
Muti memandangi ponselnya yang terus saja berdering, dia tidak berani merijek dan juga tidak berani mengangkat. Akhirnya Muti hanya mengecilkan volumenya saja sambil memilih buah.
Sultan semakin kesal saat tidak ada jawaban dari Muti. Dan akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah berharap Muti ada di sana.
Muti merasa sedikit lega saat melihat ponselnya berhenti berdering, lalu dia melanjutkan ke bagian sayuran, sore ini Muti berencana akan memasak karena keluarganya akan datang.
Selesai membeli semua keperluan Muti pun menuju kasir, tapi Muti baru teringat jika belum membeli susu dan roti.
"Mbak, barang belanjaan saya biar di sini dulu ya, masih ada barang yang terlupa," ucap Muti kepada Mbak kasir.
"Iya Mbak, nggak apa-apa. Silahkan Mbak ambil dulu," jawab Mbak kasir.
Muti pun berjalan menuju rak tempat roti dan susu, karena terburu-buru tanpa sengaja, dia menabrak seseorang hingga barang ditangan orang tersebut jatuh kelantai.
"Maaf, Saya tidak sengaja," ucap Muti sembari mengambil susu kaleng yang terjatuh, tanpa melihat siapa orang yang dia tabrak.
Orang tersebut tersenyum, lalu ikut mengumpulkan barang belanjaan lain yang ikut terjatuh.
Saat Muti mengulurkan barang yang dia pungut sembari menengadahkan wajah, Muti pun terkejut. "Oh, ternyata Mas Adam! Maaf ya Mas, aku telah membuat belanjaan Mas Adam jatuh. Aku tadi terburu-buru."
"Nggak apa-apa Mbak, lagipula aku juga salah, tadi terlalu asyik memilih barang jadi tidak memperhatikan sekitar dan telah menghalangi jalan pembeli lain."
"Mas Adam kok nggak ngantor? enak jadi Bos di perusahaan sendiri ya Mas, mau libur nggak ada yang melarang," ucap Muti sembari tersenyum.
"Nggak seperti itu juga Mbak, walaupun perusahaan sendiri, pemilik juga harus tetap memperhatikan dan harus bertanggung jawab terhadap kemajuan perusahaan demi kemakmuran bersama," jawab Adam.
Kemudian dia berkata lagi, "Kebetulan hari ini perusahaan kami menang tender yang cukup besar, jadi Saya mengizinkan semua karyawan untuk istirahat dan pulang cepat."
"Oh, selamat ya Mas. Semoga bisnis Mas Adam semakin jaya."
"Aamiin, terimakasih Mbak. Mbak Muti mau beli susu juga?" tanya Adam.
"Iya Mas, semua belanjaan sudah saya letak di kasir, hanya tinggal susu dan roti saja yang tertinggal."
"Oh, kalau begitu kita ke kasir yuk Mbak, Saya juga sudah selesai belanja," ajak Adam.
__ADS_1
Muti pun mengangguk lalu mereka berdua berjalan menuju kasir.
"Dek, tolong hitung belanjaan Saya sekaligus belanjaan Mbak ini ya!" pinta Sultan.
"Lho, jangan Mas! belanjaan ini biar Saya saja yang bayar, itu sebagian adalah keperluan mertua," tolak Muti.
"Nggak apa-apa Mbak biar sekalian. Oh ya, Mbak Muti kesini dengan siapa?" tanya Adam.
"Sendiri Mas, Papa mertua sedang dirawat di rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari sini. Jadi, daripada merepotkan Raja, adik ipar, mending Saya naik taksi."
"Oh ya, sakit apa Pak Hendrawan Mbak?" tanya Adam.
"Serangan jantung Mas, biasalah penyakit orang kaya."
"Mbak Muti ada-ada saja, memangnya penyakit orang miskin apa Mbak?" tanya Adam.
"Itu kata orang-orang lho Mas, penyakit karena terlalu sering makan enak, kalau penyakit orang miskin ya paling kelaparan," jawab Muti sembari tertawa.
"Boleh saya antar Mbak Muti ke rumah sakit? Sekaligus Saya ingin menjenguk Pak Hendrawan. Saya dulu pernah bekerjasama dengan beliau, tapi sejak perusahaan dikendalikan oleh Sultan, semua jadi berbeda."
"Oh ya Mas, memangnya tidak bisa lagi ya menjalin kerjasama dengan perusahaan Papa?"
"Oh, Sayang ya Mas, padahal perusahaan Mas Adam mencakup banyak bidang."
"Apa boleh buat, beda pemimpin, beda keputusan. Oh ya, bagaimana Mbak, apakah Saya boleh ikut?" tanya Adam.
"Baiklah Mas, barangkali Papa akan senang jika dikunjungi salah satu sahabat dan rekan bisnis lamanya," ucap Muti.
Adam membayar semua belanjaan, lalu merekapun meninggalkan swalayan menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Mama dan Raja merasa terkejut saat melihat Muti datang bersama seorang pemuda tampan yang tidak mereka kenal.
Muti menghampiri sang Mama, lalu memperkenalkan Adam, "Oh ya Ma, kenalkan ini Mas Adam, teman Muti dan dulu pernah menjadi rekanan bisnis Papa. Kebetulan kami tadi bertemu saat belanja di swalayan dan Mas Adam ingin menjenguk Papa," ucap Muti.
"Selamat siang Tante," sapa Adam sembari mengulurkan tangan ke arah Mama.
__ADS_1
"Siang Nak! Silahkan, jika ingin menjenguk Papa. Alhamdulillah, Papa sudah boleh pulang kok sore ini," ucap Mama.
"Alhamdulillah, syukur ya Tan," ucap Adam.
"Oh ya Mas, kenalkan ini Raja, adik Kak Sultan."
"Salam kenal Raja, ternyata Pak Hendrawan memiliki dua orang putra yang sama tampan," ucap Adam sembari mengulurkan tangan.
"Salam kenal juga Mas. Oh ya, silahkan masuk Mas," ucap Raja sembari membukakan pintu ruangan Papa Hendrawan.
Adam pun masuk dengan diikuti oleh Muti dan juga Mama.
Adam melihat Papa Hendrawan sedang duduk sambil membolak-balik koran, lalu diapun mendekat dan menyapa, "Selamat sore Pak!"
Papa Hendrawan pun menoleh, "Eh, kamu Nak Adam! Bagaimana kamu tahu jika Saya di sini?"
"Dari Mbak Muti Pak, kebetulan Saya berteman dan kebetulan tadi, kami bertemu saat sama belanja di swalayan," jawab Adam.
"Oh ya, sejak kapan kalian kenal?" tanya Papa.
"Kami kenal di Bali, saat Mbak Muti dan putra Bapak sedang berbulan madu," jawab Adam.
"Wah, terimakasih ya Nak, sudah mau repot datang menjenguk Saya. Lantas, bagaimana dengan bisnis kamu sekarang? Sayang ya, perusahaan kita tidak bekerjasama lagi. Aku sudah menyerahkan semua urusan perusahaan kepada anak-anak. Maklumlah, semakin tua, penyakit pun mulai datang menggerogoti," ucap Papa Hendrawan.
"Saya senang bisa bertemu Bapak kembali. Soal bisnis biasalah Pak, masih sama saja seperti dulu. Bapak bersyukur punya dua putra yang bisa diandalkan. Nah Saya, jangankan putra, pendamping saja belum ada."
"Nak Adam barangkali terlalu memilih. Cepat menikah Nak, nanti keburu kiamat lho! Jika belum ada calon, nanti Saya carikan," ucap Papa sembari tersenyum.
"Mana mungkin belum ada Pa, Nak Adam tampan lagipula pengusaha sukses, pasti banyak gadis yang mengantri ingin menjadi calon istrinya," timpal Mama.
"Tante bisa saja, serius lho Tan belum ada yang mau," jawab Adam sembari menatap Muti sekilas yang berdiri di sisi kiri Papa, tepat di hadapan Adam.
Adam dan Muti saling tatap, kemudian Muti mengalihkan pandangannya ke arah buah yang tadi dia beli. Lalu diapun beranjak, mengambil pisau, ingin mengupaskan untuk sang Papa.
"Seandainya kami memiliki anak perempuan, pastinya Saya akan duluan melamar Nak Adam untuk kami jadikan menantu. Ya kan Ma!" ucap Papa Hendrawan.
__ADS_1
"Iya Nak! Sayang Tante cuma punya putra," jawab Mama.
Adam tersenyum mendengar perkataan Papa dan Mama, seandainya Muti adalah anak dari mereka dan bukan menantu, pasti dengan senang hati Adam akan memintanya untuk di jadikan istri daripada Muti hidup dengan lelaki yang tidak menyayangi dan tidak pernah menghargai pengorbanannya sebagai istri.