MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 122. MENGUNJUNGI KELUARGA HENDRAWAN


__ADS_3

"Pelan-pelan El," ucap Muti sambil membantunya naik ke mobil ayah.


"Terimakasih Mbak, Mas Adam. Kami jalan dulu ya!" ucap Elena.


"Ayah duluan ya Nak Adam," ucap Ayah sembari melajukan mobil kembali ke rumah.


Adam dan Muti pun melanjutkan rencana pergi ke rumah keluarga Hendrawan.


Raja yang sudah tiba di rumah sejak tadi, menanti kedatangan Elena. Sebab tadi pagi Elena memberitahu jika sore ini akan datang bersama Muti.


Sambil menunggu Raja pun ngobrol bersama Papa dan Mama, membahas tentang sang Kakak.


"Ma, jadi bagaimana dengan Kak Sultan? Apa aku serahkan saja ya bagianku ke Kakak biar dia yang kelola!" ucap Raja.


"Nggak usah Ja, kamu juga butuh itu, tapi kamu bilang ingin meminang Elena. Mau kamu kasi makan apa dia jika semua kamu serahkan ke Sultan. Kamu harus pikirkan tanggungjawabmu dan masa depanmu sendiri," ucap Mama.


"Kamu tenang saja Ja, Papa yakin kakakmu bisa bangkit, karena Papa tahu kemampuannya jika dia sudah fokus dalam bisnis. Kamu juga harus fokus, jangan sampai tertinggal dengan Kakak kamu Ja!" ucap Papa.


"Hehehe...Papa 'kan tahu, Raja agak lemot jika sudah bicara tentang bisnis."


"Papa tahu, kamu kurang menyukai bidang ini tapi belajarlah demi masa depan keluarga mu kelak. Papa yakin Elena bisa membantu memajukan bisnis kalian."


"Iya Pa, tapi saat ini biarlah dia membantu ayah dan Muti dulu."


"Kenapa mereka belum sampai ya Ja! Katanya mau kesini sebelum ashar, nah sekarang sudah hampir pukul 5, apa mereka tidak memberitahu kamu jika telat Ja?" tanya Mama.


"Tidak Ma, barangkali macet dan sebentar lagi pasti sampai," ucap Raja.


"Rencananya kapan kamu akan melamar Elena Ja?" tanya Papa.


"Bulan depan Pa!"


"Baguslah, semakin cepat makin baik. Pernikahan Sultan dan Muti kandas, Papa harap kamu dan Elena benar berjodoh hingga maut memisahkan. Dengan pernikahan kalian, Papa berharap, persahabatan kami bisa terjalin lebih baik lagi meski Elena bukan putri kandungnya."


"Iya Pa. Om Danu tidak membedakan kasih sayang antara Elena dan mbak Muti, makanya Elena tidak ingin mengecewakan Om Danu."


"Oh ya Ja, apa benar keluarga tidak ada satupun yang masih hidup?" tanya Mama.


"Menurut Elena ada satu Kakak nya yang hingga sekarang tidak ada kabar. Dia menghilang saat mengikuti kegiatan Tim pecinta alam."


"Apa sudah Elena coba sebarkan pencarian melalui media Ja?" tanya Papa.

__ADS_1


"Sudah Pa, tapi tetap tidak ada kabar."


"Kalau begitu, mungkin saja kakaknya sudah meninggal. Jadi, Keluarga Danuarta lah sekarang yang menjadi keluarganya."


"Kamu harus menyayangi dia Ja, jangan seperti kakakmu yang akhirnya menyesal 'kan!"


"Iya Ma, Raja akan berusaha membahagiakan Elena."


"Mama harap setelah menikah kalian tinggal di sini, biar kami memiliki teman di hari tua dan kami doakan kalian bisa cepat diberi momongan. Rumah kita besar tapi begitu sepi."


"Nanti coba Raja rundingkan dulu dengan Elena, ya Ma!"


"Jika tidak mau tinggal satu atap, kalian bisa tinggal di sini, biar kami di paviliun, yang penting masih satu lingkungan rumah ini," ucap Mama.


"Iya Ma."


"Lihat Ma! sepertinya ada yang datang, barangkali Muti dan Elena tiba," ucap Papa.


Mama pun bangkit hendak menyambut siapa yang datang. Saat melihat Muti turun Mama tersenyum, tapi ketika melihat siapa yang ada di balik stiur, beliau terkejut. Kenapa mantan menantunya, bisa datang bersama Adam.


Muti menghampiri dan memeluk sang Mama sembari mengucap salam. Adam juga menyapa Mama dengan mengucap salam, lalu mengulurkan tangan.


"Papa dimana Ma?" tanya Muti.


"Papa di dalam kok Mut, sedang ngobrol dengan Raja."


"Oh, Raja sudah tiba?"


"Sudah sejak tadi. Oh ya, Elena mana? Kenapa tidak jadi ikut Mut?"


"Elena kecelakaan Ma!" ucap Muti.


"Kecelakaan! Dimana dan bagaimana keadaannya Mut? Ayo kita kedalam dulu dan ceritakan di sana biar Papa dan Raja juga mendengarnya."


"Baik Ma, ayo Mas kita masuk!" ajak Muti kepada Adam.


"Sebentar Mut, biar aku ambil tas mu di mobil, kamu pasti lupa tujuan kita kesini!" ucap Adam.


"Oh iya Mas, aku lupa mengeluarkan tas berkasnya. Maaf jadi merepotkan!" ucap Muti.


Tidak ada kata merepotkan untuk calon istri sendiri," ucap Adam di belakang telinga Muti dan samar-samar terdengar oleh Mama Sultan.

__ADS_1


Melihat hal itu, Mama jadi bisa menduga jika Muti menolak kembali dengan Sultan karena telah memiliki pria lain.


Mama sebenarnya kecewa, karena mengetahui Muti yang terlalu cepat mendapatkan pengganti putranya. Tapi, beliau juga tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Muti, karena kesalahan terbesar memang ada pada diri Sultan.


Adam kembali ke mobil, dia mengambil tas berkas milik Muti, lalu kembali ke dalam menyusul Mutiara.


"Assalamualaikum Pa!" sapa Muti sembari mengulurkan tangan.


Papa Hendrawan senang atas kedatangan Muti dan beliau terkejut saat melihat Adam juga hadir di sana.


"Eh, ternyata ada Nak Adam, mari Nak, silahkan duduk!" ucap Papa yang mencoba menormalkan perasaan terkejutnya.


"Kamu Ja, apa kabar?" tanya Muti.


"Aku sehat Mbak. Oh ya, Elena mana Mbak? Katanya mau datang dengan Mbak, tapi kok belum tiba?" tanya Sultan balik.


"Maaf Ja! kami tidak sempat memberimu kabar, Elena kecelakaan Ja, rem mobilnya tiba-tiba blong saat dia dalam perjalanan hendak menyusulku makan siang," ucap Muti menyesal.


"Apa! Jadi, bagaimana kondisinya sekarang Mbak?" tanya Raja cemas.


"Alhamdulillah, Elena selamat Ja, hanya kakinya yang terjepit dan cidera. Tapi, sudah dikusuk dan diberi ramuan untuk menghilangkan bengkak serta mengurangi rasa nyeri."


"Syukurlah Mbak, jadi sekarang Elena di rumah sakit mana Mbak?"


"Elena sudah dibawa pulang oleh ayah, tidak ada luka serius makanya kami tidak membawanya ke rumah sakit," jawab Muti.


"Kenapa remnya bisa blong ya, apa Elena lupa menservice mobilnya Mbak?" tanya Raja heran.


"Baru di service kok Ja, entahlah, aku juga bingung kenapa bisa tiba-tiba rem mobilnya blong, padahal paginya baru kami kendarai tapi tidak ada masalah."


"Besok pagi, Saya akan bantu selidiki, Saya curiga ada yang tidak beres dan sepertinya ada undur kesengajaan dari pihak tertentu," ucap Adam.


"Kenapa Mas Adam sampai berpikir seperti itu! Apa yang mereka irikan dari Elena Mas? Elena tidak pernah punya musuh disini!" ucap Muti.


"Elena mungkin tidak, nah kamu! Bisa jadi tujuan mereka mensabotase itu adalah dirimu Mut!"


"Aku?"


"Ya, Mas Adam benar Mbak, Mbak sekarang Dirut perusahaan, bisa saja saingan bisnis atau orang-orang lain yang ada di sekitar menginginkan Mbak Muti celaka," ucap Raja.


Muti terdiam, dia masih mencerna perkataan Adam dan Raja, apa mungkin benar ada seseorang yang menginginkan dirinya celaka.

__ADS_1


__ADS_2