
Elena terkulai, kakinya terjepit dan belum ada yang tahu bagaimana kondisinya sekarang.
Beberapa orang penduduk datang untuk membantu, mereka tidak bisa membuka pintu mobil agar bisa segera mengeluarkan Elena dari sana.
Satu orang di minta mencari alat yang bisa untuk menghancurkan kaca dan yang lain masih terus berusaha membuka pintu.
Air sudah menggenang di dalam mobil dan hampir sampai ke mulut Elena. Orang-orang yang melihatnya semakin panik, karena mereka belum juga berhasil membuka pintu mobil tersebut.
Saat seseorang datang membawa gancu, mereka pun segera menghancurkan kaca dan akhirnya beramai-ramai membantu mengeluarkan Elena dari sana.
Seorang warga mengecek kondisi Elena, dan dia berteriak jika korban masih hidup. Lalu yang lain membantu untuk menyadarkan Elena.
Elena terbatuk-batuk dan perlahan dia membuka mata. Samar-samar El melihat orang berkerumun dan dia mendengar orang ramai berbicara.
Elena berusaha untuk bangkit tapi tangan dan kakinya susah dan sakit untuk digerakkan, "Sabar Mbak, jangan dulu dipaksakan!" ucap seseorang terdengar di telinga Elena.
"Tolong Mas, aku mau mengambil tas yang ada di dalam mobil. Tas itu berisi berkas, amanah dari sahabatku! Aku tidak mau berkas itu rusak atau hilang!" pinta Elena.
"Sebentar Mbak, biar kami yang akan mencarinya. Mbak istirahat saja dulu!"
"Terimakasih ya Mas," ucap Elena.
Kemudian orang yang menolong Elena kembali masuk ke semak belukar menuju mobil Elena yang sudah setengah terendam air. Sudah bisa dipastikan, jika tas tempat berkas tersebut juga terendam.
Setelah mencari beberapa menit, orang tersebut menemukan tas yang Elena maksud dan ternyata benar, tas tersebut basah.
Tapi Elena bersyukur berkas-berkas itu masih utuh dan tidak terlampau basah karena Muti sebelumnya telah memasukkan berkas-berkas tersebut ke dalam plastik sebelum meletakkan di dalam tas.
Mas yang menolong Elena ikut senang, lalu beliau bertanya, "Mbak mau kami antar ke rumah sakit? Nampaknya kaki Mbak agak bermasalah?"
"Iya Mas, tapi sebentar. Tadi teman saya bilang sedang menyusul kesini."
"Oh, syukurlah Mbak."
"Mengenai mobil, minta bantuan derek aja Mbak, untuk mengeluarkannya dari tempat itu."
"Iya Mas."
Muti dan Adam sudah sampai di tempat tersebut. Melihat orang berkerumun, Muti segera berlari dan berkata, "Permisi, permisi Mas. Itu teman kami!" ucap Muti sambil menerobos kerumunan.
__ADS_1
"El, ya Allah El, bagaimana keadaan kamu?" tanya Muti sambil bersimpuh di rerumputan tempat Elena duduk.
"Mbak, untung saja El selamat Mbak. Semua berkat arahan Mas Adam dan mas-mas yang ada di sini."
"Syukurlah El, kamu tidak terlampau cidera," ucap Adam yang juga mendekat.
"Ini kaki kamu bengkak El!"
"Iya Mbak, terjepit jok. Lihat mobilku Mbak, terjerembab di sana! Syukur aja tidak ada korban," ucap Elena.
"Kamu korban masih bilang tidak ada korban!" ucap Muti sambil memeluk sahabatnya.
"Maksudku orang lain lho Mbak!"
"Oh ya Mbak, tapi aku minta maaf, berkas yang Mbak minta bawakan sedikit basah. Untung mas itu juga menemukan tas ini sebelum terlalu lama terendam air," ucap Elena lagi.
"Ngapain terlalu kamu pikirkan berkas itu El, yang terpenting kamunya selamat."
"Bagaimana kok bisa remnya blong, El? Memangnya sudah berapa lama mobil itu tidak kamu service kan? tanya Adam.
"Baru service kok Mas! Baru sekitar seminggu dan tadi pagi kami kendarai bersama Mbak Muti tidak ada masalah Mas!"
"Mbak, tolong beritahu ayah aku belum bisa ke kantor."
"Iya El, sekarang kita harus ke rumah sakit dulu. Lihat! kakimu makin membengkak," ucap Muti.
"Mbak, di sini ada tukang urut, kalau menurut saya lebih baik di urut dulu. Kaki Mbak ini tadi terjepit, jadi aku rasa ada urat yang selip, makanya membengkak," ucap orang yang menolong Elena.
"Iya benar Mbak," sahut penolong lain.
"Oh ya Mas, bisa tolong tunjukkan di mana rumah tukang urutnya? Biar kami bisa segera kesana."
"Ayo Mbak kami antar kesana!"
"Mut, kamu ikut mereka dulu, biar aku kabari Ayah serta hubungi mobil derek, nanti aku nyusul kalian!" pinta Adam.
"Ini pakai saja mobil ku untuk membawa Elena, kamu bisa nyetir 'kan?" tanya Adam.
"Bisa Mas," jawab Muti.
__ADS_1
"Dekat kok Mas rumah tukang urutnya, jalan kaki juga sampai," ucap Mas yang tadi menolong Elena.
"Iya Mas, tapi tidak mungkin kita menggendong Elena kesana," ucap Muti.
"Benar Mbak, soalnya kaki Mbak ini yang cidera."
"Ayo kita bantu dulu, agar Elena naik ke mobil," ucap Adam.
Adam di bantu warga menggotong Elena dan menaikkannya ke dalam mobil. Setelah itu Muti bersiap melajukan mobil membawa Elena ke rumah tukang urut.
Adam melihat mobil Elena yang meringsek dan tenggelam separuh di dalam air. Lalu dia menelepon derek dan menghubungi ayah.
Ayah yang sejak tadi sedang menunggu kedatangan Elena merasa terkejut dan beliau bertanya bagaimana kejadian yang sebenarnya.
Adam belum bisa menjelaskan karena dia sendiri masih menduga, jika rem mobil Elena blong, mungkin karena ada unsur kesengajaan pihak tertentu.
Kemudian ayah berkata bahwa sebentar lagi beliau akan kesana untuk menjemput Elena, biar mereka bisa pulang bareng. Jadi, Muti dan Adam bisa melanjutkan rencana pergi ke rumah Hendrawan.
Adam pun setuju dengan Ayah, karena menurut mereka apa yang sudah direncanakan jangan di tunda-tunda lagi.
Setelah menutup panggilannya, Adam segera menyusul Muti dan Elena ke rumah tukang urut. Dia berjalan kaki dengan ditemani salah satu warga yang masih ada di tempat kejadian.
Elena menjerit saat Mak ahli urut memegang kakinya. Kaki Elena, keduanya membengkak akibat terjepit. Tapi, Mak ahli urut mengatakan setelah di balur dengan minyak ramuannya, mudah-mudahan berangsur kempes bengkaknya dan rasa sakitnya akan berkurang.
Luka goresan kecil yang ada pada tangan serta kaki dan memar di kening, juga sekaligus di balur oleh Mak dengan ramuan yang terbuat dari tumbuhan-tumbuhan.
Sensasi dingin menjalar, hingga membuat rasa sakit perlahan hilang. Elena pun berterimakasih kepada Emak dan dua hari kedepan dia berjanji akan kembali ke rumah emak untuk memeriksakan perkembangan kesehatan kakinya.
Adam yang baru tiba di sana segera memberitahu Muti, jika ayah sedang dalam perjalanan untuk datang menjemput Elena.
Setelah Mak selesai mengobati Elena, Adam dan Muti mewakili Elena mengucapkan terimakasih dan memberikan sedikit uang kepada Mas yang menolong Elena dan juga kepada emak.
Awalnya mereka menolak, tapi karena Adam dan Muti memaksa, mereka akhirnya menerima dan kembali mengucapkan terimakasih.
Sambil menunggu ayah tiba, anak emak ahli urut pun menyuguhkan teh beserta cemilan dan mereka mempersilakan Adam, Muti, Elena beserta Mas yang menolong Elena untuk menikmati suguhan tersebut.
Setelah ayah tiba mereka pamit, ayah beserta Elena pulang ke rumah, sedangkan Adam dan Muti langsung berangkat ke rumah keluarga Hendrawan.
Selain mengembalikan aset, mereka sekaligus akan memberitahu Raja tentang kejadian yang menimpa Elena.
__ADS_1