
Muti merasa penasaran dengan perkataan Elena tadi sore. Dia sendiri pun heran kenapa Sultan sangat dingin terhadapnya.
Tidur satu kamar hampir dua minggu lamanya, tidak sekalipun Sultan memberikan nafkah batin untuknya. Jangankan melakukan hubungan suami istri, memeluk saja pun dia tidak pernah.
Apa mungkin Sultan sakit dan tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai suami atau memang memiliki wanita lain seperti kata Elena.
Selesai mandi, Muti sengaja tidak mengenakan baju mandinya. Dia mencelupkan baju mandi ke dalam bathtub agar basah, jadi Muti punya alasan jika Sultan bertanya atau menuduhnya sengaja menggoda.
Kali ini Muti tidak peduli Sultan mau mengatakan apa, toh dia istri sahnya, jadi memiliki hak untuk mendapatkan nafkah batin.
Orang bisa jadi pelakor kenapa dia tidak bisa jadi pelacur untuk suaminya sendiri.
Muti keluar hanya menggunakan handuk mandi, bahkan sengaja dia lilitkan agak ke bawah hingga menampakkan bagian dada atasnya yang terlihat menyembul dan seksi diatas lilitan handuk.
Dengan sengaja dia berjalan melewati Sultan yang sedang duduk memainkan ponselnya.
Muti berdiri di depan cermin memakai handbody keseluruh bagian tubuhnya, sembari melakukan pijatan- pijatan lembut di area betis dan lengannya.
Kemudian dia duduk sambil merias wajahnya, memakai pembersih wajah, pelembab dan cream malam serta mengoleskan lipstik dengan warna sedikit cerah. Hal ini Muti lakukan tanpa mengenakan pakaiannya terlebih dahulu, seperti biasanya.
Dia sengaja berlama-lama melakukan perawatan untuk menarik perhatian Sultan. Dan ternyata caranya ini berhasil mengundang perhatian suaminya itu.
Sultan memandangi Muti dari bayangan di cermin, dia gelisah saat merasakan jantungnya mulai berdegup kencang.
Nafasnya memanas dan terasa memburu saat melihat keindahan tubuh Muti. Gerakan muti yang perlahan membalur wewangian ke tubuhnya semakin menggoda. Menggoda hasrat kelelakian dan penciuman Sultan.
Gerakan-gerakan muti Semakin lama semakin menggoda, hingga pikiran Sultan berpetualang liar, membuat sesuatu yang ada di bawah sana terbangun dan semakin mengeras.
"Bulshit! Ada apa ini, kenapa dia sepertinya sengaja menggodaku!" ucap Sultan lirih.
__ADS_1
"Tenang Sultan! Tenang, tarik nafas dalam dan buang perlahan. Ini tidak boleh terjadi, Kamu hanya akan melakukannya dengan Clara saja. Cinta mu cuma Clara. Sultan, palingkan wajahmu! Jangan kamu tergoda. Hanya Clara yang berhak mendapatkan kenikmatan itu darimu. Mutiara itu tidak ada artinya bagimu, jadi hilangkan dia dari dalam benakmu."
"Ayo Sultan, bangkitlah! Peluk dia sekarang juga, bawa dia ke dalam pelukanmu dan nikmati kebahagiaan dunia bersamanya. Muti itu istrimu, jadi kamu berhak melakukan apapun terhadapnya. Ayo bangkit! Bangkit Sultan, dia menggodamu dan dia menunggumu untuk memberikan kenikmatan."
Berbagai pikiran berkecamuk di kepala Sultan. Hatinya bertentangan antara setia dengan Clara atau melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
Muti yang berusaha mencuri pandang dari pantulan cermin pun tersenyum saat melihat sang suami terlihat gelisah dan salah tingkah.
Hal ini membuat Muti yakin, suaminya adalah pria normal bukan seorang yang impoten seperti ucapan Elena.
Lantas! Apa yang membuat Sultan harus menahan hasrat dan gairahnya? Apakah dia terlalu sombong untuk mengakui, jika dirinya juga membutuhkan kehangatan dari Muti atau ada hal lain yang membuat dirinya terpaksa berusaha tidak peduli. Pertanyaan- pertanyaan Itulah sekarang yang bermain-main di benak Mutiara.
Muti semakin penasaran, malam ini dia harus mencari jawaban atas semua pertanyaan yang mengganjal di benaknya itu.
Dengan yakin, Muti berjalan mendekati Sultan. Dia sengaja duduk bersimpuh di lantai menghadap Sultan yang duduk di pinggiran tempat tidur.
Sultan melihat bagian dada Muti yang M****k, putih dan mulus menyembul dari dalam lilitan handuknya. Kening Sultan berkeringat, tubuhnya memanas dan dengan susah payah dia menelan salivanya.
Muti tidak mau menyerah, dia memegang tangan Sultan, lalu berkata, "Ayolah Kak! Pandang Aku. Aku istrimu, Aku punya hak untuk meminta 'kan? Apa aku terlalu buruk di mata Kak Sultan, sehingga Kakak tidak mau memberikan aku hak untuk menjadi istri yang sempurna, bukan istri yang hanya di atas buku nikah saja," ucap Mutiara yang sengaja merendahkan diri untuk mengungkap kebenaran tentang sikap suaminya selama ini.
Sultan memandang Muti, mata mereka saling beradu tatap. Muti ingin mencari kebenaran di balik tatapan mata suaminya itu, apakah benar, dia tidak ada artinya sama sekali untuk kehidupan Sultan.
Dengan tangan gemetar, Sultan membelai wajah Mutiara. Tidak dia pungkiri, ada perasaan lain, perasaan bahagia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sultan merasa terpuja, merasa dibutuhkan, saat melihat Muti pasrah dan merendahkan dirinya.
Hasrat kelelakian Sultan kini tertantang, dia ingin memiliki Mutiara seutuhnya.
Sultan memegang kedua lengan atas Mutia, memintanya berdiri dan duduk di dekatnya. Perlahan Sultan mencondongkan wajahnya dan kini wajah keduanya nyaris tidak berjarak.
Muti merasakan wajahnya mulai menghangat. Dia sebenarnya malu, karena ini merupakan pengalaman pertama untuknya, berdekatan dengan seorang pria tanpa berjarak.
__ADS_1
Sultan mulai mendaratkan ciuman di kening Muti dan Muti pun memejamkan mata. Dengan mengucap basmallah, Muti menyiapkan jiwa dan raganya, malam ini dia ikhlas jika dijadikan istri yang sesungguhnya oleh Sultan.
Malam ini keduanya menikmati ciuman pertama mereka sebagai pasangan sah. Nafas keduanya mulai memburu saat ciuman itu berubah panas.
Sultan menghirup aroma wangi tubuh Mutia, sambil merebahkan kepalanya di dada sang istri.
Di sana, Sultan merasakan dan menemukan ada ketenangan yang sulit dia jelaskan.
Saat keduanya hampir terlena, tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel. Sultan melihat sekilas siapa yang sedang memanggil dan dia tersadar, hampir saja Sultan lupa akan janjinya terhadap Clara. Sultan bangkit, menyambar handuk lalu bergegas mandi.
Muti kecewa, hari ini dia gagal menemukan jawaban atas masalah rumahtanggnya.
Sultan yang sudah selesai mandi, lalu buru-buru mengenakan pakaian dan menyisir rambut setelah menyemprotkan wewangian di tubuhnya.
Sementara Muti yang sudah mengenakan pakaian, masih duduk dipinggiran tempat tidur sambil berpikir tentang perkataan Elena yang kedua, yaitu apakah benar suaminya memang memiliki wanita lain di luaran sana. Dan hasratnya tadi yang sempat tertunda, akan dia lampiaskan terhadap wanitanya itu.
Pikiran-pikiran buruk terus bermunculan di benak Muti, sampai akhirnya dia tersadar, jika Sultan telah pergi keluar tanpa pamit dahulu dengannya.
Muti bangkit dari duduknya, lalu berkata, "Aku harus menyusul Kak Sultan, aku harus tahu kemana dia pergi, malam ini!" tekad Muti sambil menyambar tas dan handphone serta memakai sandalnya.
Muti berlari mengejar Sultan kearah parkiran hotel, menurutnya pasti Sultan belum terlalu jauh. Lagipula untuk memesan taksi online, pasti butuh waktu, jadi Muti masih memiliki kesempatan untuk menemukan Sultan yang sedang menunggu taksi di sana.
Saking terburu-buru, Muti sampai menabrak trolly makanan yang di bawa pelayan dan makanan itupun tumpah ke lantai.
Muti memohon maaf kepada pelayan tersebut, nanti dia akan menemui pihak hotel untuk bertanggung jawab, saat ini dia tidak bisa berlama disana karena harus segera mengejar Sultan ke parkiran.
Adam yang melihat kejadian itu merasa heran, lalu dia mengejar Muti. Barangkali Mutia memerlukan bantuannya karena dia terlihat panik saat berlari keluar hotel.
Sesampainya di luar, Muti tidak melihat Sultan ataupun taksi online, yang dia lihat adalah sebuah mobil Honda Jazz, keluar dari kawasan hotel. Mungkinkah Sultan di jemput oleh temannya? atau mobil yang Muti lihat itu adalah mobil tamu hotel, yang baru saja check-out.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Muti berjalan keluar dari kawasan hotel, matanya memandang ke arah jalan raya yang tidak terlihat ujung pangkalnya.
Muti kecewa, dia berdiri mematung di sana dengan pandangan kosong. Muti terkejut saat sebuah tangan menepuk pundaknya.