MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 135. KEMBALI BERTEMAN


__ADS_3

Clara sudah sadar dari pasca operat, lalu dia dipindahkan ke ruang rawat. Perawat pun segera memberitahu Sultan jika dia sudah diperbolehkan untuk menjenguk Clara.


Dengan perlahan, Sultan membuka pintu dan dia melihat Clara terbaring lemah dengan selang infus yang masih terpasang di tangan kirinya. Sultan pun mendekat dan dia melihat Clara menangis.


Melihat kedatangan Sultan, Clara terperanjat, lalu dia buru-buru menghapus air matanya.


Sejenak keheningan terjadi dan keduanya pun bingung harus berkata apa.


Clara yang tadinya berniat ingin menjebak Sultan agar masuk ke dalam jeratan cintanya lagi, sudah gagal karena dirinya hampir mati dan kini terbaring tak bertenaga.


Sementara Sultan juga masih terbayang akan perbuatan Clara yang telah menyeret dirinya hingga buta dan menghancurkan rumahtangganya sendiri.


Melihat Sultan diam sambil menatapnya, Clara pun berkata, "Maaf...," hanya satu kata yang sanggup keluar dari mulut Clara.


Mendengar hal itu, Sultan pun mendekat, lalu diapun bertanya, "Bagaimana kondisimu?"


Clara tersenyum, dia bersyukur ternyata Sultan masih mau memperhatikannya, lalu diapun menjawab, "Terimakasih Kak, sudah mau menyelematkan ku!"


"Istirahatlah, agar kamu segera pulih!"


"Kenapa kamu begitu baik Kak, mau menolong dan membiayai operasi ku. Padahal, tadi aku sudah berniat buruk. Aku mengancam, memaksa dan berencana akan menjerat Kakak lagi."


Sultan diam, dia memang sudah tahu akan rencana Clara dan tidak akan mau terjebak lagi.


Clara meneruskan perkataannya, "Kenapa Kakak tidak membiarkan aku mati saja, karena aku wanita jahat. Jahat terhadap kalian."


"Memangnya kamu sudah siap untuk mati? Yakin, Tuhan mau menerima dan memaafkanmu?"


Clara menggeleng, "Nggak mungkin Tuhan memaafkanku Kak! Tapi, cuma kematian yang mungkin bisa menebus semua kesalahanku terhadap Kak Sultan, Muti dan juga bayiku."


Sejenak Clara terdiam, dia teringat semua kejahatan yang telah dilakukannya. Clara tidak bisa menahan bulir bening yang akhirnya jatuh dari kedua sudut matanya.


Kemudian dengan suara yang tercekat, Clara berusaha melanjutkan ucapannya, "Dokter telah menjelaskan semuanya Kak, aku calon ibu yang sangat kejam, hingga Tuhan benar-benar mengambil anakku dengan cara seperti ini. Dan Tuhan telah memberiku penyakit ganas, yang mungkin sudah merenggut nyawaku jika Kak Sultan tadi tidak datang."


"Hemm, syukurlah jika kamu sadar. Berarti, Tuhan masih ingin kamu hidup untuk bertobat!"

__ADS_1


"Apakah aku masih pantas Kak, untuk mendapatkan kesempatan ini? Apa Tuhan akan memaafkan semua dosa ku?"


"Tergantung! Apakah kamu bersungguh-sungguh atau hanya pura-pura dan tobat sesaat."


"Aku malu Kak, aku terlalu bodoh selama ini. Cinta buta dan keserakahan telah membuatku menyakiti orang-orang baik seperti kalian."


"Sudahlah, sekarang kamu harus istirahat. Setelah pulih, baru kamu pikirkan bagaimana menata hidupmu lagi dan sungguh-sungguh bertobat, hingga Tuhan memaafkan semua dosa yang pernah kamu lakukan."


"Aku juga orang yang kotor dan kita berdua telah banyak melakukan dosa selama ini. Jadi, akupun sedang berusaha untuk memperbaiki diri agar layak melanjutkan hidup."


Ketika Clara hendak berkata lagi, pintu ruangan terbuka. Mereka melihat orangtua Clara datang.


"Clara, bagaimana kabarmu Nak! Maafkan kami, telat datang!" ucap sang Ibu sembari memeluk putrinya sambil menangis.


Clara menyeringai, karena perutnya yang bekas jahitan tersenggol ibu. Diapun berkata, "Nggak apa-apa kok Bu!"


"Kenapa Dokter yang mengabari kami, bukan kamu suaminya! Di mana tanggung jawabmu sebagai suami Tan!" ucap Ayah sembari menarik kerah baju Sultan.


"Ayah, lepaskan Kak Sultan! Dia tidak bersalah. Kami sudah bercerai ayah. Aku bisa selamat juga berkat Kak Sultan, dia yang menolong dan membiayai operasi ku."


"Semua ini salahku Yah, aku sudah berusaha menggugurkan kandunganku dengan berbagai obat. Awalnya tidak berhasil, tapi ternyata Tuhan mengambilnya juga dengan cara ini dan aku selamanya tidak akan pernah jadi seorang ibu," ucap Clara sambil menangis.


"Kenapa kalian bercerai? Mana boleh kamu menceraikan putriku di saat dia sedang mengandung Tan? Apa kamu tidak punya hati?"


"Yah, ceritanya panjang dan aku minta maaf. Anak itu bukan anak Kak Sultan, tapi anakku dengan Hardi."


"Kamu! Ayah malu punya anak seperti mu! Kamu menikah dengan Sultan yang katanya kalian saling cinta, tapi kenapa kamu malah selingkuh dan hamil pula dengan lelaki ba****an itu!"


"Clara memang salah Ayah, maafkan Clara."


"Jadi, dimana sekarang si Hardi, kenapa dia tidak bertanggungjawab dan malah Nak Sultan yang membantu kamu? Dasar pria brengsek! Awas saja jika Ayah bertemu dia!"


"Sudahlah Yah, semua salahku. Mulai sekarang aku tidak ingin berhubungan lagi dengan dia. Aku ingin memperbaiki diri Yah!"


"Tidak bisa! Ayah tidak akan membiarkan dia lepas tanggungjawab begitu saja, enak sekali dia! Sekarang juga berikan alamatnya, Ayah akan membuat perhitungan!"

__ADS_1


"Sudahlah Yah, Clara mau hidup tenang. Setelah sembuh, Clara ingin pulang dan tinggal bersama kalian di kampung. Bolehkan Yah, Bu?"


"Tentu saja boleh Nak, kamu anak kami dan rumah kami adalah rumahmu. Jadi, sampai kapanpun akan selalu terbuka, bila kamu mau pulang dan tinggal di sana lagi."


"Terimakasih Bu," ucap Clara.


"Oh ya Clara, karena Ayah dan Ibu sudah ada di sini, aku pamit. Besok aku akan berangkat ke Inggris. Aku akan menata hidupku lagi di sana."


"Kenapa harus pergi sejauh itu Kak? Jadi bagaimana dengan orangtua dan perusahaan Kakak?"


"Ada Raja yang akan menjaga Papa Mama dan mengurus perusahaan. Jika tinggal di sini terus, aku akan selalu ingat apa yang telah ku lakukan kepada Muti dan yang pasti aku tidak sanggup melihat dia menikah dengan Adam."


"Memangnya kapan pernikahan mereka Kak?"


"Dua bulan lagi."


"Sekali lagi maafkan aku ya Kak, karena aku rumahtangga Kak Sultan jadi hancur."


"Sudahlah, kita lupakan saja semuanya. Kita buka lembaran baru masing-masing."


"Iya Kak. Nanti, jika ada kesempatan, aku akan menemui Muti dan minta maaf, biar hidupku tenang, tidak di hantui rasa bersalah."


"Ya sudah, aku permisi dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik, semoga cepat sembuh. Mengenai biaya perawatan kamu, sudah aku lunasi."


"Terimakasih Kak, semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi sebagai teman. Selamat jalan ya Kak, mudah-mudahan apa yang Kak Sultan inginkan, bisa tercapai di sana."


"Kamu juga, jaga diri baik-baik ya. Semoga, kebaikan akan selalu menyertai kita yang ingin berubah menjadi insan yang lebih baik," ucap Sultan sembari mengulurkan tangan.


"Aamiin," jawab Clara, Ibu dan juga Ayah.


Sultan yang belum melepaskan jabatan tangannya berkata lagi, "Kita tetap berteman!" ucap Sultan sambil tersenyum.


"Ya Kak, kita akan tetap menjadi teman. Selamat jalan Teman!" ucap Clara melepas kepergian Sultan sambil tersenyum.


Sultan pun pergi meninggalkan tempat itu setelah pamit dengan Ayah dan juga Ibu Clara. Tekadnya sudah bulat. Besok, dia akan menjalani kehidupannya yang baru di negeri orang.

__ADS_1


__ADS_2