clara. Kemudian Hardi membungkam Clara yang berusaha menjerit minta tolong dengan menciumnya penuh Hasrat.


Hardi dengan mudah menggendong Clara, menaiki anak tangga, membawanya masuk ke dalam kamar, lalu menghempaskannya ke atas ranjang.


Kamar Sultan yang ada di apartemen itu di rancang kedap suara, jadi tidak ada yang bisa mendengar teriakan Clara.


Hardi mengunci pintu, lalu membuka pakaiannya sendiri satu persatu hingga tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.


Kemudian dia mendekati Clara yang sedang mengamuk, melempar bantal guling dan semua barang yang ada di sana. Hardi menyeringai, dia semakin bersemangat untuk menaklukkan Clara dalam kondisi seperti itu.


"Jangan mendekat! Aku tidak mau kamu menyentuhku lagi!" seru Clara.


"Jangan jual mahal dong Yang, kemaren-kemaren kamu yang selalu minta, nah! sekarang kamu nolak, apa karena sudah ketagihan, bermain dengan Sultan, jadi kau campakkan aku!" ucap Hardi.


"Kau yang buat aku bersikap seperti ini! kau cuma peralat aku! kau kira aku ladang uang untukmu! Aku yang berkorban dan menghasilkan, kau enak-enakan tinggal menghabiskan. Kau pikir aku bodoh hah!" Bentak Clara.


"Kamu salah paham Yang, aku tidak menghabiskannya, aku pasti ganti yang sudah ku pinjam. Aku investasikan ke usaha lho, nanti aku tunjukkan ke kamu, toh hasilnya bakal buat kamu juga," rayu Hardi.


Clara berhenti berteriak dan mengamuk, lalu dia berkata, "Apa benar kamu investasikan? Awas kalau kamu bohong! Jadi kapan kamu akan menggantinya?"


Nantilah, jika proyek tempat aku investasi sudah menang tendernya bakal 3 kali lipat hasilnya aku berikan semuanya ke kamu Yang," ucap Hardi.


Clara semakin melunak dengan iming-iming Hardi dan dia tidak meronta lagi saat Hardi mulai mendekatinya.


Hardi tidak membuang kesempatan itu, dia langsung memeluk Clara dan dengan mulai menjalankan aksinya.


Clara yang sejak bersama Sultan sudah naik libidonya, sebentar saja langsung terlena dengan bujuk rayu dan belaian Hardi.


Lenguhan demi lenguhan, keluar dari mulut Clara hingga membuat Hardi semakin bersemangat. Lalu keduanya pun terbuai dalam pertempuran yang berakhir dengan kepuasan keduanya. Clara kembali jatuh dalam jeratan Hardi, seharian ini, mereka melakukan sampai beberapa ronde.


Setelah beristirahat sejenak, lalu keduanya membereskan kamar bersama-sama, membuang barang yang rusak dan menata kembali barang-barang yang berserakan.


Saat ini Clara sedang berpikir akan membuat alasan apa, jika Sultan menanyakan tentang barang, yang tidak terlihat di kamarnya.

__ADS_1


Hari menjelang malam, tapi Hardi tidak mau beranjak dari apartemen Clara. Kemudian Clara berkata, "Pergilah! Aku takut Sultan akan datang malam ini!"


"Wah, minta jatah lagi?" tanya Hardi rada cemberut.


"Kamu jangan cemberut dong! Tadi dia gagal minta jatah, keburu orangtuanya telepon. Paling malam ini atau besok dia akan menagihnya."


"Sebaiknya kamu telepon saja dia, malam ini datang atau tidak," usul Hardi.


"Aku tahu maksudmu, jika dia tidak datang, kamu 'kan yang bakal minta lagi," ucap Clara.


Hardi cuma tersenyum sambil menaik turun kan alisnya, lalu Hardi bertanya, "Tapi kamu suka 'kan?"


Clara mencebikkan bibirnya, lalu dia mengambil ponselnya untuk melakukan panggilan kepada Sultan.


"Kamu menjauh dulu Yang! Aku sedang melakukan panggilan video. Jangan sampai dia melihatmu, apalagi saat kamu seperti itu," ucap Clara.


Hardi menjauh, panggilan Clara pun, segera tersambung.


"Iya, aku sakit! Sakit karena kamu menggantung keinginan kita!" ucap Clara pura-pura merajuk.


"Maaf Sayang, aku nggak punya pilihan, tadi saja Papa sudah beri peringatan. Apa kamu mau aku keluar dari rumah jadi gembel?"


"Apa! Jangan dong Yang, makanya kamu persiapkan dulu sebelum memilih keluar meninggalkan keluargamu," saran Clara.


"Iya, kamu benar. Sudah dulu ya, aku harus kembali menemani Muti, dia sedang sakit. Ini saja aku di dalam kamar mandi, curi-curi menerima panggilan dari kamu. Masalahnya mertuaku juga masih ada di sini," ucap Sultan.


"Oh, Jadi malam ini kamu tidak menginap di sini? Aku rindu lho Yang?"


"Maaf ya Yang, malam ini nggak bisa tapi aku usahakan besok kesana, minta jatah yang tertunda," ucap Sultan sambil menyunggingkan senyum.


"Benar ya, aku tunggu ya Yang," ucap Clara.


"Iya, sudah dulu ya. Sepertinya mamaku datang ke kamar," ucap Sultan.

__ADS_1


Hardi yang mendengar percakapan keduanya tertawa, dia menang. Malam ini Clara akan berada dalam pelukannya lagi.


Ketika Clara menutup panggilannya, Hardi langsung melompat ke atas kasur dan masuk ke dalam selimut, bermain-main dengan candunya.


Clara cekikikan dengan ulah Hardi, Hardi pintar membuat Clara ketagihan, lagi dan lagi, keduanya terbuai dalam hubungan haram tersebut.


Hardi dan Clara bangkit saat keduanya merasa lapar, setelahnya mereka bersantai sambil menonton film romantis.


Malam ini keduanya pun mengakhiri malam dengan beberapa kali pertempuran panas.


Pagi hari setelah sarapan, Hardi pamit, tapi dia beralasan jika dompetnya tertinggal jadi uang yang ada dalam kantongnya tidak cukup buat ongkos.


Clara cemberut, tapi dia tetap memberikan uangnya senilai lima ratus ribu kepada Hardi. Setidaknya seharian Hardi telah menghilangkan mut buruknya karena gagal mendapatkan jatah dari Sultan.


Tapi Clara tidak mungkin mengandalkan benih dari Hardi saja, dia harus bisa melakukan penyatuan dengan Sultan dalam beberapa hari ini, agar Sultan tidak curiga jika dirinya hamil.


Clara tidak ingin rencananya gagal, dia harus bisa hamil secepat mungkin. Cara apa pun akan dia gunakan, supaya Muti tersingkir dan dialah yang akan menggantikan posisi Muti di keluarga Sultan.


Setelah kepergian Hardi, Muti berendam air hangat di bathtub untuk merilekskan tubuhnya kembali, yang sangat lelah akibat kegiatan panas yang baru selesai mereka lakukan.


Kemudian, Clara meminum vitamin kesuburan yang sudah dia persiapkan bersama susu untuk merangsang kehamilan.


Kini, Clara bermalas-malasan memainkan ponsel, sambil beristirahat menunggu kedatangan Sultan sesuai janjinya.


Sultan, mencari cela agar dia bisa keluar rumah untuk menemui Clara, tapi kesempatan itu tidak kunjung tiba. Sang Papa, malah mengajak Sultan dan Raja untuk bertanding main catur.


Papa Hendrawan mempergunakan kesempatan, saat kedua putranya berkumpul di rumah. Jarang-jarang mereka bisa mendapatkan moment seperti ini.


Mama datang membawa cemilan, susu, teh serta kopi untuk ketiganya. Susu untuk Raja, teh untuk Sultan dan kopi buat suaminya.


Sementara, Muti membantu pelayan untuk menyiapkan makan siang. Muti menyusun hidangan di atas meja makan bersama buah dan juga makanan penutup lainnya.


Setelah selesai, Muti pun menyusul suami, adek serta Mama, Papa untuk mengajak mereka makan, sebelum hidangan dingin kembali.

__ADS_1


__ADS_2