
"Mulai hari ini Clara akan tinggal di sini bersama kita!" ucap Sultan nyaris membuat Muti shok.
Air mata yang sejak tadi Muti tahan akhirnya menetes juga. Kemudian dengan suara bergetar karena menahan isak tangis, Muti pun berkata, "Ceraikan Aku Kak! Jika memang Kak Sultan menginginkan wanita itu tinggal di sini!" ucap Muti sembari menghapus air matanya.
Clara yang mendengar permintaan Muti, tersenyum di balik pintu. Ternyata dia tidak perlu susah payah menyusun rencana untuk menyingkirkan Muti dari hidup Sultan.
Sementara Sultan yang mendengar permintaan Muti langsung berdiri dari tempat duduknya dan berkata, "Tidak akan! Clara akan di sini sampai kandungannya kuat. Jadi suka atau tidak kamu harus terima! Clara sekarang istriku dan dia akan segera menjadi ibu dari anakku!"
"Maaf kalau begitu Kak! Kakak harus memilih, aku atau dia yang harus tetap tinggal di sini!" ucap Muti sembari melangkah keluar dari kamar itu.
Muti menghapus sisa air matanya, sebelum meninggalkan kamar, dia akan ke dapur untuk menghibur diri sambil menyiapkan bahan yang rencananya akan dia masak.
Saat Muti keluar dari kamar, dia melihat Clara berdiri di dekat tangga dengan tatapan sinis. Muti tidak peduli, dia berjalan melewati Clara, tapi saat kakinya baru menjejak ke anak tangga pertama, Clara berkata, "Kita lihat, siapa yang akan Kak Sultan pilih! Sebaiknya kamu menyerah, karena kamu pasti kalah bersaing denganku! Kak Sultan hanya mencintai ku!" ucap Clara sangat percaya diri.
"Walaupun saat ini kau merasa menang bisa mendapatkan cinta suamiku dan mengandung anaknya, itupun jika memang bayi dalam perutmu itu benar anak Kak Sultan! tapi, asal Kau tahu, sebenarnya Akulah pemenang di keluarga Hendrawan! Jika kau tidak percaya silahkan naik dan tanya langsung kepada suamiku!" ucap Muti sambil tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
Muti bertekad, akan melawan Clara dan berniat memberi pelajaran kepadanya apabila memang Sultan memilih madunya itu.
Melihat Muti pergi begitu saja meninggalkannya, Clara merasa kesal, lalu dia menyusul Muti sambil berkata, "Hei tunggu! Apa maksud perkataanmu! Enak saja kau bilang ini bukan anak Kak Sultan, kamu iri ya, karena akhirnya anakku lah yang akan menjadi penerus dan pewaris. Aku pastikan! kau akan segera tersingkir dan akulah yang akan menjadi menantu satu-satunya di keluarga Hendrawan!"
Muti hanya menoleh ke arah Clara sambil tersenyum, lalu dia terus menuruni anak tangga menuju ke dapur.
Clara sangat kesal karena Muti tidak terpengaruh sedikitpun atas ucapannya, lalu dia memiliki ide agar Sultan turun dan memberi perhatian lebih untuknya guna membuat Muti panas.
"Aduh! Hiks...hiks...hiks. Kak Sultan tolong! Tolong Kak, perutku sakit!" teriak Clara. Lalu, dia duduk di salah satu anak tangga sambil memegangi perut bagian bawahnya.
__ADS_1
Sultan yang sudah di depan pintu hendak pergi ke kantor lagi, melihat Clara terduduk di tangga segera berlari, "Clara! Kamu kenapa? Apa perutmu sakit? Sudah aku bilang tadi, kamu istirahat saja di kamar bawah dan jangan naik turun tangga!" ucap Sultan sambil menggendong Clara dan membawanya turun lalu menidurkannya di atas sofa.
Muti yang melihat hal itu menggelengkan kepala, "Sandiwara!" ucap Muti sambil meninggalkan keduanya.
Clara yang mendengar hal itupun sengaja berkata, "Lihatlah Kak! Aku di bilang bersandiwara, perut ku memang sakit Kak, mungkin benar pengaruh naik turun tangga, hiks...hiks...hiks," ucap Clara
sambil kembali menangis.
"Ya sudah, jangan menangis, nanti aku akan menjelaskan keadaan kehamilan mu kepada Muti setelah pulang dari kantor. Saat ini ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, kamu istirahat saja di kamar. Ayo, aku gendong kamu ke kamar," ucap Sultan.
Sultan menggendong Clara ke kamar, setelah itu dia pamit ke kantor. Tapi sebelumnya Sultan akan memanggil Bi Tina untuk menemani Clara.
Muti kaget saat melihat di dapur ada seorang wanita paruh baya sedang memasak ayam goreng.
"Bibi siapa?" tanya Muti.
"Oh, ya sudah Bi lanjutkan saja. Sebenarnya Saya tadi mau memasak, ya sudah deh nanti saja setelah Bibi selesai," ucap Muti.
"Biar Saya saja Nyonya. Memangnya apa yang ingin Nyonya masak?"
"Ayam itu sih sebenarnya mau Saya masak opor dan goreng udang, karena itu kesukaan Tuan, tapi karena sudah di goreng, ya sudah Bi, lain kali saja masak opornya."
"Maaf ya Nya, gara-gara Saya Nyonya jadi batal masak kesukaan Tuan."
"Nggak apa-apa Bi, lanjut saja. Saya mau balik ke kamar," ucap Muti.
__ADS_1
Ketika Muti berbalik, Sultan sudah ada di depan pintu dapur.
"Bi, tinggalkan saja memasaknya, temani Clara karena dia sedang tidak sehat!" perintah Sultan.
"Tapi Tuan, ayam goreng ini juga permintaan Nyonya Clara dan masih setengah masak, apa harus Saya matikan saja kompornya?"
"Mut, kamu bisa tolong bantu untuk meneruskan pekerjaan Bi Tina sampai ayam gorengnya matang?"
Muti berpikir sejenak, lalu dia menjawab, "Baiklah, nggak jadi masalah, tapi permintaan ku tetap sama, aku beri waktu seminggu untuk Kak Sultan berpikir," ucap Muti.
"Tapi Mut, aku mohon kamu mengerti, kandungan Clara sedang bermasalah, kata dokter dia harus banyak istirahat sebab dia terus mengeluarkan flek. Aku takut meninggalkan dia sendiri, makanya aku bawa dia kesini. Aku janji kok, setelah kandungannya sehat, akan membawanya pergi dari sini."
Muti tidak menjawab, dia masih berpikir apakah akan mengabulkan permohonan Sultan atau tetap dengan pendiriannya.
Melihat Muti diam, Sultan jadi memiliki harapan jika Muti setuju, lalu diapun bertanya lagi, "Bagaimana Mut?"
"Aku akan pikirkan dulu, nanti saat Kak Sultan pulang dari kantor baru aku beri keputusan," ucap Muti.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu ya. Aku usahakan untuk pulang secepatnya."
"Hemm..." Muti pun hanya berdehem menanggapi ucapan Sultan sambil dia membalik ayam goreng di dalam penggorengan.
Setelah Sultan pergi, Muti mengangkat ayam yang masih setengah masak, lalu dia mengambil garam dan membalurkan ke ayam tersebut, kemudian dia goreng kembali hingga kering.
Sementara di dalam kamar, Bibi diminta untuk memijat kaki dan juga tangan Clara, hingga dia ketiduran. Setelah Clara tertidur, barulah Bi Tina kembali ke dapur, tapi dia tidak menemukan Muti ada di sana.
__ADS_1
Bi Tina pun membersihkan mangkuk yang kotor bekas wadah ayam, lalu beliau menuju ke lantai atas ingin menemui Muti untuk bertanya, apa yang harus dia kerjakan lagi.