
Setelah memastikan Levin beristirahat, mama Rena, papa Angga, dan Brian keluar.
Mereka menuju ke ruang dokter yang menangani Levin untuk mengetahui lebih jelas dan secara rinci keadaan Levin.
Jujur saja, mereka tidak mengerti perubahan Levin yang sekarang ini dan mungkin juga ada sesuatu yang perlu dihindari atau dianjurkan tentang keadaan Levin saat ini.
TOK.. TOK...
CEKLEK...
"Silahkan masuk pak, Bu" ucap sang suster yang kebetulan ingin keluar dari ruangan dokter.
Setelah dipersilakan, papa Angga, mama Rena, dan Brian pun duduk
"Dokter, kok anak saya seperti amnesia ya, nada bicaranya beda, juga kok dia manggil dirinya dengan sebutan Raffa ya, soalnya biasanya itu ya Levin" tanya mama Rena mengawali pembicaraan.
__ADS_1
"Sudah terlihat ya pak, Bu perubahan nya. Itu sudah biasa Bu bagi anak anda yang terkena gangguan penyakit Bipolar.
Biasanya, mereka akan mengalami perubahan mood yang drastis bukan??? Berarti sekarang mood nya baik yang berarti, jika ia menyebut dirinya dengan nama Raffa, maka mood nya seperti yang anda lihat saat ini. Tetapi, perlu saya ingatkan, dari kejadian yang pernah saya alami saat menangani pasien seperti saudara Levin. Mood mereka akan berubah drastis jika ada yang memancingnya.
Seperti ada sangkut pautnya dengan kejadian masa lalu atau orang yang sengaja memancing amarahnya." Terang dokter
"Jadi dok, kalau saya panggil dia Levin, itu kan nama masa lalu yang membuat dia stress berat, apakah itu akan memancing amarahnya???" Tanya Brian
"Benar sekali, saya sarankan untuk orang terdekatnya agar mengimbangi, menerima, dan menjalani kehidupan Levin seperti biasanya. Seperti jika ia sedang dalam mood seperti sekarang yang cenderung lembut, manja, dan penyayang maka jangan sekali kali memancing emosinya atau mengaitkan dengan masa lalunya" jawab dokter
"Apa bisa sembuh??" Kali ini mama Rena khawatir.
" Untuk saat ini, ia baru pulih nyonya, jadi saya sarankan untuk merilekskan dulu pola pikir anak anda sehingga untuk penyembuhan nanti akan lebih mudah" dengan sabar, sang dokter mengecek dan memberi informasi tentang pasien nya.
"Baik dok, kalau begitu kami undur diri, terimakasih atas informasinya dan kerja keras anda dok, assalamualaikum" pamit papa Angga
__ADS_1
"Sama sama"
Setelah keluar dari ruangan sang dokter, mama Rena hanya duduk termenung, sedangkan papa Angga, menerawang jauh keatas sana.
Ia sudah memikirkan baik baik, mulai dari ucapan sang dokter yang membuatnya menyimpulkan bahwa jika anaknya masih dalam lingkup lingkungan yang sama, maka besar kemungkinan, anaknya akan cepat berubah mood.
Walau jarang tau Levin marah, tapi sebagai seorang ayah dan seorang pria, papa Angga tau bahwa marahnya pasti tidak jauh dari kata kerusuhan.
Apalagi setelah kejadian ini, papa Angga menyimpulkan bahwa anaknya bisa saja nekat dan ia sudah memutuskan untuk......
"Mah, papa sudah memutuskan, bagaimana jika kita pindah??" Putus papa Angga
"Melihat kondisi Levin yang seperti ini, besar kemungkinan Levin lebih banyak nekat dan tidak bisa mengendalikan dengan baik emosinya" Jeda sebentar
"Jadi papa memutuskan untuk pindah ke desa, disana orangnya ramah, tidak memandang buruk, kualitas pendidikan baik, dan yang terpenting, jauh dari masa lalu" terang papa Angga, ia sudah memutuskan, jika istrinya setuju, maka setelah Levin boleh keluar dari rumah sakit, mereka akan pindah.
__ADS_1
Didesa, papa Angga memiliki teman, sehingga tidak sulit untuk beradaptasi.
🌻🌻🌻