MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 141. CINTAI AKU SELAMANYA


__ADS_3

Pagi ini Adam datang ke perusahaan, dia ingin tahu situasi perusahaannya selama ditinggal pergi. Rencananya, kepemimpinan perusahaan akan tetap diberikan kepada Muti, sementara dirinya akan merambah bisnis lain setelah mereka menikah.


Waktu kunjungannya ke perusahaan yang ada di luar negeri, Adam bertemu dengan para pengusaha real estate dan dia tertarik untuk menggeluti bidang itu di Indonesia.


"Pagi Sayang," sapa Adam saat dia masuk ke ruangan Muti.


"Eh...Mas, silakan duduk."


"Sedang repot ya."


"Sedikit Mas, tapi sudah hampir siap kok. Sebentar ya Mas, aku siapkan dulu."


"Santai Yang, Aku hanya ingin pastikan, nggak ada kendala 'kan selama kamu di sini?"


"Alhamdulillah, semua berjalan lancar Mas. Ini, Mas boleh lihat laporan penjualan kita," ucap Muti sambil mengulurkan lembaran-lembaran kertas kepada Adam.


Sejenak Adam memperhatikan, lalu dia tersenyum dan mengacungkan jempol.


"Siip, kamu yang akan meneruskan usaha ini Sayang, aku akan beralih ke bisnis real estate. Aku lihat prosfeknya bagus."


"Tapi Mas!"


"Tidak ada kata tapi Sayang, aku melihat perkembangan perusahaan lumayan pesat di bawah kepemimpinan kamu."


"Baiklah, tapi Mas janji ya! Jika ada kendala, bantu aku!"


"Oke Sayang, aku sangat yakin kamu bisa mengatasi setiap ada kendala."


"Aku ambilkan minum dulu ya Mas."


"No Sayang, Aku akan mengajakmu keluar. Hari ini, kita akan melihat rumah, katanya sudah selesai. Setelah menikah, kita akan pindah ke sana. Nanti sore, kita akan lanjut belanja barang-barang sesuai yang kamu inginkan untuk isi rumah kita."


"Benarkah sudah siap Mas? Aku jadi penasaran. Sebentar ya Mas, aku bereskan ini dulu."


"Aku keliling sebentar ya Yang, ingin lihat aktivitas mereka. Jika sudah selesai call saja!"


"Oke, tidak akan lama kok."


Adam pun ke luar dari ruangan Muti, lalu dia ke ruangan para staf sekedar ingin menyapa mereka. Setidaknya, beramah tamah dengan para bawahan akan membuat suasana kerja lebih nyantai meskipun tanggungjawab pekerjaan menumpuk.


Belum selesai melihat bagian pabrik, Muti pun menelepon. Lalu Adam bergegas kembali ke ruangan Muti lagi.

__ADS_1


Melihat Muti sudah menenteng tasnya, Adam pun berkata, "Kita mau langsung melihat rumah atau belanja dulu bagusnya Yang?"


"Sebaiknya belanja dulu, jadi nanti bisa sekalian kita susun. Itupun jika rumah memang benar sudah siap Mas."


"Sudah Yang, ini tadi mereka kirim video yang menampilkan kondisi dalam rumah kita."


"Oh, coba aku lihat Mas. Jadi biar tahu model dan jenis barang yang mau kita beli untuk isinya."


Muti melihat kiriman video tersebut dan dia sangat terkejut melihat rumah yang di bangun Adam sangat besar, padahal mereka hanya tinggal berdua.


"Besar sekali Mas, kita kan hanya tinggal berdua?"


"Nggak apa-apa Sayang, nanti kita proses anak yang banyak, kita bangun kesebelasan untuk meramaikan rumah!" ucap Adam menggoda Muti.


"Waduh, mamanya yang repot. Kerja sambil mengurus sebelas anak?"


Adam tertawa melihat wajah terkejut Muti. Dia gemes, jika sudah halal, pasti akan Adam gigit bibir mungil wanitanya itu.


"Kenapa Mas Adam pandang aku seperti itu?"


"Habisnya, kamu ngegemesin sih! Ayo kita berangkat, agar semua cepat selesai. Malam nanti Mas mau temui Ayah membicarakan tentang acara kita minggu depan."


"Wow...Mas Adam ganti mobil? bagus banget Mas, pastinya mahal ya?" tanya Muti sambil celingukan melihat area dalam mobil.


"Ini, kamu pegang dulu untuk Dp mahar. Yang lainnya nanti menyusul, Mas berikan menjelang akad."


"Mas...ini!"


"Iya, itu untuk kamu! lihat di sana!" tunjuk Adam.


Muti melihat ke arah yang di tunjuk oleh Adam dan dia melihat sebuah mobil BMW terbaru, terparkir di dekat mobilnya.


"Mas, itukan mahal? Kenapa Mas begitu baik perlakukan aku seperti layaknya melamar anak gadis saja. Aku janda lho Mas, aku jadi malu! Entah apa yang bisa aku berikan untuk membalas semuanya."


"Cintai Aku selamanya. Aku tidak membutuhkan apapun lagi, selain istri yang bisa aku ajak sama-sama menuju surga-Nya," ucap Adam sambil mengulas senyum.


Muti menerima kunci mobil barunya, dia tidak akan menyia-nyiakan cinta Adam, imam yang akan dia ikuti sampai ke Jannah.


"Pakai dulu ini Yang," ucap Adam sembari memasangkan sabuk pengaman Muti yang masih bengong.


Aroma parfum Adam yang tercium dekat oleh hidung Muti membuatnya terasa nyaman.

__ADS_1


Adam melajukan mobilnya menuju toko-toko yang menjual perabotan rumah, seperti isi kamar, isi ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur dan juga perlengkapan untuk kamar mandi.


Dia ingin Muti memilih yang terbaik dan tentunya sesuai selera mereka berdua.


Setelah selesai, Adam membayar semua dan meminta pihak toko mengirim ke alamat yang Adam berikan sekarang juga.


Adam telah menempatkan tiga orang pembantu di rumahnya yang bisa menerima dan mengatur tata letak sebelum mereka tiba.


Setelah selesai, mereka pergi ke toko gorden, Adam terlebih dahulu meminta ukuran jendela rumahnya kepada salah seorang pembantu.


Muti memilih warna lembut, yang kontras dengan cat dinding. Model sederhana tapi tetap mewah.


"Sudah semua Yang? setelah ini kita pergi makan, baru pulang untuk mengecek barang apa sudah dikirim atau belum."


"Iya Mas, sudah selesai."


Mereka pun pergi meninggalkan toko dan mencari tempat makan. Muti ingin makan, menu makanan laut.


Saat mereka sedang makan, masuk telepon dari Ayah. Ayah ingin menanyakan tentang masalah gedung pesta.


Hendrawan telah menyewa gedung untuk pesta pernikahan Muti juga Elena. Kali ini ayah tidak bisa menolak permintaan Hendrawan.


Muti ingin membicarakan hal itu dulu kepada Adam. Dia tidak bisa memberi keputusan tanpa berembuk dulu dengan calon suaminya itu.


Setelah ayah menutup panggilan, Muti membicarakan hal itu kepada Adam.


"Mas, tadinya acara kan mau di adakan di rumah, tapi Papa dan Mama Hendrawan meminta pestanya di adakan di gedung. Mereka telah menyiapkan semuanya. Bagaimana menurut Mas Adam?"


"Ya sudah Yang, aku tidak masalah. Mungkin, mereka menginginkan yang terbaik dan tidak ingin menyusahkan Ayah. Mereka juga, telah menganggap kamu sebagai putrinya, meski sudah tidak menjadi menantu mereka lagi."


"Terimakasih Mas atas pengertiannya. Nanti aku sampaikan kepada Ayah."


Selesai makan, keduanya pun pulang dan ternyata barang-barang sebagian telah di kirim. Dan para pembantu sedang menyusun pada tempatnya masing-masing.


Adam mengajak Muti untuk berkeliling, melihat area dalam rumah, dari mulai kamar tidur, dapur dan yang lain.


Di luar ada kolam renang, taman bunga dan tempat bermain anak-anak.


Semua fasilitas sudah lengkap, Adam ingin memberikan yang terbaik bagi Muti dan calon anak mereka kelak.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2