MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 136. BERANGKAT


__ADS_3

Hati Clara sekarang sudah tenang karena Sultan mau memaafkannya, hanya tinggal meminta maaf kepada Mutiara.


Setelah dia keluar dari rumah sakit, Clara berencana ingin mencari Muti dulu, baru pulang ke kampungnya.


Sultan tiba di rumah, dia melihat orangtua dan adiknya, duduk di beranda seperti sedang serius membicarakan sesuatu.


Sultan pun mengucap salam dan Mama memintanya untuk duduk bergabung.


"Memangnya Kamu dari mana Nak?"


"Bertemu Clara Ma!"


"Apa! Aduh... Mama mohon, jangan terlibat lagi dengan wanita ular itu!"


"Bayi Clara meninggal dalam kandungan Ma dan ada kanker ganas dalam rahimnya."


"Jadi, harus operasi angkat rahim?"


"Iya Ma."


"Rasain! Kena karma dia! Kamu juga harus banyak-banyak istighfar Nak, bertobatlah sebelum Allah murka. Kamu juga banyak salah terhadap Mutiara dan keluarganya!"


"Iya Ma. Aku memang banyak salah, juga salah terhadap Mama Papa."


"Jadi, sekarang bagaimana keadaan Clara?"


"Operasinya sudah selesai, mudah-mudahan saja kankernya tidak bakal tumbuh lagi di organ lain."


"Pokoknya Mama tidak mau kamu dekat dengan dia lagi, jangan sampai rasa iba kamu, menyeret dirimu lagi ke dalam dosa bersama Clara."


"Dia sudah berubah Ma, saat ini dan sampai kapanpun kami hanya berteman. Dia akan menetap di kampungnya dan aku besok akan berangkat Ma."


"Jadi tekadmu sudah bulat Nak!" sahut Papa.


"Iya Pa, doain aku ya Pa. Rencananya di sana kuliah sambil mencari bisnis yang tepat untuk aku geluti."


"Kami akan selalu mendoakan kamu Nak! Jangan sia-siakan waktumu lagi untuk hal yang tidak berguna. Satu hal lagi, jangan lupa bawa calon menantu yang baik, saat kamu pulang nanti."


" Yang terakhir Itu, aku tidak bisa janji Pa! Pasti susah untuk mencari dan mendapatkan wanita baik seperti Muti lagi. Aku tidak mau terjerumus dan masuk ke dalam jurang yang sama."


"Yang sabar ya Nak, pasti masih ada wanita baik di luaran sana."


"Seperti janji Allah dalam QS. An-Nur Ayat 26 :


"Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)."

__ADS_1


"Nah...perbaikilah dirimu dulu Nak, agar menjadi manusia yang lebih baik, hingga kelak bisa mendapatkan jodoh yang baik pula."


"Omongan Mama kamu benar Nak!"


"Iya Pa, Ma. Inshaallah aku akan memperdalam ilmu agama juga di sana."


"Alhamdulillah jika begitu. Papa dan Mama akan selalu mendukung kalian."


"Terimakasih Pa," ucap Sultan.


"Kamu juga lho Ja, dengarkan omongan Mama, agar kelak bisa jadi imam yang baik bagi rumah tanggamu!" pinta Papa.


"Perdalam lagi ilmu agama, Papa dan Mama ingin melihat kalian bahagia dalam hidup berumah tangga."


"Inshaallah Ma, Raja juga ingin belajar mendalami ilmu agama seperti Kak Sultan."


"Alhamdulillah ya Pa, ini yang kita tunggu sebagai orang tua. Saat kita tiada nanti, anak-anak sholeh akan mendoakan kita."


"Iya Ma. Terimakasih anak-anakku," ucap Papa.


"Kami yang harusnya berterima kasih Pa. Kami beruntung memiliki Papa Mama yang terbaik," jawab Sultan.


"Hooh, benar ya Kak."


"Eh...jadi saat pernikahan ku nanti bagaimana? Apa Kak Sultan bisa pulang?"


"Yang sabar ya Kak."


"Yuk, kita masuk! Papa mau istirahat. Kamu jadi ke kantor Ja?"


"Jadi Pa, aku berangkat sekarang ya Pa, Ma, Kak."


"Hati-hati ya! semoga sukses dan perusahaan lebih maju lagi di bawah kepemimpinan mu Dek!" ucap Sultan sembari menepuk pelan punggung sang adik.


"Terimakasih Kak. Kakak juga, semoga sukses di sana. Besok, aku yang antar kakak ke bandara ya!"


"Papa Mama juga ikut Ja!"


"Siap Bos! Raja berangkat sekarang ya."


Sultan pun bangkit, dia memeluk Raja, sebelum adiknya itu berangkat ke kantor.


Papa Mama hari ini sangat bahagia melihat kedua putranya, tapi mereka juga sedih, besok akan berpisah dengan Sultan.


Setelah mobil Raja hilang dari pandangan mata, Sultan pun masuk, lalu diapun pamit untuk istirahat.

__ADS_1


Malam nanti Sultan akan bertemu dengan teman-temannya di tempat biasa mereka nongkrong. Tapi, kali ini dia bersama teman-temannya tidak akan menyentuh miras lagi. Mereka hanya akan ngobrol dan sharing bisnis sebelum Sultan berangkat.


Papa dan Mama pun bergegas ke kamar, mereka juga ingin istirahat.


Sementara Adam di rumahnya sedang mempersiapkan barang yang akan dia bawa. Sebentar lagi, dia dan sopir kantor akan menjemput Muti yang akan mengantarnya ke bandara.


Setelah semua persiapan selesai, Adam menyambar handuk dan bergegas mandi.


Setelah itu, dia berpakaian rapi, menyisir rambut sambil berkaca untuk melihat penampilannya.


Pak sopir pun sudah datang menjemput, lalu dia membantu memasukkan koper ke bagasi mobil.


Setelah semua beres, Adam pamit kepada para pembantu yang akan menjaga rumahnya.


Mobil melaju membelah jalanan yang tidak terlalu ramai dan Sultan pun menghubungi Muti agar bersiap, karena 40 menit lagi dia akan sampai di rumah Muti.


Muti ternyata sudah bersiap, hanya tinggal mengenakan sepatu saja. Dia juga berdandan sangat cantik, dengan mengenakan pakaian serta hijab senada sesuai warna kesukaan Adam.


Sesampainya Adam di sana, Ayah dan Ibu pun menyambut kedatangannya dengan menyuguhkan teh serta kue. Mereka berbincang sejenak, lalu Adam dan Muti pun pamit.


Selesai Adam mencium tangan Ayah, beliau pun memeluk Adam sambil berkata, "Hati-hati di jalan ya Nak, kirim kabar bila sudah sampai."


"Pasti Ayah. Titip Muti ya Yah," ucap balik Adam.


"Iya Nak."


Kemudian Adam pamit kepada Ibu dan kedua Kakak Muti serta kepada Elena.


Adam pun berpesan kepada Elena agar berhati-hati bila pergi bersama Muti. Dia tidak ingin kecelakaan yang lalu terulang lagi.


"Jangan lupa ya Mas Adam?"


"Apa El? kalau oleh-oleh pasti aman!"


"Bukan oleh-oleh Mas. Tapi, jangan lupakan Mbak ku!"


"Oh... kalau itu, inshaallah tidak akan pernah. Dia selalu ada di sini!" ucap Adam sembari menunjuk dadanya.


Wajah Muti memerah karena malu, Adam tidak segan lagi mengatakan hal itu meski di hadapan mereka masih ada ayah dan ibu.


Merekapun berangkat, dua jam lagi pesawat yang akan Adam tumpangi tinggal landas.


Negara pertama yang akan Adam kunjungi adalah Australia, setelah itu barulah ke Jerman dan beberapa negara lainnya.


Adam terus melebarkan sayap bisnisnya di luar negeri. Minimal enam bulan sekali dia baru mengunjungi masing-masing perusahaannya yang ada di beberapa negara tersebut.

__ADS_1


Kunjungannya kesana hanya memantau perkembangan, serta mengecek laporan yang diperlukan. Sementara pengelolaan perusahaan, Adam percayakan kepada para teman karibnya semasa di sekolah dulu.


__ADS_2