
๐My Bipolar Boy๐
.
.
.
Akhirnya ujian nasional sudah terselesaikan semua oleh Cahya. Walupun Cahya masih sedikit dongkol dengan suaminya itu, lantaran tidak membiarkannya berlama - lama berdekatan dengan bukunya itu.
Kalian tahu, setelah berhasil mengerjai Bryan tadi, Cahya langsung bergegas menuju ke kelasnya. Tapi ternyata disusul oleh suaminya sendiri.
Ditambah lagi dengan tingkah iseng dari Bryan yang mengganggu aktivitas belajarnya Cahya. Sampai - sampai Cahya dibuat kesal dengan sang suami.
Untungnya begitu banyak siswa yang mulai berdatangan, membuat Bryan akhirnya luluh begitu disuruh untuk kembali ke ruangan ujiannya itu.
Ingatkah kalian, kalau Bryan dan Cahya tidak sekelas. Jadi tentu saja pas ujian berlangsung, keduanya bukan berada diruangan yang sama.
Cahya bisa menghembuskan napas lega, setelah berhasil keluar dari pintu ruangan ujiannya itu. Kini tanpa menunggu lama, Cahya langsung bergegas menuju ke arah gerbang sekolah.
Tentu saja untuk memenangkan tantangan yang di berikan oleh Bryan kemarin itu. Bahkan saat Cahya melewati ruang ujian Bryan, sekilas Cahya tidak melihat keberadaan suaminya itu ada di dalam ruangan ataupun diluar ruangan. Sebab beberapa siswa yang sekelas dengan Bryan sudah ada yang di luar ruangan, sama sepertinya.
Menyadari hal itu, tentu saja Cahya merasa was-was. Bagaimana kalau Bryan sudah lebih dulu sampai di gerbang sekolah.
Kalau itu terjadi, maka bisa dipastikan Cahya harus menuruti semua perkataan suaminya itu, tanpa terkecuali. Termasuk juga rencana liburan mereka berdua.
Napas Cahya terdengar tersengal, karena terlalu cepat berlari, bahkan Cahya tadi hampir saja menabrak salah satu siswa, karena terlalu bersemangat saat berlari, hingga lupa mengerem langkahnya sendiri.
Untung saja orang yang hampir dia tabrak tidak marah. Coba saja kalau marah. Bisa dipastikan Cahya akan jadi tontonan untuk para siswa disini.
Kini Cahya sudah berhasil keluar dari area tempat pembelajaran. Sebab saat ini, Cahya sudah berada di halaman depan dekat dengan pintu gerbang sekolahnya itu.
Tapi seseorang atau lebih tepatnya dua orang di samping pintu gerbang membuat kedua alis Cahya tertarik. Diperhatikan dari posisinya saat ini, Cahya merasa familiar dengan postur tubuh dari salah satu anak manusia beda gender itu.
"Sepertinya tidak asing. Mirip Bry..." Belum sempat gumanan itu terselesaikan, lebih dulu sosok yang dirasa familiar oleh Cahya itu menoleh kebelakang.
Hal itu tentu saja membuat Cahya bisa dengan mudah mengenali sang pemilik wajah, yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Dan yang lebih membuatnya terkejut adalah sosok di samping suaminya itu.
"Kenapa dia ada disini?" Batin Cahya tak menyangka kalau sosok gadis di samping Bryan itu ada di sini, di area sekolahannya.
Padahal Cahya tahu kalau jarak sekolahan ini dengan sekolahannya gadis itu terbilang cukup jauh.
Daripada makin penasaran, lebih baik Cahya menghampiri kedua anak manusia itu. Bryan menatap kearah istrinya yang kini mulai berjalan mendekat ke arahnya itu.
Merasa tak ditanggapi membuat gadis yang tadi mengajak bicara Bryan itu, menoleh mencari sumber dari arah tatapannya cowok yang sedang ia taksir.
Dan didepan sana, terlihat seorang gadis yang mungkin amat sangat tidak disukainya itu berjalan kearah mereka berdua. Dengusan kesal itu lolos dari sosok di samping Bryan itu. Tapi Bryan sama sekali tidak mengubrisnya.
Akhirnya Cahya sampai didepan kedua orang ini. Diperhatikannya raut dari orang yang entah kenapa tampak sangat tidak suka padanya itu. Padahal Cahya merasa tidak pernah membuat gara-gara dengan gadis itu.
Malah dia yang sering membuat perkara dengan Cahya.
"Hai, apa aku menganggu?" Pertanyaan itu dibalas anggukan dan gelengan dari keduanya. Si pria yang mengeleng, sedangkan di cewek mengangguk.
Tapi Cahya tak ambil pusing tentang respon anggukan itu. Lagipula kalaupun kehadirannya itu menganggu si cewek tadi. Setidaknya Cahya tidak menganggu si pria tadi.
"Ooh, ya. Bukannya sekolahmu lumayan jauh dari sini, ya?" Pertanyaan retoris itu keluar dari celah bibir Cahya.
Lagi dan lagi, Cewek tadi mendengus mendengar pertanyaan itu. Dia kemari itu ingin bertemu dengan cowok yang ia taksir yang tak lain adalah si Bryan, suaminya Cahya.
Tapi kenapa Cahya mengganggunya untuk melancarkan aksinya dalam mendekati Bryan.
Sambil menatap Cahya sinis, Viona si cewek tadi langsung membalas pertanyaan Cahya tadi dengan nada sinis, "Memang tidak boleh aku kesini. Lagipula sekolahan ini kan bukan punyamu!"
Ada nada gertakan di ujung kalimat yang tadi dikeluarkan oleh Viona itu.
Ooh, ya tentu kalian masih ingat siapa itu Viona, kan. Kalau lupa aku akan ingatkan lagi. Si Viona ini adalah captain cheerleaders dari sekolah sebelah yang pernah terlibat cek - cok dengan Cahya beberapa hari yang lalu.
Kejadian di Gor itu loh.
Balik lagi ke cerita..
Cahya hanya menatap sebentar kearah Viona sebelum mengalihkan pandangannya kearah Bryan.
"Kau masih mau disini atau pulang ke rumah." Pertanyaan itu membuat Viona menatap kesal kearah Cahya.
"Kalau kau mau pulang. Pulang sama! Ngapain ngajak - ngajak dia." Ujar Viona sambil maju selangkah ke arah Cahya.
Bisa dibilang posisi Viona saat ini adalah menutupi posisi Bryan dari arah pandang Cahya. Ya, walaupun tidak tertutup sempurna, karena jelas Bryan lebih tinggi daripada kedua gadis ini.
"Aku bukan bertanya padamu. Lantas kenapa kau menjawabnya." Sebenarnya Cahya tidak ingin meladeni Viona ini.
__ADS_1
Tapi Cahya agak terganggu dengan tatapan yang dilayangkan Viona padanya itu. Tatapan seperti kesal, marah, sinis dan lain sebagainya. Yang jelas bukan tatapan yang ingin di dapatinya itu.
"Kau ini!" Geram Viona sambil menatap tajam kearah Cahya. "Kenapa sih kau selalu mengangguku? Kau iri denganku, huh?"
"Iri? Kata siapa aku itu dengamu. Lagipula bukannya kebalik, ya. Bukannya kau duluan yang sering cari perkara denganku, bahkan dengan teman - temanku." Ucapan itu kembali menyulut api kemarahan diri Viona.
Tanpa diduga, Viona langsung melayangkan tangannya kearah Cahya.
Plak
Bunyi itu terdengar keras bahkan beberapa siswa sekolah yang tadinya sudah melewati ketiganya kini menatap kearah mereka penasaran.
Penasaran akibat sumber suara itu berasal.
Bahkan ada beberapa siswi yang memekik begitu melihat secara langsung adegan penamparan itu berlangsung.
Kepala Cahya sedikit tertoleh kearah kanan, begitu pipi kirinya terkena tamparan dari tangan Viona tadi. Belum sempat Cahya merespon adegan tadi, sebuah suara mulai terdengar dan jangan lupakan ada nada marah di setiap ucapannya itu.
"Apa yang kau lakukan!" Ucapan itu berasal dari mulut Bryan begitu melihat istrinya sendiri ditampar di depan matanya langsung.
Sreet
Bryan langsung mendorong Viona untuk menjauhkannya dari Cahyanya itu.
"Beraninya kau menampar tunanganku!" Ucapan itu membuat beberapa orang disana kaget. Bahkan mungkin Viona adalah orang yang paling kaget saat mendengar perkataan itu.
Apalagi ucapan itu terlontar langsung dari mulut cowok yang ia taksir.
"Ti..tidak Mungkin.. Kau pasti bohong." Sungguh Viona tidak menyangka kalau cowok yang ia sukai itu sudah memiliki tunangan. Terlebih tunangannya itu adalah gadis yang barusan ia tampar.
Sepertinya karma datang begitu cepat, ya.
"Ini tidak mungkin! Pasti ini rekayasa. Kau tidak mungkin bertunangan dengan dia!" Tunjuk Viona kearah Cahya.
Kini ketiga orang tadi sudah menjadi pusat perhatian. Sebab akibat adegan penamparan tadi serta sosok Bryan yang memegang sudah terkenal di sekolahan ini.
"Apanya yang tidak mungkin!." Sentak Bryan yang tidak terima akan perkataan Viona tadi.
Kini Viona menatap lurus kearah Bryan. "Dia tidak pantas menjadi tunanganmu. Lihatlah, dia tidak cantik ataupun modis. Dia hanya gadis biasa yang tak memiliki kelebihan."
Semua siswa yang menonton adegan itu, merasa kalau Viona mencari masalah dengan orang yang salah. Kalian tentu saja tidak lupa, kan siapa itu Bryan. Dan apa posisinya di sekolah ini.
Dan sekarang lihatlah, Viona dengan beraninya berbicara begitu didepan Bryan, yang tadi mengakui Cahya sebagai tunangannya.
"Semoga saja dia selamat." Itulah yang ada di pikiran para siswa yang masih asyik menonton adegan ketiga orang ini.
"Jangan berani kau menjelekkan tungananku, apalagi di hadapanku seperti ini. Karena kau pasti tidak ingin terjadi hal buruk padamu, kan!" Ancaman itu memang terdengar pelan, tapi penuh akan ancaman didalamnya.
Cahya yang merasakan kalau Bryan sudah dalam mode marah pun, segera menarik pelan tangan suaminya itu. "Bryan, sudahlah. Lebih baik sekarang kita pulang saja."
Sejujurnya Cahya tidak ingin lebih lama menjadi tontonan banyak orang seperti sekarang ini. Disamping itu, Cahya juga tidak ingin kalau Bryan di cap jelek oleh orang - orang yang masih setia menonton adegan mereka bertiga itu.
Dan, ya. Secara tidak langsung Cahya ingin melindungi Viona dari amukan Bryan, yang bisa saja meledak kapan saja bagai bom waktu.
Dengan sedikit menarik paksa tangan Bryan, Cahya kembali berseru agar Bryan mau ikut pulang dengannya. "Ayo pulang. Kalau kau tidak mau, tantangan waktu itu kita batalkan saja. Dan kita tidak usah pergi kemana - mana."
Bukan salah Cahya, kenapa dirinya berani mengancam sang suami, tapi ini dia lakukan untuk mencegah terjadinya masalah yang akan berbuntut panjang itu.
Lagipula Cahya juga sudah risih di lihatin begitu belum lagi Cahya bisa melihat beberapa guru yang ikut menonton adegan ketiganya itu.
Huft
Cahya menghembuskan napas berat, kala Bryan sama sekali tidak mau beranjak dari posisinya tadi. Ditambah lagi tatapan dingin yang masih setiaย
Bryan lemparkan untuk Viona itu.
Cara satu satunya untuk membuat Bryan menuruti perkataan adalah dengan,
"Bryan sayang, sekarang kita pulang, ya." Ucap Cahya lembut sambil menarik pelan tangan suaminya itu.
Bryan terpaksa menyudahi aksinya itu kemudian berbalik menatap kearah Cahya yang kini juga menatapnya itu.
Melihat pandangan Cahya padanya disertai senyuman itu membuat Bryan akhirnya luluh. Dirinya pun mengangguk sebagai respon atas ajakan Cahya tadi.
Tapi sebelum melangkah. Bryan lebih dulu menatap kearah Viona. "Ingat perkataan baik - baik diotakmu itu." Ucapnya disertai tatapan tajam sebelum mengikuti langkah istrinya itu.
Viona yang ditinggal pun kini semakin mempertajam pandangan. Dilayangkannya tatapan tajam dan amarah yang meledak - ledak itu kearah Cahya yang sudah di gandeng oleh Bryan.
"Awas saja kau, Cahya. Aku pasti akan membalasmu." Ucapannya disertai senyum miring di bibirnya.
Sebelum pergi dari sana, Viona menatap marah Ke arah orang - orang yang secara terang - terang tengah menatapnya itu. "Apa lihat - lihat. Mau gue colok itu mata." Ujarnya sambil melangkah menuju ke mobilnya yang memang terparkir tak jauh dari gerbang sekolah.
Kepergian Viona disertai teriak 'Huu' dari beberapa orang sebagai bentuk respon dari perkataan Viona tadi.
__ADS_1
โ๐โ๐โ๐โ
Kini mobil yang ditumpangi oleh Bryan dan Cahya sudah membelah jalanan kota dengan kecepatan yang lumayan agak tinggi.
Bahkan Cahya sambil berpegangan kuat pada jok mobil yang sedang ia duduki itu. "Bryan, apa yang kau lakukan. Turunkan kecepatannya." Perkataan Cahya sama sekali tidak digubris oleh Bryan.
"Bryan!" Akhirnya Cahya berani membentak Bryan karena ulah yang dilakukan oleh suaminya itu bisa saja membahayakan meraka dan Juga orang lain.
Mendengar nada bentakan yang muncul dari mulut Cahya membuat Bryan langsung menoleh. "Apa?"
Setelahnya Bryan kembali menatap kearah depan dengan tangan kanan menggenggam erat setir mobilnya itu.
"Jangan seperti ini, Bryan. Tolong kurangi kecepatannya. Aku tida ingin kita membahayakan diri kita sendiri maupun orang lain." Ucapan dari Cahya sepertinya masuk kuping kanan lalu keluar kuping kiri.
Dalam artian tidak dihiraukan sama sekali.
Menyadari kalau perkataannya tidak berpengaruh, membuat Cahya memikirkan cara untuk menghentikan aksi nekat yang dilakukan oleh suaminya itu.
Hello, ini bukan sirkuit yang dengan seenaknya kalian bisa main kebut - kebutan. Ini itu di jalanan, masih banyak kendaraan yang berlalu lalang. Kalau terjadi kesalahan sedikit saja, maka efeknya akan sangat fatal.
Otak Cahya blank memikirkan bagiamana menghentikan aksi nekat yang tengah di lakukan oleh Bryan diatas aspal jalanan ini.
Dengan tangan gemetaran, Cahya mulai menggapai tangan kiri Bryan yang berada diatas persneling. Diraihnya kemudian dia genggam agar setidaknya bisa mengurangi rasa amarah dalam diri Bryan itu.
"Ku mohon Bryan. Jangan seperti ini. Tolong redakan emosimu, jangan lakukan hal nekat seperti ini." Cahya menatap lurus kearah Bryan yang kini mulai menatapnya.
Ajaibnya,
Secara perlahan laju mobil yang dikendarai oleh Bryan menurun secara konstan. Mungkin yang tadinya hampir mencapai garis 110 km/jam kini menjadi 90 km/jam. Dan kembali menurun menjadi 70 km/jam dan berakhir diangka 60 km/jam.
Cahya bisa bernapas lega begitu merasakan kalau laju mobil yang ditumpanginya itu mulai berangsur pelan. Ya, walaupun tidak bisa dibilang pelan juga, tapi setidaknya tidak secepat seperti yang tadi.
Cahya terus berucap syukur didalam hatinya begitu sudah keluar dari jalur yang agak padat kendaraan. Karena mobil mereka itu sudah bergerak ke ayah basement apartemen.
Untungnya lagi, tuhan masih berbaik hati dengan memberikan kesempatan bagi keduanya tuk menyambung hidup mereka.
Mesin mobil telah dimatikan oleh Bryan begitu mobil tersebut telah terparkir sempurna di basement apartemen. Tapi taufan tangan itu masih belum terlepas juga, walaupun saat ini keadaanya sudah lebih baik daripada yang tadi.
"Jangan diulangi lagi, ya." Perkataan Cahya hanya diangguki pelan oleh Bryan. Walaupun pelan, setidaknya Cahya merasa bersyukur setidaknya Bryan masih mau mendengarkan apa perkataannya itu.
Cahya yang ingin melepaskan tautan tangan mereka karena mereka berdua sudah sampai itupun tidak jadi terlaksana. Karena bukanya terlepas, tautan itu malah semakin mengerat.
"Kenapa?" Cahya menatap kearah Bryan dengan alis terangkat satu.
Bukannya menjawab, Bryan malah mendekatkan wajahnya kearah istrinya itu. Belum sempat Cahya kembali bertanya. Lebih dulu Cahya merasakan kecupan di pipi sebelah kirinya itu.
Cahya terbengong begitu mendapatkan aksi yang tak dia duga itu. "Br..yan." Dengan terbata Cahya kemudian menatap kearah Bryan.
"Maaf karena tidak sempat menolongmu dari tamparan itu." Akhirht Cahya tahu alasan kenapa suaminya itu tiba - tiba mencium pipi kirinya, yang mana pipi itulah yang tadi terkena tamparan.
Aksi manis disertai ungkapan maaf itu membuat hati Cahya tersentuh sekaligus berbunga -bunga dalam waktu bersamaan.
"Tidak apa, lagipula itu juga bukan salahmu. Mungkin karena aku juga tidak sempat menghindar jadi kena deh." Cahya berusaha membuat suasana mencari dengan joke recehnya itu.
Tapi itu belum berhasil, sebab Cahya masih bisa melihat tatapan bersalah pada kedua mata milik suaminya itu.
"Bryanku sayang. Ini bukan salahmu. Lagipula kamu jangan merasa bersalah begitu. Aku jadi sedih, kan. Pipiku juga sudah tidak sakit lagi karena baru saja mendapat kecupan dari pangeran tampan."
Bryan menatap dalam kearah mata Cahya, berusaha mencari kebohongan dari perkataan Cahya tadi. Tapi tidak ada kebohongan yang Bryan temukan membuat dirinya merasa lega.
"Terimakasih." Ucapan tulus itu kembali membuat hati Cahya berdesir mendengarnya.
Cahya tersenyum manis, "Sama -sama." Balasan itu mengakhiri penyesalan yang sempat melanda hati Bryan itu.
โ๐โ๐โ
.
.
.
๐My Bipolar Boy๐
Terimakasih Sudah Berkunjung Sampai Sejauh Ini๐๐. Dan kalau bisa, dengarkan juga dari versi audionya, ya๐.
Maaf kalau aku jarang Up, sebab masih dalam keadaan mengerjakan ujian akhir. Jadi belum bisa sering - sering Up.
Mohon untuk memakluminya๐๐
.......
Sampai jumpa lagi๐๐
__ADS_1