
๐My Bipolar Boy๐
.
.
.
Sejak tadi, Cahya sama sekali tidak berhenti menghela napas kasar. Sebab kedatangan tamu tak diundang ini, yang mana sejak tadi mengikutinya dan Bryan itu.
Oke, kalau cuma ngikutin nggak masalah buat Cahya. Tapi ini malah berusaha menarik perhatian Bryan. Untung saja tidak di tanggepi berlebihan sama Bryan. Kalau sampai Bryan berani, Cahya auto langsung pulang.
Rencana Bryan ingin membeli baju couple yang nantinya akan dia pakai bersama dengan Cahya. Tapi pengganggu satu ini tidak membiarkannya berduaan dengan istrinya sendiri.
Ingin sekali Bryan marah, tapi ini adalah tempat umum. Dan dirinya tidak ingin membuat keributan yang pastinya akan mengundang banyak orang untuk melihatnya. Dan pastinya itu akan memalukan.
Tadi Cahya dan Bryan berniat ke bioskop, berhubungan bioskopnya buka jam 12, maka Bryanย berniat membawa Cahya untuk pergi makan siang. Lagipula pemutaran film masih 2 jam lagi dari sekarang.
Tapi, lagi dan lagi kedua pasangan ini masih diganggu oleh Viona yang tidak merasa bersalah sekali karena mengganggu kencan pasangan muda ini.
"Kau ingin makan siang dimana?" Pertanyaan itu Bryan tanyakan untuk istrinya tapi bukannya Cahya yang menjawab tapi malah orang lain.
Viona segera menimpali pertanyaan itu dengan senyum di bibirnya. "Gimana kalau makan siang di Korean Fried Chicken. Ayamnya enak loh, kau harus cobain." Cahya menatap datar senyum di bibir Viona itu.
Dongkol juga lama - lama kalau begini terus. Batin Cahya kembali meradang begitu Viona menarik lengan Bryan dan membawanya pergi ke kafe yang disebutkannya tadi.
Kalau seperti ini bukannya malah terkesan Bryan dan Viona yang pacaran, sedangkan Cahya hanya sebagai obat nyamuk.
Ya, walaupun Viona berhasil menggandeng Bryan tak kurang dari jarak 20 meter dari posisi mereka tadi. Sebab kafe yang mereka tuju memang ada di dekat mereka.
Bryan langsung menghempaskan tangan mungil di lengannya itu dan langsung menarik tangan Cahya untuk ikut masuk kedalam kafe. Kenapa Bryan membawa masuk Cahya ke Dalam kafe pilihan Viona?
Karena sebelum Bryan menanyai Cahya terkait ingin makan dimana, Bryan sempat melihat Cahya menatap berbinar kafe ini. Makanya tadi dia bertanya seperti itu.
Viona menatap sebal kearah Cahya yang sedang digandeng oleh Bryan. "Awas saja kau. Lihat siapa yang akan tersenyum nantinya." Senyum sinis muncul di bibir Viona. Tapi mendadak berganti dengan senyum manis setelah dia ikut melangkah menuju ke dalam kafe.
Kini ketiganya duduk dalam satu meja yang sama. Setelah tadi Bryan memesan makanan. Kini ketiganya tengah menunggu pesanan mereka. Sesekali Bryan menggoda istrinya itu dengan beberapa kali mencolek pipi Cahya sebab sejak tadi Cahya hanya membuang muka padanya.
"Issh, Bryan berhenti. Kenapa sih ganggu mulai dari tadi." Dengus Cahya yang kini menatap kesal suaminya itu. Tapi Bryan sama sekali tidak memperdulikan kekesalan istrinya itu. Dia malah semakin mengusili istrinya itu.
Tapi sepertinya keduanya lupa kalau saat ini mereka tidak sedang berduaan tapi bertigaan dengan si Viona yang kini menatap sebal pemandangan di depannya itu.
Bahkan genggamnya pada tali tasnya semakin mengerat. Perasaan dongkol kembali mendera hati Viona, dia sama sekali tidak suka kalau cowok incerannya didekatin cewak lain.
Bahkan kali ini Viona benar - benar terjerat dalam pesona Bryan. Dan Viona memiliki ambisi kuat untuk mendapatkan Bryan, walaupun dia tahu kalau Cahya adalah tunangan Bryan.
Tapi peduli apa dia, Viona hanya ingin Bryan. Tidak dengan yang lainnya!. Dan apa yang dia inginkan harus tercapai. Dan kali ini targetnya adalah Bryan, cowok yang dia temui di gor waktu itu.
Meninggalkan si Viona yang tengah cemburu, akhirnya pesanan mereka tiba juga. Dengan mata berbinar, Cahya menatap ayam krispi yang ada di depan matanya itu.
Rasanya sudah lama sekali dari terakhir kalinya, Cahya makan ayam krispi seperti ini. Cahya memang sering makan ayam krispi buatan bibinya itu. Tapi akan berbeda sensasinya dengan makan ayam krispi di tokonya secara langsung.
Ketiganya menyelesaikan acara makan mereka dengan tenang. Setelah selesai, mereka memutuskan untuk ke gedung bioskop yang ada di lantai 3.
Saat ditanya ingin menonton apa, Cahya hanya asal menyebutkan nama film yang disebutkan oleh Rima. Tapi dia sendiri belum tahu isi filmnya itu apa. Makanya dia memilih itu.
Bryan pamit membeli tiket untuk mereka bertiga.ย Yups, si Viona masih tetap setia mengikuti Bryan dan Cahya. Bahkan tak jarang dia berusaha menarik perhatian Bryan.
Tadi dia sempat pura - pura jatuh dan kalian tanya bagaiman respon Bryan? Dia hanya menatap sebentar sebelum menarik tangan Cahya dan melangkah menjauh dari Viona.
Cahya sendiri hampir kelepasan ketawa begitu melihat respon suaminya yang tampak datar, seolah yang terjadi tadi bukan hal penting baginya.
Cahya saja tahu kalau Viona itu pura - pura jatuh, bagaimana dengan mata Bryan yang lebih jeli daripada dirinya itu.ย ย
Back to Story
Karena sudah mendapatkan tiket, kini ketiganya duduk berdampingan. Dan posisi Bryan saat ini adalah ditengah. Di kanannya Cahya dan di kirinya ada Viona.
Dan Cahya baru tahu film ini ternyata adalah film horor setelah mendengar intro dari musik dan visualnya. Untungnya Cahya sedikit menyukai genre horor seperti ini. Ingat, ya cuma sedikit. Karena jujur saja Cahya orangnya suka dengan yang berbau horor, tapi tidak suka kalau harus berada dalam situasi dan kondisi yang mempertemukannya dengan hal - hal seperti itu.
__ADS_1
Manusiawi sekali, bukan?๐
Selama pemutaran film berlangsung, Viona terlalu sering menempel pada Bryan, l membuat Cahya ingin sekali menjambak rambutnya.
Bagaimana tidak? Kalau ada adegan seram sedikit si Viona langsung memegang lengan Bryan dengan mesra. Entah itu si Viona memang takut dan secara reflek memeluk lengan Bryan, atau si Viona memang sedang mencari kesempatan dalam kesempitan.
Pokoknya Cahya sama sekali tidak suka lengan suaminya itu di pegang bahkan di peluk - peluk begitu. Bahkan tadi Bryan sudah berkali - kali menepis tangan Viona di lengannya itu. Tapi si Viona masih saja melakukan aksinya tadi, sampai Bryan jengah sendiri meresponnya.
"Bisa nggak sih, kalau takut itu jangan meluk lengan tunanganku!" Desis Cahya sambil menekankan kata 'tunanganku' itu.
Viona melemparkan senyum sinis kepada Cahya. "Tadi aku reflek, aku nggak sadar kalau meluk lengan Bryan." Ucap Viona yang seperti tak memiliki salah sama sekali.
Kembali Cahya mendesis mendengarnya. "Kalau reflek nggak mungkin berkali - kali."
Entah kenapa sejak masuk ke bioskop, bawaannya Cahya pengen emosi aja sama kelakuan si Viona. Bahkan Cahya sampai berfikir kalau urat malu Viona mungkin sudah putus. Makanya nggak merasa punya salah karena sudah menganggu waktu kebersamaan orang lain.
Bahkan sampai berani dan sangat jelas menganggu orang yang berstatus tunangan orang lain. Kalau saja Cahya ini orang yang bersumbu pendek, mungkin dia sudah meledak sejak tadi. Meledakkan amarah yang sudah tak tertampung lagi dalam dirinya itu.
Masih untung kau, Viona!
Film yang mereka tonton sudah selesai dari beberapa menit yang lalu. Kini Cahya memutuskan untuk pulang, padahal rencananya kesini dengan Bryan adalah ingin menemani Bryan membeli barang.
Tapi, bukannya barang yang didapat malah kedatangan tamu tak diundang. Mana tamunya tak ada itikad baik lagi sama Cahya. Bikin Cahya emosi sendirikan jadinya.
Kini Cahya sudah menggandeng tangan suaminya itu menuju kearah basement, tapi lagi - lagi di Viona ini masih saja mengikuti keduanya. Hal itu membuat Bryan menghentikan langkahnya.
"Kau ngapain masih ngikutin kami?" Jelas Bryan bertanya begitu, memangnya sampai kapan Viona akan terus mengikuti mereka.
"Aku mau ikut kalian." Cahya yang mendengar ucapan itu sontak menaikkan alisnya bingung.
"Ini anak ngapain mau ikut segala." Batin Bryan yng tak habis pikir dengan perkataan Viona barusan.
Viona tak memperdulikan respon Cahya, karena titik fokusnya saat ini adalah si Bryan. "Bolehkan, aku ikut kalian?"
Sebuah pertanyaan yang akan lugas dijawab tidak oleh Cahya. Lagipula untuk apa Viona ikut mereka? Rumahnya kan ada. Ngapain harus ikut segala, mau nganggu kebersamaan Bryan dn Cahya lagi.
Tak tahan dengan wajahnya polos yang ditampilkan oleh Viona, membuat Cahya angkat bicara.
Sudah sejak tadi Cahya menahan kekesalannya itu. Apa masih belum cukup dengan menganggu acara kencannya dengan Bryan. Apa masih kurang dengan pura - pura takut agar bisa memeluk lengan suaminya itu.
Masih belum cukup, huh?!
Ingin sekali Cahya berteriak begitu di depan muka Viona. Tapi bukankah itu akan membuatnya menjadi pusat perhatian. Ditambah lagi posisi mereka saat ini adalah di lantai dasar. Jadi banyak orang yang keluar masuk ke pusat perbelanjaan ini.
Kalau Cahya menuruti keinginan amarahnya itu, sama halnya dia membuat dirinya dan Bryan malu akibat menjadi tontonan orang - orang. Dan Cahya sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi.
Melihat kekesalan sang istri yAng bisa meledak kapan saja, membuat Bryan langsung merangkul bahu istrinya itu.
"Tenanglah. Kau tunggulah di depan pintu masuk. Aku akan segera mengambil mobil dulu." Perkataan itu bukannya meredakan kekesalan Cahya, malah semakin menambahinya.
Cahya mengalihkan pandangannya sambil mendengus kesal begitu mendengar kalimat lanjutan dari mulut suaminya itu.
"Kalian tunggu saja di depan pintu masuk. Aku akan mengambil mobil dulu." Begitu mengatakan hal itu, Bryan langsung pergi menuju ke basement untuk mengambil mobilnya.
Kepergian Bryan diiringi dengan senyum mengembang dari bibir Viona. Sebab si Viona merasa kalau Bryan mau menuruti perkataannya dengan memperbolehkannya ikut dengan mobil mereka.
Senyum kemenangan hadir di bibir Viona. Cahya yang tadi melihat kearah Bryan, kini menolehkan pandangannya. Dan rasa ingin menjambak rambut siย Viona semakin mengibar di pikiran Cahya. Apalagi dengan melihat senyum angkuh yang kini Viona tunjukkan padanya itu.
"See, Bryan membiarkanku untuk ikut dengan kalian. Aku yakin lama kelamaan, Bryan akan berpaling kepadaku. Jadi ku ingatkan, persiapkan dirimu sebelum Bryan mencampakanmu demi aku."
Cahya sama sekali tidak merespon ucapan itu, dia bahkan berlalu pergi begitu saja daripada mendengarkan omong kosong yang Viona katakan itu.
Lagipula, suaminya itu tak akan berpaling ke pelukan perempuan lain. Dan Cahya yakin akan hal itu.
Viona tak memperdulikan bagaimana respon Cahya terhadap perkataannya itu. Dia bahkan mengendikan bahu ketika melihat Cahya pergi begitu saja. Dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana cara untuk mendapatkan Bryan.
Dan dia merasa ini adalah kesempatan bagus untuk dirinya dalam menarik perhatian cowok incarannya itu.ย ย
โ โ โ
__ADS_1
Tak butuh lama untuk menunggu kedatangan Bryan, karena dari kejauhan mobil Bryan sudah terlihat olehย Cahya.
Cahya dalam hati berdoa semkga saja Bryan tidak membiarkan si Viona ikut dengan mereka. Kalau sampai 'Iya', maka tunggu saja balasannya.
Mobil Bryan kini tepat berada Di depan Cahya dan Viona. Kenapa bisa tepat di depan mereka. Sebab posisi mereka itu sudah berada di dekat gerbang keluar masuk pusat pembelajaan.
Bryan turun dari mobil, membuat Cahya dan Viona menatap kearah Bryan. Bryan tampak menoleh kearah jalanan untuk mencari sesuatu.
Terhitung 1 menit dia sibuk mencari, akhirnya apa yang dicarinya itu muncul. Dengan melambaikan tangan, benda yang dicarinya itu akhirnya berhenti tepat di depannya.
Sejak tadi kedua perempuan itu memperhatikan Bryan bahkan sejak Bryan turun dari mobil dan sibuk mencari sesuatu. Dan kini ada sebuah taxi di hadapan mereka membuat keduanya mengernyitkan bingung.
Ditengah kebingungan ini, tiba - tiba Bryan menoleh dan memanggil nama Cahya. "Cahya." Panggil Bryan sambil membuka pintu belakang dari taxi tersebut.
Cahya reflek membelalakan mata begitu pemikiran akan dirinya yang disuruh baik taxi itu memenuhi pikirannya.
"Bryan, tidak mungkin menyuruhku pulang dengan taxi, kan?" Itulah perkataan yang ada di pikiran Cahya saat ini.
Berbanding terbalik dengan respon Cahya yang nampak seperti orang bingung itu, ekspresi wajah Viona malah terlihat seperti tengah memenangkan undian mobil mewah.
...Terlalu sumringah...
"Bry.." Belum sempat Cahya melanjutkan ucapannya, lebih dulu di potong oleh Bryan.
Bryan yang baru saja menyerahkan 5 lembar uang berwarna merah kepada supir taxi itupun menoleh menatap istrinya yang tengah menatapnya tak percaya itu. Seakan - akan tatapannya itu mengisyaratkan kalau Bryan tengah melakukan kesalahan besar padanya itu.
"Kau masuklah kedalam mobil kita." Ucapan itu membuat keadaan terbalik, yang mana tadinya Si Viona tampak sumringah dan Cahya yang tampak kebingungan.
Kini keduanya bertukar ekspresi, dimana kini Cahya mulai menerbitkan senyumannya karena baru menyadari akan arti dari perkataan suaminya itu. Sedangkan si Viona tampak tak percaya dengan perkataan Bryan barusan.
Jadi, taxi itu mengantar si Viona pulang. Bukan untuk mengantar Cahya pulang. Sebab Bryan tidak akan membiarkan di tamu tak diundang itu kembali menganggu waktunya dengan istrinya itu.
Sudah lebih dari cukup waktu 4 jam itu Viona gunakan untuk mengacaukan acara kencannya dengan Cahya. Dan Bryan tidak akan memberikan waktu tambahan lagi kepada Viona untuk melancarkan aksinya dalam menarik perhatiannya itu.
"Kau masuklah kedalam taxi itu. Kau jangan pikirkan masalah ongkosnya karena sudah aku bayar. Tapi jika kurang, kau tambahi saja sendiri."
Setelah mengatakan hal itu, Bryan berjalan melewati Viona begitu saja dan kini dia beralih dengan merangkul bahu mungil istrinya itu.
Perlakuan manis yang Bryan lakukanย didepan Viona itu tak membuatnya seneng. Viona malah semakin dibuat kesal dengan senyum di bibir Cahya yang baru saja di bukakan pintu dan di kecup mesra pipinya itu oleh Bryan.
Setelah keduanya masuk kedalam mobil, Cahya melambaikan tangan dan masih mempertahankan senyumannya itu.
"Dah, kami pulang dulu . Hati - hati dijalan, ya." Ucap Cahya kepada Viona.ย Setelah itu kaca mobil disisi kiri Cahya mulai tertutup dibarengi dengan suara tawa yang keluar dari mulut Cahya.
Walupun Viona tak melihat ekspresi Bryan dan Cahya saat ini. Tapi dia masih bisa mendengar suara tawa yang diciptakan oleh Cahya itu.
Hal itu semakin membuatnya kesal ditambah lagi kenyatakan kalau baru saja dirinya di tolong lagi oleh Bryan. Dan Bryan meninggalkannya sendirian disini, malah semakin membuat Viona berdesis marah.
"Awas saja kau, Cahya. Kali ini kau bisa menang. Tapi lain waktu, aku akan pastikan sendiri kalau aku bisa mendapatkan Bryan. Dan melihat bagaimana kau di campakkan dan dibuang begitu saja oleh Bryan." Pemikiran jahat itu terlintas begitu saja di otak Viona.
Seharusnya kau itu sadar, kalau Bryan itu sudah milik orang lain, Viona.
Hukum karma masih berlaku. Ingat itu!
ย
โ๐โ๐โย ย
.
.
.
๐My Bipolar Boy๐
Terimakasih sudah hadir dan menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Terimakasih juga untuk setiap Vote dan Komentar kalian semua๐๐
๐ ๐ ๐ ๐ ๐ ๐
__ADS_1
Sampai jumpa lagi๐