My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
71. Permintaan Sang Putra


__ADS_3

Previous Chapter


**Kedua pasang pasutri itupun kembali melanjutkan obrolan. Tapi kali ini lebih santai dibandingkan yang tadi. Bahkan tak jarang keempatnya tertawa bersama dan sikap seolah sudah lama kenal. Padahal faktanya, 2 pasutri ini baru pertama kali bertemu.


💞M.B.B💞**


Flashback On


Seorang pengendara motor tengah melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata rata. Bahkan sesekali ia mengumpat kasar begitu mengingat kejadian tadi.


Bahkan ia tak memperdulikan protesan dari pengendara lain yang hampir saja ia serempet. Sungguh saat ini orang itu tampak seperti orang kesetanan.


Hanya satu yang diperlukan saat ini, yaitu mandi air dingin atau korban pelampiasan amarahnya. Tapi logikanya masih berjalan, jadi ia tidak akan mungkin memilih opsi yang kedua.


Tak sampai 10 menit, dirinya sudah sampai di perkomplekan rumahnya. Bahkan ia tak memperdulikan suara motornya yang sejak dijalanan tadi sengaja ia dibunyikan keras keras. Seolah menyalurkan kemarahan yang hinggap di hatinya.


Pintu gerbang rumahnya sudah terlihat oleh kedua matanya. Begitu sampai didepan gerbang, ia langsung membunyikan klakson motornya membuat satpam yang berjaga segera membuka pintu karena mereka tahu betul suara deru motor siapa itu.


Makanya daripada membuat amarah tuan mudanya naik, lebih baik sang satpam langsung membukakan pintu gerbang. Daripada dirinya dipecat kalau sampai membuat tuan mudanya itu makin marah.


Si pengendara tadi segera melajukan motornya begitu pintu gerbang dibuka. Bahkan ia tak repot repot menyapa satpam rumahnya itu.


Setelah sampai di teras rumahnya, ia langsung mematikan motornya dan langsung masuk kedalam rumah. Bahkan tak memperdulikan motornya yang terparkir begitu saja di depan teras rumahnya.


Ternyata pintu rumah tidak dikunci membuat si pengendara langsung masuk bahkan tanpa salam sama sekali. Tapi begitu langkahnya sampai di ruang santai, seruan seseorang menghentikan langkahnya.


"Vino, kau sudah pulang." Si pengendara tadi tak menjawab, ia hanya berlalu begitu saja. Sedangkan si pemanggil tadi menatap bingung putranya itu. Tapi melihat gelagat sang putra membuat si pemanggil dapat menyimpulkan satu hal.


"Dia pasti Bryan." Itulah yang dipikirkan oleh Irena begitu melihat anaknya sudah menghilang dari atas tangga.


Yap, si pengendara tadi adalah si Bryan.


Bryan kini telah berada dikamarnya. Ia langsung membanting tas sekolahnya begitu saja diatas kasur.


"Argh..Sial!" Umpatnya tak memperdulikan apakah ada yang mendengarnya. Toh kamarnya memang di desain kedap suara, jadi tidak masalah dia mau marah marah atau tidak. Toh tidak akan ada yang mendengarnya.


"Kenapa dia diam saja. Kenapa tidak membantah ucapan teman temannya itu! Argh!!!" Bryan nampak sangat marah sekali. Bahkan kejadian tadi masih terus berputar di dalam ingatannya.


Dimana tadi ia melihat sendiri Cahya digoda teman temannya mengenai hubungannya dengan entah siapa itu. Yang pasti Bryan tidak suka Cahya dekat dekat dengan pria lain selain dirinya.


Sepintas ingatan tentang kejadian tadi terngiang dipikirkannya.


"*Kalian berdua cocok, kenapa tidak jadian saja?"


"Iya, kalau kalian jadian. Pasti kalian dinobatkan sebagai pasangan paling hits angkatan tahun ini"


"Iya. Apalagi kalau sampai menikah, Uhh anak anak kalian pasti lucu lucu."

__ADS_1


"Tampan kyk ayahnya, cantik mirip ibunya😍."


"Jadian gih, biar nanti kalian jadi pasangan Ketua Volley SNB."


"Dan para tim mading akan merilis berita 'Ketua Volley Putra dan Ketua Volley Putri Sma Nusa Bangsa telah Resmi Jadian' keren bgt kalau sampai kejadian😍*."


Cahya nampak tak menolak tapi tak juga mengiyakan. Dirinya hanya tersenyum tipis, membuat sorakan Cie Cie mengalun lebih keras.


Respon itulah yang membuat Bryan memilih meninggalkan tempat persembunyiannya dan memilih pulang ke rumahnya.


"ARGH!!!!"


Pyar


Sebuah Vas bunga baru saja menghantam permukaan lantai membuat Vas cantik itu sudah tak berbentuk lagi. Sungguh, amarah Bryan kali meledak dengan sempurna. Belum pernah ia semarah ini. Bahkan rasanya dulu tidak sampai sesesak ini.


"Awas saja kalau ada yang berani macam macam. Akan aku habisi!!" Tatapan mata Bryan menajam beberapa kali lipat dari biasanya.


Membuat siap saja yang melihatnya berpikir ratusan kali untuk membuat masalah dengannya.


***


Kini ibu dan anak tengah berada di ruang santai. Si anak baru saja keluar dari kamarnya setelah hampir 1 jam berdiam diri didalam kamar.


"Kenapa?" Irena merasa ada yang aneh dari tatapan sang anak. Seperti ada sesuatu yang begitu besar diinginkannya, tersirat dari bola mata milik putranya itu.


Bahkan tanpa basa basi, Bryan mengucapkan kata kata yang membuat Irena terkejut. "Aku ingin pernikahanku dengan Cahya dipercepat, Ma."


Irena menatap tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut putra tunggalnya itu. Bisa dikatakan ia sangat shock. Ia bahkan tak menyangka kalau putranya akan mengatakan hal seperti barusan.


"Tadi kau bicara apa, nak?"


Bryan masih menatap kearah ibunya. Kemudian mengulang lagi kata kata yang sama dengan yang tadi.


"Aku ingin pernikahanku dengan Cahya dipercepat, Ma."


"Beneran?" Irena menatap putranya dengan serius. Bryan mengangguk, menandakan ia sangat serius dengan apa yang diinginkannya itu.


"Tapi kenapa tiba tiba? Memang ada apa?" Bryan tak menjawab. Lebih memilih tak memberitahukan alasan sebenarnya kenapa ia ingin mempercepat pernikahannya itu.


"Bryan ingin mama dan papa melamar Cahya untuk Bryan." Ada nada tegas yang begitu ketara di dalam ucapan Bryan itu membuat Irena menghembuskan nafas sebentar.


"Baiklah, nanti mama akan bicarakan dengan papa. Jadi kau maunya pernikahannya kapan?"


"1 Bulan lagi"


"Apa?"

__ADS_1


Irena kembali terkejut mendengar penuturan putranya itu.


"Tapi. Bryan masa 1 bulan. Apa nggak kecepetan?"


"3 Minggu"


Loh bukannya tadi Irena minta diundur bukan di majuin.


"Masih kecepatan, Bryan. Gimana kalau 2 bul.." Belum selesai ibunya bicara, Bryan kembali memotongnya


"2 Minggu"


"Tap.."


Irena menatap sang putra dengan wajah syoknya. Bahkan dirinya belum selesai bicara, Bryan sudah kembali memotongnya lagi.


"Satu Mi..." Belum selesai bicara, Irena lebih dulu memotongnya.


"Oke, nanti mama akan bilang sama papa dulu. Perihal tanggal kita cari tanggal yang pas, ya."


Kalau Irena tidak segera memotong perkataan itu, bisa bisa besok Bryan minta langsung nikah.


Rasanya kepala Irena berdenyut begitu mendengar permintaan putra semata wayangnya itu. Bisa bisanya Bryan minta sesuatu yang membuat dirinya pusing 7 keliling itu.


Diluaran sana apalagi yang seusia dengan Bryan mungkin mentok minta motor, minta tambahan uang saku, minta handphone baru. Lah ini minta nikah, siapa yang tidak pusing dimintai begituan?.


Untung saja Bryan sudah ada calon, coba kalau belum ada. Mau cariin dimana?


"Kalau begitu Bryan pergi dulu." Begitu mencium pipi kanan sang ibu, Bryan langsung saja bergegas pergi.


Senyumannya makin melebar begitu mendengar persetujuan ibunya atas permintaannya tadi. Sikapnya berbeda sekali dengan yang tadi.


**Flashback Off


...Perhatian...


Uluh uluh, yang minta nikah😍**.


***Up💞


Hallo Ya


Masih setia baca M.B.B kan?


Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Budayakan vote setelah selesai baca, ya😊


🍁Terimakasih🍁

__ADS_1


😍😇😍***


__ADS_2