MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 21. BERUSAHA UNTUK MENYADARKAN


__ADS_3

Muti memberanikan diri untuk menegur Sultan, karena mengingatkan adalah kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya, apalagi ini suami yang seharusnya menjadi imam dalam rumah tangga.


Sholat adalah kewajiban setiap umat muslim yang tidak boleh ditinggalkan. Bahkan dalam kondisi tidak mampu berdiri atau duduk sekalipun, selama masih mempunyai kesadaran, maka sholat masih menjadi kewajiban yang tidak boleh dilewatkan.


Namun sayangnya, banyak sekali muslim yang saat ini justru meninggalkan sholat dengan sengaja padahal ia tidak mempunyai halangan apapun. Lalu bagaimana hukum mengingatkan orang sholat?


Dalam Islam, seorang muslim memang memiliki kewajiban untuk mengingatkan muslim lainnya dalam hal kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,


"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)


"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan melampaui batas.” (QS. Al Maidah: 2)


"Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al-Balad, 90: 17).


"Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, dan beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran, dan (saling menasihati) dalam kesabaran.” (Al Ashr: 1-3).


"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (Ali ‘Imran:104)


"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri? (Fussilat: 33)


Menyikapi ayat-ayat di atas, Muti tidak peduli jika Sultan marah, setidaknya dia sudah mencoba untuk menyadarkan suaminya tentang kewajiban utama seorang muslim.


Muti mendekati sofa di mana Sultan masih berbaring, kemudian dia berkata, "Kenapa Kak? Apa tubuh kakak terasa sakit, karena tadi malam tidur di sofa? Kalau begitu aku minta maaf. Aku salah, telah memakai tempat tidur Kak Sultan," ucap Muti.


"Oh, ya Kak, mumpung sudah bangun dan waktunya masih ada, berwudhu lah Kak, dan tunaikan sholat. Itu sajadahnya masih di sana, belum aku lipat. Setelah sholat, biar aku pijat sambil menunggu sarapan kita datang," pinta Muti sambil menunjuk ke arah sajadah yang masih terbentang.


Sultan menatap tajam ke arah Muti, lalu berkata, "Jangan kamu kira, setelah aku bersikap baik terhadap mu tadi malam, sekarang dengan seenak hatimu, kamu main perintah!" seru Sultan.


Muti mengelus dadanya, ternyata hati Sultan masih tertutup, lalu dia berkata, "Bukan aku yang perintahkan Kakak, tapi Allah! Dia yang menciptakan kita dan seluruh alam ini dan dia pula yang kuasa menghancurkan dan membuat setiap yang bernyawa pasti mati.


Kakak coba pelajari dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 21, Allah memerintahkan kepada seluruh umat-Nya untuk selalu beribadah dan menyembah hanya kepadanya. Bahkan, tiap-tiap rasul memulai dakwahnya dengan seruan kepada kaumnya agar beribadah dan menyembah Allah saja.


"Ingat Kak! kita semua bakal mati dan tidak ada yang tahu kapan waktunya. Bisa saja saat ini, nanti, besok, lusa atau tahun depan. Apakah kakak sudah siap untuk menghadapi alam setelah kematian? Apakah menurut kakak, bekal yang akan Kakak bawa mati sudah cukup?" tanya Mutia.


"Kak, setelah kematian bukan berarti kehidupan kita selesai, manusia yang telah meninggal akan dihidupkan kembali di hari kiamat dan dihitung amal perbuatannya sebagai catatan apakah mereka masuk surga atau neraka," ucap Mutia.


"Namun, terdapat beberapa tahapan kehidupan yang harus kita jalani sebelum dapat memasuki surga atau neraka.



Alam Kubur atau Alam Barzah


Setelah manusia meninggal dunia, mereka akan berpindah ke alam kubur atau alam barzakh.



Di alam kubur, kita akan bertemu dengan malaikat Munkar dan Nakir yang akan bertanya mengenai agama.

__ADS_1


Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya kepada kita, siapa Tuhan kita, apa agama yang kita percayai, apa kitab yang kita baca, dan siapa Nabi kita.


Manusia akan terus berada di alam kubur sampai tiupan sangkakala berbunyi.



Hari Kebangkitan


Setelah tiupan sangkakala dibunyikan oleh malaikat Israfil, dunia akan mengalami kiamat dan semua makhluk hidup di dunia akan dibinasakan.



Kemudian, malaikat Israfil akan meniupkan kembali sangkakala kedua yang akan membangkitkan semua makhluk hidup di dunia.


Tiupan sangkakala kedua tersebut menjadi tanda hari kebangkitan dimulai.



Padang Mahsyar


Setelah dibangkitkan, kita akan dikumpulkan bukan di bumi melainkan di padang mahsyar.



Padang mahsyar merupakan sebuah tempat datar yang sangat luas dan kering dengan matahari berjarak hanya satu jengkal dari kepala kita dan terus menyinari padang ini.


Malaikat pertama bertugas sebagai pengiring manusia, sedangkan malaikat kedua bertugas sebagai saksi perbuatan kita di dunia.



Yaumul Mizan atau Hari Penimbangan


Setelah dibangkitkan di padang mahsyar, manusia akan dikumpulkan berdasarkan Nabinya.



Kita akan berbaris dan menunggu yaumul mizan atau hari penimbangan ketika amalan kita ditimbang baik dan buruknya.


Jika manusia lebih berat timbangan amal baiknya, maka akan mendapatkan keselamatan.


Sementara itu, jika lebih berat timbangan amal buruknya, maka akan mendapatkan celaka.



Yaumul Hisab atau Hari Perhitungan


__ADS_1


Amal perbuatan manusia kemudian dihitung di yaumul hisab atau hari perhitungan.


Hal ini tertulis di Al-Qur’an surat Al-Ghashiyah 25:26 yang berbunyi:


Allah berfirman, “Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.”


Manusia yang sedang dihitung amal perbuatannya akan dibagi menjadi dua Kak, yaitu hisab yang mudah dan hisab yang sulit.


Berdasarkan hadis Ahmad, Rasullullah saw. menjelaskan apa itu hisab mudah.


Berikut bunyinya:


“Kemudian dari Aisyah r.a. ia bertanya tentang apa itu hisab yang mudah. Rasullullah saw. lantas menjawab “Allah memperlihatkan kitab (hamba)-Nya kemudian Allah memaafkannya begitu saja. Barang siapa yang dipersulit hisabnya, niscaya ia akan binasa.” (HR. Ahmad)



Jembatan Shirathol Mustaqim


Jembatan ini konon hanya memiliki lebar sekecil rambut dan sulit untuk dilewati.



Orang-orang yang lolos menyebrangi jembatan ini akan masuk ke surga, sedangkan orang-orang yang jatuh akan masuk ke neraka.


Bagi manusia yang timbangan amal kebaikannya tinggi, ia akan mudah menyebrangi jembatan ini.


Sementara itu, manusia yang timbangan amal kebaikannya sedikit akan kesulitan menyebrangi jembatan ini.



Surga dan Neraka


Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali. Di surga, kita tidak pernah mengalami kesedihan, penderitaan, dan kesengsaraan.



Surga diciptakan oleh Allah bagi umatnya yang beramal saleh dan berhati bersih.


Sementara itu, neraka merupakan seburuk-buruknya tempat kembali dan dipenuhi dengan penyiksaan, kesedihan, dan kesengsaraan.


Orang-orang yang berbuat keburukan akan tinggal di neraka sebagai balasan keburukan yang mereka lakukan di dunia.


"Itulah Kak, Allah telah menegaskan semuanya dalam kitab Al-Qur'an. Jadi kak, sempatkanlah walau hanya sebentar untuk mengaji, memahami apa isi yang terkandung di dalam kitab suci Alquran. Manfaatkan kemajuan teknologi, di manapun kita berada kita bisa belajar," ucap Muti.


"Sudah! sudah selesai kamu ceramahnya! Kenapa kamu tidak menjadi ustadzah saja, jadi banyak yang mendengarkan ceramah mu di luaran sana. Daripada di sini kamu berkhutbah, tidak ada artinya untukku," ucap Sultan sambil berdiri dan menyambar handuk mandinya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.


Muti menggeleng, lalu berucap, "Astaghfirullah hal'adzim. Ya Allah, bukakanlah pintu hati suamiku, aku ingin dia menjadi imamku yang baik, yang akan membawaku ke surga-Mu. Aamiin..." ucap Muti sembari melipat sajadah.

__ADS_1


Sungguh berat tantangan orang yang menginginkan kebaikan, tapi Muti tidak akan mundur, dia tidak akan menyerah untuk mengajak suaminya menjadi orang baik dan berharap suatu saat Sultan bisa ikut menyebarkan kebaikan untuk keluarga, sahabat dan orang lain yang membutuhkan.


__ADS_2