My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
104. Perjalanan Karya Wisata


__ADS_3

๐ŸMy Bipolar Boy๐Ÿ


.


.


.


.


Tepat hari ini, karya wisata akan dilaksanakan. Dan terlihat di beberapa titik lokasi, sudah banyak anak kelas 12 yang tengah menunggu kedatangan Bis yang akan membawa mereka menuju ke lokasi karya wisata.


Beberapa tatapan iri dilayangkan oleh para adik kelas yang melihat kakak kelas mereka yang sebentar lagi akan melalukan karya wisata.


Kan, mereka juga pengen.


Beberapa Guru yang ikut mendampingi pun juga sudah hadir di sekolah. Padahal jam masih menunjukan pukul 06.35. Mungkin jika dihitung rata - rata, banyak guru yang ikut dalam karya wisata tahun ini.


Tahun sebelumnya bahkan hanya 8 orang guru yang mendampingi kegiatan karya wisata itu. Tapi tahun ini, mencetak paling banyak pendamping dari tahun - tahun sebelumnya yaitu sebanyak 25 guru.


Kalian mau tahu alasanya? Sebab karya wisata tahun ini tidak di kenai biaya akomodasi sepeserpun dari pihak sekolah. Makanya banyak guru yang ikut. Alasanya kenapa dibuat gratis? Sebab, sang kepala sekolah alias Om Bram yang menanggung semua biaya akomodasinya serta tempat penginapannya.


Tapi tetap, untuk uang saku itu urusan masing - masing. Ya, kali harus Om Bram juga yang modalin.


Tekor bandar atuh kalau gitu๐Ÿ˜„..


Saat diberitahu kalau karya wisata tahun ini gratis, para siswa kelas 12 bersorak gembira. Setidaknya uang ongkos transportasi bisa mereka gunakan untuk keperluan lain.


Karena hal itulah yang membuat para adik kelas menjadi iri dan pengen ikutan. Gimana nggak iri, pengeluaran untuk biaya karya wisata tahun lalu saja setara dengan satu unit motor baru.


Wow sekali kan๐Ÿ˜


Sudah kebayang gimana pengeluaran om Bram untuk menanggung biaya semuanya? Total murid kelas 12 itu sekitar 275 orang, ditambah dengan 25 guru. Jadi totalnya ada 300 ditambah dirinya di kali harga satu unit motor baru.


Mari berhitung kawan - kawan.


.


.


.


Oke, balik lagi ke cerita๐Ÿ˜‰


Tepat dimenit ke 58, 5 bus sudah sampai di depan halaman sekolah. Semua murid yang ikut dalam karya wisata ini sudah tak sabar untuk segera berangkat.


Tapi pengumuman yang baru saja di serukan oleh kepala sekolah membuat para siswa mulai berbondong - bondong kearah aula begitupun dengan Bryan dan Cahya.


Keduanya sudah tiba di menit ke 24 setelah pukul 6 itu. Tadi mereka menuju ke kantin sebentar untuk memesan minuman hangat.


Untuk pakaian kelas 12 sendiri sudah bebas, artinya bukan lagi seragam sekolah. Dan kini pakaian Bryan dan Cahya itu serupa alias baju couple.


Walaupun kemarin gagal membeli baju couple, tapi bukan Bryan namanya kalau tidak bisa membeli baju couple seperti ini. Tak tanggung - tanggung. Bryan langsung membelikan selusin baju couple dengan beragam warna dan mode untuk ia kenakan kembaran dengan Cahya itu.


Bahkan sejak tadi, tak hentinya keduanya di perhatikan oleh para siswa akibat baju couple mereka itu.


Gimana tidak jadi pusat perhatian, kalau tulisan di kaos mereka itu Milik Bryan dan Milik Cahya.


Jadi kaos Cahya itu bertuliskan 'Milik Bryan' sedangkan di kaos Bryan bertuliskan 'Milik Cahya'.


Dan para siswa yakin kalau Bryan dan Cahya terlibat dalam sesuatu hubungan asmara. Tidak mungkin kalau keduanya tidak terlibat dalam hal percintaan. Pakaian yang mereka kenakan saja sudah menjelaskan hubungan keduanya.


Sungguh pasangan yang Uwu, sekaligus bikin iri banyak orang. Itulah yang dipikirkan oleh para siswa yang melihat kedekatan dan kemesraan diantara Cahya dan Bryan.


Kini keduanya baru sampai di aula. Om Bram yang melihat kehadiran Bryan dan Cahya segera membuka suaranya.

__ADS_1


"Baiklah, saya tidak akan bicara panjang lebar disini. Karena saya tahu kalau kalian semua pasti sudah tidak sabar untuk berangkat, kan." Ucapan itu diangguki oleh semuanya termasuk juga Cahya.


Cahya sungguh senang kalau ada event seperti ini. Tapi di satu sisi, dia merindukan semua sahabatnya di sekolah lamanya. Untungnya, karya wisata seperti ini diadakan ketika dirinya masih ada di sekolah tersebut.


Jadi, rasa rindunya akan liburan bareng para sahabatnya sedikit terobati. Apalagi saat ini dia sudah memiliki suami yang sangat baik dan menyayanginya itu.


"Oke, kalian bisa segera menuju ke bus sesuai dengan penentuan posisi bus dan tempat duduk yang sudah diatur. Jadi tidak ada yang boleh menolaknya. Kalian mengerti?" Pertanyaan itu mendapat desakan kecewa dari beberapa murid.


Dalam batinan mereka semua 'Kenapa pakai diatur segala sih.' Itulah yang ada di benak mereka.


"Sebelum berangkat, kita berdoa dulu untuk keselamatan kita semua. Berdoa menurut kepercayaan masing - masing, dimulai." Semua murid mulai menundukkan kepalanya untuk berdoa.


"Berdoa selesai. Kalian semua berkumpul dengan rekan sekelas kalian masing - masing. Untuk pembagian bus, kalian bisa menemui wali kelas kalian."


"Saya tutup pertemuan ini dengan mengucap Alhamdulillah." Setelah mengatakan hal itu, para siswa mulai membubarkan diri menuju ke halaman sekolah untuk menaiki bus yang sudah di tentukan oleh pihak sekolah.


Setelah mengetahui dimana posisi duduk mereka, semuanya mulai menaiki bus yang telah di sediakan. Tapi di bus no 1 ada sedikit keributan.


Keributan yang dibuat oleh Bryan begitu tahu kalau dirinya tidak sekursi dengan Cahya. Memang sudah aturan dari tahun - tahun sebelumnya, kalau satu bangku itu harus ditempati oleh satu gender yang sama.


Tapi nampaknya Bryan tidak senang akan hal itu. Makanya saat ini dia sedang melakukan protes kepada wali kelasnya itu.


"Bu, saya itu maunya duduk sama Cahya. Bukan dengan orang lain." Ucap Bryan yang kini masih berada di samping Bus.


Tanpa Bryan sadari, dia sudah menjadi pusat perhatian dari para siswa di bus no.1 dan bus no.2. Karena posisi Bryan saat ini berada di tengah - tengah bus itu.


Cahya memegang tangan Bryan untuk menetralisir kekesalan Bryan saat ini. Sejujurnya dia tidak masalah dengan posisi duduknya yang telah diatur itu. Mau dengan siapapun asalkan masih satu gender dengannya.


Tapi sepertinya Bryan tidak sepemikiran dengannya. Makanya saat ini dia sedang melakukan protes. Seolah mengetahui kalau keponakannya itu akan melalukan protes, Bram langsung melerainya.


"Ada apaย  ini?" Wali kelas Bryan segera menjelaskan permasalahan yang sedang terjadi. Sepenangkapan Bram, akhirnya dia paham kalau keponakannya itu tidak ingin jauh - jauh dari Cahya.


Dengan menghela napas pelan, Bram mulai membuka suaranya lagi. "Kenapa tidak kau turuti saja aturan yang ada, Bryan. Ini memang sudah ketentuan dari pihak sekolah terkait penempatan tempat duduk." Ujar Bram sambil menatap sang keponakan.


Bryan mendengus sebal begitu mendengar perkataan dari omnya itu. "Baiklah, kalau memang tidak bisa dirubah. Maka aku dan Cahya tidak jadi ikut." Ucap Bryan final.


Sambil menghela napas, akhirnya Bram menyetujui kalau Bryan duduk dengan Cahya. "Baiklah, kau boleh duduk dengan Cahya. Sudah naik sana, kita akan segera berangkat." Ucapan itu membuat Bryan mengembangkan senyumannya.


Tanpa pamit, Bryan langsung menarik tangan Cahya dan membawanya menuju ke bus no.1, padahal seharusnya Cahya itu naik ke bus no.2.


"Tapi, pak.." belum sempat wali kelasnya Bryan itu bicara, Bram sudah memotongnya. "Tidak apa - apa, bu. Lagipula mereka itu sudah bertunangan. Dan lagian ini tadi dengar kan kalau dia tidak ikut kalau tidak sekursi dengan Cahya."


"Biarkan saja, nanti saya juga akan naik ke bus no.1 untuk mengawasi mereka secara langsung." Mendengar jawaban itu membuat wali kelas Bryan menganggukkan kepalanya mengerti.


Kini secara perlahan kelima Bus itu mulai meninggalkan area sekolah untuk menuju ke lokasi karya wisata itu berada. Dan benar saja, Bram saat ini duduk tepat di samping kursi Bryan dan Cahya.


Jadi setiap tempat duduk itu berisikan 2 jok kursi. Dan ada sekitar 65 jok kursi termasuk juga jok kursi supir.


Tapi om Bram menempati 2 jok kursi untuk dirinya sendiri. Sebenarnya dia bisa aja berangkat menggunakan mobil pribadi, tapi dia tidak ingin lengah dalam mengawasi Bryan. Bisa saja dia tidak jadi ikut dan pergi begitu saja dengan Cahya.


Kalau itu sampai terjadi, gagal sudah rencananya yang telah dia susun itu. Sedangkan Bryan sama sekali tidak menghiraukan keberadaan omnya itu. Dia asyik mengobrol dengan Cahya.


Bahkan sesekali dia menggoda Cahya dengan memainkan pipi tembem istrinya itu. "Bryan, jangan usil deh." Ucap Cahya yang saat ini tengah memainkan game di ponsel Bryan.


Sejak semalam Cahya mulai menyukai game yang tengah dia mainkan ini. Semalam dia iseng memainkan ponsel Bryan, begitu melihat ada game yang menarik perhatiannya, makanya Cahya mencobanya dan ketagihan sampai sekarang.


Bryan mencubit pelan hidung Cahya karena merasa diabaikan oleh sang istri itu. Cahya tak.memgubrisnya karena larut dalam game yang ia mainkan itu.


Tapi tuntutan itu bertambah keras membuat Cahya meringis pelan. "Aww Sakit, Bryan." Ucap Cahya sambil mengusap pelan hidungnya itu.


Bryan terkekeh pelan, ditariknya kepala Cahya untuk bersandar di dada bidangnya itu. Cahya tak protes, dia malah merasa nyaman dengan posisinya saat ini.


Tapi keromantisan mereka agak terganggu dengan deheman dari arah samping mereka itu. Bisa ditebak, kan. Siapa pemilik deheman itu.


Siapa lagi kalau bukan Bram, dia sejak tadi memperhatikan tingkah keponakannya itu. Mungkin kalau saat ini dia sedang dirumah, akan Bram jitak itu kepala Bryan.

__ADS_1


Sayang sekali niatan itu tidak bisa segera Bram realisasikan. Kalau seandainya dia benaran jitak Bryan disini, yang ada malah akan menimbulkan keributan. Dan imagenya sebagai kepala sekolah yang berwibawa akan luntur seketika.


Bryan membalas tatapan omnya itu dengan alis terangkat, seolah menanyakan 'Ada masalah?' kepada omnya itu.


"Duduk dengan benar, jangan gunakan ini sebagai kesempatan dalam kesempitan." Ucapnya pelan, bahkan mungkin tak banyak yang mendengar ucapan Bram karena bisingnya suara para siswa di depan dan dibelakang tempat duduk mereka.


Belum sempat Bryan membalas ucapan itu. Suara wali kelasnya sudah lebih dulu terdengar. "Baiklah anak - anak. Mohon duduk ditempat kalian masing - masing. Kita akan segera berangkat menuju ke lokasi karya wisata." Ucapan itu dibalas anggukan oleh hampir semua murid yang ada di bus no.1 itu.


Tak begitu lama, mulai terdengar suara musik yang baru saja di putar oleh sang supir bus. Semua murid sudah larut dalam kegiatan mereka masing - masing.


Ada yang saling mengobrol, ada yang ikutan nyanyi, pokoknya suasanya agak ramai, terutama para murid di bagian kursi jok belakang, yang mana lebih di dominasi oleh para pemuda.


Jadi pembagiannya itu, 1 bus ada 5 guru pendamping. Di bagian depan tepatnya belakang supir itu ada 2 guru pendamping yang akan mengontrol bagian putri. Sedangkan 3 guru pendamping lainnya akan mengontrol dibagian belakang yaitu para putra.ย ย 


Perjalanan kali ini cukup lama bila di tempuh menggunakan bus. Tapi itulah sensasinya dalam kegiatan karya wisata seperti ini.


Bus sudah melaju hampir 4 jam,ย  Jadi saat ini adalah pukul 11. Tapi belum ada tanda - tanda bus akan berhenti melaju. Sebagian murid yang tadi pada semangat, kini sudah mulai kecapekan dan memilih untuk tidur.


Apalagi mengingat tujuan karya wisata ini masih sangat lama untuk sampai disana. Bahkan Cahya sudah kelelahan akibat memainkan game online milik Bryan itu.


"Kau mengantuk?" Tanya Bryan yang melihat mata Cahya mulai memerah akibat menahan kantuknya itu.


Cahya mengangguk dengan posisi yang masih sama dengan sebelumnya yaitu memyender di pelukan ingat sang suami.


"Tidurlah, akan ku bangunkan kalau kita sudah sampai." Tanpa menjawab Cahya mulai menyamankan posisi tidurnya itu.


Perlahan Bryan mengelus kepala Cahya sayang. Dikecupnya beberapa kali sambil mengeratkan posisi keduanya itu.


"Tidur yang nyenyak sayangku." Gumam Bryan sambil mendaratkan bibirnya di kening sang istri.


Setelah mengatakan hal itu, Bryan kembali mengamati pemandangan sekitar lewat jendela di samping kanan istrinya itu.


โ„โ„โ„โ„


Akhirnya perjalanan yang menembuh waktu hampir 10 jam itu berakhir sudah. Kini semua rombongan sudah berada di hotel yang telah di booking oleh Om Bram.


Sebelumya juga para rombongan sudah makan siang sekaligus melaksanakan ibadah. Dan kini jam sudah menunjukkan pukul 17.02. Raut wajah lelah mulai nampak di setiap murid. Mungkin lelah karena terlalu banyak duduk.


Tapi tatapan berbinar mulai nampak diwajah para siswa begitu melihat hunian yang akan mereka huni selama karya wisata ini berlangsung.


Percayalah, lokasi penginapan disini sangat memanjakan mata. Pemandangan hutan sekaligus pantai ada disini. Belum lagi suasananya yang memang sangat asri ini.


Rasanya pengen cepet - cepet berenang. Warna biru cerah dengan terbalut jingga kemerahan - merahan menampak apik ciptaan-Nya itu.


"Anak - anak. Kalian bisa menuju ke kamar kalian masing - masing. Setiap kamar di huni oleh 5 orang. Tapi tenang saja, kamarnya luas dan bisa menampung 6 orang. No. Kamarnya sudah diberitahukan oleh para guru pendamping, kan?" Pertanyaan itu dibalas anggukan oleh semuanya.


Memang tadi para guru pendamping sudah menjelaskan penempatan kamar yang digunakan. Dan untuk kamar laki - laki itu ada di lantai 1 dan 2, sedangkan yang perempuannya ada di lantai 3 dan 4.


Satu lantai itu ada sekitar 20 kamar. Jadi sudah terbayangkan berapa total kamar yang dibangunkan untuk menampung para siswa sekaligus para guru pendamping ini.


Bryan tadi sempat ingin kembali mengajukan protes, tapi dihentikan oleh Cahya. Sebab kalau mereka berdua itu harus 1 kamar, pasti para siswa yang lain akan curiga. Dan tentunya akan menuduh mereka yang tidak - tidak.


Jadi lebih baik, kalau Cahya nggak sekamar dulu dengan suaminya itu. Akhirnya Bryan setuju dan menerima walaupun dengan terpaksa. Lagipula Bryan memiliki ide untuk bisa sekamar dengan Cahya tanpa di curigai oleh yang lainnya.


Kira - kira apa yang akan dilakukan oleh Bryan, ya?


โ•๐Ÿโ•๐Ÿโ•ย ย 


.


.


.


๐ŸMy Bipolar Boy๐Ÿ

__ADS_1


Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Terimakasih juga untuk setiap Vote dan Komentar kalian semua๐Ÿ’–๐Ÿ˜


Sampai jumpa lagi๐Ÿ’™


__ADS_2