MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 68. MULAI BERANI MENENTANG


__ADS_3

Muti tidak bisa mengabaikan tanggungjawabnya terhadap Suami dan juga sang mertua. Lalu, Muti pun memberitahu sang Mama jika dia sedang bersama seorang teman dan untuk hari ini Muti belum siap datang ke perusahaan guna bertemu pengacara keluarga Hendrawan.


Untuk sementara, hanya itu alasan yang bisa Muti sampaikan agar sang Mama mertua tidak banyak mengajukan pertanyaan lain. Dan Muti pun berjanji, sore nanti akan kembali ke rumah sakit.


Mama Sultan akhirnya memahami alasan menantunya, walaupun sebenarnya Mama merasa curiga, pasti telah terjadi sesuatu antara Sultan dan Muti.


Setelah menanyakan keadaan Papa Hendrawan, Muti pun menutup panggilan dan dia mengatakan jika akan menghubungi Sultan.


Sultan merasa gelisah, dia mondar-mandir di ruangan kerjanya. Seandainya Muti tidak kembali, dia harus bersiap menghadapi kemarahan sang Mama.


Namun, saat ponselnya berdering dan tertera di sana nama Mutiara, Sultan pun merasa lega. Sultan langsung menerima panggilan tersebut, memberondong Muti dengan berbagai pertanyaan.


"Kamu dimana? Kenapa tidak ke kantor? Kenapa Elena bilang kamu sudah pulang dengan taksi, sementara aku hubungi Mama kamu tidak ada di sana. Sebenarnya kamu pergi kemana dan dengan siapa Mut?"


"Mana duluan yang harus aku jawab Kak? Kenapa Kak Sultan masih menginginkan aku untuk pulang! Bukankah akan lebih nyaman dan leluasa bagi Kak Sultan, jika aku pergi dan menghilang selamanya," ucap Muti.


"Kamu ingin membunuh Papa ku ya!"


"Lho, kenapa aku yang Kakak persalahkan, sementara Papa seperti itu sedikit banyaknya karena ulah Kak Sultan," ucap Muti lagi yang mulai berani membantah ucapan suaminya.


"Kamu makin lama kurang ajar ya, berani-beraninya kamu menyalahkan aku!"


"Oh, rupanya Kakak merasa benar dan orangtua Kakak yang salah!"


"Iya! Mereka yang salah, kenapa musti nekad melanjutkan perjodohan, padahal mereka tahu, aku sudah memiliki Clara dan jelas tidak akan bisa mencintaimu!"


Dada muti terasa sesak mendengar ucapan Sultan, dia tidak bisa melanjutkan percakapan, daripada emosinya memuncak dan amarah yang selama ini Muti coba redam meledak, lebih baik dia sudahi saja percakapan mereka.


Muti mematikan panggilannya, dia tidak peduli jika Sultan marah. Tapi ponselnya kembali berdering dan ternyata dari Sultan.


"Kenapa kamu matikan! Kamu belum jawab pertanyaan ku! Kamu pergi kemana dan dengan siapa Mut?"

__ADS_1


"Apa peduli Kak Sultan! Dengan siapapun aku pergi, yang penting aku masih bisa menjaga marwahku sebagai istri bukan seperti Kakak!"


Semakin hari, Muti makin berani menentang Sultan. Lama kelamaan kesabarannya pun tertantang, hanya masalah kesehatan Papa Hendrawan saja yang masih membuat dirinya bertahan, jika tidak, mungkin saat ini dia akan memilih meninggalkan Sultan.


"Sebenarnya Aku tidak peduli sih, kamu jangan GeEr dulu, aku cuma takut Papa akan syok saat tahu, kamu tidak pergi ke kantor dan malah pergi kelayapan tidak jelas."


"Sudah cukup hinaan Kakak, aku masih ada urusan lain! Maaf, aku tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini!"


Kebetulan saat pembicaraan terakhir Sultan dengan Muti, Adam sedang mendekat ke arah Muti dan dia sedang berbicara dengan seorang pelayan untuk memindahkan minuman mereka ke meja dekat Muti saat ini berdiri. Menurut Adam di situ tempatnya lebih indah dan lebih leluasa untuk menikmati pemandangan serta terhindar dari kilauan cahaya matahari yang mulai naik.


Sultan samar-samar mendengar suara dua orang pria sedang ngobrol dan salah satu suara tersebut terasa tidak asing di telinganya, hingga diapun merasa penasaran.


Setelah Muti mematikan sepihak panggilan darinya, Sultan pun melakukan panggilan lagi. Kali ini Muti tidak berminat lagi untuk menerima panggilan dari Sultan. Agar tidak berisik, Muti pun akhirnya menonaktifkan kembali ponselnya.


Saat Muti menoleh, dia terkejut melihat Adam sudah duduk di belakangnya.


"Maaf Mbak, aku terpaksa pindahin minuman kita di sini. Lihatlah! tempat kita duduk tadi sudah tidak nyaman dan rasanya pemandangan lebih indah jika kita lihat dari sini," ucap Adam sembari menunjuk tempat duduk mereka semula.


"Ayo silahkan di minum Mbak, setelah itu kita balik lagi ke toko untuk ambil barang dan mungkin Mbak Elena juga sudah dalam perjalanan kesana," ucap Adam.


Sebenarnya Adam mendengar nada kemarahan dari ucapan Muti terhadap Sultan, tapi Adam tidak mau mencampurinya.


Setelah minuman mereka habis, Adam pun mengajak Muti pergi dari tempat itu.


Sementara di kantor, Sultan melempar ponselnya ke atas sofa, karena dia merasa kesal, Muti telah mengabaikan panggilan darinya.


"Siapa laki-laki yang bersamamu Mut!" monolog Sultan.


Dia berpikir, mengingat-ingat suara tadi, lalu Sultan pun teringat, "Jangan-jangan...ya! pria itu pasti dia! Aku baru ingat sekarang. Teman pria Muti selama ini cuma dia!"


Kemudian Sultan mengambil ponselnya, lalu dia ingat Elena. Dia harus meminta nomor Adam dari Elena. Saat di Bali, Sultan memiliki nomor Adam, tapi sudah dia hapus.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Sultan segera menelepon Elena. Karena Elena sedang meeting, dia hanya merijek panggilan tersebut. Sultan semakin kesal, dia menduga ada persengkongkolan antara Muti dan Elena.


Saat Sultan hendak mencoba menelepon Elena kembali, ponselnya berdering, Clara saat ini sedang memanggilnya.


Sultan yang tidak ingin bermasalah lagi dengan Clara, segera menerimanya. Terdengar suara Clara berkata, bahwa dia sudah menunggu kedatangan Sultan dan orangtuanya juga sudah Clara beritahu jika mereka akan datang siang ini.


Clara meminta Sultan segera berangkat, agar saat jam makan siang sudah tiba di rumah orangtuanya. Orangtua Clara, ingin menjamu makan siang anak dan calon menantunya.


Sultan tidak punya pilihan lagi selain menyetujui permintaan Clara, daripada gadis itu melakukan hal nekad seperti ancamannya, lebih baik sekarang juga dia berangkat.


Untuk sementara, Sultan mengabaikan urusan Mutiara sampai saatnya dia pulang dan bertemu Muti.


Dia harus menanyakan tentang dugaannya tadi. Kalau memang benar dugaannya itu, Sultan tidak akan membiarkan Muti dekat dengan pesaing bisnisnya itu.


Sultan membereskan meja kerjanya, lalu dia meninggalkan pesan kepada sekretaris untuk mengosongkan jadwal hingga jam pulang, karena sore ini Sultan tidak akan balik lagi ke kantor.


Setelah itu Sultan pun melajukan mobil ke arah apartemennya untuk menjemput Clara.


Ternyata saat Sultan tiba, Clara telah bersiap dan berdandan sangat cantik. Tanpa menunda lagi, Clara langsung masuk ke dalam mobil, dan mencium Sultan. Terlihat jelas kebahagiaan di wajahnya karena Sultan telah menepati janji.


"Terimakasih Yang, aku sangat bahagia karena kita akan segera menikah. Papa dan Mama juga gembira saat mereka tahu, kamu akan segera menikahiku. Walaupun awalnya mereka kecewa karena kamu menikahiku secara siri, tapi setelah aku menjelaskan semuanya, mereka pun akhirnya paham," ucap Clara.


"Heemm, syukurlah," ucap Sultan tidak bersemangat.


"Kamu kenapa Yang? sepertinya kamu tidak bahagia," tanya Clara.


"Aku hanya lelah karena banyak urusan kantor yang belum selesai."


"Ya sudah, nanti aku pijat saat kita tiba di rumah orangtuaku. Oh ya Yang, tapi kamu harus janji ya, secepatnya akan menceraikan Muti. Aku tidak mau terlalu lama menjadi istri simpanan. Aku dan anak kita butuh pengakuan keluarga mu. Suka atau tidak, mereka harus menerima anak kita sebagai cucu dan penerus keluarga Hendrawan," ucap Clara dengan percaya diri.


Sultan hanya mengangguk malas, lalu dia mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain. Dia tidak ingin Clara membicarakan tentang Muti maupun tentang orangtuanya.

__ADS_1


akan segera memiliki cucu. Awalnya mereka marah sih, tapi setelah aku minta maaf mereka akhirnya mengerti


__ADS_2