MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 62. TIDAK AKAN PERNAH MENGAKUI


__ADS_3

Sultan terkejut saat terbangun dan melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 5 subuh, dia melompat dari tempat tidur dan langsung mandi serta bersiap untuk kembali ke rumah sakit.


Clara mengerjapkan mata, dia bangkit saat melihat Sultan sudah rapi dan siap pergi.


"Kak Sultan mau kemana? masih pagi buta lho! Nanti saja perginya, bukankah hari ini kita akan pergi menemui orangtuaku? Kak Sultan nggak inkar janji 'kan?"


"Kamu kenapa tidak membangunkanku! Aku harus kembali ke rumah sakit, mereka pasti khawatir. Kenapa ponselku kamu matikan!" seru Sultan.


"Biar Kak Sultan tidak mereka ganggu malam ini! Enak sekali si Marmut setiap malam bisa bersama Kakak, sedangkan aku yang jelas-jelas akan melahirkan pewaris keluarga Hendrawan, untuk minta waktu satu malam saja, musti merengek dulu!" jawab Clara marah.


"Hah!" desah Sultan dengan kasar, lalu berbalik berjalan ke arah pintu sambil berkata, "Nanti aku hubungi kamu, jam berapa aku bisa keluar kantor."


Sultan keluar apartemen tergesa-gesa, lalu dia mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit.


Karena masih pagi, jalanan begitu lengang hingga sebentar saja Sultan telah tiba di parkiran rumah sakit. Dengan bergegas diapun berjalan menuju ruang rawat Papanya. Sultan siap kena damprat sang Mama, karena malam ini tidak kembali ke rumah sakit.


Mama Sultan sangat kesal, tapi Mutiara menenangkannya dengan mengajak Mama menjalankan ibadah subuh. Ketika mereka baru selesai, Sultan pun muncul di ambang pintu.


Sang Mama yang belum melipat mukenah langsung menghampiri Sultan, beliau menatap tajam wajah putranya yang tertunduk.


"Masih berani kamu tampakkan wajahmu di sini! Kenapa kamu kembali? Semakin hari ulahmu semakin menjadi. Jika kamu lebih memilih pelacur itu, silahkan pergi! Mama tidak peduli kehilangan satu anak, daripada melihat papamu mati terkena serangan jantung!" ucap Mama.


"Dia bukan pelacur Ma! Dia akan menjadi istriku, sebentar lagi dia akan memberi Mama dan Papa seorang cucu," ucap Sultan membela Clara.


Spontan Mama melayangkan tamparan ke wajah Sultan diiringi airmata yang tidak bisa terbendung lagi. Rasa kesal yang sejak tadi malam terpendam akhirnya beliau luapkan dengan tangis dan tamparan.


Muti juga menitikkan air mata, tapi dia tetap bisa menahan emosinya sembari melipat mukenah dan menyimpannya.


Muti membiarkan sang Mama mertua memberikan pelajaran kepada anaknya. Empat kali tamparan telah mendarat di wajah Sultan, tapi dia tidak melawan sedikitpun.


"Dasar kamu anak tidak tahu di untung, sudah memiliki istri baik seperti ini, masih saja menginginkan pelacur untuk menjadi istri. Pokoknya kami tidak akan memberi restu dan tidak akan pernah mengakui dia serta anak haram kalian! Menantu kami hanya Mutiara, bukan dia ataupun perempuan lain manapun!" ucap Mama lagi.

__ADS_1


Muti segera mendekati sang Mama yang suaranya semakin kuat dengan berkata, "Sudah Ma, kasihan Papa, jangan sampai Papa mendengar berita ini. Mama ingat apa pesan Dokter," ucap Muti sembari mengajak sang Mama duduk.


Untung saja Papa Hendrawan tidak mendengar pertengkaran mereka. Papa masih dalam pengaruh obat Karena semalaman tidak bisa tidur.


Raja yang baru pulang dari mushollah, langsung menarik sang Kakak keluar dari ruangan itu. Dia mengajak Sultan duduk di bangku tunggu sembari bertanya, "Sebenarnya apa mau Kakak? Apa Kakak kepingin Papa kita cepat meninggal?"


Sultan hanya diam, lalu Raja melanjutkan pertanyaannya, "Kenapa Kak Sultan tidak melupakan wanita murahan itu! Apa sebenarnya yang kurang dari Kak Mutiara Kak!" seru Raja marah sembari mencengkeram kerah baju Sultan.


Kali ini Sultan mengibaskan tangan Raja lalu berkata, "Mutia terlalu sempurna Ja, dan aku tidak bisa mengelak dari tanggungjawab, Clara saat ini sedang hamil."


Raja mengelap wajahnya dengan kasar, lalu berkata, "Kak Sultan bodoh! Kalau sudah seperti ini bagaimana coba memberitahu Papa. Papa bisa mati Kak, mendengar berita ini. Kakak telah mengecewakan dan menyakiti hati putri sahabatnya, bagaimana Papa bisa menunjukkan wajahnya di hadapan Om Danu sekeluarga."


"Aku mohon, tolong jangan beritahu Papa dulu Ja, sampai Papa sehat," pinta Sultan.


"Lantas, bagaimana dengan Kak Muti. Apa yang akan Kakak lakukan? Apakah Kak Sultan akan menceraikannya?" tanya Raja serius.


Sultan hanya diam, dia tidak mengerti dengan perasaannya. Sepertinya dia tidak rela jika harus menceraikan Muti.


"Kakak sih, terlalu buta! tidak bisa memandang mana berlian sesungguhnya dan mana imitasi," ucap Raja sembari menepuk pundak Sultan dan kembali masukke dalam ruangan. Raja berharap, sang Mama sudah bisa menerima kenyataan yang terjadi.


Sultan menyusul Raja, masuk ke dalam ruangan dan ternyata mereka melihat sang Papa sudah terbangun dan saat ini sedang di suapi bubur oleh sang Mama.


"Kalian dari mana?" tanya Papa.


"Dari mushollah Pa," jawab Raja.


"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Sultan.


Papa Hendrawan tidak menjawab pertanyaan dari Sultan, beliau malah memanggil Muti.


"Nak, pergilah nanti ke kantor, hari ini kamu harus mulai bekerja," ucap Papa Hendrawan.

__ADS_1


"Apa Pa! Maksud Papa, Muti akan bekerja bersamaku?"


"Ya, nanti pengacara akan datang menemuimu untuk menjelaskan semuanya. Pulanglah kalian sekarang dan bersiaplah ke kantor, di sini ada Mama dan Raja yang akan menemaniku. Kantor butuh pemimpin dan pengawas, sementara aku belum bisa aktif."


Sultan memandang Muti, Mama dan juga Raja secara bergantian, dia heran kenapa tidak ada yang menyela perkataan Papanya. Apa hanya dia yang ketinggalan berita, tentang keputusan sang Papa.


Muti dan Sultan pamit, dalam perjalanan pulang Muti hanya diam, dia memandang jalanan untuk mengontrol perasaannya.


"Kamu tahu apa maksud Papa mempekerjakanmu?" tanya Sultan.


"Kenapa tanya padaku? Aku tidak berhak untuk menjelaskannya, hanya Papa dan pengacaralah yang bisa Kak Sultan tanyai," ucap Muti cuek.


Ketika Sultan hendak menimpali lagi, ponsel Muti berdering, lalu dia memeriksanya dan ternyata panggilan dari Elena.


"Pagi Mbak," sapa Elena.


"Selamat pagi El?"


"Mbak, kata Ayah, Papa mertua Mbak dirawat di rumah sakit ya?" tanya Elena.


"Ayah bilang, hari ini akan pulang cepat dari kantor, kami semua akan datang menjenguk papa mertua Mbak Muti," ucap Elena.


"Serius kamu El, kenapa Ayah dan ibu tidak memberitahuku?"


"Barangkali ingin memberi kejutan Mbak, mereka rindu Mbak Muti."


Oh ya El, bagaimana pekerjaanmu?"


"Alhamdulillah lancar Mbak. Oh ya Mbak, Mas Adam titip salam, kemaren dia ke perusahaan menemui Ayah. Sepertinya ada tawaran bisnis dari Mas Adam," terang Elena.


"Wa'alaikumsalam, titip salam balik ya El," ucap Elena.

__ADS_1


Sultan yang mendengar percakapan mereka berdua merasa khawatir dan juga kesal. Khawatir, jika mertuanya sampai tahu, apa yang menyebabkan papanya sakit dan kesal karena Muti membalas salam dari Adam, pesaing bisnis yang memiliki perhatian khusus terhadap sang istri.


__ADS_2