
Sultan dan Clara sudah menjemput seorang wanita paruh baya yang akan menjadi pembantu di rumahnya, lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Sultan.
"Bi, pokoknya tugas Bibi mengurus rumah dan terutama menemani istri Saya Clara. Kalau istri Saya yang satu lagi namanya Mutiara, dia mungkin kedepannya akan sibuk di kantor. Jadi pandailah Bibi mengatur waktu antara pekerjaan rumah dengan menemani Clara. Yang perlu diutamakan kesehatan Clara karena dia sedang hamil muda," ucap Sultan kepada Bi Tina sang pembantu baru.
"Baik Tuan."
"Oh ya Kak, jika aku sudah melahirkan, aku mau dong seperti Muti juga, kerja di kantor. Aku pasti jenuh di rumah saja, nah Muti enak bisa berdekatan terus dengan Kakak. Kerja apa saja jadi deh, yang penting bisa sama-sama terus dengan Kakak," ucap Clara.
"Tidak! Kamu harus pokus merawat anak kita, lagipula mana mungkin Muti mengizinkan dan Papa juga pasti bakal menolak."
"Memangnya apa urusannya dengan Muti, dia tidak punya hak untuk melarangku bekerja di sana, masa Kak Sultan kalah dengan dia. Dan masalah Papa, Kak Sultan pasti bisa merayu beliau. Please Kak," ucap Clara sambil bergelayut manja di lengan dan menyandarkan kepalanya di bahu Sultan tanpa malu dengan Bi Tina.
"Kamu 'kan tahu, Muti adalah menantu kesayangan Papa, jadi persetujuan keputusan ada pada Muti," ucap Sultan yang belum berani mengatakan kebenaran bahwa Muti sekarang adalah pemilik perusahaan. Sultan takut, jika Clara tahu akan berpengaruh buruk terhadap kehamilannya, karena emosinya bakal tidak stabil.
"Kita sudah hampir sampai, bersiaplah! Karena aku belum tahu apa reaksi Muti nanti, saat melihat kamu."
"Iya Kak. Dia harus terima kenyataan, toh Kak Sultan yang pegang peranan sebagai kepala rumah tangga. Siapa suruh dia memaksakan diri mau menerima perjodohan waktu itu!" ucap Clara.
"Sudahlah! kita lihat saja dulu apa yang bakal terjadi."
"Jika dia ngadu kepada keluarga Kak Sultan bagaimana? Dan jika dia mengajukan pilihan, pilih aku atau dia, siapa yang akan Kak Sultan pilih?"
Sultan terdiam, dia sendiri bingung, seandainya milih Clara, dia belum siap meninggalkan semuanya dan tinggal di jalanan tanpa pekerjaan. Sementara jika dirinya memilih Muti, bagaimana nasib Clara dan anaknya jika Muti dan orangtuanya meminta Sultan untuk menceraikan Clara.
"Kak, kenapa diam! Jawab dong, atau Kak Sultan mau milih Muti ya!"
ucap Clara cemberut sambil menggoyangkan lengan Sultan.
Bi Tina hanya bisa menghela nafas melihat sikap majikan barunya itu, dari percakapan keduanya, Bi Tina bisa menyimpulkan jika Clara berusaha untuk menang dari madunya.
Sultan juga mendesah, lalu meraup wajah dengan kasar dan berkata, "Aku belum bisa memilih diantara kalian! Jadi tolong jangan memaksa demi kebaikan kita bersama."
"Kak Sultan berarti tidak mencintai kami, nah buktinya tidak bisa memilih!"
__ADS_1
"Tolong diam Clara! atau kita kembali saja ke apartemen!" ucap Sultan dengan nada sedikit tinggi.
Clara pun terdiam, dia menatap keluar jendela mobil sambil cemberut dan berpura-pura menangis.
Sultan yang mendengar isak tangis Clara pun segera meminta maaf.
"Maafkan aku Clara, Aku tidak bermaksud membentak mu, tapi tolong! Jangan membuat pikiran ku semakin ruwet. Aku pusing, kalian berdua masih tanggungjawab ku," ucap Sultan. Clara akhirnya diam sampai mereka tiba di halaman rumah Sultan.
"Ayo turun! Bi, tolong bawakan cover Nyonya ya!" pinta Sultan.
"Baik Tuan," jawab Bi Tina sembari turun dari mobil.
Sultan pun mencari kunci rumah dalam tas kerjanya, memang dia dan Muti pegang kunci masing-masing, jadi kapan saja di perlukan mereka bisa masuk ke dalam rumah, saat di rumah sedang tidak ada orang.
Setelah pintu terbuka, Sultan celingukan, dia tidak melihat Muti, tapi rumah terlihat rapi dan lantai mengkilap, menandakan Muti telah selesai berbenah.
"Kemana Muti Kak?"
"Ntahlah! kamu langsung pilih saja kamar di bawah, itu ada 3 kamar dan pilihkan buat Bi Tina sekalian. Aku akan ke atas mencari Muti, barangkali dia sedang ada di kamar."
"Kamu sedang hamil, tidak baik naik turun tangga, bagaimana jika sampai kamu terpeleset. Sudah kamu nurut omonganku, di bawah juga ada kamar yang besar," ucap Sultan sembari menaiki anak tangga.
"Tunggu Kak! Aku boleh ya, lihat-lihat ke lantai atas?"
"Iya terserah, tapi harus hati-hati. Sekarang kamu pilih dulu kamarmu," ucap Sultan lagi.
Wajah Clara sumringah, dia lalu melangkah menuju kamar pertama yang ada di bawah, lalu Clara pun masuk dan memeriksa bagian dalam. Satu persatu kamar sudah Clara periksa dan dia memilih kamar yang paling besar dengan jendela mengarah ke taman.
Setelah itu, Clara keluar dan memanggil Bi Tina agar segera membawa koper miliknya. di
"Bi, tolong masukkan koperku kesini dan kamar bibi sebaiknya yang di sebelah kamarku saja, jadi aku mudah memanggil bibi jika perlu bantuan."
"Iya Nyonya."
__ADS_1
Kemudian bi Tina menarik masuk koper Clara ke dalam kamar.
"Nya, Saya susun sekalian pakaian nyonya ke dalam lemari ya," ucap Bi Tina.
"Iya, terserah kamu saja."
Clara merebahkan dirinya di kasur sambil menunggu Sultan datang ke kamarnya.
Sementara Sultan yang sudah berada di depan pintu kamarnya merasa ragu, tapi dia harus tetap bertemu Muti.
Saat Sultan akan mengetuk, terdengar suara pintu terbuka. "Oh, Kakak, kenapa nggak ngantor?"
"Hemm, nanti. Ada yang harus kita bicarakan sekarang."
Sultan pun masuk ke dalam kamar yang masih terbuka, tapi belum sempat mereka bicara, terdengar suara Clara memanggil dari tangga.
"Kak! Aku lihat-lihat lantai atas ya!"
"Muti kaget mendengar suara itu, lalu dia memandang Sultan, "Suara siapa itu Kak! Apakah ada tamu?"
Sultan diam dan hal itu membuat Muti semakin penasaran, lalu dia beranjak dari tempatnya saat ini berdiri. Muti hendak melangkah keluar untuk melihat siapa yang datang, tapi keburu Sultan menarik lengannya.
"Tunggu! Beri aku kesempatan bicara dulu," ucap Sultan.
"Duduklah!" ucap Sultan lagi.
Muti pun duduk dipinggiran tempat tidur, dia semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Sultan. Sedangkan Clara sengaja menguping di balik pintu.
"Apa yang ingin Kak Sultan bicarakan dan apakah suara wanita tadi adalah Clara?"
"Iya!" jawab Sultan.
"Apa! Setega inikah Kakak terhadap ku! Selama ini aku diam, apapun yang Kak Sultan lakukan di luaran sana, aku berusaha terima. Aku masih berstatus istrimu Kak! tidak kah ada penghargaan sedikit saja untuk ku dengan tidak mengusik hidupku di rumah ini!" ucap Muti sambil menahan tangis.
__ADS_1
Muti berusaha tegar, kali ini dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan Sultan. Dan mungkin saja pertengkaran mereka saat ini di dengar oleh orang di luar kamarnya. Muti tidak mau wanita ular itu tertawa melihat dirinya saat ini, apalagi sampai mendengar jika dia menangis.