
Dokter datang memeriksa kondisi Papa Hendrawan dan memberitahu jika beliau sudah diizinkan untuk pulang, tapi tetap harus datang untuk kontrol tiga hari mendatang.
Mama, Raja dan Muti merasa bersyukur, lalu mereka pun bersiap-siap sambil menunggu perawat memberikan obat.
Adam membantu Papa Hendrawan turun dari tempat tidur dan menawarkan diri hendak mengantar beliau sampai ke rumah.
Papa dengan senang hati menerima tawaran tersebut karena beliau masih ingin ngobrol tentang bisnis bersama Adam.
Setelah membantu Papa naik ke mobil Raja, Adam pun menawarkan kepada Muti untuk ikut ke dalam mobilnya.
Awalnya Muti menolak karena dia merasa tidak enak dengan sang mertua, tapi karena izin dari Papa Hendrawan akhirnya Muti pun menerima tawaran Adam.
Dua mobil beriringan menuju kediaman Hendrawan, Adam senang dia masih memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan Muti.
"Mereka sangat menyayangimu ya Mbak?"
"Iya Mas, itu yang masih membuatku bertahan. Aku tidak tega menyakiti mereka."
"Tapi sampai kapan Mbak?"
Muti hanya diam, dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Adam yang melihat Muti murung, lalu mengalihkan pembicaraan, "Apa Mbak Muti jadi bekerja di perusahaan Pak Hendrawan?"
"Belum tahu Mas, aku belum siap. Aku tidak memiliki pengalaman tentang bisnis Mas, lagipula aku hanya tamatan SMU."
"Kenapa Mbak tidak melanjutkan studi, pernikahan toh bukan penghalang untuk belajar," ucap Adam.
"Ada rencana sih Mas, tapi aku harus tetap minta izin dengan Kak sultan."
"Hemm, aku jadi iri Mbak. Beruntung sekali jika aku bisa mendapatkan istri seperti Mbak Muti."
"Mas Adam pasti bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Saya," ucap Muti sembari memandang Adam.
"Tidak Mbak, nama Mbak Muti sudah terpatri di sini," ucap Adam sembari menunjuk dadanya.
"Aku akan tunggu sampai Mbak lelah dan menyerah dengan pernikahan yang hanya membuat Mbak Muti tidak bahagia. Mbak boleh pegang ucapanku."
"Tapi Mas, sampai kapan Mas Adam mau seperti ini? Saya bukan gadis lho mas, Saya istri orang dan Saya tidak bisa memberi kepastian untuk Mas Adam!"
"Aku akan sabar, sampai Sultan menceraikan Mbak atau Mbak Muti yang meminta cerai. Aku tidak peduli meskipun status Mbak janda. Aku menginginkan Mbak, bukan karena status tapi karena aku mencintai Mbak Muti."
__ADS_1
Muti terdiam, dia tidak berani memberikan harapan kepada Adam, meskipun ada perasaan bahagia di relung hatinya, karena ternyata masih ada pria yang benar mencintainya tanpa memandang status.
Keduanya terdiam, bergelut dengan perasaannya masing-masing, lalu Muti mengambil ponselnya dan dia melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Sultan juga Elena.
Muti mengabaikan saja panggilan Sultan, dia belum siap menghadapi kemarahan Sultan, lalu Muti memilih menelepon balik Elena.
Saat panggilannya diterima oleh Elena, Muti pun bertanya, "Ada apa El? tadi ponselku di dalam tas dan volume ponsel aku kecilkan jadi tidak mendengar ada panggilan masuk dari kamu."
"Mbak, kami sudah dekat ke rumah Mbak. Ayah dan ibu bilang ke rumah Mbak Muti dulu, baru menjenguk besan."
"Aku dalam perjalanan mengantar Papa dan Mama El, sebaiknya kalian susul kesini saja. Baru nanti kita sama-sama pulang ke rumahku. Pokoknya kalian harus menginap malam ini."
"Oh, berarti Papa mertua Mbak sudah keluar dari rumah sakit?"
"Iya El."
"Baiklah Mbak, aku tanya Ayah dulu ya?"
"Bagaimana Yah, kita ke rumah besan Ayah dulu atau kita menunggu di rumah Mbak Muti?" tanya Elena tanpa mematikan panggilan dari Muti.
"Ya sudah El, kita ke rumah besan saja," jawab Ayah.
Keluarga Hendrawan serta Adam sudah tiba di rumah. Papa, Mama dan raja mempersilahkan Adam untuk masuk. Sementara Muti membantu Papa untuk duduk, sesuai permintaan Papa.
Adam terpukau melihat kemegahan rumah kediaman Hendrawan, diam-diam dia mengakui kehebatan pria tua di hadapannya ini yang telah berhasil membangun kerajaan bisnisnya.
"Silahkan duduk Nak!" ucap Papa Hendrawan.
"Mut, tolong minta bibi untuk menyiapkan minuman buat Nak Adam. Papa minta air mineral saja," pinta Papa Hendrawan.
"Baik Pa, sebentar ya Mas," pamit Muti.
"Ja, kamu ikut ngobrol sini, kamu harus banyak belajar bisnis dari Nak Adam. Kamu harus segera mendampingi Sultan di perusahaan. Batalkan dulu rencanamu mengambil gelar master, tolong Papa Ja. Perusahaan saat ini membutuhkan kamu, karena Kakakmu sudah tidak bisa kita andalkan lagi."
"Iya Pa," ucap Raja yang tidak berani membantah demi kesehatan sang Papa. Dia memang berniat untuk membatalkan kuliahnya dalam mengambil gelar master demi membantu mengelola perusahaan sebelum orang lain menghancurkan kejayaan yang telah sang papa bangun.
Kemudian Raja, Papa dan juga Adam asyik terlibat pembicaraan seputar bisnis hingga Muti datang membawa minuman.
"Lho, bibi kemana Mut? Kenapa kamu yang membawa minuman?" tanya Mama.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Ma, bibi sedang menyiapkan dan memasak makanan buat nanti malam."
"Nak Adam makan malam di sini ya!" undang Papa.
"Maaf Pak, Saya belum bisa terima tawaran Bapak, malam ini saya sudah berjanji untuk menghadiri acara syukuran bersama teman-teman."
"Oh, sayang sekali ya Nak! Saya harap lain kali kamu bisa datang lagi untuk makan bareng kita di sini," ucap Papa.
"Iya lho Mas, masih banyak yang ingin aku tanyakan kepada Mas Adam," ucap Raja.
"Ternyata menyenangkan ngobrol dengan Mas Adam. Aku harap suatu saat kita bisa bekerja sama," ucap Raja lagi.
"Terimakasih Raja, aku juga senang bisa berkenalan denganmu. Dan, tentu saja aku senang jika perusahaan kita bisa bekerjasama kelak seperti saat kepemimpinan perusahaan masih di tangan Papa kamu."
Saat mereka asyik ngobrol sembari menikmati minuman yang Muti bawa, terdengar suara salam dari luar. Ternyata Ayah dan ibu serta Nayla sudah sampai.
Muti memeluk Sang ibu, lalu menyalim tangan sang Ayah dan juga memeluk Elena. Kemudian Muti mempersilakan orangtuanya untuk duduk bersama Adam dan juga Papa.
"Lho, Nak Adam di sini juga?" tanya Ayah.
"Iya Pak Danu. Apa kabar Pak?"
"Alhamdulillah sehat Nak!"
Kemudian Pak Danu dan Ibu menghampiri sang besan, mereka saling menanyakan kabar.
Muti buru-buru ke dapur untuk mengambilkan minuman buat orangtuanya. Dengan di bantu bibi, Muti menyiapkannya lengkap dengan cemilan.
Mereka semakin asyik mengobrol, Adam merasa masuk dalam keluarga yang welcome terhadapnya.
Sementara, Elena yang masih merasa penasaran kenapa Adam sampai ada di rumah keluarga Sultan, segera menghampiri sahabatnya.
"Mbak, bagaimana Mas Adam bisa berada di sini? Aku lihat sepertinya dia dekat dengan keluarga Kak Sultan?"
Kemudian Muti menjelaskan tentang hubungan Adam yang sudah terjalin lama dengan papa Hendrawan, jauh sebelum dirinya masuk ke keluarga ini.
Canda tawa memenuhi rumah kediaman Hendrawan, sedangkan di rumah pribadi Muti dan Sultan, suaminya itu sedang mengamuk karena Muti tidak juga memberi kabar.
Sultan stress, apalagi di tambah dengan panggilan telepon dari Clara yang berulang-ulang karena dia mengabaikannya.
__ADS_1