
"Eh maaf Mbak, aku lancang jadi mengingatkan Mbak Muti ke masa-masa sulit itu," ucap Elena.
"Nggak apa-apa El, semua sudah berlalu dan hal itu hanya tinggal kenangan. Baik buruk, manis pahit, itulah perjalanan hidup kita yang tidak akan terhapus dari ingatan selagi kita masih diberi kesehatan berpikir," ucap Mutiara.
"Ayo kita istirahat Mbak, besok kita harus berangkat pagi-pagi agar bisa segera menyelesaikan pengiriman barang selanjutnya," ajak Elena.
"Iya kamu benar El, ayo!"
Keduanya pun masuk ke dalam kamar, bersiap dan mengganti pakaian untuk tidur. Tapi saat Muti mulai membaringkan tubuhnya, terdengar suara ponselnya berdering.
Muti tersenyum saat melihat siapa nama si pemanggil, Elena pun berkata, "Nampaknya ada yang rindu nih, baru satu hari tidak bertemu sudah menelepon," canda Elena.
Muti mencebikkan bibirnya sembari memberi kode agar Elena jangan berceloteh terus.
Adam mengucap salam untuk menyapa calon istrinya dan Muti pun menjawab salam tersebut.
Kemudian Adam bertanya bagaimana pekerjaan Muti hari ini tentang pengiriman barang kepada klien luar negeri mereka.
Muti pun menjelaskan, jika semuanya berjalan lancar dan besok pagi pengiriman yang terakhir.
Adam senang dengan semangat kerja Muti, tapi sebelum mengakhiri panggilannya, dia memiliki satu permintaan.
Muti penasaran saat Adam terdiam cukup lama, kemudian Adam meneruskan ucapannya, "Begini lho Sayang, eh...sudah bolehkah sekarang aku panggil Sayang, calon istri cantikku ini?" tanya Adam yang ingin mencairkan suasana agar lebih rileks.
Muti pun tersenyum, dia sebenarnya malu karena belum terbiasa mendapatkan panggilan seperti itu. Selama berumah tangga dengan Sultan, tidak sekalipun dia pernah dipanggil Sayang.
"Sudah Mas, jangan pandang aku seperti itu, aku malu lho," ucap Muti yang melihat Adam tidak berkedip memandangnya di layar video panggilan tersebut.
"Aku belum puas, seharian ini kita tidak bertemu jadi aku masih rindu," jawab Adam.
"Mas Adam bisa saja, besok kita juga ketemu, ada meeting terakhir dengan Tuan Smith bukan?" tanya Muti.
"Iya kamu benar Yang!" jawab Adam.
"Oh ya Mas, apa yang ingin Mas minta tadi?" tanya Muti mengingatkan Adam.
"Mas Rasa kamu kembalikan saja perusahaan itu kepada Sultan dan Kalian jangan tinggal di rumah itu. Pastinya semua akan mengingatkan tentang masa lalu rumah tangga kalian. Jika kamu tetap ingin bekerja, kelola saja perusahaan milik kita Yang," pinta Adam.
"Sebenarnya itu sudah aku rencanakan lho Mas, cuma aku mau pastikan dulu, Clara benar menjauh dari Kak Sultan atau tidak. Walau kami sudah bercerai tapi aku masih memiliki janji terhadap Mama dan Papa Hendrawan untuk membantu mereka melepaskan Kak Sultan dari jeratan Clara."
"Tapi begini lho Sayang, bukannya aku mau terlalu mengatur kehidupanmu, aku cuma tidak ingin kamu dekat lagi dengan Sultan. Selama kamu masih terkait dengan perusahaan Hendrawan, tidak menutup kemungkinan jika Sultan juga akan sering berkunjung ke sana!" ucap Adam.
__ADS_1
Muti tersenyum lalu menjawab, "Mas Adam cemburu?"
"Pasti Sayang, aku tidak ingin ambil resiko jika Sultan mendekatimu kembali sementara proses perceraian kalian belum selesai. Aku tidak mau kehilangan mu Sayang," ucap Adam serius.
"Satu hal lagi yang membuatku takut, aku akan pergi, mungkin sekitar 2 bulan untuk meninjau semua bisnisku yang saat ini ada di beberapa negara."
"Makanya aku tidak ingin hal ini dimanfaatkan oleh Sultan untuk mendekatimu saat aku tidak ada di sini. Ya, bukannya aku berburuk sangka, tapi harus antisipasi daripada benar terjadi. Aku tidak mau kehilangan mu Yang," ucap Adam.
"Apa tidak bisa diwakilkan Mas! keberangkatan Mas?" tanya Muti.
"Tidak, karena saat ini memang jadwal kunjunganku setiap tahunnya, sekaligus untuk memeriksa laporan keuangan serta perkembangan masing-masing perusahaanku," jawab Adam.
"Sebenarnya, jika kita sudah menikah, aku akan membawamu serta, sekaligus kita lanjut perjalanan honeymoon. Tapi, kita masih terhalang proses perceraian kalian. Jadi aku mohon Yang, kelolalah perusahaan kita sendiri," ucap Adam memohon.
"Baiklah Mas, beri aku waktu seminggu ini untuk mengembalikan semuanya. Aku harus bertemu Papa Mama Hendrawan dan juga pengacara Pradipta untuk memprosesnya."
"Terimakasih Sayang, aku jadi lebih tenang. Dan sebelum berangkat, aku akan menemui Ayah dan ibu untuk memberikan kepastian kapan acara pernikahan kita bisa di gelar."
"Dan aku akan memohon sama Ayah agar Elena boleh membantumu di perusahaan kita. Dengan adanya Elena di dekatmu aku akan semakin tenang!" ucap Adam lagi.
Elena yang mendengar percakapan itu menyahut, "Bagus Mas Adam, aku dukung saran Mas, lebih baik jaga-jaga daripada kecolongan, iya kan Mbak Muti?" tanya Elena.
"Eh, ada Elena di sana Yang? Tolong berikan ponselnya kepada Elena, aku ingin bicara sebentar," pinta Adam.
"El, cepat sini! Mas Adam ingin bicara!" ucap Muti.
"Iya Mas Adam, apa yang ingin Mas Adam bicarakan?" tanya Elena.
"El, aku mohon bantuanmu! Aku titip Muti ya, aku percaya kamu sahabat terbaiknya yang bisa menjaga dan selalu menemaninya."
"Mas Adam beneran mau pergi? Apa tidak sebaiknya setelah menikah saja Mas?" ucap Elena.
"Nggak bisa El, ini juga sudah telat waktunya. Aku titip Muti ya dan bantu dia mengurus perusahaan kami," pinta Adam.
"Aman Mas, tapi Mas mintakan izin dong dengan Ayah, El 'kan statusnya masih anak buah ayah," pinta Elena.
"Beres, besok Mas akan datang ke rumah ayah untuk membicarakan semua."
"Oke Mas, aman!" jawab Elena.
"Terimakasih El atas bantuanmu."
__ADS_1
Elena pun mengangguk, lalu dia menyerahkan kembali ponsel yang ada di tangannya kepada Muti.
"Ini Mbak!"
Muti pun mengambil ponsel dari tangan Elena, lalu dia kembali berbicara dengan Adam.
"Jadi, kapan Mas Adam berangkat?" tanya Muti.
Semakin cepat makin bagus, saat kamu sudah mengembalikan semua dan siap duduk mengelola perusahaan kita, Aku langsung berangkat Yang," jawab Adam.
"Baiklah Mas, aku akan menyelesaikan secepatnya."
"Makasih Sayang, selamat bobok ya dan mimpi yang indah," ucap Sultan.
"Iya Mas, begitu juga dengan Mas Adam."
"Sebentar Yang, jangan di tutup dulu," ucap Adam, lalu dia memberikan ciuman jarak jauh.
Mutipun membalas ciuman tersebut sambil berkata, "Hanya bisa seperti ini Yang, kita belum halal!"
"Iya, kita nikmati dulu seperti ini dan kita akan pacaran setelah menikah," ucap Adam.
"Aku tutup dulu ya Yang, Assalamualaikum," ucap Adam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Muti.
Panggilan pun terputus dan Muti kembali merebahkan tubuhnya di sisi Elena.
Elena yang melihat wajah Muti memerah, lalu berkata, "Ada yang lagi berbunga-bunga nih, dapat bonus ciuman jarak jauh dari ayang beib," goda Elena.
"Kamu El! Hei... Raja kok nggak telepon, jangan-jangan..." ucap Muti sengaja mengalihkan pembicaraan dan bermaksud menggoda Elena.
"Jangan-jangan apa Mbak? Selingkuh seperti Tuan Sultan! Jika Raja berani selingkuh, ku sumpahi, nggak bakal..."
"Bakal apa El?"
"Hehehe..." bukannya Elena menjawab, dia malah tertawa, hingga membuat Muti menarik hidung sahabatnya itu.
Bersambung......
Mohon sarannya ya sobat,
__ADS_1
jika kita lanjutkan sampai Kehidupan setelah pernikahan Adam dan Mutiara, bagaimana ya sobat. Apa kalian tidak bosan mengikuti ceritaku? sekaligus aku belajar membuat novel rumtang sedikit panjang.
Terimakasih sebelumnya ya Sobat, kalian semua telah setia mengikuti ceritaku, dan mudah-mudahan setia sampai akhir nantinya.🙏