MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 32. RENCANA MUTI BERHASIL


__ADS_3

Sudah beberapa tempat mereka kunjungi, tapi sikap Muti tidak berubah. Hari ini, dia gantian mengabaikan Sultan dan asyik bercanda dengan Elena.


Akhirnya Sultan mendekati Muti, dia memeluk pinggangnya dari belakang, mencium pipi kanannya lalu berbisik, "Kamu marah! maafkan aku. Aku salah karena telat datang kesini! Tolong, jangan cuekin aku."


Muti mendesah, kali ini dia sengaja tidak menolak perlakuan Sultan. Kemudian Muti berkata, "Baiklah! Aku akan memaafkan Kakak, tapi aku ada satu permintaan," ucap Muti, sambil melepaskan satu persatu tangan Sultan yang melingkar di pinggangnya.


"Jika Kak Sultan tidak bisa memenuhinya, lebih baik sekarang kita pulang saja. Aku pikir sudah cukup, foto-foto yang kita ambil," ucap Muti sambil berbalik menjauhi Sultan.


"Apa itu Mut? Aku akan memenuhinya, tapi kita harus lanjutkan ke beberapa tempat lagi ya, lagipula tanggung 'kan? Kita sudah terlanjur sampai sini," ucap Sultan sambil mengekor di belakang Muti.


"Benarkah Kak Sultan mau memenuhi permintaan ku?" tanya Muti untuk memastikan.


"Iya," jawab Sultan.


"Malam ini adalah malam terakhir kita di Bali, aku ingin, kita menginap di salah satu resort yang ada di sekitar tempat ini dan besok pagi, baru kita kembali ke hotel untuk berkemas," ucap Mutia.


Sultan terdiam, bagaimana dia bisa menginap di tempat ini bersama Mutiara, sedangkan dirinya sudah berjanji untuk menginap di hotel bersama Clara.


Muti sengaja mengajukan syarat itu untuk mencegah Sultan menginap bersama wanita penggoda yang tadi pagi dia lihat bersama suaminya itu dan yang pasti, Muti ingin menghindarkan Sultan dari perbuatan dosa.


Jika memang Muti punya bukti, wanita itu istri Sultan, dia mungkin tidak akan mencegah, karena mereka sah dan memiliki hak, hanya tinggal dirinya meminta keadilan, menuntut untuk di perlakukan sama.


Kemudian Muti bertanya lagi, "Bagaimana Kak? Aku tahu, Kakak tidak akan mungkin memenuhi permintaan ku, Kak Sultan lebih pentingkan teman-teman ketimbang istri sendiri," ucap Mutiara.


Lalu Muti berbalik dan berkata kepada Alena, "Ayo El, kita pulang! sudah tidak ada, kepentingan kita di sini. Lebih baik kita berkemas, dan beristirahat di hotel." ajak Mutia.


Muti sudah mengayunkan kakinya, melangkah meninggalkan Sultan, tapi langkahnya terhenti saat Sultan mengejar dan memegang lengannya, lalu berkata, "Baiklah, aku setuju."

__ADS_1


Senyum mengembang di bibir Muti, dia berhasil memaksa Sultan. Malam ini, Muti harus bisa menjauhkan Sultan dari wanita penggoda di rumah tangganya.


Namun, Muti buru-buru menyimpan kembali senyumannya itu dan berkata, "Karena Kak Sultan sudah setuju, sejak saat ini sampai besok, kita sama-sama menonaktifkan ponsel. Aku hanya ingin menikmati hari ini, dengan ketenangan, tanpa gangguan dari siapapun, baik itu temanku, teman kak Sultan, bahkan gangguan dari medsos seperti FB maupun yang lain. Apa Kak Sultan sanggup!" tantang Muti.


Sudah kepalang basah, Sultan pun mengangguk dan berkata, "Aku sanggup!"


Toh, dia sudah berjanji untuk menginap barsama Muti, jadi untuk apa dia mengaktifkan ponsel yang hanya akan memancing pertengkaran dengan Clara.


Masalah Clara marah, besok saat tiba di Jakarta, Sultan akan menjelaskan semuanya. Dia pasti bisa meluluhkan hati Clara dengan memberikan Clara hadiah.


"Baiklah Kak, kesinikan ponsel kakak dan ini ponselku. Mulai saat ini sampai besok tiba di Jakarta Elena yang akan pegang ponsel kita. Kakak kalau mau mengunci layar, silahkan," ucap Mutiara.


Sultan mengunci layar ponselnya, lalu memberikan kepada Muti dan Muti menyerahkan kedua ponsel tersebut kepada Elena.


"El, tolong kamu simpan ya."


"Iya Mbak," jawab Elena.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan, nanti keburu senja dan kita belum mendapatkan tempat menginap," ajak Muti.


Mereka sudah mengunjungi ke tujuh tempat wisata terdekat dengan danau Beratan, sekarang tinggal mencari penginapan.


Setelah berkeliling akhirnya Sultan memutuskan untuk menginap di Senetan Villas and Spa Resort. Resort ini yang terdekat dari tempat mereka berada sekarang.



Hari telah berganti malam dan Clara pun uring-uringan menanti Sultan yang tak kunjung datang. Dia kesal karena Sultan telah mengingkari janjinya.

__ADS_1


Clara mengambil ponselnya, mencoba menelepon Sultan, tapi ponsel Sultan tidak aktif.


Dia makin kesal, lalu mengambil kunci mobil dan tas bersiap akan menyamperin Sultan di hotel tempat Sultan dan Muti biasa menginap.


Clara yang sudah tiba di sana, langsung ke bagian resepsionis hotel dan menanyakan di kamar nomor berapa pasangan Sultan dan Mutiara menginap.


Namun resepsionis menjelaskan, jika mereka sampai saat ini belum kembali dari jalan-jalan dan kemungkinan besok pagi baru kembali.


Clara emosi, kenapa Sultan berubah pikiran, dia menduga pasti ini ulah si Marmut dan dia berjanji setibanya di Jakarta, Clara tidak akan memberikan kesempatan kepada Mutia untuk bisa mempengaruhi Sultan lagi.


Dengan langkah seribu, Clara keluar dari hotel, dia menabrak Adam yang hendak masuk ke lobi. Clara terhuyung dan jatuh ke lantai, sementara Adam masih berdiri tegak di hadapannya. Clara yang bersalah, malah dia pula yang marah terhadap Adam.


"Kemana matamu! Kalau jalan itu lihat-lihat, jangan seenak jidat lo, main tabrak! Jika kenapa-kenapa dengan anggota tubuhku, akan aku tuntut kamu!" ancam Clara sambil berdiri dan menatap tajam kepada Adam.


"Oh, ternyata kamu! Si penggoda suami orang! Untuk apa kamu kesini! Apa masih kurang puas menyakiti Mutiara!" ucap Adam ketus.


Kemudian Adam berkata lagi, "Hai Nona! Masih banyak pria di dunia ini yang bisa kamu dapatkan, kenapa musti merebut suami wanita lain. Kemana hari nuranimu! Karma akan berbalik ke kamu Nona, tunggu saja waktunya tiba," ucap Adam kesal dan berlalu meninggalkan Clara.


"Hai Bung! Kamu tidak perlu ikut campur urusan kami, kamu bukan siapa-siapa nya Muti, kenapa kau bela dia mati-matian! Jangan-jangan kau ada hati dengan dia!" Balas clara ketus.


"Jika iya memangnya kenapa? tidak pantas wanita baik seperti dia untuk Sultan. Sultan memang cocoknya denganmu, sama-sama brengsek!"


Emosi Adam pun terpancing, begitu pula dengan Clara. Saat Clara hendak menampar Adam, teman Adam datang dan mencekal lengannya, memelintir hingga Clara menjerit kesakitan.


"Lepaskan aku brengsek!" ucap Clara.


"Teman Adam menatap tajam ke arah Clara, lalu dia berkata, "Jangan kau pancing kemarahannya, jika dia mau, saat ini juga kamu hanya tinggal nama."

__ADS_1


Adam tersenyum, dia puas melihat pelakor itu kesakitan, lalu Adam memberi kode dengan tangannya, agar melepaskan dan membiarkan wanita ular itu pergi dari sana.


Clara mendengus, lalu meninggalkan hotel tersebut, malam ini dia akan menemui Hardi dan meminta Hardi untuk tidur di kamarnya.


__ADS_2