
🍃M.B.B🍃
Kini Cahya berada di ranjang apartemen milik Bryan. Sebenarnya Bryan ingin mengajak Cahya ketempat yang istimewa. Tapi melihat wajah lelah Cahya saat tidur membuat Bryan mengurungkan niatnya kesana.
'Mungkin lain kali,' begitulah pikir Bryan.
Kalian tanya dimana Bryan? Tentu saja tidak jauh dari Cahya, mana mau tuh anak jauh jauh dari Cahya.
Saat inipun Bryan juga tengah membaringkan tubuhnya disamping Cahya.
Pandangan Bryan tak lepas dari wajah Cahya. Bahkan sesekali dirinya merapikan rambut yang menghalangi pandangannya saat menatap wajah tidur calon istrinya itu.
Entah kenapa memikirkan calon istri membuat Bryan semakin melebarkan senyumannya.
Awas jaga pikiran kalian, diharap yang belum cukup umur. Bisa skip dulu gpp🙊.
⛔Hati hati, kalian sedang memasuki kawasan berbahaya🔞. *yang belum punya Ktp, bisa di skip. Kalau masih ngeyel, dosa tanggung sendiri ya. Jangan nyalahin aku loh ya😊. Kan udah aku peringati😍.
Kini tangannya mulai menelusuri wajah Cahya mulai dari dahi, kedua mata, pipi, hidung dan berhenti begitu sampai di bagian bibir.
Entah dorongan dari mana, yang pasti kini Bryan mulai mendekatkan wajahnya menuju ke wajah Cahya. Bahkan hembusan nafas Bryan terasa hangat diwajah putih Cahya.
Disentuhnya bibir pink yang entah kenapa terasa begitu menggoda dipandangan Bryan menggunakan jarinya sebelum mengantikan dengan bibir manis miliknya.
Sejenak ia hanya diam atau lebih tepatnya hanya sekedar menempel sebelum ia mulai mengerakan bibirnya perlahan dan memberikan kecupan ringan diatas bibir Cahya.
Tak cukup dengan itu, Bryan mulai **** bibir Cahya yang terasa manis itu. Ia memberikan gigitan kecil agar Cahya mau membuka mulutnya.
Ya, walaupun Bryan tahu saat ini Cahya sedang tertidur. Jadi mana mungkin ia bisa meresponnya, kecuali kalau Cahya sudah mulai terbangun.
Cahya yang merasa kesulitan bernafas pun mulai membuka matanya secara perlahan. Dahinya agak mengernyit begitu merasakan adanya nafas seseorang yang jaraknya sangat dekat dengan dirinya.
Ditambah lagi ia merasa sedikit ada yang aneh dengan area bibirnya, seperti ada yang mengigitnya.
Dengan bermodalkan keanehan itu, Cahya mulai memaksakan diri untuk membuka mata. Beberapa kerjaban mata membuat Cahya membulatkan mata begitu sadar dengan apa yang sedang dialaminya saat ini.
Tapi tiba tiba otaknya mendadak blank dengan apa yang dilihatnya sekarang. Bahkan ia merasa mati rasa, karena tak bisa menghentikan orang yang ada di hadapannya.
Bryan yang sadar adanya reaksi mulai membuka matanya. Dan tatapan keduanya bertemu. Baik Cahya maupun Bryan tak bisa melepaskan tatapan keduanya.
Bryan mulai menghentikan kecupannya walaupun sebenarnya ia engan melakukannya. Merasa kalau saat ini tidak ada yang menempel pada bibirnya membuat Cahya bernafas lega.
__ADS_1
"Kenapa kau bangun? Apa aku menganggumu?" Bryan menopangkan kepalanya diatas tangan kanannya sambil menatap lurus kearah Cahya.
Cahya tak menjawab pertanyaan itu karena sebenarnya ia ingin sekali bertanya kenapa Bryan menciumnya? Tapi perkataan itu hanya sampai di kerongkongannya saja.
Tak kunjung mendapatkan respon membuat Bryan kembali memberikan kecupan diatas bibir Cahya yang sudah basah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan si calon tunangannya itu.
Bryan melepaskan kecupannya dan memandang tepat di kedua mata Cahya. "Aku ingin pernikahan kita dipercepat. Dan aku tidak menerima penolakan."
Cahya yang mendengarnya langsung saja bangkit dari posisinya menjadi duduk. "Kau bilang apa tadi?"
Bryan ikut bangkit dari posisinya dan kini mulai menatap Cahya serius. "Pernikahan kita akan dipercepat."
Butuh waktu beberapa menit untuk Cahya memahami perkataan Bryan. Entah kenapa otaknya mendadak kembali blank.
"Kamu serius?" Cahya menatap tepat ke arah mata Bryan berusaha mencari kebohongan dari sorot matanya.
Tapi sayangnya ia tidak menemukannya.
"Ta..pi kita masih Sma, Yan. Apa tidak terlalu cepat. Dan lagi kau yakin mau menikah denganku?"
Bryan mengangguk membuat Cahya menundukkan kepalanya. Bukan apa apa, hanya saja ia merasa ini terlalu cepat. Apalagi seandainya nanti Bryan berubah pikiran dan malah menyukai si Dinda.
Mungkin kalau masih pacaran, seandainya merasa tidak cocok bisa putus. Tapi ini pernikahan..Pernikahan!! Ya kali kalau ada masalah trus ujung ujung perceraian. Kan nggak lucu.
"Bisakah jangan sekarang. Nanti saja setelah lulus sekolah."
"Tidak bisa!" Cahya yang mendengarnya langsung menaikkan arah pandangnya.
"Kenapa tidak bisa? Apa alasannya?" Cahya sedikit merasa aneh, bukannya kemarin sikap Bryan masih ketua padanya tapi lihatlah saat ini. Tidak ada apa apa, langsung bilang pernikahan kita akan dipercepat.
"Tidak ada. Sudahlah yang pasti kita akan segera menikah. Dan aku tak memintamu untuk menolak ajakanku."
"Tapi Bry.." belum sempat Cahya melayangkan protes, Bryan lebih dulu menarik Cahya pda pelukanya dan mulai membaringkan tubuhnya membuat Cahya berada di atas dadanya.
Cahya yang masih kaget tak melepaskan pelukan mereka. Apalagi elusan di rambut panjangnya membuat Cahya merasa nyaman. Detak jantung Bryan bisa Cahya dengar karena posisinya dirinya yang bersandar di dada Bryan.
Kecupan diatas puncak kepalanya membuat Cahya tanpa sadar memejamkan matanya seolah menikmati.
"Tidurlah, besok aku akan mengantarmu pulang." Seolah terhipnotis, Cahya mulai merasa kantuknya mulai mendatanginya. Tak butuh waktu lama, Cahya sudah mulai tertidur dipelukan Bryan.
Bryan yang sadar kalau Cahya sudah tidur pun ikut memejamkan mata dan mulai menyelami dunia mimpi.
__ADS_1
***
Sudah seminggu Cahya menghindari Bryan ataupun Vino. Hal itu dilakukannya karena ia masih bingung dan malu begitu sadar dengan kejadian dimana ia menginap di apartemen milik Bryan.
Kalau hanya menginap di mungkin bukan masalah besar, tapi posisinya saat bangun di pagi hari itu membuat pipi Cahya kembali bersemu merah.
Tak ingin memikirkan hal itu membuat Cahya kembali memfokuskan pikirannya kearah buku di depannya itu. Karena sebentar lagi akan diadakan ujian sekolah.
Rasanya baru kemarin Cahya pindah kemari, tapi kenapa cepat sekali. Tahu tahu sudah mau ujian nasional.
Selama 1 minggu keduanya tidak bertemu karena Cahya selalu saja menghindari Bryan. Apalagi pernyataan Bryan tentang pernikahan mereka yang dipercepat itu bukan hanya omong kosong saja.
Kenapa bisa Cahya bicara begitu, karena paman dan bibinya sudah membicarakan hal itu ketika dirinya ada dirumah. Jadi mungkin sebentar lagi ia harus siap menyandang status istri dari Bryan Giovino Wirautama itu.
Memikirkannya saja membuat kedua pipi Cahya memerah.
Tapi ini adalah hari terakhir Cahya menghindari Bryan. Kenapa hari terakhir, karena semalam mama Irena menelpon dirinya kalau Vino selalu saja mencari dirinya.
Hal itu membuat Cahya merasa bersalah karena sudah membuat Vino susah payah mencarinya. Walaupun keduanya berada di sekolah yang sama, tapi selalu saja Cahya menghindari Bryan/Vino ketika waktu istirahat tiba.
Biasanya ia akan ke perpustakaan, lapangan indoor, Uks, kantin, taman belakang sekolah, kalaupun kelima tempat itu sudah tidak aman maka Cahya akan terdiam diri di toilet perempuan. Karena ia yakin Bryan tidak akan mungkin mencari dirinya disana.
Setelah bel pulang berbunyi, Cahya sudah mulai melangkah menuju kelas Vino yang hanya berjarak beberapa kelas dari posisinya saat ini.
Tapi sepertinya telah terjadi keributan di koridor dekat kelasnya Vino. Cahya yang melihatnya pun segera menambah laju jalannya agar cepat sampai di kelas yang ditujunya itu. Ia takut terjadi apa apa dengan Vino.
🍁🌺🍁🌺🍁🌺
..Perhatian...
Uluh uluh, yang bakalan cepet nikah😍. Maaf, ya isi konten part ini agak dewasa. Jadi bagi yang belum cukup umur, bisa di skip aja😉.
Up💞
Hallo Ya
Masih setia baca M.B.B kan?
Nantikan kehadiran part selanjutnya lagi ya guys😉. Budayakan vote setelah selesai baca, ya😊
🍁Terimakasih🍁
__ADS_1
😍😇😍