
"Masih jauh ya Mas alamat tersebut?" tanya Muti.
"Aku rasa tidak Mut, hanya beberapa rumah dari sini!" jawab Adam.
"Bagaimana jika dia tidak ada di rumah Mas?"
"Kita lihat saja dulu, jika dia tidak ada, aku akan menempatkan beberapa pengawal di sini untuk mengawasi tempat ini."
"Aku rasa itu rumahnya Mut!"
"Oh iya Mas, nomor 87."
Rumah tersebut sepi, seperti tidak berpenghuni, pintu dan jendela juga tertutup rapat.
"Sepi Mas, barangkali memang tidak ada di rumah," ucap Muti.
"Aku akan ketuk dulu," ucap Adam.
Adam mengetuk pintu rumah Sofran, tapi tidak ada jawaban. Kemudian dia mengulangnya lagi untuk beberapa kali tapi hasilnya tetap sama.
"Kosong Mut, ayo kita temui tetangganya, barangkali mereka bisa memberi informasi."
Kemudian Adam dan Muti menuju rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah Sofran. Kebetulan Pintu rumah tersebut terbuka dan sang pemilik sedang kedatangan tamu.
"Assalamualaikum," sapa Adam.
"Wa'alaikumsalam, Anda siapa ya?"
"Oh maaf Pak, kami ingin bertanya, tentang pemilik rumah itu. Apa Saudara Sofran masih tinggal di sana ya Pak?" tanya Adam.
"Nah Bapak ini pemilik kontrakan Mas, beliau juga mencari Sofran. Tadi malam dia pindahan mendadak Mas, barang di rumah itu telah kosong dan sewa kontrakan tidak dia bayar."
"Iya betul Mas, Saya pun sedang mencari dia, katanya dia bekerja di perusahaan besar, kalau nggak salah Hendrawan group. Ini saya akan coba cari dia di sana!" ucap pemilik kontrakan.
"Percuma Pak, kami dari Hendrawan group, hari ini dia izin sakit. Jadi kebetulan ada urusan di sekitar sini, kami mampir untuk menjenguknya. Eh, ternyata dia malah sudah pindah," ucap Muti.
"Oalah, berarti Saya tertipu. Enam bulan kontrakan tidak dia bayar," ucap pemilik kontrakan.
"Memangnya tetangga lain nggak ada yang tahu ya Pak, kemana dia pindah?" tanya Adam.
"Nggak ada Mas, dia keluar dari sini tengah malam saat orang sudah tidur."
"Kalau begitu, dia memang sudah berniat buruk, menipu sudah menjadi kebiasaannya. Padahal gaji yang kami berikan lumayan besar. Bapak tahu kan, Hendrawan group perusahaan nomor berapa di kota ini?" tanya Muti.
__ADS_1
"Iya Bu. Kita semua tertipu."
"Kalau begitu, kami permisi dulu ya Pak," pamit Mutiara.
"Iya mbak, saya juga mau pulang," ucap pemilik kontrakan.
Adam dan Muti pun kembali berjalan menyusuri gang kecil tersebut menuju ke mobil yang diparkir di ujung gang.
"Mas, dari sini kita bisa tahu jika Sofran tidak jujur, barangkali dia ada hubungannya dengan kejadian rem mobil Elena yang blong."
"Nah itu juga yang aku curigai sejak tadi," ucap Adam.
"Bagaimana jadinya Mas dan kemana kita akan mencari Sofran?"
"Untuk sementara kita tangguhkan dulu, sambil memantau situasi ke depannya. Apakah dia masuk kerja lagi atau memang sengaja menghilang," ucap Adam.
"Iya Mas. Sekarang kita kembali ke perusahaan untuk membereskan barang-barang ku ya Mas. Oh ya Mas Adam berangkat kapan?" tanya Muti.
"Kalau besok kamu sudah masuk ke perusahaan kita, aku bisa langsung berangkat lusa sore. Paginya aku akan bertemu ayah, untuk memintamu, memberi kepastian kapan kamu akan aku halalkan," ucap Adam.
Kemudian diapun berkata lagi, "Aku tidak mau keduluan orang, yang bisa saja datang langsung memintamu dari Ayah selama aku pergi," ucap Adam lagi.
"Nggak lah Mas, aku sudah bicarakan tentang hubungan kita kok, jadi mana mungkin ayah menerima pinangan lelaki lain selain Mas Adam."
Kemudian Adam pun berkata lagi, "Aku pasti akan merindukanmu Yang. Seandainya saja kita sudah menikah, aku pasti akan membawamu serta. Sebenarnya aku sangat berat untuk pergi, apalagi dalam waktu yang lumayan lama," ucap Adam sembari menatap Muti.
"Pergilah Mas! Jangan ragu, aku janji akan setia menunggu hingga Mas kembali," ucap Muti.
"Kapanpun rindu, kita masih bisa melakukan panggilan video 'kan Mas. Beda dengan zaman dulu, masa sebelum ada android," ucap Muti lagi.
"Iya sih, tapi tetap beda dengan kita bertemu langsung seperti ini."
"Tentu beda Mas. Pokoknya kita harus sabar. Kalau memang kita jodoh, pasti kita bertemu di akad ijab qobul."
Adam pun mengangguk, sambil menjawab, "Inshaallah kita bertemu di sana, 2 bulanan lagi," ucap Adam sambil menggenggam tangan Mutiara.
Sebenarnya bisa saja Muti meminta Adam untuk menikahinya saat ini juga karena menurut islam, perempuan yang belum pernah berhubungan badan dengan mantan suaminya, nggak memiliki masa iddah.
Namun Muti tidak ingin membongkar aib Sultan lagi, baik kepada keluarga maupun kepada pihak pengadilan, apalagi kepada orang luar.
Sementara dengan Adam, Muti sengaja tidak menceritakan hal itu, karena dia ingin memberikan kejutan indah di malam pertama pernikahannya nanti.
Muti ingin membalas ketulusan dan keikhlasan cinta Adam dengan mempersembahkan suatu hal yang paling berharga, yang menjadi kebanggaan seorang wanita.
__ADS_1
Sejenak keduanya terdiam dalam alam pikiran masing-masing, lalu Adam kembali memecah kesunyian dengan berkata, "Oh ya Yang, aku boleh bertanya?"
"Silahkan Mas, gratis kok!" jawab Muti sambil tersenyum.
"Tapi sebelumnya aku minta maaf, jika pertanyaanku nanti menyinggung perasaan kamu.
Aku hanya ingin menghilangkan rasa penasaran, bukan bermaksud apa-apa," ucap Adam.
"Tanyalah Mas, aku tidak akan tersinggung. Mas Adam adalah calon suamiku, jadi aku harus bisa memahami Mas, jangan Mas terus yang selalu memahami aku," jawab Mutiara
"Baiklah! Kamu dan Sultan sudah setahun lebih menikah, apakah kalian menggunakan alat kontrasepsi hingga belum ada si kecil dalam rumah tangga kalian?"
"Tidak Mas, memang Allah berkehendak lain," jawab Muti dengan santai.
"Oh, mudah-mudahan saja rezeki anak nanti ada, saat kita sah terikat pernikahan," ucap Adam.
"Seandainya ya Mas, nasib buruk terjadi dalam pernikahan kita dan aku tidak kunjung hamil, apakah Mas Adam akan meninggalkan aku?" tanya Muti serius.
"Tidak akan pernah!" jawab Adam dengan mantap.
"Inshaallah Aku tidak akan meninggalkan mu meski cobaan seberat apapun datang dalam rumah tangga yang nantinya kita jalani," ucap Adam lagi.
"Terimakasih ya Mas Adam, terimakasih atas cinta yang telah Mas Adam berikan untukku."
"Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu akhirnya menerima ku. Padahal aku sempat nggak yakin Yang, jika cintaku akan bersambut," ucap Adam sambil mencolek gemas hidung Muti yang mancung.
"Oh ya Mas, ini seandainya ya, misal dalam masa iddah ini aku hamil bagaimana? Apa Mas Adam masih mau meneruskan rencana pernikahan kita?"
"Aku akan tetap menikahimu, tapi setelah bayi itu lahir, sesuai aturan agama.
Dan anak itu akan menjadi anakku. Kenapa kamu bertanya seperti itu Mut? apakah kamu merasakan ada tanda-tanda kehamilan?" tanya Adam serius.
Muti menggeleng dan tersenyum, dia hanya ingin menguji keseriusan Adam saja.
Adam kemudian berkata lagi, "Sebenarnya agama membuat aturan masa iddah mengandung manfaat, yakni memberikan kesempatan bagi suami dan istri yang mau bercerai kalau mereka ingin rujuk kembali."
"Selain itu, masa iddah ada untuk mengetahui adanya kehamilan atau nggak dan sebagai jalan untuk menghargai hubungan suami istri sebelumnya dengan memberikan masa menunggu sebelum memulai hubungan baru," ucap Adam.
"Dan bagi wanita yang ditalak suaminya dalam keadaan tidak hamil maka masa iddahnya sebanyak tiga kali quru. Hal itu sesuai firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 228. Artinya: Para istri yang diceraikan wajib menahan diri (menunggu) mereka selama tiga kali quru'. Inilah yang berlaku padamu sekarang Yang."
Muti pun tersenyum, meski dia tidak memiliki masa Iddah, setidaknya saat ini dia hanya ingin menghargai keluarga Sultan dan ikatan perkawinannya terdahulu.
Dia ingin semuanya berakhir dengan baik, sebagaimana baiknya dulu hubungan keluarganya dengan keluarga Sultan sebelum mereka di jodohkan.
__ADS_1