
"Sejak kapan Mas Adam tahu semuanya?" tanya Muti yang sudah berhenti menangis.
"Sejak di Bali," jawab Adam.
"Jadi Mas Adam bayar detektif sejak kita masih di Bali?"
"Ya, aku curiga sejak kita pertama bertemu, mana mungkin pasangan pengantin baru, tega membiarkan istrinya hampir tertidur diluar kamar dan mengabaikan istri di saat sedang sakit!" ucap Adam.
"Aku jadi malu Mas, Mas Adam mengingatkan aku pada kenangan buruk itu," ucap Muti sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Tidak perlu Mbak Muti malu, seharusnya yang malu itu Sultan, untuk apa dia menikahi Mbak Muti, jika hanya untuk diabaikan. Dia terlalu bodoh mengabaikan Mutiara asli dan memilih imitasi," ucap Adam sembari menatap wajah Mutiara.
"Entahlah Mas, aku sedang berusaha mempertahankan rumah tanggaku, demi keluarga besar kami, terutama demi persahabatan Ayah dan Papa Hendrawan. Aku tidak tahu, sampai kapan aku bisa bertahan," ucap Muti sembari mendesah untuk melepaskan beban yang terasa menghimpit dadanya.
"Aku hargai keputusan Mbak Muti. Tapi, sampai kapan? Mbak akan mengorbankan diri sendiri, mengabaikan kebahagiaan Mbak, demi orangtua yang ingin Mbak Muti bahagiakan?" tanya Sultan.
"Dan, apakah Mbak Muti yakin, keputusan untuk bertahan bisa membuat Sultan mencintai Mbak dan meninggalkan selingkuhannya?"
"Tidak Mas, Aku tidak yakin. Karena, saat ini selingkuhan Kak Sultan sedang hamil," ucap Mutiara lirih.
"Apakah kedua orangtua Sultan mengetahui hal ini?" tanya Adam lagi.
"Iya, mereka tahu. Bahkan, mereka telah mengatakan kepadaku tidak akan menerima wanita manapun sebagai menantu. Bahkan, Papa Hendrawan hari ini telah mengalihkan separuh hartanya atas namaku dan separuh lagi atas nama Raja, adik Kak Sultan."
Sejenak Muti terdiam lalu melanjutkan lagi ucapannya, "Apabila Kak Sultan menceraikan aku dan memilih selingkuhannya, maka dia tidak akan mendapatkan sepeserpun harta orangtuanya. Tapi, apabila Kak Sultan tetap mempertahankan rumah tangga kami, maka Kak Sultan dan aku sama berhak untuk menikmati harta keluarganya."
__ADS_1
Kemudian Muti berkata lagi, "Mungkin, hari ini pengacara Papa Hendrawan mencari-cari aku Mas, untuk menandatangani surat pengalihan tersebut. Tapi, jujur... bukan ini yang aku inginkan, Aku hanya menginginkan suamiku
bisa mencintaiku dengan tulus dan ikhlas berjuang bersama untuk kebahagiaan rumah tangga kami."
"Dan Mbak Muti tahu 'kan, hal itu sudah pasti tidak mungkin Sultan berikan, selama pelakor itu masih bersamanya. Apalagi mereka akan segera memiliki anak, seperti yang Mbak Muti katakan," ucap Adam.
Muti terdiam mendengar perkataan Adam. Adam benar, bahwa dirinya tidak akan mungkin bisa mendapatkan cinta Sultan, selagi sang pelakor masih ada di antara mereka.
"Mbak Muti pikirkanlah lagi, langkah apa yang harus Mbak ambil untuk kedepannya, jangan sampai menyesal," ucap Adam.
"Iya Mas, tapi untuk saat ini yang terbaik adalah bertahan, karena Papa Hendrawan sedang di rawat di rumah sakit akibat serangan jantung. Aku tidak mungkin egois Mas, memikirkan kebahagiaanku yang bisa membuat Papa Anfal."
"Itu salah satu yang membuatku jatuh cinta sama Mbak Muti, Mbak tipe setia dan lebih mengutamakan kebahagiaan orang tua daripada diri Mbak Muti sendiri," ucap Adam.
"Tapi, yang harus Mbak Muti tahu dan ingat, aku tidak akan menyerah, aku akan tunggu Mbak, sampai suatu saat Mbak Muti lelah dan memutuskan untuk mundur dari ikatan pernikahan kalian," ucap Sultan serius sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Tidak Mbak! Aku akan bersaing sehat dengan Sultan. Aku janji, akan mengambil Mbak Muti darinya, apabila Sultan tidak juga menentukan pilihan dan meninggalkan wanita pelakornya itu."
"Tolong! Berilah aku kesempatan Mbak, untuk membuktikan cintaku kepada Mbak Muti, kepada keluarga Mbak dan kepada dunia. Aku tulus mencintai Mbak, aku ingin kita bisa meraih kebahagiaan bersama, kebahagiaan dunia dan akhirat."
"Dan aku berjanji, akan menjauhi Mbak Muti, apabila Sultan memilih mempertahankan pernikahan kalian dan meninggalkan wanita pelakornya itu," ucap Sultan sungguh-sungguh sambil meletakkan telapak tangan kanannya diatas kepala.
Akhirnya pembicaraan mereka terhenti ketika telepon Adam berdering, ternyata panggilan dari Elena.
Adam pun mengangkat panggilan tersebut, lalu diapun berkata, "Ya... hallo Mbak Elena, apakah meetingnya sudah selesai? soalnya kami lagi di supermarket dan akan kembali ke toko pakaian bila Mbak sedang menuju kesana," ucap Adam.
__ADS_1
"Belum selesai Mas, tolong sampaikan ke Mbak Muti untuk membaca pesan dariku, soalnya penting," ucap Elena.
"Baiklah Mbak, nanti jika sudah jalan balik, tolong kabari kami ya Mbak Elena," ucap Sultan.
"Oke Mas, aku mau lanjut meeting dulu, nggak enak jika meninggalkan mereka terlalu lama."
Setelah Elena menutup panggilan, Adam menatap Muti lalu berkata, "Mbak Elena meminta Mbak Muti untuk membaca pesan darinya."
Muti pun buru-buru mengambil ponsel dari dalam tasnya, dia mengecek, banyak sekali panggilan tak terjawab terutama dari Sultan dan juga Mama mertuanya.
Kemudian Mutiara membaca pesan masuk, ada beberapa pesan dari Mama yang isinya menanyakan tentang keberadaan muti dan memohon agar Muti jangan pergi meninggalkan keluarganya.
Dan Ada pula pesan dari Sultan, jika dia harus segera datang ke kantor karena pengacara Papa Hendrawan menunggu sedang menunggu dan hanya akan berbicara jika semua sudah hadir di sana termasuk Raja.
Sementara pesan dari Elena adalah bahwa Sultan mendesaknya, menelepon berkali-kali, meminta Elena untuk memberitahu keberadaan Muti saat ini.
Namun Elena tidak memberitahukan keberadaan Muti, dia hanya mengatakan jika Muti pulang menggunakan taksi, karena Elena sedang menghadiri meeting.
Elena terpaksa berbohong kepada Sultan, dia tidak mungkin mengatakan jika Mutiara sekarang sedang bersama Adam.
Kemudian Muti membalas pesan Elena bahwa dia meminta maaf telah menyusahkan Elena. Muti akan segera mengurus masalah ini, agar Sultan tidak mendesak Elena lagi.
Muti sengaja tidak menceritakan apa yang dilakukan Sultan tadi pagi kepada Elena dan siapapun, karena dia tidak mau membuka aib rumah tangganya. Apalagi membuka aib bahwa dia dan Sultan belum pernah sekalipun memberikan hak dan kewajiban batiniah layaknya pasangan suami istri.
"Ada apa Mbak, apakah ada hal serius?" tanya Adam.
__ADS_1
" Tidak Mas, hanya masalah mama mertua dan Kak Sultan yang sedang menanyakan keberadaanku. Sebentar ya Mas, aku akan memberitahu Kak Sultan dulu, bahwa aku hari ini tidak bisa datang ke kantor dan mengabari Mama agar jangan khawatir," ucap Muti sembari menjauh dari Adam.
Adam pun paham dengan apa yang Muti lakukan. Muti hanya ingin menyelesaikan urusan rumah tangganya tanpa melibatkan Adam.