
Semua barang sudah tertata rapi pada tempatnya, hingga membuat Muti merasa puas.
Tapi Adam malah berkata, "Sepertinya ada yang kurang ya Yang?"
Muti memperhatikan sekeliling, menurutnya semua barang sudah lengkap.
"Sudah semua kok Mas, kita jangan terlalu menghamburkan uang. Cukup beli yang dibutuhkan saja. Karena yang berlebihan sangat tidak baik dan apa yang kita punya, nantinya bakal di hisab satu persatu."
"Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, yang artinya:
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya, dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR. Tirmidzi)
"Iya Yang, mas tahu. Kamu tahu apa yang kurang?"
Muti menggeleng, dia benar tidak tahu apa sebenarnya yang kurang.
Adam tersenyum sambil berkata, "Foto kita berdua. Mas rasa, kamar kita akan lebih indah, jika dihias dengan foto pengantin. Mas, jadi pingin cepat-cepat deh! Jika diizinkan ayah, saat ini juga, Mas akan bawa kamu ke KUA, biar malam ini, kita...." ucapan Adam terputus, dia hanya memberi kode dengan tangannya.
Wajah Muti memerah, dia malu karena candaan Adam, lalu Muti berkata, "Is...Mas Adam, sabar dong. Tinggal seminggu lagi, kita halal. Ntar, bisa sepuasnya, tidak bakal ada yang melarang dan menghalangi ibadah kita."
"Iya deh, tapi kiss jarak jauh boleh ya!"
Muti membalas candaan Adam dengan senyum manisnya.
"Ya sudah yuk, sebelum setan datang menggoda iman, lebih baik kita pulang!" ajak Adam sambil menyeringai.
"Iya Mas, ayah dan ibu pasti sudah menunggu. Tadi aku telah menghubungi ayah, jika malam ini Mas Adam akan ke rumah. Dan aku juga sudah menghubungi Kak Fadhil jika telat pulang."
"Sebaiknya, lusa kamu sudah ambil cuti Yang, dan pulang ke rumah ayah. Hari pernikahan kita sudah semakin dekat, Mas nggak mau kamu kecapean dan terjadi hal buruk seperti yang dikatakan orang-orang."
"Iya, Ayah dan ibu juga berkata begitu. Baiklah Mas, mulai lusa aku akan ambil cuti. Dua minggu kelamaan atau nggak ya Mas?"
"Kurang!"
"Is, Mas Adam canda melulu. Aku serius lho Mas, nggak enak ninggalin kantor dan pekerjaan terlalu lama."
"Kalau masalah pekerjaan, aman. Para staf kita, cukup handal untuk menghandle semuanya," ucap Adam.
Sebelum pulang, Adam memberi uang kepada para pembantunya. Adam meminta mereka untuk membeli makanan serta minuman yang mereka suka. Karena Adam tahu, mereka lelah dan tidak mungkin lagi untuk memasak makan malam.
Setelah pamit, mereka pun bergegas ke mobil dan melanjutkan rencana menuju rumah ayah Danu.
Ayah dan ibu sudah menunggu kedatangan anak serta calon menantu mereka. Begitu mendengar suara mobil memasuki pekarangan, ayah dan ibupun merasa lega.
__ADS_1
"Bu, itu Nak Adam dan Muti sudah sampai. Bikin minum gih, ayah kopi saja ya Bu."
"Iya Yah, ibu ke dapur dulu. Ayah temani mereka ngobrol."
Mendengar ucapan salam dari luar, ayahpun bangkit sambil menjawab salam.
"Masuk Nak! Sini duduk, ibu kalian sedang di dapur."
"Terimakasih Yah," jawab Adam.
"Sudah selesai pembangunan rumah kalian Nak?"
"Sudah Yah, hanya tinggal finishing taman saja."
"Alhamdulillah, ayah ikut senang mendengarnya."
"Mas, aku ke dapur dulu ya! Mau lihat ibu sedang ngapain," pamit Muti.
Adam mengangguk, lalu Muti pun berkalu menuju dapur.
"Sedang apa Bu?" tanya Muti sembari mengulurkan tangan hendak mencium tangan sang ibu.
"Eh, kamu Nduk? Bawa minumannya ke depan, biar ibu siapin cemilan. Ini tadi ibu beli keripik singkong di pasar."
"Iya rapuh Nduk. Makanya ibu mau beli."
Muti pun membawa nampan berisi 3 gelas teh manis panas dan 1 gelas kopi, sedangkan ibu membawa sepiring keripik singkong.
"Silakan di minum Nak," ucap Ayah, setelah Muti menyuguhkan minuman itu dihadapan Adam.
"Iya Nak Adam, ini juga di makan, cemilan kampung," ucap ibu.
"Cemilan kampung tapi lezat Bu, Adam suka aneka makanan yang terbuat dari ibu."
"Wah, kebetulan sekali. Ayo silakan di santap Nak!"
Adam pun menyeruput teh dan memakan keripik singkong yang disuguhkan oleh ibu.
"Oh ya Yah, akad nikah akan di adakan di rumah atau sekalian di gedung Yah. Jadi biar Adam dan rombongan tidak salah nantinya?" tanya Adam.
"Sekalian di gedung saja Nak. Akad nikah dilaksanakan pukul 09.00, sedangkan resepsi di mulai sekitar pukul 10.00."
"Baiklah Yah, Adam dan rombongan berarti jam 07.00 sudah berangkat dari rumah, agar tidak terlalu terburu-buru."
__ADS_1
"Iya, kamu benar Nak. Oh ya, Ayah senang, kamu bisa menerima jika acara kalian diadakan di gedung pilihan Hendra, karena Ayah segan untuk menolaknya."
"Adam aman saja ya, dimanapun acara dilaksanakan tidak jadi soal, yang penting sah akadnya. Iya 'kan Mut?"
"Iya Yah, Muti sependapat dengan Mas Adam."
"Alhamdulillah, dengan begini hubungan silaturahmi kita dengan keluarga Hendra tetap terjaga."
"Apa persiapan Raja dan Elena juga sudah matang ya, maksud Muti surat menyuratnya?"
"Sudah Nduk, semua sudah lengkap. Paling saat akad dilaksanakan, buku nikah kalian juga sudah selesai."
"Syukurlah Yah, jika persiapan sudah matang. Kalau begitu, Adam pamit dulu ya Yah, hari sudah larut. Muti menginap di sini atau Mas antar?"
"Muti pulang ya Yah, karena besok hari terakhir Muti bekerja sebelum ambil cuti. Dan ada klien penting yang harus Muti temui. Daripada merepotkan Ayah mengantar Muti, lebih baik malam ini Muti di antar Mas Adam saja. Lagipula, tadi sudah janji sama Kak Fadhil, jika Muti pulang malam ini."
"Pergilah Nduk, tapi ingat kalian harus hati-hati."
"Iya Nak Adam, jangan ngebut nyetir mobilnya," ucap Ibu.
"Iya Bu."
"Kami pamit ya Yah...Bu," ucap Adam dan Muti pun menyusul pamit.
Adam mengantar Muti pulang ke rumahnya, Elena ternyata belum tidur, dia menunggu kepulangan Muti.
"El pikir Mbak mau nginap di rumah Ayah, karena hari sudah larut, Mbak kok belum sampai sini, juga!"
"Nggak El, besok ada pertemuan pagi, kasihan 'kan jika merepotkan ayah."
"Oh, silakan masuk Mas Adam?"
"Terimakasih El, sudah larut. Aku permisi dulu ya. Mas pulang ya Mut, salam untuk Kak Fadhil dan Kak Fadhlan."
"Iya, nanti Muti sampaikan Mas. Mereka paling sedang nonton pertandingan sepakbola di kamar."
"Iya Mas, katanya piala dunia. Kalau sudah nonton bola, asyik benar mereka, tidak ingat waktu sudah larut malam."
"Itulah hoby El, kamu juga kalau sudah baca komik, tidak ingat waktu," timpal Muti.
Elena pun menyeringai, karena yang dikatakan oleh Muti memang benar.
Adam pun kembali ke rumahnya setelah pamit dan memastikan kedua gadis itu telah mengunci pintu.
__ADS_1
Bersambung....