MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 53. BERTENGKAR


__ADS_3

"Setelah mereka berhenti tertawa, Muti merasa ada seseorang memperhatikannya. Kemudian Muti menoleh dan ternyata Sultan berdiri di sana.


"Kemari Kak," ucap Muti.


Sultan pun menghampiri Muti dan Raja, lalu Raja berkata, "Ternyata Kak Muti orangnya asyik lho Kak di ajak ngobrol, perutku sampai sakit tertawa saja."


"Hemm," hanya deheman yang keluar dari mulut Sultan.


"Oh ya Kak, cepat dong kasi aku keponakan! Aku harap setelah kembali nanti, aku sudah bisa menggendong bayi kalian," pinta Raja.


Muti dan Sultan sama terbatuk, lalu Muti buru-buru minum untuk meredakan batuknya.


"Kenapa dengan kalian? Apa aku salah meminta?" tanya Raja.


Keduanya diam, lalu Raja melanjutkan ucapannya, "Bukankah kehadiran anak yang di damba setiap rumah tangga Kak?"


"Kamu jangan aneh-aneh Ja, itu terserah kami. Mau ada anak atau tidak, sama saja," jawab Sultan.


"Tentu beda Kak, kecuali Kak Sultan menginginkan anak dari wanita lain!"


"Kamu jangan kurang ajar Ja! Jangan kamu campuri urusanku!" seru Sultan yang mulai naik lagi kemarahannya.


"Sudah Ja, jangan diteruskan," pinta Muti.


"Baik Kak! Tapi, Kak Muti tidak boleh lemah, jangan terus mengalah. Kak Muti juga patut bahagia, jika tidak bahagia hidup dengan Kak Sultan untuk apa di pertahankan!" ucap Raja.


Tiba-tiba tangan Sultan melayang ke wajah Raja. Raja menyeringai sambil mengusap pipinya sambil menahan sakit.


"Kamu yang memaksaku berbuat itu Ja, mulai hari ini jangan pernah ikut campur lagi dengan urusan rumah tanggaku!" tegas Sultan.


"Aku harus mengatakannya Kak! Kak Sultan harus bisa memilih, lepaskan atau tetap bertahan dan tinggalkan pelacur itu."


Sebuah tamparan kembali melayang ke pipi Raja. Muti berteriak, "Hentikan! Kenapa kalian bertengkar. kamu Ja! aku mohon jangan ikut campur, biar aku yang menyelesaikannya. Jika aku masih sanggup, aku akan bertahan, jika tidak, aku pasti pergi meninggalkan kakakmu!" ucap Muti sembari bergegas pergi ke kamarnya.


"Kamu dengar Kak, bersiaplah! saat batas kesabaran Kak Muti habis."


Raja pun pergi meninggalkan Sultan sendirian, Raja keluar ke halaman belakang untuk melihat ikan di kolam.

__ADS_1


Entah kenapa saat Muti mengatakan akan meninggalkan dirinya begitu dia tidak sanggup lagi bertahan, Sultan merasa hatinya begitu sakit, dia sepertinya tidak rela jika harus berpisah dengan Muti. Apakah dirinya telah jatuh cinta kepada Muti? Dan Apakah dia tidak lagi mencintai Clara? pertanyaan-pertanyaan inilah yang sekarang berputar-putar dalam hati dan pikirannya.


Sultan mendesah, ketika dia hendak menyusul Muti ke dalam kamar, ponselnya berdering, Sultan melihat Clara memanggil. Namun Sultan tidak bersemangat untuk mengangkatnya.


Beberapa kali menelepon tidak juga di angkat oleh Sultan, Clara marah, dia histeris dan melempar ponselnya ke atas kasur. Lalu terpikir ide untuk mengancam Sultan lewat pesan WhatsApp.


Clara pun mengetik pesan yang isinya, meminta Sultan untuk menemuinya di apartemen, jika tidak Clara akan datang ke rumah Sultan.


Sultan yang membaca ancaman dari Clara merasa kesal, kian hari Clara kian membuat ulah hingga membuat Sultan jenuh.


Dengan perasaan kesal Sultan pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket serta kunci mobil, hari ini lebih baik dia mengakhiri hubungannya dengan Clara.


Ketika Sultan masuk ke kamar, Muti baru saja selesai mandi, dia melihat Muti yang hanya mengenakan handuk mandi saja.


Sore ini, Muti terlihat sangat cantik di mata Sultan, walau tanpa dandanan, hingga membuat Sultan memantapkan hati untuk segera mengakhiri hubungannya dengan Clara.


Sultan mengambil jaket dan kunci mobil, lalu dia pamit kepada Muti, "Aku pergi sebentar Mut, ada urusan yang harus aku selesaikan. Kamu temani Mama ya, aku pasti cepat kembali," ucap Sultan, lalu tergesa-gesa keluar dari kamarnya.


"Muti heran kenapa Sultan terburu-buru sekali tanpa sempat mengganti pakaian dan mengenakan minyak wangi seperti biasanya. Hatinya bertanya-tanya, kemana sebenarnya Sultan akan pergi di sore hari ini dan apa yang harus Muti katakan kepada sang Mama, jika nanti menanyakan Sultan."


Muti berdandan natural seperti biasa lalu dia keluar dari kamar untuk melihat sang Mama apa sudah bangun atau belum.


"Pa," sapa Muti sambil mengulurkan tangannya kepada Papa Hendrawan.


"Sultan mana Mut? Apa sedang mandi?" tanya Mama.


Muti bingung harus menjawab apa, tapi dia juga tidak mungkin berbohong. Akhirnya Muti jujur dan mengatakan jika Sultan baru saja pergi dan berjanji tidak akan lama pasti kembali.


"Hah, kebiasaan itu anak! suka hatinya saja pergi, tanpa pamit yang jelas terhadap istri," ucap Papa Hendrawan.


"Nggak apa-apa Pa, paling sebentar lagi juga kembali," ucap Muti.


"Kita lihat saja! Apa dia penuhi janjinya padamu," ucap Papa Hendrawan.


Muti pun mengangguk, lalu dia pergi ke dapur membuatkan teh jahe kesukaan Papa Hendrawan.


"Mama mau teh lemon?" tanya Muti.

__ADS_1


"Iya boleh Mut," ucap Mama.


Setelah selesai, Muti pun menyajikan teh tersebut kepada kedua mertuanya di tambah cemilan yang kemaren dia beli di swalayan.


"Raja mana Ma?" tanya Papa Hendrawan.


"Kamu melihat Raja Mut?"


"Raja di halaman belakang Pa, Ma." jawab Muti.


"Oh, Papa sudah sampai," ucap gara yang baru saja nongol dari pintu tengah.


"Ja, kamu mau teh juga?" tanya Muti.


"Nggak usah Kak. Kak Sultan kemana Kak?" tanya Raja.


"Tadi pamit pergi sebentar, katanya ada urusan penting yang akan Kakak kamu selesaikan Ja," jawab Muti.


Mama memperhatikan pipi Raja, karena penasaran lalu Mama memegang dan memperhatikan dengan teliti, lalu bertanya, "Kamu bertengkar dengan Sultan?"


"Iya Ma. Maaf, aku tidak tahan lagi menyimpannya. Aku harap Kak Sultan segera sadar sebelum dia menyesal," ucap Raja.


"Pergilah mandi Ja, antar mama ke swalayan, ada yang ingin mama beli. Kamu ikut ya Mut?"


"Papa bagaimana Ma?"


"Papa di rumah saja mau istirahat, sekalian jaga rumah, siapa tahu Sultan kembali cepat," jawab Papa.


"Aku mandi dulu ya Ma," pamit Raja.


"Ayo Mut, Mama juga mau bersiap."


"Iya Ma."


Semua kembali ke kamar masing-masing, Muti tinggal berganti pakaian dan mengambil tasnya.


Setelah selesai, Muti kembali ke bawah, menunggu Mama dan juga Raja. Mama dan Raja pun sudah selesai bersiap, lalu mereka pamit kepada Papa Hendrawan.

__ADS_1


Sementara di perjalanan Sultan menelepon Clara, dia tidak bisa ke apartemen karena keluarganya sedang berkumpul di rumah dan dia telah berjanji untuk pulang cepat. Jadi Sultan meminta Clara agar bertemu di cafe yang tidak terlalu jauh dari rumah Sultan.


Akhirnya Clara setuju, daripada Sultan menghindar terus, lebih baik kali ini, dia yang mengalah. Clara tidak suka dengan situasi seperti saat ini, rencananya ingin menjadi istri Sultan bisa saja gagal.


__ADS_2