
πMy Bipolar Boyπ
.
.
.
.
Tampak sepasang anak manusia tengah menikmati hembusan angin yang menerpa kulit mereka. Keduanya kini tengah berada di dekat bibir pantai sambil menikmati keindahan pancaran surya di pagi hari.
Mereka yang tak lain adalah Cahya dan Bryan itu, sejak 20 menit yang lalu mereka sudah berada di bibir pantai itu. Sejak bangun tadi, Cahya mengajak sang suami untuk melihat sunrise katanya mumpung mereka ada disini.
Lagipula melihat sunrise itu tidak seburuk yang di kira. Kalian bisa merasakan bagaimana keindahan yang diciptakan oleh sang pencipta melalui ciptaannya.
Selain mereka berdua ternyata ada beberapa siswa yang tujuannya sama dengan mereka yaitu melihat sunrise. Selesai menyaksikan sunrise, Cahya mengajak Bryan untuk kembali ke hotel.
Dia ingin mengambil ponselnya yang masih ada di dalam kamar hotel. Tadi sebelum pergi melihat sunrise, Cahya lupa mengambil ponselnya lebih dulu. Jadinya saat ini dia ingin kembali ke kamarnya dulu untuk mengambil ponselnya itu.
"Kau jangan ikut. Aku cuma sebentar saja, paham." Ujar Cahya yang melarang sang suami untuk mengikutinya itu. Walaupun sedikit tidak ikhlas, Bryan hanya berdehem sebagai reapon kalau dirinya mengiyakan perkataan istrinya itu.
Setelah mendapat respon, Cahya langsung menuju ke kamarnya itu. Dalam hati dia berdoa semoga saja teman sekamarnya tidak curiga terhadap ketidakhadirannya itu.
Setelah sampai di depan pintu kamarnya, Cahya berniat membuka pintu tersebut, tapi keduluan dari dalam.
"Eh, kau ternyata. Kau darimana saja?" Pertanyaan itu datang dari salah satu teman sekamar Cahya. Cahya menegup ludahnya berat. "Aku habis melihat sunrise." Jawab Cahya sambil tersenyum.
Keempat teman sekamar Cahya mengangguk paham. "Ooh, begitu. Aku kira kau kemana. Soalnya pas kita ini bangun, kau tidak ada dikamar."
Cahya hanya tersenyum sebagai respon. "Kalian berempat mau kemana?" Tanyanya pada keempat orang di depannya itu.
"Ooh, kami? Ini mau ke pantai. Kau mau ikut?" Cahya menggeleng pelan. "Tidak. Aku kan baru dari sana." Balas Cahya. Keempatnya mengangguk mengerti.
"Kalau begitu kami pamit dulu, ya. Kalau kau mau ke pantai lagi, gabung bareng kami juga boleh." Setelah dibalas anggukkan oleh Cahya, keempatnya pamit pergi sedangkan Cahya kembali meneruskan langkahnya menuju ke kamarnya.
Setelah menyelesaikan urusannya, Cahya kembali turun kebawah untuk menemui sang suami yang mungkin sudah lama menunggu itu.
Benar saja, setibanya di lobby Bryan langsung menghampiri sang istri yang baru saja keluar dari pintu lift. "Kenapa lama sekali?" Baru juga tiba, Cahya sudah ditanyai begitu oleh suaminya itu.
"Aku tadi sempat mengobrol sebentar dengan teman sekamarku. Makanya sedikit lama." Jelas Cahya yang sangat mudah dipahami oleh Bryan.
"Lain kali jangan membuatku menunggu terlalu lama." Ucapan itu langsung di iyakan oleh Cahya, sebab kalau Cahya menyanggahnya maka akan lebih panjang lagi urusannya.
Ingatkan, kalau Bryan itu posesif sekaliπ.
βββββββββββββββ
Setelah acara sarapan berlangsung, kini para guru pendamping mulai menyuruh para siswa untuk berkumpul. Sebab mereka semua akan menuju ke lokasi wisata lainnya yang tak begitu jauh dari hotel ini.
Setelah semuanya di cek kelengkapan para siswanya, kini semuanya disuruh menaiki bus seperti saat berangkat waktu itu. Begitupun dengan Bryan dan Cahya yang saat ini sudah duduk di tempat mereka sebelumya itu.
"Kita semua akan kemana sih? Kau tahu nggak, Bryan?" Tanya Cahya yang bingung dengan tujuan destinasi mereka saat ini.
Hal yang sama juga di pikirkan oleh hampir semua siswa, sebab tadi para guru sama sekali tidak menyebutkan seperti apa lokasi yang akan mereka datangi itu. Sebenarnya sih, para guru sengaja tidak memberitahukannya kepada para siswa, karena ini surprise.
Setelah memakan waktu kurang lebih 2 jam, akhirnya para rombongan tiba di sebuah bangunan mirip keraton. Tapi dari luar saja mereka bisa melihat bangunan tinggi berbentuk seperti candi.
Dan bila kalian lihat, luas lokasi wisata ini kurang lebih 4 hektar. Bisa kebayangkan betapa luasnya lokasi yang menjadi destinasi wisata para siswa kali ini.
"Ayo, anak - anak. Kalian berbaris dan masuk kedalam satu persatu. Dan dimohon untuk tertib, ya." Arahan itu diberikan guru pembimbing kepada para murid.
Semuanya melakukan seperti yang disuruh. Satu persatu murid mulai masuk kedalam lokasi wisata. Tatapan kagum terpancar dari mata para siswa yang melihat bangunan bersejarah ini.
Ternyata di dalamnya tidak hanya ada candi, tapi ada bangunan museum, taman, air mancur dan beberapa miniatur ikonic dari berbagai negara itu.
Cahya tak henti menatap kagum dengan apa yang dia lihat itu. Dia menarik tangan Bryan untuk berjalan mendekati beberapa candi yang ada disana.
Sekarang ini para siswa mulai berpencar dengan tujuan masing - masing. Sebelumnya para guru sudah memberitahu kalau semuanya berkumpul pukul setengah 2 siang. Dan lokasi titik temunya ada di dekat pintu keluar masuk.
Dengan tak sabar, Cahya kembali menarik tangan sang suami ke bangunan candi lainnya setelah puas melihat candi yang sebelumnya.
__ADS_1
Beberapa gambar telah mereka ambil sebagai kenang - kenangan. Walaupun kebanyakan gambar yang diambil adalah foto Cahya, tapi Bryan sama sekali tidak keberatan dengan itu.
Hitung - hitung menambah stok foto sang istri di ponselnya. Yups, memang sedari tadi ponsel Bryan yang digunakan untuk mengambil gambar. Tadi Bryan sendiri yang menawari untuk memakai ponselnya, mana bisa Cahya menolaknya. Lagipula lumayan hasil foto Cahya jadi semakin bagus dengan ponsel Bryan itu. Ponsel Cahya mah nggak sebagus ponsel Bryan yang berkamera 20 pixel itu.
Ponsel Cahya terlalu kentank bila dibanding ponsel sang suaminya itu. Untuk menyimpan file baru saja, harus lebih dulu menghapus file yang tak terpakai. Jangankan untuk mengunduh aplikasi baru, menambah gambar saja langsung ada tulisannya 'Memori penuh, segera kosongkan memori'.
Ponselku juga sama dengan ponsel Cahyaπ.
Saat ini Cahya dan Bryan sedang berada disalah satu toko aksesoris yang ada di lokasi wisata ini. Sebenarnya Cahya kemari hanya untuk melihat - lihat saja. Tapi Bryan malah berniat membelikan semua barang yang dianggap menarik perhatian istrinya itu.
Cahya tak habis pikir dengan kelakukan suaminya itu. Masa dia mau borong semua aksesoris yang ada disana begitu Cahya bilang kalau barang - barang disana bagus - bagus.
Barangnya memang bagus, tapi kan nggak gini juga kali. Masa satu toko mau di borong semua. Mau buat apa? Dijual lagi gitu. Sungguh Cahya tak habis pikir dengan sikap Bryan itu.
Setelah membeli beberapa barang, ingat beberapa ya bukan semuanya. Cahya langsung menarik tangan Bryan untuk meninggalkan toko aksesoris itu. Kalau masih lama disana, Cahya yakin Bryan pasti membeli semua barang yang ada disana.
Setelah capek berkeliling, kini keduanya duduk di bangku taman dengan masing - masing tangan kanan mereka membawa sebotol minuman dingin yang tadi sempat Bryan beli itu.
"Kau lelah?" Bryan mengusap pelan dahi sang istri yang mengeluarkan keringat itu. Memang hari ini cukup panas, ditambah lagi jam sudah menunjukkan pukul 11.23 A.M. Jadi wajar kalau sampai Cahya berkeringat seperti itu.
Cahya mengangguk sambil menyenderkan kepalanya di bahu suaminya itu. "Kau juga pasti lelah aku ajak keliling - keliling tadi." Ujar Cahya yang kini mendongak menatap kearah suaminya itu.
Bryan menurunkan pandangannya, hingga saat ini pandangan keduanya bertemu. Dalam beberapa menit keduanya larut dalam acara tatapan - tatapan itu.
Hingga,
Chupπ
Satu kecupan Bryan berikan di sudut bibir Cahya yang agak terkejut itu dengan apa yang telah dilakukan oleh suaminya itu.
Segera saja Cahya menegakkan badannya kemudian mulai mengalihkan pandangannya itu kearah lain. Cahya sedang berusaha untuk menyembunyikan rasa malunya itu.
Bryan terkekeh begitu melihat tingkah sang istrinya yang yang masih saja malu dengan skinskip yang barusan dia lakukan itu. Padahal mereka menikah juga sudah hampir sebulan. Tapi kenapa Cahya masih saja malu dengan skinskip yang dibuat olehnya ini.
πβπβπβπ
Kini para rombongan sudah berada di dalam bus yang mana akan membawa kembali ke hotel. Hampir semua siswa pulang membawa kantong belanja ditangan mereka. Mungkin itu sebagai oleh - oleh untuk mereka sendiri ataupun untuk sanak keluarga maupun teman mereka.
Cahya menggeleng pelan. "Tidak apa - apa." Balas Cahya sambil tersenyum. Helaan napas terdengar dari mulut Bryan. "Mereka berisik, ya?" Cahya mengangguk sambil tersenyum.
"Iya. Tapi tidak apa, mungkin mereka sedang menceritakan pengalaman saat di tempat wisata tadi." Sahut Cahya yang tadi sempat menangkap beberapa kata yang dia yakini kalau itu berhubungan dengan lokasi wisata tadi.
Baru saja Bryan ingin bangkit dari posisi duduknya itu, terlebih dulu tangannya di tarik oleh Cahya. "Mau kemana?"
Bryan yang kini dalam posisi duduk pun lantas menjawabnya "Aku ingin menegur mereka supaya tidak berisik lagi." Ucapan itu malah membuat Cahya menggeleng pelan.
"Tidak usah. Biarkan saja, lagipula kalau mereka capek, pasti mereka berhenti sendiri." Tahan Cahya supaya Bryan tidak jadi melaksanakan niatnya itu.
Akhirnya Bryan kukuh juga, dia tidak jadi menghampiri mereka yang membuat kebisingan itu. Kini di bahunya Cahya tengah bersandar padanya. Dielusnya pelan kepala sang istri sayang.
"Kau lelah?" Cahya mengangguk sebagai respon. "Tidurlah, nanti kalau sudah sampai akan aku bangunkan." Tapi Cahya menggeleng pelan.
"Aku nggak mau. Aku mau lihat hasil foto tadi, bolehkan?" Bryan mengangguk sambil menyerahkan ponselnya kepada sang istri.
Masih sambil bersandar, Cahya mulai berjelajah di ponsel milik istrinya itu. Dan ternyata Bryan memasang nama Cahya sebagai password di ponselnya itu.
Di tengah acaranya melihat hasil foto, satu pesan dari sebuah aplikasi chat itu menarik perhatian Cahya. Dengan pelan Cahya membuka pesan itu. Pesan itu dikirim dari nomor yang tidak dikenal, artinya nomor itu belum tersimpan di kontak Bryan.
Alis Cahya terangkat sebelah, dibacanya deretan tulisan itu dengan teliti. Tapi yang membuat ekspresinya berubah adalah saat membaca nama dari sang pengirim itu.
Pesannya adalah seperti ini
Hai, kak Bryan. Bagaimana liburannya, kak? Apakah seru? Ooh ya. Aku juga akan menyusul kakak kesana. Tunggu aku datang ya, kak. Biar liburan kakak tambah menyenangkan bila ada aku di samping kakak.
See you Kak Bryanπ
Vionaπ
Β Β
"Apakah ini Viona yang sama dengan si Viona yang itu?" Batin Cahya saat membaca nama itu. Belum lagi emoji yang digunakan sangat mengganggu bagi Cahya.
__ADS_1
Tanpa membalas pesan itu, Cahya langsung keluar dari aplikasi itu dan segera memberikan ponsel itu kepada sang pemilik.
"Ini." Serah Cahya kepada Bryan. Bryan menerima ponselnya yang disodorkan oleh sang istri. Tapi ada yang di pikirkan oleh Bryan yaitu ekspresi Cahya yang sepertinya tengah bete itu.
Padahal Bryan yakin saat istrinya itu ingin meminjam ponselnya ekspresi sang istri itu sangat antusias. Tapi kenapa mendadak menjadi bete seperti ini. Apa mungkin ada foto yang membuat istrinya itu bete.
Baru saja Bryan ingin membuka ponselnya untuk mengetahui kenapa mood istrinya itu berubah, tapi dihentikan oleh Cahya.
"Jangan main hp. Kau kalau sudah main game di ponsel pasti mengabaikanku." Ujar Cahya yang mencegah Bryan untuk membuka ponselnya itu.
Sebenarnya Cahya tahu kalau Bryan itu tidak berniat main game tapi ingin mencari penyebab moodnya down itu. Tapi Cahya tidak ingin Bryan sampai tahu kalau saat ini dirinya tengah cemburu.
Yups, Cahya memang sedang cemburu. Tapi masih dalam tahap wajar, soalnya dia hanya tidak ingin suaminya itu terlalu dekat dengan gadis manapun selain dirinya dan tentu saja mama Irena.
Biarkan saja, saat ini Cahya ingin berniat posesif dengan suaminya itu. Gantian dong, masa suaminya terus yang posesif padanya.
Akhirnya Bryan tidak jadi membuka ponselnya, dengan segera Bryan memasukan ponselnya kedalam tas selempang milik sang istrinya itu.
"Sudah nih, aku nggak main ponsel. Sini peluk lagi, kan aku sudah nggak pegang ponsel." Cahya mendekat dan kali ini tidak bersandar pada bahu sang suami. Tapi bersandar di dada bidang suaminya itu.
Keduanya pelukan di dalam bus, mengabaikan suara bising yang tercipta di sekitar mereka itu. Lagipula siapa pula yang ingin menganggu kemesraan Bryan dan Cahya. Yang ada orang itu cari masalah dengan Bryan.
Untungnya om Bram tidak ikut dalam perjalanan wisata kali ini. Jadi tidak ada yang mengacaukan moment romantis antara mereka berdua itu. Entah pergi kemana dia, yang jelas Bryan sangat bersyukur omnya itu tidak ikut. Kalaupun ikut, pasti hanya ingin membuatnya darah tinggi saja.
πββπββπββ
Perjalanan yang melelahkan akhirnya telah berakhir. Kini para rombongan sudah sampai di depan hotel. Dan satu persatu para siswa mulai memasuki kamar hotel untuk membersihkan diri sekaligus beristirahat itu.
Begitupun dengan Bryan dan Cahya yang saat ini telah berada di pintu utama hotel ini. Tapi begitu masuk ke lobby, panggilan yang menyerukan nama Bryan membuat keduanya menoleh. Mungkin bukan hanya mereka berdua saja yang menoleh. Tapi juga beberapa siswa yang baru saja memasuki lobby itu.
Dan tak jauh dari posisi BryanCahya, terlihat sosok perempuan yang kini mulai berjalan mendekati mereka berdua. "Hai, Kak Bryan." Ucap orang itu yang tak lain adalah si Viona.
Bryan menatap sosok di depannya itu dengan satu alis terangkat. Dalam hati membatin "Kenapa dia bisa ada disini?" Itulah yang dipikirkannya itu.
"Kau?..." Belum sempat Bryan meneruskan ucapannya, keburu di potong oleh Viona. "Kaget ya kak aku ada disini? Aku lagi liburan disini. Kok bisa samakan ya kak. Jangan bilang kalau ini adalah takdir. Kita pasti berjodoh loh, kak." Ucapan itu jelas di dengar oleh para siswa yang masih melihat ketiganya itu.
Ada beberapa siswa yang menatap tak percaya akan kalimat yang dikeluarkan oleh Viona tadi. "Bagaimana bisa si cewek itu bicara terang - terangan seperti itu didepan tunangan Bryannya langsung." Begitulah yang dipikirkan oleh orang - orang disana.
Mereka juga tahu kalau Cahya itu adalah tunangan Bryan. Belum lagi sosok si Dinda yang mengklarifikasi kalau dirinya sudah tidak lagi mengejar cinta Bryan. Dan memperingatkan agar para gadis tidak lagi centil dengan Bryan.
Bukti itu sudah cukup membuat para siswa yakin kalau sosok Bryan itu sudah ada pemiliknya begitupun dengan sosok Cahya.
Dengan mendengus pelan, Bryan langsung menggeleng. "Aku tidak peduli kenapa kau bisa ada disini." Ucapnya yang langsung menarik tangan Cahya agar ikut dengannya itu.
Kepergian kedua sosok itu membuat beberapa siswi berbisik - bisik soal perkataan si Viona tadi yang berbicara malah takdir. Muak mendengar ucapan para siswi itu membuat Viona langsung pergi menuju ke kamar hotelnya yang ada di lantai 4.
ββββββ
Selama keduanya berjalan beriringan, tak satupun dari keduanya yang mengeluarkan suaranya. Cahya masih engan untuk bicara, lagipula dirinya juga sangat lelah saat ini. Ingin sekali mandi air dingin kemudian tidur semalaman.
"Kau kenapa?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Bryan yang kini memandang wajah istrinya itu. Cahya menoleh sekilas, kemudian dia menggeleng pelan. "Aku sudah sampai. Kembalilah ke kamarmu." Ucap Cahya yang kini telah sampai di depa kamar hotelnya itu.
Setelah membuka pintu tersebut, Cahya berniat untuk masuk kedalam kamarnya. Tapi dihentikan oleh Bryan. "Jika kau lelah, tidur saja di kamarku." Cahya menggeleng pelan. "Aku tidur disini saja, aku tidak ingin membuat teman sekamarku curiga kalau aku tidak tidur disini."
Bryan menghela napas begitu melihat sang istri sudah masuk kedalam kamar hotelnya itu. Belum sempat beranjak, Cahya lebih dulu membuka pintu kamar hotelnya dari dalam sambil melongokkan kepalanya.
"Nanti malam jangan menyusup ke kamar ini lagi seperti kemarin. Aku ingin tidur disini, jadi jangan lakukan hal nekat lagi. Istirahatlah, kau pasti lelah." Setelah mengatakan hal itu. Cahya kembali menutup pintu itu dan meninggalkan sosok Bryan yang masih menatap pintu itu dengan helaan napas berat.
Setelah itu, Bryan kembali ke kamarnya yang semalam ia tiduri bersama sang istri itu. Dia memang tidak sekamar dengan murid yang lain. Makanya semalam Bryan Cahya ke kamar yang dia sewa.
βπβπβΒ Β
.
.
.
πMy Bipolar Boyπ
Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Sampai jumpa lagiπ
__ADS_1