MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM

MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM
BAB 37. MEMINTA DUKUNGAN DOKTER


__ADS_3

"Bagaimana keadaan perut kamu Nak? apakah sakit sekali?" tanya Mama Sultan.


"Lumayan sakit Ma, barangkali karena tamu bulanan Muti yang mau datang. Muti sudah biasa seperti ini kok Ma! jadi jangan khawatir."


"Sebentar lagi dokter datang, jadi sabar ya Nak. Oh ya, biar Sultan yang temani kamu dulu, Mama mau balik ke depan, kasihan para tamu," ucap Mama.


"Aku juga keluar dulu ya Mbak, jika butuh bantuan jangan segan, telepon saja. El pergi dulu ya Mbak, mari Tuan," ucap Sultan.


"Iya El. Terimakasih," ucap Muti.


Setelah semua pergi, Sultan duduk di pinggiran tempat tidur dan berkata, "Kamu kenapa? jadi istri itu nggak usah terlalu manja! Gara-gara kamu, mama jadi memintaku untuk terkurung di sini!" ucap Sultan tanpa menoleh ke arah Muti.


"Aku tidak pernah meminta Kakak untuk menungguku di sini, jika tidak ikhlas silahkan, aku nggak melarang kok, Kakak bebas pergi kemana pun," gengsi Muti. Padahal dalam hatinya, dia berharap Sultan tidak pergi menemui pelakornya.


"Percuma! Papa dan Mama sudah tahu kamu sakit, jadi mereka pasti melarangku untuk pergi. Lain kali nggak perlu kamu cari muka lagi di depan orangtuaku," ucap Sultan lagi.


"Oh, masih ada lain kali, aku pikir..." Muti tidak melanjutkan ucapannya. Lalu dia berucap, "Astaghfirullah. Maaf, jika aku membantahmu Kak."


Kemudian Muti membalikkan badannya membelakangi Sultan, dia tidak ingin melanjutkan ucapannya yang bakal menyulut pertengkaran.


Di luar kamar, Elena melihat seorang dokter datang. Lalu, Elena buru-buru menemui dokter tersebut saat Mama Sultan sedang asyik bercanda dengan teman-temannya.


"Maaf Dok, bisa saya ngomong sebentar," ucap Elena.


"Iya, silahkan Dek."


Kemudian Elena menceritakan tentang alasan sahabatnya berpura-pura sakit, jadi Elena mohon agar Dokter bisa membantu mereka sebab Sultan ada di dalam bersama Muti.


Dokter yang sangat kenal baik dengan keluarga Hendrawan sejak Sultan masih duduk di bangku SMU dan tahu latar belakang pernikahan tersebut, akhirnya setuju dengan usul Elena.


"Terimakasih Dok atas bantuannya, hal ini sahabatku lakukan demi menjaga nama baik keluarga Hendrawan," ucap Elena sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Mbak tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan demi keluarga ini. Keluarga ini juga telah banyak membantuku, hingga aku bisa buka klinik sendiri," ucap Pak Dokter.

__ADS_1


"Ayo Dok, saya antar," ajak Elena.


Elena merasa lega, dengan senyum tersungging di bibirnya, dia pun mengantar Dokter ke kamar di mana Mutiara terbaring.


Dia puas, jika bisa menghalangi kepergian Sultan saat ini. Walau bagaimanapun caranya dia harus bisa membantu Muti karena Mutiara sudah seperti saudaranya sendiri.


Elena mengetuk pintu, "Mbak, ini Pak Dokter sudah datang," ucap Elena.


Jantung Muti berdebar tidak menentu, dia harus siap menghadapi kemarahan Sultan dan mungkin juga keluarganya jika sampai terbongkar kebohongan dirinya yang berpura-pura sakit.


"Selamat siang Dek Sultan!" sapa Dokter.


"Siang Dok!" jawab Sultan.


"Wah, pengantin baru kita kecapek-an nih?"


"Biasa Dok, nggak di sana, nggak di rumah, sama saja penyakitan Dok," Keluhannya sakit perut terus!" ucap Sultan yang memang sedang kesal, rencananya jadi berantakan.


"Sebentar ya, biar saya periksa dulu, mudah-mudahan tidak ada yang serius," ucap Dokter sambil mengeluarkan stetoskop.


Kemudian dokter berkata, "Oh, ini karena pola makan yang kurang teratur dan harus perbanyak makan buah serta sayur. Oh ya, Dek Sultan harus lebih perhatian ke istri, siapa lagi yang akan perhatikan istri kalau bukan kita para suami. Bukankah mereka rela, kita bawa pergi jauh dari keluarganya demi kita, demi melayani kita. Masa kita abaikan mereka," ucap Dokter sembari menepuk bahu Sultan.


Sultan diam, mungkin ketidak teraturan makan saat di Bali masih berpengaruh hingga saat ini.


Kemudian Sultan menjawab, "Mereka juga harus memperhatikan diri sendiri Dok, kita tidak 24 jam di rumah, yang bisa perhatikan mereka terus," sanggah Sultan.


"Bisa, asalkan mau! Percuma kita punya ini!" ucap Dokter sembari mengangkat ponselnya.


Sultan terdiam mendengar jawaban Dokter. Kemudian Pak Dokter berkata lagi, "Ini saya buatkan resep yang isinya vitamin untuk Dek Muti, silahkan tebus di apotek ya Dek Sultan," ucap Pak Dokter sambil menyerahkan kertas resep.


Setelah itu Dokter pun pamit, tapi sebelumnya beliau menghampiri Muti, "Adek nggak perlu takut, hanya butuh istirahat serta makan dan minum teratur, terutama bahagiakan hati, pasti cepat sembuh," ucap Dokter sambil memberi kode tanda oke dengan jarinya.


Sultan mengantar Dokter keluar dan gantian Muti yang masuk untuk melihat Mutia. Namun, belum sempat Muti bertanya tentang sikap Dokter tadi, Sultan keburu masuk.

__ADS_1


"El, kamu temani dulu Muti, aku akan tebus obat di apotek, jika butuh sesuatu panggil saja pelayan atau minta bantuan mamaku," ucap Sultan.


"Baiklah Tuan," aku akan temani Mbak Muti.


Sultan pun keluar bersamaan dengan mama dan ibu Muti yang mau melihat Mutiara.


"Kamu mau kemana Tan?" tanya Mama yang melihat Sultan membawa kunci mobil.


"Mau tebus resep Ma, tolong jaga Muti ya Ma, Bu. Aku pergi dulu," ucap Sultan.


"Iya, kamu hati-hati ya Nak," ucap Ibu.


Papa Hendrawan juga menegur Sultan saat tahu dia mau keluar rumah, tapi karena Sultan mengatakan mau menebus obat, beliau pun merasa tenang.


"Ada apa Wan? kenapa kamu mencemaskan Sultan?" tanya Pak Danu.


Aku hanya khawatir Dan, aku belum cerita ke kamu, jika Sultan mempunyai kekasih sebelum menikah dengan putrimu.


"Ya, itu wajar, Hen. Mungkin putriku juga begitu," ucap Pak Danu.


"Bukan itu maksudku Dan, aku tidak suka dengan perangai gadis itu. Terlalu genit dan aku rasa dia hanya mempermainkan Sultan. Makanya aku langsung melamar putrimu agar gadis itu segera menjauh dan semoga putraku juga segera bisa melupakannya," ucap Papa Hendrawan.


"Kita berdoa saja ya Wan, semoga rumahtangga anak kita bahagia."


"Iya Dan, cuma kita harus terus memantau mereka. Sampai kita mendapatkan cucu, mungkin aku baru bisa tenang," ucap Papa Hendrawan lagi.


Sultan yang sedang dalam perjalanan ke apotik menyempatkan diri untuk menghubungi Clara via panggilan video.


Clara pun sangat senang, orang yang dia nanti bakal segera datang. Dengan senyum manis dan sudah memakai pakaian yang seksi, Clara buru-buru mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Yang," sapa Clara dengan manja.


"Kamu seksi banget, awas jika kamu terima panggilan video dari laki-laki lain, aku tidak ikhlas tubuh kami di nikmati pria selain aku," ucap Sultan serius.

__ADS_1


"Tenang Yang! Aku tahu sekarang batasannya. Aku sudah jadi milikmu dan selamanya akan aku jaga hanya untukmu. Makanya cepat kesini dong! Aku punya kejutan. Pokoknya, hari ini kamu nggak bakalan bisa keluar dari kamar. Aku akan buat kamu nempel terus," ucap Clara semakin sengaja menunjukkan bagian dadanya yang terbuka dan pakaian yang di pakai oleh Clara memang terbuat dari bahan yang tembus pandang, hingga lekuk tubuhnya yang tidak memakai dalaman saat ini terlihat oleh Sultan.


Sultan menelan salivanya, dia rindu kemolekan tubuh Clara, rasanya dia sudah tidak sabar ingin secepatnya kesana.


__ADS_2