
"Bagaimanapun situasinya, kamu tetap salah! harusnya kamu telepon orangtuamu biar mereka yang minta nomor ponsel ku lalu di berikan ke kamu!" ucap Sultan lagi.
"Maaf Kak, aku memang salah. Tapi aku tidak bisa merepotkan orangtua dalam masalah kita. Bukankah Kak Sultan sendiri yang bilang, untuk menyembunyikan apapun dari mereka?" ucap Muti, dengan membalikkan omongan Sultan.
"Kamu sudah mulai berani membantah ya! Jangan-jangan kamu dan Adam memang ada hubungan!" ucap Sultan marah.
Kali ini Muti tidak mau diam, diapun membatah Sultan, "Bukannya terbalik Kak! Jangan menuduh jika tidak ada bukti. Kak Sultan yang selingkuh, aku yang Kakak tuduh!"
"Makin berani kamu ya!" ucap Sultan lagi sambil mengangkat tangannya hendak menampar Muti, tapi dia urungkan dan tangannya masih menggantung di udara.
"Oh, Kak Sultan mau menampar aku, Silahkan Kak! Kalau itu bisa membuat kak Sultan puas daripada memfitnah orang yang tidak bersalah," ucap Muti.
Kemudian dia berkata lagi, "Astaghfirullah. Maaf, aku terpaksa melawan Kakak. Aku tahu, aku salah telah pulang dengan laki-laki yang bukan muhrim ku, tapi aku terpaksa dan Kak Adam juga tahu posisinya. Dia tidak mau masuk ke dalam rumah walau hanya sekedar minum teh untuk ucapan terimakasih ku."
"Itu katamu! tapi, apa kata tetangga!"
"Oh, Kak Sultan lebih percaya tetangga? lebih percaya kepada ibu-ibu biang gosip di luar sana, daripada aku, istrimu?" tanya Muti.
Saat Sultan hendak menjawab lagi, terdengar suara ucapan salam dari luar, hingga membuat keduanya bungkam.
Sultan buru-buru melangkah menuju pintu, ternyata Mamanya sudah ada di sana bersama Raja.
"Mama?" ucap Sultan kaget.
"Kenapa? Mama dengar dari luar kalian sedang bertengkar. Apa yang kalian pertengkarkan? Pengantin baru harusnya saling sayang, kenapa kalian berdua malah bersitegang?" tanya Mama Sultan sembari masuk kedalam.
Muti yang melihat kedatangan Mama mertua serta adik iparnya, segera menyambut mereka dengan mengulurkan tangan.
"Apa kabar Ma?" sapa Muti sembari mencium tangan mama. Mama pun memeluk Muti dan mencium kedua pipinya.
Sementara Raja juga memberi salam kepada kedua kakaknya.
"Kamu kok belum berangkat Ja?" tanya Sultan.
__ADS_1
"Belum Kak, aku tunda jadi Minggu depan. Kasihan Mama kemaren rada demam Kak, jadi aku tunggu mama pulih, barulah berangkat," jawab Raja.
"Mama kurang sehat, seharusnya istirahat, kenapa malah kamu bawa kesini Ja?" tanya Sultan.
"Kenapa memangnya, jika Mama kesini? Kamu jangan seenaknya marahin Muti ya! Dia itu istrimu, wajib kamu sayang, bukan malah kamu marah-marah seperti tadi," ucap Mama sembari memegang tangan Muti.
"Nggak kok Ma, tadi cuma salah paham sedikit. Ayo Ma, silahkan duduk! Biar Muti ambilkan minum."
"Kamu jangan belain Sultan, Mut! Jika dia memperlakukan kamu dengan buruk, cepat bilang ke Mama. Kalian Mama izinkan pindah kesini biar mandiri, bukan biar puas bertengkar!"
"Mama salah paham, kami tidak bertengkar kok Ma!" ucap Sultan sambil menarik Muti ke dalam pelukannya.
Sultan berpura-pura mesra, untuk mengelabuhi sang Mama. Muti akhirnya mengikuti permainan Sultan, dia menyandarkan kepalanya di dada Sultan seperti bermanja.
Mama kemudian melihat-lihat rumah putranya, dia senang rumah itu bersih dan rapi walau tidak ada pembantu.
"Oh ya Ma, Mama ngobrol di temani kak Sultan dulu ya, Muti mau masak untuk makan siang kita. Muti tidak tahu jika Mama dan Raja akan datang lebih awal. Soalnya, tadi kak Sultan bilang, Papa dan Mama akan datang sore hari."
"Muti ke dapur dulu ya Ma," pamit Muti.
Mama pun mengangguk, lalu beliau bertanya, "Papa bilang kamu sakit Tan? Kenapa yang Mama lihat, malah kamu yang menyakiti Muti."
Skakmat dari Mama, nyaris membuat Sultan tidak bisa membantah. Raja yang melihat sang Kakak mengejek dari belakang Mamanya.
Raja senang, Sultan kena marah oleh mamanya, karena Raja merasa kasihan melihat Muti di sakiti oleh sang Kakak.
Ternyata selama ini raja mencari info tentang hubungan rumah tangga sang Kakak dari Elena.
Selama Elena di Jakarta, keduanya sering bertemu, karena Raja di perintahkan oleh Papa Hendrawan untuk mencari tahu.
Hanya Elena yang bisa menjelaskan semua tentang keadaan rumah tangga Sultan, makanya Raja melakukan pendekatan terhadap Elena. Elena yang memang kagum terhadap Raja sejak pandangan pertama, tak bisa menolak jika Raja menginginkan mereka bertemu.
Orangtua Sultan sudah mengetahui tentang rumah tangga putranya, tapi mereka saat ini berpura-pura tidak tahu saja.
__ADS_1
Namun mereka akan berusaha membantu agar keduanya bisa saling dekat layaknya suami istri. Dan mengenai menyingkirkan pelakor dari rumah tangga Sultan, Mama dan Papa masih memikirkan caranya.
Muti cekatan sekali dalam hal memasak dan saat sang mama telah mencium aroma masakan, yang sangat menggoda selera, maka mama bergegas ke dapur. Beliau penasaran, ingin melihat kreativitas sang menantu dalam hal memasak.
Sultan yang ditinggal berdua, segera mendekati Raja, lalu bertanya, "Kenapa kamu mengejekku tadi Ja? Kamu senang ya, aku di marahi oleh mama."
"Memang aku senang!" jawab Raja cengengesan.
"Makanya Kak, sudah punya istri baik, jangan disia-sia. Penyesalan datangnya terlambat lho Kak!" nasehat Raja.
"Kalau duluan bukan penyesalan namanya, tapi pendahuluan."
"Aku serius Kak! masa Kakak tidak bisa membedakan mana berlian dan mana batu sungai."
"Maksudmu?" tanya Sultan curiga kepada sang adik.
"Hanya Kakak yang tahu jawabannya. Aku hanya mengingatkan saja, sebelum terlambat dan Kakak bakal menyesal."
"Kamu jangan sok mengguruiku Ja! Kamu hanya bocah ingusan yang belum mengerti apa-apa tentang cinta dan hidup," bantah Sultan.
"Kak Sultan benar, aku hanya seorang bocah ingusan yang tidak memiliki pengalaman tentang wanita sama sekali, tapi ingat Kak, mata batinku lebih jeli untuk melihat ketimbang mata kasatku. Aku tahu membedakan, mana wanita yang benar tulus dan mana wanita yang selalu penuh drama kepura-puraan," ucap Raja.
Sultan malas mendengarkan omongan Raja lagi, dia lalu menyusul Mamanya ke dapur.
Raja hanya menggeleng melihat sang kakak yang begitu susah di beritahu, yang masih kekeh dengan pendiriannya sendiri.
Mama yang melihat kehadiran Sultan di dapur, lalu berkata, "Coba kamu lihat Tan! Istrimu jago memasak dan aromanya, membuat mama lapar. Mau istri seperti apalagi yang kamu cari Tan?" tanya Mama langsung tanpa menutupi apapun dari Mutiara.
Sultan bosan, nggak Raja, nggak Mama, hari ini sama saja, datang kerumahnya hanya ingin memojokkan dirinya.
Mama yang melihat Sultan diam, lalu berkata, "Yakinlah Tan, pilihan kami ini terbaik untukmu. Jangan kamu menyesal nanti jika Muti meninggalkanmu, bila dia sudah tidak kuat bertahan."
Diam, adalah yang terbaik bagi Sultan, untuk saat ini. Terkadang jika pikirannya sedang sehat, Sultan mengakui, semua ucapa mama dan dan Raja memang ada benarnya. Namun saat pikirannya sedang tergila-gila dengan Clara, dia tidak mempedulikan ucapan siapapun.
__ADS_1