My Bipolar Boy

My Bipolar Boy
19. Vino Kesakitan


__ADS_3

⬇⬇⬇


Semua orang menatap kearah Vino yang tadi bersuara.


"Kenapa Vino melarang Cahya untuk pulang?" Tanya pak Sanjaya pada Putranya itu.


Vino tidak menatap sang ayah, melainkan menatap kearah Cahya membuat Cahya bingung.


Walaupun tidak menghadap sang ayah, Vino tetap mendengar apa yang barusan ayahnya itu katakan.


Greb


"Kau tidak boleh pergi." Rajuk Vino sambil menggenggam tangan Cahya. Kedua orangtuanya kaget melihat tingkah putranya yang tiba tiba itu.


"Pokoknya kamu tidak boleh pergi, kamu harus disini bersama Vino." Tingkah posesif Vino sepertinya akan kambuh lagi. Kedua orangtuanya menatap kearah Cahya yang tak bergeming.


"Vino sayang, biarkan Cahya ke rumahnya. Besok dia ke sini lagi buat main sama Vino." Bujuk Irena sambil melangkah mendekati anaknya itu.


Setelah sampai disamping Vino, Irena lantas memegang tangan Vino yang sedari tadi menggenggam erat tangan Cahya.


"Vino tidak mau, ma." Vino berontak begitu tahu kalau mamanya ingin melepaskan tangannya yang memegang erat tangan Cahya.


Hal itu tentu membuat Cahya harus menahan ringisannya begitu tarikan itu bukannya melonggar malah makin menguat.


Irena dan Sanjaya menyadari raut wajah Cahya yang seperti menahan sakit itu.

__ADS_1


Sanjaya lantas bangkit dari posisinya kemudian mendekati istrinya untuk membantu melepaskan kaitan ditangan sang putranya itu.


"Cahya tidak boleh pergi. Dia harus terus bersama Vino." Vino kembali berontak ketika tangan yang satunya ikut dipegang oleh ayahnya itu.


Cahya menatap kearah Vino yang kini memandang dengan tatapan sayu membuat Cahya tidak tega.


"Cahya hanya pergi sebentar, besok Cahya kesini lagi, ya Vino." Ucapan Cahya tak langsung ditanggapi oleh Vino.


Malahan Vino tambah berontak.


"Cahya nggak boleh pergi!" Bentak Vino yang kini mulai mengeluarkan airmata.


Kedua orangtuanya Vino bingung menghadapi tingkah Vino yang mulai menangis. Membuat keduanya tidak tega kalau membuat Vino tambah menangis.


"Baiklah, Cahya tidak jadi Pulang." Perkataan Cahya membuat Vino seketika menatap kearah Cahya. Begitu juga dengan kedua orangtua Vino.


Cahya menatap kearah Vino "Iya, Cahya pulangnya nanti saja."


Mendengar jawaban Cahya, Vino kembali merengek.


"Jangan pergi!" Vino mulai menangis lagi.


Cahya bingung harus bagaimana, ia melirik kearah Sanjaya dan Irena.


Kedua orangtua dari Vino itupun hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Jan..gan ting...galin...Vin..o, Vin..o nan..ti sen...dirian." Vino mengucapkannya sambil sesenggukan.


Irena menatap Cahya lama, sebenarnya ia ingin meminta tolong Cahya agar tinggal lebih lama. Dan Cahya yang menyadari arti tatapan itupun menghela nafasnya.


Vino yang sedari tadi menunggu respon dari Cahya yang tak kunjung berbicara.


"Pokoknya jangan pergi! Kalau pergi Vino akan..."


Belum sempat Vino menyelesaikan ucapannya, Vino tampak memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan.


"Argh sakit!!" Vino melepaskan tangannya dari tangan Cahya kemudian ia memegangi kepalanya yang saat ini berdenyut sakit.


Irena yang melihat putranya kesakitan segera melepaskan tangannya dari Vino, lantas dengan cepet menarik tangan Vino yang kini mulai menjabaki rambutnya sendiri.


"Vino kenapa nak?" Tanya Irena yang mulai panik itu.


"Ke...pala...Vi...no sak...it, Ma" Vino mengucapkannya sambil terbata bata.


Sakit kepalanya membuat ia tidak tahan untuk tidak berteriak kesakitan. Sanjaya yang melihat anaknya kesakitan segera menelpon dokter.


Jangan tanya bagaimana kondisi Cahya saat ini, sudah pasti ia terkejut melihat Vino yang tiba tiba menjerit kesakitan begitu.


Dan ada bagian dalam dirinya yang merasa sangat khawatir pada keadaan Vino saat ini.


.

__ADS_1


.


💛💙💜💙💛


__ADS_2