MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 123. MENGEMBALIKAN HARTA HENDRAWAN GROUP


__ADS_3

"Mereka benar Nak! Kamu harus lebih waspada!" ucap Papa Hendrawan.


"Iya Pa."


"Oh ya Mbak, coba cek saja CCTV, barangkali ada petunjuk siapa pelakunya!" usul Raja.


"Tapi, untuk area parkir tidak ada CCTV terpasang Ja, hanya mengandalkan security saja. Coba kalian mulai selidiki dari security. Dimana dia berada pada saat kejadian tersebut," saran Papa.


"Baik Pa, besok aku akan bantu Mbak Muti dan Mas Adam untuk menyelidiki kasus ini," ucap Raja.


"Pesan Papa, kalian semua harus waspada!"


"Oke Pa."


"Oh ya Nak, katanya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan kepada kami. Hal penting apa itu Nak?" tanya Papa kepada Muti.


"Iya Pa, keasyikan bahas rem blong jadi lupa tujuan kami kesini," ucap Muti.


Mama yang sejak kedatangan Muti pergi ke dapur untuk menghubungi Sultan, baru saja panggilannya tersambung.


"Hallo Ma! maaf ya Ma, tadi ponsel aku matikan karena ada rapat. Ini baru ku buka eh, banyak sekali panggilan dari Mama," ucap Sultan.


"Mama cuma mau bilang, Muti ada di sini bersama Adam. Memangnya mereka ada hubungan ya? Mama kok jadi curiga. Barangkali Muti menolak kembali dengan kamu karena Adam," ucap Mama.


"Mungkin juga Ma, tapi tolong Ma jangan menyalahkan Muti. Semua salahku, aku yang bodoh," jawab Sultan.


"Apa kamu tidak mau memperjuangkan dia lagi Nak! Masih ada kesempatan lho, sebelum dia menikah dengan orang lain," ucap Mama yang masih berharap Muti menjadi menantunya.


"Ma! Aku malu. Muti berhak bahagia," jawab Sultan lagi.


"Kamu juga berhak bahagia lho Tan! Apa kamu yakin bisa mendapatkan kebahagiaan lain bila kamu benar-benar kehilangan Muti!"


"Entahlah Ma! Mungkin aku akan memilih hidup sendiri jika tidak bisa menemukan wanita sebaik Muti."


"Ayo berjuanglah, jangan pasrah! Mama tidak suka melihat putra kebanggaan keluarga Hendrawan menyerah pada Nasib. Kamu datanglah kemari, mumpung Muti ada di sini!" pinta Mama.


"Tapi Ma!"


"Nggak ada tapi-tapi, Mama akan mencoba mengulur waktu Muti untuk berlama-lama di sini sampai kamu tiba," ucap Mama.

__ADS_1


"Baiklah terserah Mama. Tapi aku tidak mau memaksa dia ya Ma apalagi mendapatkan Muti lagi dengan cara kotor! Kalau memang Muti memang masih jodohku, kami pasti bakal bersatu. Tapi kalau memang tidak aku ikhlas, yang terpenting dia mendapatkan jodoh yang baik pula," ucap Sultan.


"Ya sudah cepatlah kemari!"


Sultan tidak bisa membantah kemauan sang Mama, lalu dia mengemasi barang-barang yang ada di meja kerja dan menyimpan ke dalam laci. Setelah itu, Sultan menyambar jaket serta kunci bergegas menuju parkiran.


Papa yang tidak melihat sang istri ada di sana segera meminta Raja untuk mencarinya. Papa ingin Mama menyiapkan makan malam.


Raja pun ke belakang, lalu dia mendapati Mamanya sedang mengotak atik ponsel.


"Ma, kenapa Mama malah di sini? Papa mencari Mama lho! Papa ingin mama menyiapkan makan malam."


"Eh iya Ja. Mama akan segera siapkan! Mama panggil Bibi dulu ya, sekaligus pesan tambahan makanan via aplikasi online saja."


"Iya Ma, Raja ke depan lagi ya Ma, karena ada yang ingin Mbak Muti sampaikan," ucap Raja.


"Pergilah, Mama wakilkan ke Papa dan Kamu saja untuk mendengarkan apa yang ingin Muti sampaikan."


Raja pun kembali ke depan dan dia mendengarkan apa yang sedang Muti bicarakan kepada Sang Papa.


"Tidak Nak! Kamu tidak boleh mengembalikan apa yang sudah menjadi hak mu! Ini hukuman bagi putraku, tapi yakinlah meski tanpa perusahaan itu, Sultan pasti bisa bangkit," ucap Papa Hendrawan.


"Memangnya kamu mau kemana Nak? Kenapa tidak bisa mengelolanya lagi?"


"Maaf Pak, Saya terpaksa ikut campur. Sebenarnya ini bukan hak Saya, tapi Saya akan menjelaskan kenapa Muti kedepannya tidak bisa mengelola perusahaan itu," ucap Adam.


"Ya, silahkan Nak Adam!"


"Begini Pak, jika tidak ada halangan 2,5 bulan lagi, Saya akan melamar Muti. Saya ingin Muti menjadi pendamping hidup Saya dan jika Muti memang mau, dia bisa mengelola perusahaan kami."


"Tapi, Saya juga tidak memaksa, Saya pribadi sih lebih senang jika Muti mengurus keluarga saja. Keputusan tetap Saya serahkan kepada Mutiara."


"Oh begitu ya Nak, syukurlah jika kalian sudah memiliki rencana untuk masa depan. Papa senang Nak Muti telah mendapatkan jodoh lagi," ucap Papa.


"Semoga rumah tangga kalian nanti bahagia ya! Nak Adam, Mutiara 'kan sudah kami anggap anak sendiri, jadi Saya mohon, bahagiakanlah dia Nak! Sudah cukup Muti menderita selama ini, jadi kini waktunya dia harus bahagia. Tugas Nak Adam lah untuk membuatnya bahagia."


"Inshaallah Pak! Saya akan berusaha membahagiakan Mutiara."


"Kalau begini saya jadi tenang, putri Saya berada di tangan orang yang tepat."

__ADS_1


"Maafkan Muti ya Pa! Bukan maksud Muti ingin mengecewakan Papa dan Mama."


"Tidak Nak! Kamu tidak mengecewakan kami, justru putraku yang telah membuat kami kecewa."


"Jadi, rencana pernikahan Mbak Muti kapan?" tanya Raja.


"Saya terserah Mas Adam saja Ja! Soalnya Mas Adam minggu depan akan berangkat ke luar negeri untuk mengecek perusahaannya di sana."


"Kalau tidak ada halangan, dua bulan saya di sana, jadi dua minggu setelah kepulangan, Saya akan langsung membawa iringan pengantin ke rumah Ayah Danuarta," ucap Adam.


"Oh, bagaimana jika kita samakan acara pernikahan kita Mas?"


"Apa maksud kamu Ja?" tanya Papa Hendrawan.


"Raja juga ingin melamar Elena Pa! Bukankah Papa Mama sudah tidak sabar ingin memiliki cucu," jawab Raja sambil tersenyum.


"Kalau Ayah pasti setuju, beliau juga ingin Elena segera mendapatkan kebahagiaannya," ucap Muti.


"Jika Danu setuju, Saya juga tidak mungkin menghalangi," ucap Papa.


"Papa serius? Papa setuju jika Raja menikah bareng acara pernikahan Mbak Muti?"


Papa Hendrawan pun mengangguk, lalu dia berkata, "Dengan syarat, kamu jangan membuat Papa malu di depan teman karib Papa, seperti apa yang Kakak mu lakukan!"


"Siap Pa! Terimakasih ya Pa!" ucap Raja.


"Bilang sama Mama agar membantu persiapan pernikahan kalian, kalau Papa hanya bisa memberi dukungan."


"Baik Pa!" jawab Raja.


Muti pun mengeluarkan berkas-berkas pengalihan harta yang dulu dia terima. Kemudian dia menyerahkan kepada Papa Hendrawan.


Papa menerima berkas tersebut, tapi beliau berpesan kepada Muti bahwa setelah hari ini dan sampai kapanpun hubungan diantara mereka tetap ada.


Muti adalah putri dari keluarga Hendrawan jadi kapan saja berhak datang dan menikmati fasilitas yang Hendrawan group miliki.


Mendengar perkataan Papa Hendrawan, Muti menangis, dia tidak menyangka jika keluarga ini begitu menyayanginya.


Adam yang melihat hal itu, menjadi lebih yakin, jika Muti memang calon istri yang terbaik untuknya dan dia yakin tidak salah menentukan pilihan, meski status Mutiara adalah seorang janda.

__ADS_1


__ADS_2