
Clara mendekat, lalu dia mencium tengkuk Sultan sembari berkata, "Kalau kamu tidak ikhlas aku dalam penjagaan laki-laki lain, bagaimana jika aku ikut tinggal di rumah kalian! Toh kamu bilang Muti akan ikut bekerja di kantor. Jika kita tinggal satu rumah, jadi kamu cukup membayar satu pembantu sudah bisa melayani kita semua dan malam hari aku bisa terus dalam pengawasan kamu, meskipun kita tidak tidur satu kamar," rayu Clara.
"Gila kamu! Muti dan keluargaku belum tahu jika kita sudah menikah!"
"Lantas, mau sampai kapan kamu menyembunyikan status kita? Perutku semakin membesar dan anak ini butuh pengakuan umum terutama keluarga kamu Kak! Jadi cepat atau lambat, bagiku sama saja, mereka pasti bakal tahu. Dan Kakak tidak usah mempekerjakan supirku, aku pasti aman tinggal di rumah Kakak."
Sultan terdiam, memang dia sedang memikirkan untung dan ruginya. Saat ini dia dibatasi dalam hal penggunaan uang, jadi Sultan perlu berhemat.
Jika Sultan memilih pergi meninggalkan Muti, dia belum siap. Mau bagaimana dia menghidupi dirinya bersama Clara dan calon anaknya nanti, sementara penghasilan dari pasar bursa cuma cukup untuk memenuhi rengekan Clara saja.
Sultan memijat kepalanya yang sakit dan saat ini, dia belum bisa memberi keputusan kepada Clara.
Clara yang melihat Sultan sepertinya masih keberatan, lalu dia berkata, "Kakak jangan takut, aku tidak akan berbuat ulah di sana, lagipula Kak Sultan tidak akan capek lagi kesana kesini mengurus kedua istri."
"Hemm, nanti aku pikirkan dulu. Ayo kita beristirahat, besok aku harus ke kantor pagi-pagi," ajak Sultan.
Kemudian Sultan membuang rokoknya yang masih setengah batang dan mereka pun masuk ke kamar untuk beristirahat.
Sementara Hardi masih saja di dapur, dia berkesempatan memakan buah-buahan yang Clara stok di dalam kulkas.
Di kediaman Muti, dia tidak bisa tidur, lalu Muti pun mengendap turun, dia ingin menemui Elena. Mungkin akan lebih baik, jika malam ini dia tidur bersama Elena.
Muti mengetuk pintu di mana Elena tidur, dan Elena yang masih memainkan ponsel, segera membuka pintu kamar tersebut.
"Eh, Mbak Muti. Ada apa Mbak? Kenapa Mbak Muti belum tidur?" tanya Elena.
"Boleh aku tidur denganmu El?" tanya balik Muti.
"Oh tentu Mbak, aku senang sekali jika Mbak malam ini tidur bersama ku jadi kita bisa ngobrol banyak hal. Ayo masuk Mbak!" ucap Elena.
Muti pun masuk lalu dia menutup pintu kamar tersebut dan merebahkan diri diatas kasur bersama Elena.
__ADS_1
"Tapi, besok pagi-pagi aku harus pindah ke kamarku lagi ya El, aku nggak mau Ayah dan ibu curiga."
"Memangnya Mbak Muti bertengkar dengan Tuan Sultan? Aku lihat mata Mbak Muti sembab dan ini kenapa Mbak?" tanya Elena sembari memegang dagu serta bagian leher Muti yang terlihat memerah dan ada sedikit goresan kuku di sana.
Muti hanya mengangguk, lalu dia berkata, "Entahlah El, apa yang bakal terjadi dengan rumah tanggaku. Kak Sultan sekarang sering nggak pulang dan dia makin kalap saat tahu sebagian harta Papanya sudah dialihkan ke aku dan sebagian lagi kepada Raja. Jadi dia harus meminta izinku jika ingin menggunakan uang perusahaan dalam jumlah besar."
"Hahaha...Wah selamat Mbak, aku senang mendengarnya. Tuan Sultan sekarang kere dan tidak bisa seenaknya lagi menggunakan uang untuk mengurusi pelakornya itu," ucap Elena.
Kemudian dia berkata lagi, "Mampus si wanita sialan itu, siapa Mbak namanya? Aku lupa."
"Clara!"
"Ya, Clara. Sekarang dia tidak bisa menguras uang Tuan Sultan lagi, karena sumber uangnya sudah berpindah ke Mbak Muti."
"Tapi aku diminta Papa untuk ngantor El! Aku belum siap."
"Mbak turuti saja permintaan Papa Tuan, syukur ya mereka Sayang terhadap Mbak dan tidak membela putranya yang memang brengsek, mau saja dibodohi oleh wanita ular itu."
"Dia hamil El!"
Lalu Elena berkata lagi, "Mereka cepat atau lambat pasti menikah dan minta pengakuan kepada keluarga Hendrawan, bagaimana pun bayi itu adalah cucu mereka, sedangkan Mbak Muti sendiri belum bisa memberikan mereka cucu."
"Aku masih menjaga perasaan orangtua El, terutama Ayah dan Papa. Kasihan mereka."
"Tapi sampai kapan Mbak Muti bisa kuat, menyimpan kebohongan dan kebusukan Tuan Sultan dari Ayah dan Ibu."
"Aku juga masih memikirkan kondisi Papa El, aku takut beliau ngedrop jika mendengar aku menggugat cerai Kak Sultan."
"Aduh Mbak! Sabar bangetlah Mbak Muti jadi istri, kalau aku di posisi Mbak, sudah aku gugat cerai itu Tuan Sultan sejak lama," ucap Clara sembari menutup mulutnya.
"Kita lihat nantilah El, aku juga tak tega jika bayi itu tidak mendapatkan pengakuan dari Kakek neneknya. Dia tidak bersalah, yang bersalah adalah orangtuanya," ucap Muti.
__ADS_1
"Kalau memang melepaskan Kak Sultan adalah keputusan terbaik untuk semuanya, aku pasti akan melakukannya El. Saat ini yang aku inginkan hanyalah kesembuhan Papa."
"Sabar ya Mbak, tapi jika Tuan Sultan menyakiti fisik Mbak lagi, Mbak tidak boleh tinggal diam, tuntut dia di pengadilan dengan tuduhan KDRT, biar nyahok dia masuk penjara."
"Mudah-mudahan nggak terjadi lagi El. Ayo, sekarang kita tidur, besok kamu ngantuk saat nyetir. Aku nggak mau melihat kalian celaka."
"Tenang Mbak, aku sudah biasa begadang. Oh ya Mbak, tadi aku mendengar suara deru mobil, berarti itu Tuan Sultan yang pergi keluar?"
Muti pun mengiyakan, lalu dia melihat ponselnya sejenak dan menonaktifkan sebelum mereka tidur.
Pagi-pagi sekali, Muti kembali ke kamarnya sebelum Ayah dan Ibu melihat dia tadi malam tidur dengan Elena. Sementara Elena bersiap, ingin ke dapur membantu Muti menyiapkan sarapan.
Setelah membereskan kamarnya, Muti pun ke dapur, dia melihat Elena telah mengupas bawang, rencananya Elena ingin memasak nasi goreng.
"Wah, kamu gercep ya El," ucap Muti.
"Biar kita cepat sarapan Mbak, bukankah Ibu mengatakan, kami akan pulang pagi ini."
Muti dan Elena berbagi tugas, Elena memasak nasi goreng sedangkan Muti menyiapkan jus dan juga telor ceplok.
Saat keduanya sudah menata makanan di atas meja, ayah dan ibu pun turun datang ke dapur.
"Wah... harum, Ayah jadi rindu masakan kamu Ndok!"
"Ini masakan Elena ya. Tadi, Elena duluan yang datang ke dapur, jadi dialah yang memasak sarapan untuk kita. Aku hanya membuat jus kesukaan Ayah."
"Nanti, jika aku datang dan menginap di rumah, pasti akan aku masakkan menu-menu kesukaan Ayah," ucap Muti lagi.
"Ayo Yah, Bu, kita sarapan," ajak Elena.
"Terimakasih El, Sultan kok belum turun Ndok, apa dia nggak ngantor?" tanya Ayah.
__ADS_1
"Kak Sultan sudah berangkat ke kantor Yah, katanya ada hal penting yang harus dikerjakan pagi ini," ucap Muti terpaksa berbohong.
Ayah hanya manggut-manggut, lalu beliau pun mengajak semua untuk sarapan agar bisa segera pulang.