MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 36. FILLING SEORANG IBU


__ADS_3

Mereka tiba di rumah kediaman orang tua Sultan, para orang tua menyambut dengan gembira kedatangan anak-anak mereka.


"Apa kabar kamu sayang," tanya mama Sultan saat mencium menantunya.


Kemudian beliau memperhatikan Mutiara lalu berkata lagi, "Kamu kok kurusan Nak, memangnya anak mama tidak mengurus kamu dengan baik ya, selama di sana?" tanya Mama Sultan.


"Nggak kok Ma, Kak Sultan selalu memperhatikan Muti, hanya Muti saja yang kadang malas makan, habisnya kangen suasana rumah," jawab Muti yang menutupi kelakuan suaminya selama di Bali.


"Oh ya Ma, perkenalkan ini teman Muti, namanya Elena. Dia akan tinggal dengan Ibu biar mereka ada yang temani karena Muti 'kan tidak lagi tinggal di san," ucap Mutiara.


Elena pun memperkenalkan diri kepada orangtua Sultan dan juga orang tua Muti.


"Wah kalian beruntung, anak gadis yang satu pergi, kini datang anak gadis yang lain, aku entah kapan nih! kedatangan anak perempuan, sedangkan Sultan lebih memilih membawa Muti tinggal di rumah mereka sendiri ketimbang bersama kami," ucap Mama Sultan.


"Makanya Jeng suruh Raja cepat bawa calon istrinya," ucap Ibu.


"Boro-boro calon istri Jeng, pacar aja belum punya, bagaimana mau dapat pacar, wong kerjanya pandangi buku melulu," ucap Mama Sultan sambil tertawa.


Raja hanya tersenyum menanggapi ucapan sang Mama. Kemudian Raja masuk ke dalam kamar, berkutat kembali dengan buku dan laptopnya.


Para jiran tetangga dan kerabat dekat sudah berkumpul di rumah Pak Hendrawan begitu juga dengan anak yatim dan anak panti, mereka di sambut hangat oleh kedua keluarga.


Ustadz setempat pun membacakan doa untuk kebahagiaan pengantin baru dan keberkahan kedua keluarga serta semua yang hadir di sana.


Para tetangga mendekati Muti dan Sultan, mereka mengucapkan selamat kembali ke Jakarta dan semoga cepat memperoleh keturunan.


Muti menanggapi semua itu hanya dengan tersenyum, andai saja mereka tahu jika dirinya masih perawan karena diabaikan oleh Sultan, pasti ucapan mereka akan berubah.


Sedih pasti, tapi apa mau di kata mungkin ini memang takdir Mutiara, harus tetap tersenyum di depan semua orang untuk menutupi aib rumah tangganya, tapi sampai kapankah semua akan berakhir? pertanyaan ini hanya Sultan yang bisa menjawab.


"Kamu kenapa Nak?" tanya Ibu yang tiba-tiba nongol di belakang Muti.


"Ibu perhatikan sejak kalian tiba, sepertinya kamu tidak bahagia. Aku ibumu Nak, kamu bisa membohongi orang lain dengan senyuman mu itu tapi bukan ibumu ini. Jika ada masalah ceritalah dengan Ibu biar bisa kita cari solusinya," ucap Ibunya.


"Nggak ada masalah kok Bu, Muti hanya lelah karena perjalanan jauh, lagipula selama di sana kami kan jalan-jalan terus Bu?"


"Coba ibu lihat foto-foto kalian? Mana tahu suatu saat ibu dan ayah ingin bulan madu yang kedua kesana," canda ibu sembari tersenyum.


"Kenapa tidak Bu, jika Kakak sudah pada menikah, tinggal ibu dan ayah di rumah, nah apa salahnya jika ibu dan ayah menikmati hari tua jalan-jalan ke Bali," ucap Muti.

__ADS_1


"Iya Bu, Muti benar. Ibu dan ayah, harus ke Bali dan singgah ke rumah El, ya Bu!" ucap Elena.


"Iya Nak, insyaallah kami pasti ke sana," ucap Ibu.


"Mana fotonya tadi? hampir ibu lupa."


Mutia dan Elena saling pandang lalu Elena mengeluarkan hasil jepretannya sehari kemaren.


Ibu memandangi foto-foto tersebut tapi mereka lupa, jika filling seorang Ibu itu tidak bisa di bohongi. Dalam jepretan itu, keduanya terlihat canggung atau kurang mesra.


Tapi saat ini, Ibu tidak mau ikut campur terlalu jauh, selagi putrinya diam, berarti dia sanggup menyelesaikan masalahnya.


"Lihat apa Jeng?" tanya Mama Sultan sambil mencondongkan tubuhnya ingin ikut melihat apa yang ada di tangan Ibu Muti.


"Ini lho Bu, foto-foto Tuan dan Mbak Muti saat mereka di Bali," jawab Elena mewakili Ibu.


"Oh, mama juga pingin lihat deh kalau begitu, pasti bagus-bagus ya."


"Sebentar ya Jeng, sudah hampir selesai kok!" ucap Ibu.


Kemudian Ibu menyerahkan foto tersebut kepada besannya dan Mama Sultan heboh menunjukkan kepada kerabat dan juga kepada suaminya.


Elena menyenggol lengan Muti, lalu berbisik, "Untung saja kemaren kita foto-foto ya Mbak kalau tidak bisa gawat, coba lihat mertua Mbak senang sekali sepertinya. Mereka sayang sama Mbak Muti," ucap Elena.


"Sabar ya Mbak, orang sabar di sayang Allah lho Mbak!"


"Iya El, kamu benar. Lebih senang kita bila di sayang oleh Allah.


Sesuai kesepakatan, setelah mereka sampai, ponsel boleh di hidupkan, tapi Muti dan Elena lupa memberikan ponsel Sultan hingga Sultan menghampiri Mutiara.dan memintanya.


"Aku minta ponselku Mut! Kita kan sudah sampai, jadi boleh dong aku minta sekarang?" tanya Sultan.


"Eh iya, maaf Kak, kami lupa," ucap Mutiara.


"El, tolong kembalikan ponsel Kak Sultan," ucap Muti.


Elena pun mengambil ponsel Sultan dari dalam tasnya, lalu mengulurkan kepadanya.


Setelah mendapatkan ponselnya, Sultan pun segera mengaktifkannya, dia melihat puluhan kali panggilan tak terjawab dari Clara, sejak kemaren malam.

__ADS_1


Kemudian, Sultan menjauh dari kerumunan, berjalan dekat kolam ikan, lalu diapun menelepon Clara karena merasa khawatir.


"Hallo," sapa Sultan.


"Kakak jahat, kemana saja Kak Sultan? kenapa baru sekarang menelepon aku?" tanya Clara dengan manja.


"Kamu sudah sampai Jakarta 'kan?"


"Iya dong, pokoknya Kak Sultan harus datang ke apartemen sekarang juga. Sekarang! Jika Kakak nggak datang, selamanya Kak Sultan tidak akan pernah melihatku!" ancam Clara.


"Tapi Yang, aku nggak bisa sekarang, di rumah Papa sedang ada acara dan mertuaku juga di sini. Nanti malam ya aku datang setelah mengantar Muti pulang ke rumah kami," ucap Sultan.


"Aku maunya sekarang! Aku kasi kakak waktu 2 jam, jika tidak datang, nanti malam Kak Sultan hanya akan melihat mayatku!" ancam Clara lagi.


"Iya, baiklah. Kamu jangan nekad gitu dong. Aku nggak mau kehilangan kamu!" ucap Sultan lagi.


Sayup-sayup Muti mendengar percakapan Sultan, dia baru tahu jika si pelakor ternyata juga berasal dari Jakarta.


Muti harus membuat alasan agar Sultan menunda kepergiannya. Setidaknya sampai mereka pulang kerumah, agar para orangtua tidak tahu ketidakharmonisan rumah tangganya.


Muti pura-pura sakit, dia memegangi perutnya hingga terlihat oleh mama mertuanya.


"Kamu kenapa Nak, kamu sakit? ayo kita kedalam biar mama minta Sultan untuk panggilkan Dokter," ucap mama.


"El, tolong kamu temani Muti dulu ya ke kamar, saya mau panggil Sultan, masa istrinya sakit, dia asyik teleponan," pinta Mama.


"Iya Bu," jawab Elena.


Kemudian Elena menggandeng tangan Muti nenuju kamar yang ditunjuk oleh Mama.


Sesampainya di kamar, Elena langsung bertanya, "Mbak benar sakit?"


Muti pun menggeleng lalu berkata, " Sakitnya di sini El!" ucap Muti sambil menunjuk dadanya.


Memangnya ada apa Mbak, apa pelakor itu yang sedang Tuan telepon?" tanya Elena.


Muti mengangguk lalu berkata, "Aku tidak rela El, jika Kak Sultan pergi, sementara kedua orangtuaku masih di sini. Jika kami sudah berada di rumah sendiri, terserah deh! Yang terpenting jaga perasaan para orangtua untuk saat ini.


"Iya Mbak aku ngerti, lagipula acara ini untuk menyambut kepulangan kalian, masa Kak Sultan tega meninggalkan kalian keluarganya demi si pelakor."

__ADS_1


Muti diam, lalu dia buru-buru berbaring saat mendengar suara langkah kaki mendekati kamar itu.


Ternyata Mama dan Sultan yang datang. Mereka sudah memanggil dokter untuk melihat kondisi Muti.


__ADS_2