
Muti bersama Elena dan juga Ayah membantu ibu menyiapkan bumbu yang akan digunakan untuk memasak besok pagi.
Setelah semua pekerjaan selesai mereka pun membersihkan diri dan beristirahat di kamar masing-masing.
Muti belum bisa memejamkan mata, dia masih menunggu kabar dari Adam. Sedangkan Elena sedang ngobrol dengan Raja via telepon, Raja besok membutuhkan bantuan Elena di kantor.
Clara bosan tiduran saja, lalu dia meminta tolong ibu untuk menghidupkan televisi yang ada di dalam ruang rawatnya.
Ruangan itu lengkap fasilitas karena Sultan membayar ruangan kelas VIP untuk Elena.
Elena mengganti berbagai Chanel hingga dia terkejut saat melihat berita pembunuhan sadis di sebuah rumah mewah yang sepertinya dia tidak asing.
Betapa terkejutnya Elena saat reporter menyebutkan nama korban. Hardi bersama Tante girangnya meninggal secara mengenaskan di rumah mewah tersebut. Di duga si pelaku adalah suami dari si Tante girang.
Merasa penasaran, Clara mencoba menelepon nomor kontak Hardi tapi panggilannya tidak tersambung.
Entah kenapa belakangan ini Hardi tidak bisa di hubungi, apa dia memang mengganti nomor atau sedang tersangkut masalah dan teleponnya tidak ada di tangannya.
Kasus itu sedang dalam penyelidikan, Clara berharap dirinya tidak akan terseret dalam masalah tersebut dan menjadi buruan polisi sebagai tersangka ataupun saksi.
Karena dia memang tidak berhubungan lagi dengan Hardi sejak seminggu lalu. Hardi marah saat dirinya meminta uang untuk membayar kontrakan.
Clara meraup wajahnya, dia tidak menyangka laki-laki yang pernah masuk dalam kehidupannya, mati secara tragis menyusul anaknya yang pergi lebih dulu.
Wajah Clara pucat dan keringat dingin membasahi wajahnya. Hal itu membuat ibunya khawatir, lalu sang ibu mengambil tissue dan mengelap keringat tersebut.
"Ada apa dengan kamu Nak, mana yang sakit? Ibu panggilkan dokter ya," ucap ibu khawatir.
"Nggak usah Bu, ibu dengar berita tadi 'kan. Aku tidak sedang bermimpi kan Bu?"
"Berita yang mana Nak?"
"Pembunuhan yang baru saja disiarkan."
"Iya, biar saja lah mengkhianati suami dengan seorang brondong. Wajar jika suaminya sakit hati dan akhirnya membunuh keduanya."
"Itu Hardi Bu," ucap Clara.
"Hardi, ayah dari anak kamu?"
"Iya Bu."
__ADS_1
"Kena batunya dia. Dia telah membuatmu seperti ini dan tidak bertanggungjawab terhadap kebutuhan bayinya sendiri. Tuhan murka dan mengambil nyawanya dengan cara yang begitu tragis dan mengenaskan."
"Siapa juga suami yang terima, pulang dari luar kota mendapati istri sedang indehoy bersama brondong. Padahal kehidupan mewah telah dia berikan kepada sang istri."
"Iya Bu. Tuhan telah menghukum kami. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan hidup untuk memperbaiki diri."
"Mulai sekarang kamu harus melupakan semuanya Nak, kembalilah sebagai Clara kami yang dulu. Clara gadis kampung yang tidak tercemar dengan kehidupan kelam."
"Inshaallah Bu, Clara akan memperbaiki diri selagi Tuhan memberiku kesempatan."
"Bu, nanti jika dokter datang, tolong tanyakan ya, berapa lama lagi aku harus di sini. Ada sesuatu yang harus aku lakukan sebelum kita pulang ke rumah."
"Itu kesalahan terbesar ku Bu, aku akan meminta maaf."
"Kesalahan apa Nak?"
"Kesalahan terhadap istri Kak Sultan."
"Oh, syukurlah jika kamu punya niat seperti itu, Ibu akan selalu mendukungmu."
"Ayah kapan kembali kesini Bu?"
"Besok Nak, hari ini ayahmu menyelesaikan urusan tanah yang ada di kampung. Ada orang yang akan membeli sebagian kebun serta sawah kita. Nanti dananya bisa kamu gunakan untuk rawat jalan dan juga untuk membuka usaha di kampung."
"Nggak apa-apa Nak, itu juga hasil dari pemberian mu dulu. Jadi saat kamu terpuruk, mungkin uang penjualan tanah tersebut bisa membuatmu bangkit lagi dan menjalani kehidupan yang lebih baik."
Clara menangis, dia jadi teringat dengan kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan.
"Tidurlah, jangan banyak berpikir yang akan membuatmu semakin lama sembuh," ucap Ibu sembari mengelap air mata Clara.
Clara pun berusaha memejamkan mata, dia berharap semua segera berlalu dan saat terbangun, dirinya sudah berada dalam kehidupan yang lebih baik.
Malam ini, Sultan merayakan keberangkatannya bersama teman-teman karibnya. Mereka menghabiskan waktu dengan minum dan makan makanan halal sambil ngobrol serta mendengarkan musik klasik.
Kehidupannya benar-benar telah berubah, Sultan yakin hari esok pasti akan lebih baik.
Setelah puas ngobrol mereka pun bubar dan teman-temannya berjanji akan mengunjungi Sultan ke lnggris suatu hari nanti.
Sultan melajukan mobilnya kembali ke rumah, besok pagi dia akan meninggalkan kota yang baginya banyak meninggalkan kenangan pahit dan kelam.
Mama yang belum tidur, segera membukakan pintu saat mendengar suara mobil Sultan memasuki halaman.
__ADS_1
Beliau awalnya takut jika Sultan mabuk-mabukan, tapi setelah melihat sang putra baik-baik saja, hatinya pun lega.
Sultan pamit untuk ke kamar, dia harus segera tidur agar besok tidak kesiangan bangun dan tertinggal pesawat.
Mama pun kembali ke kamar dan berbaring di samping suami tercinta yang sedang mimpi indah. Mimpi bersama kedua putra serta para menantu, bermain bersama cucu-cucu tercinta.
Malam pun berlalu dan matahari mulai terbit memancarkan sinar indahnya.
Semua beraktivitas seperti biasa.
Muti dan Elena berangkat ke kantor di antar oleh Fadhil, sedangkan ibu di bantu para tetangga mempersiapkan untuk acara siang nanti.
Adam pun menghubungi Muti, dia telah sampai pagi dini hari, karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang pujaan hati, makanya Adam baru menghubungi Mutiara.
Baru beberapa jam mereka berpisah, kerinduan sudah menghampiri hari keduanya.
Adam tetap mengingatkan Muti untuk selalu berhati-hati dan menjaga diri. Sebelum menutup panggilan dia titip salam untuk Ayah serta Ibu.
Muti sudah sampai di kantor dan Elena telah di antar terlebih dulu ke kantor Raja.
Fadhil kembali ke rumah, untuk bersiap diri karena calon istri dan mertuanya akan segera datang.
Namun sebelum itu, dia singgah ke toko kue, Fadhil membeli beberapa macam kue yang menurutnya kesukaan mertua dan juga ayah ibunya.
Fadhil tidak ingin ibu kelelahan karena harus mempersiapkan kue serta hidangan lainnya. Makanya dia berpesan kepada ibu akan membeli kue siap hidang saja.
Setelah membeli kue, Fadhil melajukan mobil kembali ke rumah.
Fadhil melihat sebagian makanan sudah terhidang, hanya tinggal menyiapkan pencuci mulut dan juga minuman.
Ibu memindahkan kue ke beberapa piring dan menyusun di meja bersama makanan lainnya.
Selesai dengan penyajian hidangan, ibu dan ayah pun bersiap, sebentar lagi keluarga besar akan tiba. Hari ini mereka akan menentukan tanggal pernikahan. Tapi Fadhil meminta acara di adakan setelah pernikahan Mutiara.
Dia ingin adik bungsunya itu duluan bahagia, baru dirinya juga Fadhlan.
Fadhlan sendiri akan menikah setelah Muti dan Fadhil menikah. Dia memutuskan tahun depan saja acara pesta di gelar.
Fadhlan masih merampungkan persiapan peresmian usaha barunya. Fadhlan mulai melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka showroom mobil.
Ayah dan ibu bahagia, anak-anaknya mulai menuai kemapanan hidup dan akhir tahun nanti beliau ingin berangkat haji bersama ibu. Haji plus adalah pilihan mereka.
__ADS_1
Rencana keberangkatan haji keluarga Danuarta sampai ke telinga sahabatnya, dan Papa Hendrawan beserta mama memutuskan untuk berangkat bareng bersama sahabat karibnya itu.
Mereka berempat ingin menyempurnakan ibadah dan meraih ketenangan hidup dengan datang dan bersujud di rumah Allah.