MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 65. MERASA TIDAK BERUNTUNG DALAM CINTA


__ADS_3

Adam masih menginterogasi ibu yang tadi tertangkap karena mencuri pakaian anak di toko miliknya.


Mendengar penjelasan dari Sang ibu atas ketidakmampuannya untuk membelikan anak-anaknya pakaian membuat Adam iba dan teringat dengan masa lalunya, saat kehidupan keluarganya masih dalam taraf kemiskinan.


Adam pun akhirnya memutuskan hukuman apa yang harus ibu tersebut lakukan untuk menebus kesalahannya. Dia meminta sang ibu untuk membersihkan toko selagi anak buahnya pergi menyelidiki kebenaran tentang cerita sang ibu dengan mendatangi tempat tinggal yang ibu itu sebutkan.


Jika memang pengakuan ibu tersebut benar, maka Adam berencana akan memberikan pekerjaan kepada ibu tersebut agar si ibu memiliki penghasilan dan tidak mengulangi perbuatannya, mencuri di manapun.


Si ibu benar-benar meminta maaf, dia bersumpah bahwa dirinya tidaklah berbohong. Dengan tenang, Adam pun menanggapi hal itu, lalu dia meminta security agar memberi makan sang ibu sebelum memintanya untuk membersihkan toko.


Bersamaan dengan keluarnya security membawa pergi sang ibu keluar dari ruangan Adam, terdengar suara dentingan dari ponsel yang tergeletak di atas meja.


Adam meraih ponsel tersebut, lalu dia melihat ada pesan masuk.


"Selamat pagi Mas Adam, saat ini aku dan Mbak Muti sedang berada di sebuah Toko pakaian yang tidak jauh dari jalan Cut Nyak Dien. Aku akan pergi menemui klien di Paladium Cafe, sementara Mbak Muti akan pergi ke tempat lain. Apakah Mas Adam memiliki waktu dan berkenan menolongku untuk mengantarkan Mbak Muti ke tempat tujuannya? Tapi Mas, aku mohon jangan katakan hal ini kepada Mbak Muti, karena beliau saat ini tidak tahu jika aku mengirim pesan seperti ini kepada Mas Adam. Terimakasih sebelumnya ya Mas. Dari Elena..."


Adam tersenyum membaca pesan tersebut, saat ini terselip perasaan bahagia di lubuk hatinya. Setelah sekian lama, akhirnya dia memiliki kesempatan lagi untuk melihat wajah wanita yang belakangan selalu mengganggu alam pikiran dan ketenangan hatinya. Wanita yang setiap hari dia rindukan.


Andaikan Mutiara seorang wanita bebas, Adam pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hari ini. Dia pasti akan mengatakan semuanya dan pergi menghadap keluarga Mutiara untuk mengajukan lamaran.


Adam menarik nafas dalam, lalu membuangnya perlahan. Kemudian, diapun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, lalu mendesah. Kenapa hidup ini terasa tidak adil baginya. Dia tidak beruntung dalam hal percintaan.


Disaat sekarang, dia sudah hidup bergelimang harta dan ada wanita baik yang dia cintai, kenapa wanita itu musti milik pria lain.


Dulu, disaat hidup Adam serba kekurangan, cintanya kandas. Dia harus menerima kenyataan pahit, wanita yang dicintai, lebih memilih pergi ke kehidupan pria mapan.


Sementara di depan ruangan Adam, Elena cemas menanti. Elena yang melihat pesannya hanya dibaca, tapi tidak dibalas dan Adam juga tidak muncul di hadapan mereka, akhirnya merasa ragu, mungkin pria itu bukanlah Adam yang mereka kenal, tapi Adam yang lain.


Elena kecewa, lalu dia berkata kepada Mutiara, "Maaf Mbak, ternyata aku salah mengenali orang, Aku batal memberi surprise kepada Mbak Muti. Ayo Mbak, kita pergi dari sini," ajak Elena sembari menggandeng lengan Mutiara.


Muti yang sejak awal memang tidak mengerti tentang surprise yang Elena maksud, hanya pasrah mengikuti kemana Elena akan mengajaknya pergi.

__ADS_1


Keduanya berjalan keluar, menuju mobil yang Elena parkirkan di halaman toko. Saat Elena sudah menghidupkan mobil dan siap pergi dari tempat itu, kaca pintu samping di sisi Mutiara diketuk orang.


Mutiara menoleh, dia melihat Adam berdiri di luar jendela mobil mereka.


"El, kok ada Mas Adam di sini?" tanya Muti kepada Elena.


Senyum sumringah menghias wajah Elena, ternyata benar, pria yang ada di dalam sana adalah Adam yang mereka kenal. Cuma saat ini, Adam telah melepaskan kaca matanya dan dia tidak diikuti oleh kedua pengawal pribadi yang tadi Elena lihat.


"Ini surprise yang aku maksud Mbak," ucap Elena sembari tersenyum.


Kemudian dia berkata lagi, "Ayo turunkan kacanya Mbak, nanti Mas Adam kelamaan menunggu."


Mutiara membuka kaca mobil dan senyum manis Adam berhasil membuat detak jantungnya tidak karuan. Muti tidak memungkiri, jika hatinya saat ini merasa bahagia, bisa bertemu Adam.


Namun, pikirannya kembali bertentangan dengan hati. Hatinya bahagia, tapi akal muti mengatakan, hal itu tidak pantas untuk dirinya yang masih berstatus terikat pernikahan dengan pria lain.


Sejenak, keduanya saling tatap, lalu Adam memecah keheningan dengan menyapa, "Assalamualaikum Mbak, apa kabar?" tanya Adam yang masih tetap menampilkan senyum manisnya.


"Aku juga sehat Mbak, Allah maha baik, masih mempertemukan kita, di kesempatan yang mungkin tidak pernah kita duga," jawab Adam.


"Eh...Mas Adam, ada aku lho di sini, masa kabar Mbak Muti saja yang di tanya?" ucap Elena yang bermaksud mencandai keduanya.


Muti menyenggol lengan Elena hingga membuat Elena berpura-pura merasa sakit dan hingga mengaduh.


"Oh iya, apa kabar Mbak Elena? Maaf, bukan bermaksud mengabaikan," ucap Adam sedikit malu, begitu juga dengan Mutiara.


Elena melihat keduanya malu, wajah Muti bersemu merah dan Elena yakin, keduanya memiliki rasa ketertarikan yang sama.


Tapi Elena juga tahu, bagaimana jiwa Mutiara, meski dia belum lama mengenalnya. Bagi Elena, Muti seorang wanita yang sangat baik, dia bisa berpikiran dan bersikap lebih dewasa dibandingkan usianya.


Meskipun hati Muti seringkali disakiti oleh Sultan, tapi dia tetap setia dalam ikatan pernikahannya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok Mas, aku hanya bercanda," ucap Elena.


Kemudian Elena berkata lagi, "Aku tadi, nyaris tidak percaya Mas, jika yang ada di dalam sana benar Mas Adam yang kami kenal."


"Lho, kalian sudah dari dalam? Kenapa tidak panggil Saya? kita 'kan bisa ngobrol di dalam sambil melihat-lihat, barangkali ada pakaian yang cocok dan kalian suka. Gratis lho, mumpung saya sedang berkunjung kesini," ucap Adam sembari tersenyum menatap keduanya.


"Beneran ini Mas? Jika begitu, ayo Mbak, kita balik lagi ke dalam, tidak baik menolak tawaran kebaikan," ucap Elena sambil tertawa.


"Kamu El, senang banget mendengar yang gratis- gratis!"


"Itu kan memang sifat wanita Mbak, khususnya emak-emak, mereka paling suka dengan kata diskon apalagi gratis. Benarkan Mas Adam?" ucap Elena sembari menaik turunkan alisnya.


"Mbak Elena bisa saja, ayo silahkan masuk," ucap Adam sembari memberi jalan kepada Mutiara.


Mereka pun masuk ke toko pakaian milik Adam, para karyawan tersenyum tanda hormat kepada Bos mereka, kemudian Adam berkata kepada salah satu karyawannya, "Tolong, siapkan minuman dan beberapa macam snack ya Mbak dan antar ke ruangan Saya. Sementara menunggu, kami akan berkeliling dahulu. Oh ya Mbak, sekalian booking kan tempat untuk kami makan siang di resto terbaik langganan kita," perintah Adam.


"Baik Pak, akan segera Saya siapkan," ucap karyawan tersebut sembari menunduk dan undur diri dari hadapan mereka.


"Mas, Saya tidak bisa lama lho di sini, karena sebentar lagi ada meeting. Tapi, jika meeting cepat selesai, boleh juga tawaran makan siangnya," ucap Elena sembari nyengir kuda dan mendapatkan sikutan dari Muti.


"Kami akan tunggu Mbak Elena selesai meeting, tolong jangan tolak tawaran Saya kali ini! Please...bisa 'kan Mbak Muti?" mohon Adam.


Muti berpikir sejenak, hari ini harusnya dia masuk kantor sesuai permintaan Papa Hendrawan, tapi karena kejadian tadi bersama Sultan saat di mobil, semangatnya jadi surut. Mungkin, untuk hari ini akan lebih baik, jika Muti menghindar dulu dari Sultan dan besok baru pergi ngantor.


🌟 Mohon dukungannya ya sobat dengan cara follow akun, pavorit, vote, like dan coment positif. Terimakasih πŸ™β™₯️


🌟 Mampir juga yuk di karya terbaruku yang berjudul "RAHIM BAYARAN DUDA MAFIA" (Sudah Up 12 episode, malam ini insyaallah nambah Up ya Sobat. Dan jangan lupa dukungannya juga ya di sanaπŸ™πŸ˜˜



Happy reading πŸ˜‰πŸ™

__ADS_1



__ADS_2